Share

Bab 9

Author: F.F
"Yuan! Berani kamu! Apa kamu nggak takut aku akan membunuhmu setelah keluar dari sini?" Yunita meronta, tetapi dengan mudah ditaklukkan oleh kedua pria itu.

"Membunuhku?" Yuan seperti mendengar lelucon. "Sebelum kamu membunuhku, Kak Gery pasti akan menghentikanmu. Apa kamu lupa bagaimana dia selalu berada di pihakku?"

Kata-kata itu seperti pisau tajam yang menusuk tepat ke titik paling menyakitkan di hati Yunita.

Memang benar, setiap kali, terlepas dari benar atau salah, Gery selalu memilih untuk percaya dan melindungi Yuan.

Rasa tak berdaya dan keputusasaan yang mendalam kembali mencengkeramnya.

Dia dipaksa duduk di kursi logam dingin, tangan dan kakinya diikat erat dengan sabuk kulit. Kemudian, elektroda ditempelkan ke kulitnya.

Yuan dengan ekspresi penuh kepuasan yang kejam, menekan tombol pengontrol di tangannya.

"Ahh ...!"

Arus listrik yang kuat langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Rasa sakit yang hebat dan sensasi kebas membuatnya menjerit pilu, tubuhnya kejang-kejang tak terkendali.

Pandangannya kabur, dan kesadarannya dengan cepat hilang di tengah rasa sakit yang luar biasa .…

Entah sudah berapa lama waktu berlalu, akhirnya Yunita terbangun dan mendapati dirinya terbaring di ranjang besar yang empuk, tidak lagi di sel isolasi yang menakutkan itu.

Gery duduk di samping ranjang, alisnya berkerut saat melihat kondisinya yang pucat dan lemah. "Aku hanya menyuruhmu dikurung selama tiga hari untuk merenungkan perbuatanmu. Bagaimana kamu bisa jadi begini?"

Yunita tetap menutup mata, tidak ingin menatapnya atau berbicara dengannya.

Dia sudah lama kehilangan harapan bahwa Gery akan memercayainya.

"Yunita." Suara Gery terdengar sedikit khawatir. "Aku ini tunanganmu. Kamu bisa menceritakan semuanya padaku."

‘Tunangan?’ Yunita mencibir dalam hati.

Dia perlahan membuka mata, menatap Gery dan berkata dengan suara yang tenang namun menakutkan, "Baik, akan kuberitahu. Semua luka ini karena Yuan kesayanganmu. Di hari ketiga, dia datang dengan orang-orangnya, mengikatku ke kursi listrik, dan menyetrumku sampai seperti ini."

Pupil mata Gery menyempit, wajahnya menunjukkan keterkejutan dan ketidakpercayaan. "Kursi listrik? Mustahil! Yuan ... bagaimana mungkin dia bisa ...."

"Lihat, kamu nggak percaya padaku, kan?" Yunita memaksakan senyum mengejek.

Tidak masalah. Karena pria itu tidak percaya padanya, maka dia akan menyelesaikan masalah ini sendiri.

Yunita bersungguh-sungguh dengan tekadnya!

Malam itu juga, Yunita menyuruh seseorang menelanjangi Yuan yang menderita fobia ketinggian akut, lalu mengikatnya di tepi atap gedung Heriadi Group, dan menggantungnya di tengah angin dingin sepanjang malam!

Keesokan harinya, Gery datang dengan amarah yang meluap. "Yunita! Kamu sudah benar-benar keterlaluan! Kamu berani sekali menggantung Yuan di atap semalaman! Apa kamu tahu dia sangat ketakutan dan meronta-ronta sampai hampir jatuh? Kalau bukan karena jaring pengaman di bawah, dia pasti sudah mati!"

Yunita duduk di dekat jendela, dia bahkan tidak berkedip, wajahnya tetap tanpa ekspresi seolah sedang mendengarkan sesuatu yang bukan urusannya.

Gery yang melihat sikap keras kepala dan tidak mau mengalah Yunita, menjadi semakin marah. "Kalau bukan karena pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi, aku dan papamu nggak akan melepaskanmu begitu saja. Kamu harus tinggal di rumah beberapa hari ini, nggak boleh pergi ke mana pun, apalagi sampai membuat masalah lagi, dengar nggak?"

Yunita tetap diam, seolah-olah pria itu tidak ada di sana.

Gery menatapnya dengan kesal, lalu pergi dengan aura dingin, sambil membanting pintu.

Pada malam sebelum pernikahan, Yunita sudah dibawa pulang dengan wajah masih pucat pasi.

Melihat Yunita, Aditya langsung memakinya habis-habisan, menyebutnya sebagai ular berbisa.

Yunita berkata, "Kalau aku ular berbisa, putrimu yang berharga itu pasti sudah bereinkarnasi delapan kali sekarang."

Aditya sangat marah dan meraung naik pitam, "Dasar anak durhaka! Sampai kapan kamu mau terus membuat masalah?"

Yunita menjawab, "Kamu membawa selingkuhanmu masuk ke rumah, membiarkan putri harammu itu merebut posisi. Selama aku masih di sini, tentu saja aku akan membuat masalah. Kalau bukan, terus aku harus apa? Memasak untuk kalian?"

"Ka ... kamu ...." Darah Aditya mendidih, napasnya sesak sampai hampir pingsan. "Bagus. Oke, aku nggak bisa menang debat denganmu! Kuberitahu ya, besok itu pernikahan Yuan dan Gery! Kamu nggak boleh datang! Jangan membuatku malu!"

Yunita terkekeh, "Jangan khawatir, itu cuma pernikahan yang kaku dan membosankan. Bahkan, kalau kamu memohon padaku untuk datang, aku nggak akan sudi."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 28

    Waktu berlalu dengan cepat, sepuluh tahun telah berlalu dalam sekejap mata.Yunita dan Davin diundang untuk menghadiri sebuah konser klasik bergengsi di Kota Valien, Auremon.Waktu seolah sangat baik kepada Yunita, pesona kedewasaan menambah daya tariknya, membuatnya tampak semakin anggun dan tenang. Berdiri di samping Davin yang masih tampan dan tak terkekang tetapi sekarang tampak jauh lebih dewasa, mereka tetap menjadi pasangan yang membuat orang iri.Selama waktu istirahat, Yunita pergi ke toilet, sementara Davin ditahan oleh seorang musisi yang dikenalnya untuk berbincang.Dia berjalan sendirian menyusuri koridor yang dilapisi karpet tebal, namun di tikungan, dia berpapasan dengan seseorang secara tak terduga.Dia adalah seorang pria yang duduk di kursi roda, dan didorong oleh seorang perawat. Dia mengenakan mantel gelap yang rapi, selimut menutupi lututnya. Rambutnya hampir seluruhnya putih, wajahnya tampak tua dan kurus dipenuhi kerutan. Hanya sorot matanya yang masih dalam, di

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 27

    Tidak ada kata-kata indah yang berlebihan, tidak ada janji palsu, hanya pengakuan paling lugas dengan gaya khas Davin. Namun, hal itu sangat menyentuh hati Yunita dibandingkan kata-kata manis apa pun.Memandang pria di hadapannya yang bersedia menerima semua kekurangannya dan memberinya kebebasan tanpa batas, matanya memanas, sementara senyum bahagia yang begitu cerah merekah di wajahnya.Dia mengulurkan tangan, mengangguk kuat, dan berkata dengan suara jernih serta tegas, "Iya! Aku mau menikah denganmu!"Davin terpaku sejenak, lalu melompat kegirangan, buru-buru memasangkan cincin di jari manisnya, ukurannya pas sekali!Davin mengangkatnya ke dalam pelukan, memutar-mutarnya di tempat, sangat bahagia seperti anak kecil yang menemukan harta karun paling berharga di dunia!"Yuhuu! Akhirnya aku punya istri!" teriaknya ke arah ladang lavender, suaranya bergema di senja hari.Yunita melingkarkan lengannya ke leher Davin, tertawa hingga air mata mengalir di wajahnya. Matahari terbenam menyi

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 26

    Ketika dokter keluar dengan wajah lelah dan mengumumkan, "Operasinya berhasil, tapi kondisinya masih kritis. Pemulihan selanjutnya akan sangat lama dan kemungkinan besar akan meninggalkan komplikasi serius," kaki Yunita terasa lemas. Dia hampir terjatuh ke lantai, untungnya Davin segera menopangnya.Gery terbaring tak sadarkan diri di unit perawatan intensif selama dua minggu.Selama itu, Heriadi Group kehilangan pimpinan, harga saham anjlok, dan situasi internal kacau.Melalui koneksi Davin, Yunita secara anonim memberitahukan kondisi Gery pada seorang tetua Keluarga Heriadi yang cukup dapat dipercaya untuk sementara menstabilkan keadaan. Saat Gery akhirnya pulih dan perlahan membuka matanya, yang dilihatnya hanyalah warna putih yang kabur.Rasa sakit yang hebat menjalar ke seluruh anggota tubuhnya, terutama di dada. Setiap tarikan napas terasa seperti siksaan yang menyakitkan.Dia memutar bola matanya yang kering, penglihatannya perlahan-lahan menjadi fokus dan melihat Yunita dengan

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 25

    Gery selalu memantau gerak-gerik Yunita secara diam-diam. Setelah mengetahui mereka berada di pulau ini, awalnya dia hanya ingin mengamati dari kejauhan. Namun, tanpa diduga menemukan tingkah mencurigakan Yuan dan anak buahnya, membuatnya melacak mereka hingga ke sini!"Lepaskan dia!" teriak Gery dengan mata berkilat merah seperti binatang terluka yang sekarat, menatap Yuan dengan tajam."Gery?" Yuan terdiam sejenak sebelum tawanya semakin gila. "Hahahaha! Kamu juga datang! Bagus! Sangat bagus! Sekalian saja aku mengirim kalian semua ke neraka!""Kamu mau apa? Lampiaskan padaku saja!" Gery melangkah maju perlahan, suaranya serak. "Lepaskan dia, nyawaku ini milikmu.""Nyawamu?" Yuan mencibir. "Aku sekarang nggak butuh apa-apa! Aku cuma mau dia menderita! Aku mau kamu lihat gimana caraku menyiksanya!"Untuk memprovokasi Gery, Yuan dan anak buahnya mulai melontarkan hinaan kejam pada Yunita, bahkan memukul Davin yang terikat dengan tongkat.Mata Gery memerah, tinjunya terkepal begitu erat

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 24

    Gery melangkah keluar, memandang wanita di bawah kakinya yang tergeletak seperti lumpur. Tak ada sedikit pun emosi di matanya."Cinta?" Dia mencibir, suaranya dingin dan menusuk. "Aku tahu betul bagaimana kamu dan ibumu bersekongkol untuk menindas Yunita. Dulu aku nggak menyentuh kalian karena merasa itu akan mengotori tanganku, dan juga ... agar Yunita bisa membalasnya sendiri."Pria itu berpikir sejenak, suaranya penuh dengan kebencian yang mendalam. "Sekarang, dia sudah bertindak. Aku sangat puas."Dia berbalik dan melemparkan kalimat terakhir kepada para pengawal di belakangnya, "Usir dia."Pintu utama tertutup dengan keras.Yuan terduduk lemas di lantai yang dingin, seolah-olah dia telah jatuh ke jurang.Dalam keputusasaannya, Yuan entah bagaimana menemukan tempat tinggal Yunita. Tubuhnya kurus kering, tatapannya berbisa seperti ular. Dia menjerit mengutuk Yunita, "Yunita! Dasar wanita terkutuk! Kamu akan mati dengan mengerikan! Kamu mencuri segalanya dariku! Kamu akan mendapatka

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 23

    Kota Bandan, ruangan eksekutif di lantai teratas gedung Heriadi Group, suasananya sunyi seperti makam.Tirai tebal tertutup rapat, memutus seluruh cahaya dari luar. Gery terkulai di kursi eksekutifnya yang besar, botol-botol minuman keras kosong berserakan di kakinya.Tubuhnya kurus hingga tak berbentuk, rongga matanya cekung, rambut peraknya yang mencolok menambah kesan putus asa dan aneh.Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah foto hasil jepretan paparazi yang agak buram namun tetap jelas.Di sebuah kafe terbuka di sebuah kota kecil di Aurela Selatan, Yunita mengenakan gaun kuning pucat yang cerah, dia mendongak sambil tertawa, menyuapi Davin satu suap es krim.Davin memandangnya dengan wajah penuh kasih, jarinya mencubit lembut hidung Yunita. Sinar matahari menyelimuti mereka, tampak indah hingga menyilaukan mata."Uhuk!"Seteguk darah menyembur dari mulut Gery tanpa peringatan, memercik ke layar ponsel dan karpet wol mahal, menyebarkan warna merah menyala.Dia terbatuk hebat,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status