共有

Bab 8

作者: F.F
Yunita terduduk lemas di lantai yang dingin, tubuhnya terbakar oleh rasa sakit yang luar biasa akibat siraman air mendidih, tetapi hatinya terasa seperti terkoyak, membiarkan hembusan angin dingin masuk.

Dia menggertakkan gigi, menahan rasa sakit dan pusing yang hebat. Dengan tangan yang tidak terluka, dia gemetar menarik ponselnya dari saku dan menghubungi ambulans sendiri.

Saat dia keluar rumah sakit, bertepatan dengan pesta ulang tahun Yuan.

Rumah Keluarga Wongso tampak terang benderang dan ramai dengan aktivitas.

Sebagai putri sulung, Yunita tidak punya pilihan selain hadir.

Dia berdiri sendirian di sudut yang tidak mencolok, menyaksikan Aditya dengan wajah berseri-seri mengajak Yuan berkeliling, memamerkan kepada para tamu tentang putrinya yang baik itu dan mengumumkan bahwa dia akan mengalihkan sebagian besar asetnya atas nama Yuan.

Suara pujian dan rasa iri terdengar silih berganti.

Yunita menyaksikan pemandangan itu dengan hati yang dingin.

Selama bertahun-tahun, dia tidak pernah merayakan ulang tahun yang benar-benar utuh.

Ibunya meninggal dunia di usia muda, dan ayahnya tidak pernah peduli. Di hari ulang tahunnya, dia selalu sendirian, diam-diam memanjatkan permohonan yang tak akan didengar siapa pun, sambil menatap kue yang dingin.

Pesta mencapai puncaknya, dan semua orang mulai memberikan hadiah.

Hadiah dari Aditya sudah menakjubkan, tetapi ketika Gery memperlihatkan kotak beludru dan mengeluarkan kalung berlian yang sangat berharga, bahkan secara pribadi memasangkannya ke leher Yuan, seluruh ruangan dipenuhi dengan seruan kekaguman.

Wajah Yuan memancarkan kebahagiaan dan kebanggaan, tatapannya sesekali melayang ke arah Yunita.

Yunita yang terlalu malas untuk menonton lebih lama, diam-diam berjalan ke area makanan, mengambil segelas minuman, dan menenggaknya dalam sekali teguk, mencoba menenangkan emosinya yang kacau dengan alkohol.

Namun, ketenangan yang dia cari tak kunjung datang.

Beberapa teman dekat Yuan datang mengelilinginya, dan sengaja menabraknya.

"Oh, bukannya ini putri sulung Keluarga Wongso? Hari ini ulang tahunnya Yuan, semua orang terlihat senang, tapi kenapa wajahmu murung? Apa kamu nggak tahan melihat Yuan bahagia?"

Yunita tidak ingin membuat masalah saat itu, jadi dia meletakkan gelasnya dan berbalik untuk pergi.

"Hei! Kami sedang bicara padamu! Apa kamu tuli? Nggak bisa dengar, ya?" Seorang gadis lain meraih lengan Yunita, dan mencegahnya pergi.

Cukup sudah!

Yunita menyentak kasar tangan gadis itu hingga menyebabkan lawannya terhuyung.

Dia mengambil botol minuman yang masih setengah penuh dari meja di dekatnya, sorot matanya dengan tajam menyapu mereka yang memprovokasinya.

"Aku sudah memberi kalian kesempatan, tapi kalian sendiri yang nggak mau!"

Sebelum kalimatnya selesai, dia sudah menghantamkan botol itu ke kepala gadis yang paling dekat dengannya tanpa ragu!

Prang!

Botol itu pecah, sisa minuman dan darah mengalir bercampur jadi satu.

"Ahh ...!"

Jeritan histeris menggema, dan kekacauan pecah seketika!

Yunita seolah tidak menyadari apa pun, serangannya cepat dan brutal, menghantam beberapa orang sampai Gery yang mendengar keribuatan bergegas datang, lalu mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.

"Yunita! Apa kamu sudah gila?" Wajah Gery tampak sangat buruk saat melihat kekacauan itu dan beberapa gadis dengan kepala berdarah.

Yunita mencibir, "Apa kamu nggak lihat? Mereka sudah menghinaku, dan aku cuma membalasnya!"

"Membalas?" Sorot mata Gery dipenuhi kekecewaan dan amarah. "Ini murni penganiayaan yang disengaja, balas dendam yang direncanakan! Lagipula, kalau mereka mengkritikmu, itu pasti karena kamu yang sudah melakukan kesalahan. Kamu seharusnya dengan rendah hati mendengarkan dan memperbaiki diri! Cepat minta maaf!"

"Jangan mimpi!" Melihat Yunita yang keras kepala, kesabaran Gery yang tersisa pun habis.

Dia tahu Yunita paling takut pada kegelapan dan ruangan tertutup.

"Karena kamu menolak mengakui kesalahan, jadi kamu harus renungkan semuanya baik-baik!" Dia memerintahkan para pengawal di belakangnya, "Bawa dia dan kunci di sel isolasi ruang bawah tanah! Jangan biarkan dia keluar tanpa izinku!"

Dia lalu menatap Yunita, nadanya sedingin es. "Hanya dengan membuatmu takut, kamu akan benar-benar belajar."

Yunita dibawa paksa dari ruang perjamuan dan dikurung di sel isolasi yang gelap, sempit, dan tanpa jendela.

Saat pintu tertutup, kegelapan tak berujung menyerbu dari segala arah, seperti gelombang pasang air dingin yang langsung menenggelamkannya.

Kenangan mengerikan tentang dikurung di ruangan gelap saat masih kecil muncul seperti hantu. Dia meringkuk di sudut, seluruh tubuhnya gemetar, punggungnya basah kuyup oleh keringat dingin.

Waktu seolah membentang tanpa batas dalam kegelapan.

Kelaparan, kehausan, kedinginan, dan ketakutan ekstrem akan kegelapan menyiksa sarafnya.

Pada hari ketiga, tepat ketika mental Yunita hampir runtuh, pintu sel isolasi tiba-tiba terbuka.

Secercah cahaya menerobos masuk, dan sosok Yuan muncul di ambang pintu, senyum kemenangan terpampang di wajahnya.

"Kupikir Kak Gery akan menghukummu dengan berat, tapi ternyata hanya dikurung saja. Ini terlalu ringan." Dia bertepuk tangan, dan dua pria berpakaian hitam dengan ekspresi dingin segera melangkah masuk ke belakangnya.

"Kalian mau apa?" Yunita menatapnya dengan waspada, suaranya serak karena lemah.

"Mau memberimu sedikit tambahan, agar kamu bisa ingat ini selamanya." Yuan tersenyum jahat. "Ikat dia ke kursi listrik."
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 28

    Waktu berlalu dengan cepat, sepuluh tahun telah berlalu dalam sekejap mata.Yunita dan Davin diundang untuk menghadiri sebuah konser klasik bergengsi di Kota Valien, Auremon.Waktu seolah sangat baik kepada Yunita, pesona kedewasaan menambah daya tariknya, membuatnya tampak semakin anggun dan tenang. Berdiri di samping Davin yang masih tampan dan tak terkekang tetapi sekarang tampak jauh lebih dewasa, mereka tetap menjadi pasangan yang membuat orang iri.Selama waktu istirahat, Yunita pergi ke toilet, sementara Davin ditahan oleh seorang musisi yang dikenalnya untuk berbincang.Dia berjalan sendirian menyusuri koridor yang dilapisi karpet tebal, namun di tikungan, dia berpapasan dengan seseorang secara tak terduga.Dia adalah seorang pria yang duduk di kursi roda, dan didorong oleh seorang perawat. Dia mengenakan mantel gelap yang rapi, selimut menutupi lututnya. Rambutnya hampir seluruhnya putih, wajahnya tampak tua dan kurus dipenuhi kerutan. Hanya sorot matanya yang masih dalam, di

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 27

    Tidak ada kata-kata indah yang berlebihan, tidak ada janji palsu, hanya pengakuan paling lugas dengan gaya khas Davin. Namun, hal itu sangat menyentuh hati Yunita dibandingkan kata-kata manis apa pun.Memandang pria di hadapannya yang bersedia menerima semua kekurangannya dan memberinya kebebasan tanpa batas, matanya memanas, sementara senyum bahagia yang begitu cerah merekah di wajahnya.Dia mengulurkan tangan, mengangguk kuat, dan berkata dengan suara jernih serta tegas, "Iya! Aku mau menikah denganmu!"Davin terpaku sejenak, lalu melompat kegirangan, buru-buru memasangkan cincin di jari manisnya, ukurannya pas sekali!Davin mengangkatnya ke dalam pelukan, memutar-mutarnya di tempat, sangat bahagia seperti anak kecil yang menemukan harta karun paling berharga di dunia!"Yuhuu! Akhirnya aku punya istri!" teriaknya ke arah ladang lavender, suaranya bergema di senja hari.Yunita melingkarkan lengannya ke leher Davin, tertawa hingga air mata mengalir di wajahnya. Matahari terbenam menyi

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 26

    Ketika dokter keluar dengan wajah lelah dan mengumumkan, "Operasinya berhasil, tapi kondisinya masih kritis. Pemulihan selanjutnya akan sangat lama dan kemungkinan besar akan meninggalkan komplikasi serius," kaki Yunita terasa lemas. Dia hampir terjatuh ke lantai, untungnya Davin segera menopangnya.Gery terbaring tak sadarkan diri di unit perawatan intensif selama dua minggu.Selama itu, Heriadi Group kehilangan pimpinan, harga saham anjlok, dan situasi internal kacau.Melalui koneksi Davin, Yunita secara anonim memberitahukan kondisi Gery pada seorang tetua Keluarga Heriadi yang cukup dapat dipercaya untuk sementara menstabilkan keadaan. Saat Gery akhirnya pulih dan perlahan membuka matanya, yang dilihatnya hanyalah warna putih yang kabur.Rasa sakit yang hebat menjalar ke seluruh anggota tubuhnya, terutama di dada. Setiap tarikan napas terasa seperti siksaan yang menyakitkan.Dia memutar bola matanya yang kering, penglihatannya perlahan-lahan menjadi fokus dan melihat Yunita dengan

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 25

    Gery selalu memantau gerak-gerik Yunita secara diam-diam. Setelah mengetahui mereka berada di pulau ini, awalnya dia hanya ingin mengamati dari kejauhan. Namun, tanpa diduga menemukan tingkah mencurigakan Yuan dan anak buahnya, membuatnya melacak mereka hingga ke sini!"Lepaskan dia!" teriak Gery dengan mata berkilat merah seperti binatang terluka yang sekarat, menatap Yuan dengan tajam."Gery?" Yuan terdiam sejenak sebelum tawanya semakin gila. "Hahahaha! Kamu juga datang! Bagus! Sangat bagus! Sekalian saja aku mengirim kalian semua ke neraka!""Kamu mau apa? Lampiaskan padaku saja!" Gery melangkah maju perlahan, suaranya serak. "Lepaskan dia, nyawaku ini milikmu.""Nyawamu?" Yuan mencibir. "Aku sekarang nggak butuh apa-apa! Aku cuma mau dia menderita! Aku mau kamu lihat gimana caraku menyiksanya!"Untuk memprovokasi Gery, Yuan dan anak buahnya mulai melontarkan hinaan kejam pada Yunita, bahkan memukul Davin yang terikat dengan tongkat.Mata Gery memerah, tinjunya terkepal begitu erat

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 24

    Gery melangkah keluar, memandang wanita di bawah kakinya yang tergeletak seperti lumpur. Tak ada sedikit pun emosi di matanya."Cinta?" Dia mencibir, suaranya dingin dan menusuk. "Aku tahu betul bagaimana kamu dan ibumu bersekongkol untuk menindas Yunita. Dulu aku nggak menyentuh kalian karena merasa itu akan mengotori tanganku, dan juga ... agar Yunita bisa membalasnya sendiri."Pria itu berpikir sejenak, suaranya penuh dengan kebencian yang mendalam. "Sekarang, dia sudah bertindak. Aku sangat puas."Dia berbalik dan melemparkan kalimat terakhir kepada para pengawal di belakangnya, "Usir dia."Pintu utama tertutup dengan keras.Yuan terduduk lemas di lantai yang dingin, seolah-olah dia telah jatuh ke jurang.Dalam keputusasaannya, Yuan entah bagaimana menemukan tempat tinggal Yunita. Tubuhnya kurus kering, tatapannya berbisa seperti ular. Dia menjerit mengutuk Yunita, "Yunita! Dasar wanita terkutuk! Kamu akan mati dengan mengerikan! Kamu mencuri segalanya dariku! Kamu akan mendapatka

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 23

    Kota Bandan, ruangan eksekutif di lantai teratas gedung Heriadi Group, suasananya sunyi seperti makam.Tirai tebal tertutup rapat, memutus seluruh cahaya dari luar. Gery terkulai di kursi eksekutifnya yang besar, botol-botol minuman keras kosong berserakan di kakinya.Tubuhnya kurus hingga tak berbentuk, rongga matanya cekung, rambut peraknya yang mencolok menambah kesan putus asa dan aneh.Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah foto hasil jepretan paparazi yang agak buram namun tetap jelas.Di sebuah kafe terbuka di sebuah kota kecil di Aurela Selatan, Yunita mengenakan gaun kuning pucat yang cerah, dia mendongak sambil tertawa, menyuapi Davin satu suap es krim.Davin memandangnya dengan wajah penuh kasih, jarinya mencubit lembut hidung Yunita. Sinar matahari menyelimuti mereka, tampak indah hingga menyilaukan mata."Uhuk!"Seteguk darah menyembur dari mulut Gery tanpa peringatan, memercik ke layar ponsel dan karpet wol mahal, menyebarkan warna merah menyala.Dia terbatuk hebat,

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status