LOGINMereka bertiga keluar dari mobil dan berjalan ke arah rumah Liana. Liana dengan sengaja menggandeng tangan Evan untuk membuat Karin cemburu. Mungkin ini juga yang dirasakan Karim selama dia bersama dengan Evan.
"Kenapa pake gandeng-gandeng segala sih," cibir Karin yang berjalan di belakang Liana dan Evan. Karin tidak takut berbicara dengan suara keras. Baginya Liana tidak bisa dengar. Jadi bisa mencela Liana tanpa khawatir ketahuan. Liana yang mendengar cibiran Karin semakin menjadi. Menyandarkan kepala di bahu Evan dengan mesra. Dia sendiri tidak suka melakukan itu, namun sengaja ingin membuat hubungan Evan dan Karin renggang. Setidaknya mereka ada bahan pertengkaran. "Evan, kamu jangan mau Liana manja seperti itu," protes Karin menatap Liana yang bersandar dengan tajam. "Karin, kamu yang sabar," sahut Evan tanpa melihat ke arah Liana atau Karin. Pandangan lurus ke depan. "Sabar apaan. Kamu jangan cari kesempatan." "Karin …." "Evan, apa kamu bicara sesuatu sama aku. Atau kamu sedang berbicara sama Karin," potong Liana berdiri dengan tegak kembali. [Tadi aku menyuruh dia masuk] Jawab Evan setelah mengetik pada handphone. [Ayo kita masuk] Lanjut Evan mengetik kembali. "Oke, tapi kamu gendong aku ya. Kepala aku pusing, ni," ujar Liana dengan manja. Tidak lupa sebelah tangan memegang kepala. Biar lebih meyakinkan lagi. "Evan, jangan mau. Biarkan dia jalan sendiri," desis Karin menatap Evan dengan tajam. Evan bisa merasakan tatapan Karin dari balik punggung. Tidak berbalik badan biar Liana tidak curiga jika mereka berdua sedang berbicara. "Karin, ada apa? Kenapa kamu nggak masuk?" tanya Liana memutuskan tatapan Karin. Karin terpaksa masuk duluan. Kedua kakinya dihentakkan dengan kasar. Tidak lupa melayangkan tatapan sinis ketika berpapasan dengan Evan. Sebagai tanda jika dia tidak suka Evan menuruti keinginan Liana. "Liana …." "Ayo Evan kita masuk. Aku jalan sendiri aja. Pusing aku sudah nggak terasa lagi." "Ah … ayo," sahut Evan membawa Liana masuk ke dalam rumah. Evan menghela nafas lega. Tidak jadi menggendong Liana. 'Jangan harap hidup kalian akan tenang setelah ini. Akan aku pastikan kalian akan memohon ampun di kakiku.' *** Liana, Evan dan Karin duduk di sofa ruang keluarga. Barang dari rumah sakit sudah dibawa ke dalam kamar oleh pembantu. Karin memberikan kode kepada Evan. "Sabar Karin," bisik Evan. Liana mengerutkan kening. Ada apa dengan mereka berdua. Mereka seperti mau ngomong sesuatu dengannya. Dari gerak gerik mereka sudah mencurigakan. "Nggak usah bisik-bisik. Toh, dia juga nggak denger," cibir Karin. Evan sudah menyiapkan papan ujian yang telah ditaruh lembaran-lembaran kertas agar memudahkan untuk berkomunikasi dengan Liana. Terlalu lama jika harus mengetik di handphone. [Liana, apa boleh Karin tinggal disini untuk sementara] Itu adalah tulisan yang ditulis oleh Evan dan disodorkan ke Liana. "Kenapa Karin tinggal di sini? Apa terjadi sesuatu sama kamu Karin?" tanya Liana menoleh ke arah karin. [Aku ingin Karin menemani kamu di sini selama aku tidak ada. Karin adalah sahabat kamu. Dia bisa menjaga kamu di rumah selama aku kerja] Evan kembali menyodorkan tulisannya. "Terus bagaimana dengan pekerjaan Karin?" [Aku bisa menghandle semuanya selama kamu dalam masa penyembuhan. Bagi aku, kamu lebih penting dibanding aku yang sibuk mengurus perusahaan. Aku juga masih memiliki bawahan yang bisa aku andalkan] Dulu Liana tidak mempermasalahkan Karin yang lebih memilih menjadi sekretaris Evan dibandingkan bekerja dengannya. Ternyata semua itu sudah mereka rencanakan. Jika Karin menjadi sekretaris Evan maka mereka bisa sering bertemu. Ada waktu berselingkuh di belakangnya. Pantesan saja Karin menolak tawaran kerja darinya. "Oh begitu, baiklah. Terima kasih ya Karin. Kamu mau repot-repot menjaga aku," balas Liana mengikuti permainan mereka. 'Sementara aku harus memisahkan mereka berdua sebisa mungkin. Kalau di rumah, aku masih bisa mengawasi mereka daripada mereka tetap di tempat kerja yang sama,' sambung Liana dalam hati. Evan menyerahkan papan tulis tadi kepada Karin. Agar Karin bisa membalas omongan Liana. "Kenapa aku harus capek-capek menulis seperti ini sih," ujar Karin dengan tetap tersenyum. "Sudah, kamu tulis aja. Jangan banyak bicara. Nanti Liana bisa baca gerak bibir kamu," tegur Evan. "Mana mungkin dia bisa membaca gerak bibir aku, dia kan bodoh. Sudah bertahun-tahun aku memanfaatkan dia, tapi dia juga masih belum sadar," omel Karin menerima papan itu dengan malas. 'Apa? Jadi, ternyata Karin sudah bertahun-tahunt bohongi aku. Jadi selama ini dia tidak tulus berteman sama aku. Aku sudah menganggap dia lebih dari sahabat aku sendiri. Seberapa banyak kamu membohongi aku Karin.' Sungguh hati Liana sangat kecewa. Bagaimana bisa selama bertahun-tahun terus dibohongi. Apa Karin sama sekali tidak mempunyai hati dan luluh dengan kebaikan dia selama ini. "Karin, kamu bicara apa? Aku tidak bisa dengar," ujar Liana meremas kedua tangan dengan erat. Menahan agar tidak mengeluarkan rasa kecewa. [Tidak bicara apa-apa, kok] Balas Karin pada lembar pertama. Kemudian Karin melanjutkan menulis lagi. [Liana, apa aku boleh tinggal di sini. Aku bisa menemani kamu sampai sembuh. Aku juga bisa menjadi kawan bicara kamu. Kamu pasti sepi kalau sendiri di rumah kamu yang besar ini] "Karin, kamu sudah sangat baik sama aku selama ini. Apa kamu tidak keberatan menemani aku, aku tidak mau kamu kerepotan Karin," ujar Liana dengan sendu. [Kamu itu sahabat aku. Mana mungkin aku repot] 'Bagus, dengan begini Evan dan Karin mempunyai banyak waktu berdua di rumah ini. Mereka pasti tidak akan takut berbicara sesuka hati mereka karena mengira aku tidak bisa mendengar. Aku harus memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari tahu lebih banyak tentang mereka.' "Aku sungguh beruntung mempunyai sahabat seperti kamu. Kamu benar-benar kawan terbaik aku." [Aku juga beruntung memiliki kamu] "Beruntung karena aku dengan mudah bisa membodohi kamu," cibir Karin. [Liana, apa kamu mau istirahat sekarang? Kamu masih butuh banyak istirahat] Tulis Evan setelah Karin menyerahkan kembali papan tulis. "Iya Evan, aku mau istirahat," balas Liana bisa mencium gelagat Evan. Ada sesuatu yang sedang direncanakan. [Apa mau aku bantu ke kamar] "Tidak perlu, Evan. Aku bisa sendiri. Aku ini tuli, bukan lumpuh. Karin, aku duluan ke kamar ya, mau istirahat," pamit Liana. Karin mengangguk kepala dan tersenyum kecil. Setelah itu Liana menuju ke arah kamar. Setelah berbelok dan menghilang di balik tembok dia tidak langsung menuju ke kamar. Dia ingin mendengar apa isi obrolan antara sang suami dan sahabatnya. "Liana itu semakin lama semakin menyebalkan," kata Karin menunjukkan sosok aslinya. "Menyebalkan begitu masih kamu tempeli." "Sayang kan kalau diabaikan," balas Karin mengangkat bahu. "Apa kamu sudah menyiapkan semua barang kamu?" "Iya, sebentar lagi barang aku tiba ke sini." "Apa kamu juga mau istirahat." "Boleh, aku juga capek." "Ayo, aku antar kamu ke kamar." "Kamu hanya antar kan, tidak macam-macam." "Iya, aku tidak macam-macam. Sekarang Liana ada di rumah dan aku juga capek jaga dia selama di rumah sakit." Evan menggandeng Karin menuju ke dalam kamar. Meletakkan sebelah tangan di pinggang ramping Karin dengan romantis. Hal yang sangat jarang dia lakukan terhadap Liana. Tanpa sepengetahuan Evan dan Karin, Liana mengikuti mereka dari belakang. Mereka berdua menuju ke kamar tamu yang jauh dari ruangan tadi. Instingnya berkata harus mengikuti mereka. Liana menempelkan telinga di pintu kamar yang telah ditempati oleh Karin dan Evan. Berusaha untuk menguping obrolan antara Karin dan Evan. Namun betapa sangat terkejutnya dia ketika mendengar sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Hal Apakah yang didengar oleh Liana? Bersambung …."Virga! Cukup!" ucap Darman keluar dari mobil bersama Liana. Liana dan Darman tiba bersamaan dengan polisi. "Jangan bergerak! Kalian berdua sudah terkepung. Kalian akan kami tahan dengan kasus percobaan pembunuhan, penipuan dan perampokan." "Jangan dulu, aku belum puas mengajar mereka," larang Virga. "Virga, cukup!" Virga mengabaikan larangan mereka. Dia yang masih berada di atas tubuh Evan membalikkan badan Evan. Dia melanjutkan menghajar Evan. Evan sama sekali tidak bisa melawan. Tangannya sangat sakit dan tidak bisa digerakkan lagi. Polisi segera menahan tubuh Virga. Virga menghajar Evan bagaikan orang kesurupan. Sedangkan Evan yang tidak sanggup menahan lagi akhirnya jatuh pingsan. "Liana, tolong maafkan aku," mohon Karin tidak mau masuk penjara. "Maaf? Kemana saja kamu selama ini. Sekarang sudah terlambat kamu minta maaf. Andai saja waktu itu kamu minta maaf, mungkin aku akan melepaskan kamu," sahut Liana. "Liana, aku bersalah Liana. Aku benar-benar minta maaf." "P
Virga menutup telepon dari Liana. Dia segera mengambil kunci mobil milik dan sebelah tangan tangan menghubungi bawahnya. "Kamu cepat cari di mana lokasi Evan. Aku ingin secepatnya kamu menemukan mereka. Jangan sampai mereka kabur ke luar negeri," perintah Virga. Virga menutup kembali handphone. Segera masuk ke dalam mobil. Tangannya dengan cekatan menghidupkan dan membawa mobil mengelilingi kota. Virga berkeliling kota sambil menunggu bawahan mendapat posisi pasti Evan dan Karin. Setelah berhasil mendapatkan titik mereka, Virga langsung menuju ke sana. "Ternyata mereka berniat kabur ke luar negeri sesuai dugaan aku. Jangan harap kalian bisa lepas dari genggaman tangan aku." Virga segera memutar arah mobil. Dengan kecepatan tinggi dia mengejar mobil milik Evan dan Karin. Setelah mobil milik Evan ditemukan, dia menghadang mobil milik mereka berdua. "Evan, awas!" teriak Karin terkejut. Evan juga terkejut dengan mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya. Dia dengan cepat menginjak
"Apa yang ingin kamu katakan sama Paman. Sepertinya sangat penting," ujar Darman. "Paman, kemarin Evan berencana ingin meracuni aku. Semalam dia tiba-tiba kasih aku teh. Dalam teh itu ada sesuatu obat," terang Liana. "Apa? Evan ingin meracuni kamu?" tanya Darman terkejut. Darman tidak akan melepaskan Evan jika terjadi sesuatu yang buruk sama Liana. Dia beserta anaknya akan mengejar Evan sampai ke ujung dunia sekalipun. "Iya Paman. Untung saja Liana cepat sadar. Selama ini Evan tidak pernah membuat aku teh. Jadi Liana tanpa pikir panjang membuang teh tersebut." "Apa? Evan gagal meracuni Liana. Apa Liana sudah curiga sama Evan. Sejak kapan dia mengetahui semua ini. Gawat, aku harus bilang hal ini kepada Evan. Tapi aku harus menunggu mereka selesai bicara dulu," putus Karin tetap berada di sana. "Kamu tenang saja Liana. Kita akan memenjarakan Evan dengan kasus percobaan pembunuhan. Sekarang kita sudah berhasil mengambil semua harta milik kamu yang diambil oleh mereka." 'Ternyata
Evan langsung menjalankan rencananya saat malam hari. Tidak buang-buang waktu lagi. Dia memasukkan serbuk obat yang didapatkan dari temannya ke dalam teh. Memberikan racun lewat teh itu kepada Liana. "Liana," panggil Evan mencari Liana setelah teh itu selesai dibuat. Liana berada di depan TV sedang mengerjakan laporan. Bukan hal besar yang harus diperiksa. Hanya mencocokkan data saja. Jadi dia memutuskan mengerjakan di ruang TV sambil menyalakan TV. Supaya tidak terlalu sunyi. "Ada apa Evan," sahut Liana menatap ke arah Evan yang melangkah ke arahnya. "Ini, aku buatkan teh buat kamu. Kamu pasti sangat capek dan mengurus itu. Ini, minum dulu," kata Evan menyodorkan gelas teh ke arah Liana. 'Tumben dia buat aku teh. Ini pasti ada sesuatu yang tidak beres. Tidak mungkin dia langsung berubah,' curiga Liana. "Terima kasih ya. Kamu sangat baik," sahut Liana tetap menerima teh tersebut. Mencegah Evan curiga jika dia mencurigai teh tersebut. Liana hanya meletakkan teh itu di di atas me
"Apa? Terus bagaimana dengan pak Dirga. Dia orang yang sangat penting di perusahaan kita?" "Dia juga ikut membatalkan proyek dengan kita. Andai dia masih membantu kita, perusahaan kita masih bisa diselamatkan." "Apa kamu sudah membujuk pak Dirga, Evan?" "Aku sudah berusaha membujuk dia. Dia tetap tidak mau membantu kita. Kamu lihat memar di wajah aku, dia yang menghajar aku sampai begini," ujar Evan menunjukkan memar di beberapa tempat di tubuhnya. "Dia menghajar kamu?" tanya Karin kurang percaya. Setahu Karin, pak Dirga bukan tipe orang yang akan bersikap kasar. "Kenapa pak Dirga memukul kamu?" tanya Karin penasaran. "Tadi aku ingin menjamin Liana jika dia mau tetap bekerja sama dengan kita. Kamu kan tahu, pak Dirga itu menyukai Liana. Jadi aku berusaha membujuk dia mau membantu kita dan aku akan memberikan Liana untuk dia." "Kamu menjual Liana begitu saja?" "Iya." 'Pantas saja pak Dirga marah. Tidak semua orang akan berpikir bijak seperti dia. Lagian, kenapa Evan bisa ne
"Ada apa Pak Evan menemui saya?" "Pak Dirga, kenapa Bapak membatalkan proyek yang sudah kita buat?" "Proyek yang telah kita buat mengalami banyak kendala. Jika saya melanjutkan ini, maka hanya akan sia-sia." "Pak, saya masih bisa mengelola semua itu. Saya hanya perlu modal sedikit saja dari Bapak," pinta Evan menyakinkan Dirga. "Saya tidak mau melanjutkan lagi. Saya tidak ingin waktu saya terbuang sia-sia." Evan bingung harus bagaimana. Dia tidak ingin kehilangan pak Dirga. Hanya Dirga satu-satunya penolong. "Pak, tolong lah. Tolong berikan kesempatan buat saya sekali lagi," mohon Evan dengan bersujud. Evan rela bersujud. Dia akan melakukan apapun untuk menyelamatkan perusahaan. "Maaf Pak, perusahaan kami hanya memberikan kesempatan sekali saja. Orang di perusahaan kami menghindari resiko yang sangat berbahaya. Karena itu akan mempengaruhi perusahaan kami." "Pak, jika Bapak berjanji mau membantu saya maka saya akan melakukan apapun," ucap Evan dengan nekad. "Apa maksud Bapa







