Share

Bab 3. Pura-pura Tuli

last update Last Updated: 2025-10-18 00:26:12

Evan dan Karin kembali masuk ke ruangan Liana setelah dipanggil oleh suster. Mereka melihat Liana yang sudah tenang di atas tempat tidur.

"Dokter, apa yang terjadi sama istri saya?"

"Pak, istri Bapak secara keseluruhan baik-baik saja."

"Baik-baik saja?" tanya Karin tidak suka. Bukankah Liana sudah tuli.

"Maksudnya untuk luka yang dialami Bu Liana. Tapi tidak dengan pendengarannya."

"Maksudnya, Dokter?" tanya Evan melirik ke Karin.

"Istri Bapak mengalami masalah dengan pendengaran."

"Apa itu akan permanen Dokter?"

"Bapak tenang saja, gangguan pendengaran Ibu Liana hanya sementara. Jika Ibu Liana rajin pemeriksaan dan terapi, maka Ibu Liana bisa sembuh."

'Kenapa nggak sekalian tuli permanen saja sih. Dengan begitu aku ada alasan untuk meninggalkan dia setelah aku berhasil mengambil seluruh hartanya. Aku tidak mau hidup dengan perempuan bodoh seperti dia terus,' batin Evan kecewa dengan pernyataan dokter.

"Pak, apa Bapak tidak apa-apa," tegur dokter ketika Evan melamun.

Karin menyenggol lengan Evan untuk menyadarkan Evan. Perlakuan Karin tidak lepas dari mata dokter dan suster.

"Evan, Dokter bertanya sama kamu," tegur Karin berbisik kecil.

"Ah iya Dok, saya tidak apa-apa," ucapan Evan gelagapan.

***

Sekarang di dalam ruangan tinggal mereka bertiga. Dokter dan suster sudah pergi beberapa menit yang lalu.

"Karin, sebaiknya kamu pulang saja. Kamu tidak boleh terlalu capek," ujar Evan mengelus rambut Karin..

"Terus bagaimana dengan Liana?"

"Liana biar aku saja yang jaga. Aku tidak mau kalau kamu jatuh sakit," balas Evan.

"Baiklah, nanti kabari aku kalau ada apa-apa. Awas kamu, jangan genit sama Liana," tegur Karin memicingkan mata.

"Tenang saja, aku tidak akan berpaling dari kamu," sahut Evan mencium kening Karin.

"Kamu bisa saja. Pakek acara ngerayu segala."

"Aku tidak merayu kamu. Oh ya sekalian kamu siapin semua barang kamu," suruh Evan mundur satu langkah.

"Siapin barang?" tanya Karin tidak mengerti.

"Iya, kan kamu mau pindah ke rumah Liana. Katanya sudah tidak betah tinggal di kos-kosan."

Evan berjalan ke arah sofa. Duduk di sana dengan santai. Diikuti Karin yang duduk di sampingnya.

"Tapi kita belum bicara masalah ini sama Liana," sahut Karin masih ragu untuk pindah dengan cepat.

"Besok kita bicara sama Liana ya. Jadi, nanti barang kamu tinggal kita pindahkan saja."

"Baiklah, aku akan menyiapkan semua barang-barang aku."

"Ayo aku antar kamu pulang," ajak Evan bangun dari sofa.

Evan meninggalkan Liana sendiri di dalam ruang rawat. Dia lebih memilih mengantar Karin daripada Karin pulang dengan kendaraan umum.

***

Liana sudah membuka mata dari tadi. Di dalam ruangan hanya ada dirinya. Evan juga pergi jalan-jalan setelah mengantar Karin. Dia tidak mau merawat Liana yang sakit, apalagi Liana yang masih tertidur. Terlalu malas menunggu Liana sadar dan memilih mencari hiburan.

Liana menghela nafas berat. Dia merasa sendirian sekarang. Orang yang dia cintai dan percaya mengkhianati dirinya. Namun sekarang belum terlambat untuk dia sadar. Dia harus kuat untuk menghadapi Evan dan Karin.

***

Liana kembali menutup mata ketika pintu terdengar ada yang masuk. Dia bisa mendengar suara langkah kaki yang mendekat saking sepinya.

"Ternyata dia masih tidur. Percuma aku balik cepat. Dasar perempuan menyusahkan," decak Evan kesal yang menatap jam masih menunjukkan pukul sembilan malam.

"Tahu gini tadi aku masih lanjut main dengan temanku," sambung Evan menurunkan tangan.

Evan berjalan ke arah tempat sofa yang tadi siang. Dia duduk di sana, merilekskan tubuhnya yang lelah. Tadi dia telah kalah main taruhan bersama teman-temannya.

Liana menguatkan hatinya yang semakin sakit. Dia sudah tahu jika suaminya tidak menginginkannya. Tetap saja terasa sakit saat diungkit lagi.

Dalam hati Liana menenangkan diri sebelum bangun. Dia harus bisa berakting yang bagus dan menyakinkan. Setelah mentalnya kuat, dia membuka matanya dengan pelan.

"Evan," panggil Liana tanpa melirik ke arah Evan yang duduk di atas sofa.

Posisi tempat tidur sedikit jauh dari sofa. Ditambah ada kain penyekat yang membatasinya. Sehingga Liana tidak bisa melihat Evan secara langsung.

"Evan! Evan kamu dimana?" panggil Liana lagi. Tidak ada bayangan Evan yang muncul dari balik penyekat. Serta tidak ada langkah kaki.

Liana tahu jika Evan mendengar suaranya dengan jelas. Dia juga bisa mendengar suara Evan yang berdecak kesal.

"Evan! Evan," pancing Liana dengan suara yang lebih keras.

Evan bangun dari sofa dengan kasar. Kakinya berjalan ke arah Liana dengan malas.

"Liana, kamu sudah bangun?" tanya Evan merubah raut wajah menjadi khawatir.

"Evan, kamu dari mana saja. Aku takut, Evan?" ujar Liana meraih lengan Evan.

"Kamu tidak perlu takut. Ada aku di sini," balas Evan ingin melepaskan tangan Liana. Namun Liana memegang lebih erat. Tahu jika Evan tidak suka dia menyentuhnya.

"Kamu ngomong apa Evan, aku tidak bisa dengar," ujar Liana dengan berpura-pura menangis.

"Dasar tuli, buat orang susah saja," decak Evan kembali melepaskan tangan Liana.

Evan mengambilkan kertas dan pulpen yang telah disiapkan oleh suster sebelum Liana bangun. Supaya memudahkan mereka untuk berkomunikasi dengan Liana.

[Kamu tenang saja, ya. Kamu baik-baik saja. Hanya saja ada masalah dengan pendengaran kamu] Tulis Evan pada lembar kertas tersebut.

"Apa? Maksud kamu aku tulis?"

[Kata dokter itu hanya tuli sementara]

"Jadi aku bisa sembuh?"

Evan mengangguk kepala pelan.

"Evan, apa kamu akan meninggalkan aku?" tanya Liana yang sudah tau apa jawaban yang sebenarnya.

[Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Kamu adalah satu-satunya perempuan yang aku cintai di dunia ini]

Evan mengelus rambut Liana untuk meyakinkan Liana. Dia juga memberikan senyuman terbaiknya.

'Tentu saja kamu tidak akan meninggalkan aku Evan. Karena kamu belum mengambil semua hartaku, kan.''

"Aku sangat beruntung memiliki suami seperti kamu," balas Liana dengan tersenyum balik.

"Dasar perempuan bodoh," ejek Evan menatap ke arah lain.

'Kita lihat siapa pada akhirnya yang bodoh. Kamu, aku atau Karin.'

***

Keesokan paginya, Liana sudah bisa kembali ke rumah. Dia pulang di jemput oleh Evan dan Karin. Karin saat bertemu dengan Liana berpura-pura menangis histeris dengan keadaan Liana. Menyalahkan diri sendiri atas kejadian Liana. Semua itu dia lakukan untuk menarik simpati Liana.

Liana berusaha membujuk Karin agar tidak menangis lagi. Untuk pertama kali dia tidak merasa sedih dengan tangisan Karin. Dia yakin jika Karin selama ini juga sering berpura-pura sedih di depannya.

Sekarang apapun yang dilakukan Karin dan Evan tidak bisa dipercayai lagi. Biarlah mereka tetap bersandiwara. Lalu dia pura-pura tidak tahu. Sampai pada saatnya semua kebohongan yang mereka buat akan dibongkar satu persatu.

Bersambung ….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pura-Pura Tuli Untuk Membongkar Rahasia Suamiku   Bab 42. Tamat

    "Virga! Cukup!" ucap Darman keluar dari mobil bersama Liana. Liana dan Darman tiba bersamaan dengan polisi. "Jangan bergerak! Kalian berdua sudah terkepung. Kalian akan kami tahan dengan kasus percobaan pembunuhan, penipuan dan perampokan." "Jangan dulu, aku belum puas mengajar mereka," larang Virga. "Virga, cukup!" Virga mengabaikan larangan mereka. Dia yang masih berada di atas tubuh Evan membalikkan badan Evan. Dia melanjutkan menghajar Evan. Evan sama sekali tidak bisa melawan. Tangannya sangat sakit dan tidak bisa digerakkan lagi. Polisi segera menahan tubuh Virga. Virga menghajar Evan bagaikan orang kesurupan. Sedangkan Evan yang tidak sanggup menahan lagi akhirnya jatuh pingsan. "Liana, tolong maafkan aku," mohon Karin tidak mau masuk penjara. "Maaf? Kemana saja kamu selama ini. Sekarang sudah terlambat kamu minta maaf. Andai saja waktu itu kamu minta maaf, mungkin aku akan melepaskan kamu," sahut Liana. "Liana, aku bersalah Liana. Aku benar-benar minta maaf." "P

  • Pura-Pura Tuli Untuk Membongkar Rahasia Suamiku   Bab 41. Kemarahan Virga

    Virga menutup telepon dari Liana. Dia segera mengambil kunci mobil milik dan sebelah tangan tangan menghubungi bawahnya. "Kamu cepat cari di mana lokasi Evan. Aku ingin secepatnya kamu menemukan mereka. Jangan sampai mereka kabur ke luar negeri," perintah Virga. Virga menutup kembali handphone. Segera masuk ke dalam mobil. Tangannya dengan cekatan menghidupkan dan membawa mobil mengelilingi kota. Virga berkeliling kota sambil menunggu bawahan mendapat posisi pasti Evan dan Karin. Setelah berhasil mendapatkan titik mereka, Virga langsung menuju ke sana. "Ternyata mereka berniat kabur ke luar negeri sesuai dugaan aku. Jangan harap kalian bisa lepas dari genggaman tangan aku." Virga segera memutar arah mobil. Dengan kecepatan tinggi dia mengejar mobil milik Evan dan Karin. Setelah mobil milik Evan ditemukan, dia menghadang mobil milik mereka berdua. "Evan, awas!" teriak Karin terkejut. Evan juga terkejut dengan mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya. Dia dengan cepat menginjak

  • Pura-Pura Tuli Untuk Membongkar Rahasia Suamiku   Bab 40. Kabur

    "Apa yang ingin kamu katakan sama Paman. Sepertinya sangat penting," ujar Darman. "Paman, kemarin Evan berencana ingin meracuni aku. Semalam dia tiba-tiba kasih aku teh. Dalam teh itu ada sesuatu obat," terang Liana. "Apa? Evan ingin meracuni kamu?" tanya Darman terkejut. Darman tidak akan melepaskan Evan jika terjadi sesuatu yang buruk sama Liana. Dia beserta anaknya akan mengejar Evan sampai ke ujung dunia sekalipun. "Iya Paman. Untung saja Liana cepat sadar. Selama ini Evan tidak pernah membuat aku teh. Jadi Liana tanpa pikir panjang membuang teh tersebut." "Apa? Evan gagal meracuni Liana. Apa Liana sudah curiga sama Evan. Sejak kapan dia mengetahui semua ini. Gawat, aku harus bilang hal ini kepada Evan. Tapi aku harus menunggu mereka selesai bicara dulu," putus Karin tetap berada di sana. "Kamu tenang saja Liana. Kita akan memenjarakan Evan dengan kasus percobaan pembunuhan. Sekarang kita sudah berhasil mengambil semua harta milik kamu yang diambil oleh mereka." 'Ternyata

  • Pura-Pura Tuli Untuk Membongkar Rahasia Suamiku   Bab 39. Menguntit

    Evan langsung menjalankan rencananya saat malam hari. Tidak buang-buang waktu lagi. Dia memasukkan serbuk obat yang didapatkan dari temannya ke dalam teh. Memberikan racun lewat teh itu kepada Liana. "Liana," panggil Evan mencari Liana setelah teh itu selesai dibuat. Liana berada di depan TV sedang mengerjakan laporan. Bukan hal besar yang harus diperiksa. Hanya mencocokkan data saja. Jadi dia memutuskan mengerjakan di ruang TV sambil menyalakan TV. Supaya tidak terlalu sunyi. "Ada apa Evan," sahut Liana menatap ke arah Evan yang melangkah ke arahnya. "Ini, aku buatkan teh buat kamu. Kamu pasti sangat capek dan mengurus itu. Ini, minum dulu," kata Evan menyodorkan gelas teh ke arah Liana. 'Tumben dia buat aku teh. Ini pasti ada sesuatu yang tidak beres. Tidak mungkin dia langsung berubah,' curiga Liana. "Terima kasih ya. Kamu sangat baik," sahut Liana tetap menerima teh tersebut. Mencegah Evan curiga jika dia mencurigai teh tersebut. Liana hanya meletakkan teh itu di di atas me

  • Pura-Pura Tuli Untuk Membongkar Rahasia Suamiku   Bab 38. Meracuni Liana

    "Apa? Terus bagaimana dengan pak Dirga. Dia orang yang sangat penting di perusahaan kita?" "Dia juga ikut membatalkan proyek dengan kita. Andai dia masih membantu kita, perusahaan kita masih bisa diselamatkan." "Apa kamu sudah membujuk pak Dirga, Evan?" "Aku sudah berusaha membujuk dia. Dia tetap tidak mau membantu kita. Kamu lihat memar di wajah aku, dia yang menghajar aku sampai begini," ujar Evan menunjukkan memar di beberapa tempat di tubuhnya. "Dia menghajar kamu?" tanya Karin kurang percaya. Setahu Karin, pak Dirga bukan tipe orang yang akan bersikap kasar. "Kenapa pak Dirga memukul kamu?" tanya Karin penasaran. "Tadi aku ingin menjamin Liana jika dia mau tetap bekerja sama dengan kita. Kamu kan tahu, pak Dirga itu menyukai Liana. Jadi aku berusaha membujuk dia mau membantu kita dan aku akan memberikan Liana untuk dia." "Kamu menjual Liana begitu saja?" "Iya." 'Pantas saja pak Dirga marah. Tidak semua orang akan berpikir bijak seperti dia. Lagian, kenapa Evan bisa ne

  • Pura-Pura Tuli Untuk Membongkar Rahasia Suamiku   Bab 37. Hadiah Istimewa

    "Ada apa Pak Evan menemui saya?" "Pak Dirga, kenapa Bapak membatalkan proyek yang sudah kita buat?" "Proyek yang telah kita buat mengalami banyak kendala. Jika saya melanjutkan ini, maka hanya akan sia-sia." "Pak, saya masih bisa mengelola semua itu. Saya hanya perlu modal sedikit saja dari Bapak," pinta Evan menyakinkan Dirga. "Saya tidak mau melanjutkan lagi. Saya tidak ingin waktu saya terbuang sia-sia." Evan bingung harus bagaimana. Dia tidak ingin kehilangan pak Dirga. Hanya Dirga satu-satunya penolong. "Pak, tolong lah. Tolong berikan kesempatan buat saya sekali lagi," mohon Evan dengan bersujud. Evan rela bersujud. Dia akan melakukan apapun untuk menyelamatkan perusahaan. "Maaf Pak, perusahaan kami hanya memberikan kesempatan sekali saja. Orang di perusahaan kami menghindari resiko yang sangat berbahaya. Karena itu akan mempengaruhi perusahaan kami." "Pak, jika Bapak berjanji mau membantu saya maka saya akan melakukan apapun," ucap Evan dengan nekad. "Apa maksud Bapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status