Share

Bab 6. Mengambil Alih Perusahaan

last update Huling Na-update: 2025-11-12 21:56:02

Pada sore hari, barang-barang Karin sudah tiba di depan rumah Liana. Liana menatap barang Karin dengan muka datar dari balik jendela. Di sana juga ada Evan yang menyuruh para pembantu untuk mengangkut barang-barang milik Karin ke dalam kamar tamu. Barang milik Karin tidak bisa dibilang sedikit. Persis seperti orang pindah rumah saja.

Dengan langkah pelan perempuan itu berjalan ke arah Karin dan Evan yang tidak menyadari kehadirannya. Dia dengan sengaja berdiri sejajar dengan mereka. Biar mereka menyadari kehadiran dia. Hanya beberapa detik Evan dan Karin menyadari ada Liana di samping mereka.

"Liana," ujar mereka berbarengan.

"Karin, kenapa barang kamu cepat sekali sampai. Apa kamu memang sudah bersiap-siap sebelumnya, sebelum mau menginap di sini?" pancing Liana.

"Sayang, kenapa kamu berkata seperti itu. Apa ada yang aneh," ujar Evan mendekat ke arah Liana.

"Evan, apa kamu lupa kalau aku tidak bisa dengar?" tanya Liana menatap Evan.

"Dasar, sangat menyusahkan saja," gumam Karin yang berada di belakang tubuh Evan.

Seandainya Liana tidak berpura-pura tuli, maka dia akan melabrak dan mengusir Karin dari rumahnya. Apa Karin memang tidak mau mengulang semuanya dari awal.

[Sayang, apa ada masalah kalau barang Karin cepat sampai?] Tanya Evan yang mengetik di handphone dan menyerahkan kepada Liana.

"Tidak ada masalah, aku hanya heran saja. Seolah-olah Karin sudah bersiap-siap ingin pindah," sindir Liana dengan tersenyum agar tidak terlihat sedang menyindir.

Evan dan Karin gugup mendengar pernyataan Liana.

[Aku memang sudah menyiapkan semua barangku lebih dulu, Liana. Sebenarnya aku telah diusir dari tempat tinggal aku sekarang. Makanya, saat kamu dan suami kamu membolehkan aku tinggal di sini, aku tinggal memindahkan barang saja] Ketik Karin dengan susah payah.

"Sayang sekali, sahabat baikku tidak ada tempat tinggal. Kamu boleh tinggal di sini sepuas kamu," sahut Liana prihatin.

[Terima kasih kamu mau menerima aku, Liana]

[Kamu memang istri yang pengertian]

"Mbak, antar barang Karin lagi ke kamar," suruh Evan kepada pembantu yang tadi sempat berhenti bekerja.

Handphone Evan masih ada di tangan Liana. Evan terlalu sibuk mengurus barang milik Karin. Hingga tiba-tiba ada sebuah notif pesan yang masuk. Liana bisa membaca pesan itu melalui notif pesan.

[Maaf Tuan, semua barang pesanan Tuan sudah kami antar ke alamat … dengan selamat. Tuan bisa mengecek sendiri.]

Setelah itu Liana buru-buru menghapus notifikasi tersebut dan menyerahkan handphone Evan kembali.

"Evan, kamu bantu Karin ya. Aku mau ke kamar sebentar," pamit Liana tanpa menunggu jawaban Evan.

'Besok aku harus ke alamat itu. Itu pasti rumah yang dibeli oleh Evan dari uangku.'

***

Setelah makan malam selesai, mereka bertiga duduk di ruang keluarga. Liana yang masih berpura-pura tuli memilih untuk membaca majalah daripada menonton televisi. Matanya memang berfokus pada majalah, tapi telinga dari tadi mencuri dengar obrolan Karin dan Evan yang saling mendorong agar meminta uang kepada dirinya.

"Coba kamu minta uang lagi sama Liana. Aku mau rumah kita cepat selesai," suruh Karin mencuri pandang agar Liana tidak melihat gerak gerik mereka.

"Apa tidak bisa kita tunggu besok saja. Minggu ini kita sudah beli banyak hiasan rumah," bisik Evan.

"Aku mau sekarang. Semakin cepat rumah itu selesai, maka aku semakin cepat bisa pindah," tolak Karin.

"Ya sudah, aku akan coba ya. Kamu jangan berisik lagi. Nanti Liana bisa melihat kita."

Evan mengambil papan tulis, lalu menyerahkan kepada Liana setelah selesai menulis.

"Ada apa Evan," kata Liana pura-pura terganggu dengan Evan yang menyodorkan papan tersebut.

[Liana, bolehkah aku minta uang. Aku butuh uang untuk dana perusahaan aku lagi]

"Evan, apa dana yang aku berikan kemarin belum cukup?"

[Uang yang kamu berikan kemarin sudah habis. Pengeluaran perusahaan aku sangat besar belakangan ini]

"Apa kamu menyerah saja sama perusahaan yang kamu urus itu? Aku lihat tidak ada perkembangan sama sekali," sahut Liana.

[Tidak Liana, aku tidak mau perusahaan yang telah aku rintis hilang begitu saja. Apakah kamu juga ikhlas jika perusahaan yang telah dirintis oleh orang tua kamu hilang] Tulis Evan untuk menyakinkan Liana.

"Baiklah aku akan memberikan kamu uangnya. Berapa jumlah yang kamu inginkan?"

Karin tersenyum senang dengan Liana yang berhasil dibodohi oleh Evan lagi. Kalau terus seperti itu dia bisa segera pindah.

[Aku butuh sekitar 500 juta]

"Itu jumlah uang yang cukup banyak. Perusahaan aku belakangan ini juga lagi mengalami masalah yang sangat serius. Bagaimana kalau aku kasih 100 juta dulu. Hanya itu yang bisa aku berikan," tawar Liana.

Liana tidak mau menyerahkan uang terlalu banyak. Namun tidak mungkin juga kalau harus menghentikan uang untuk mereka secara mendadak. Evan dan Karin bisa mencium kebohongan mereka terbongkar.

[Apa tidak bisa lebih?]

"Aku tidak ada uang Evan."

[Baiklah, aku terima]

"Kamu tunggu di sini ya. Aku akan ambil uangnya. Kebetulan aku ada uang cash di ruang kerja," kata Liana.

Liana bangun dan segera pergi menuju ke ruang kerja. Lagi-lagi dia tidak langsung pergi, dia ingin mendengar respon Karin terlebih dahulu.

"Evan, kenapa hanya 100 juta saja. Itu jumlahnya sangat sedikit. Seharusnya kamu minta satu milyar. Uang segitu tidak ada artinya bagi Liana," protes Karin tidak rela hanya dapat 100 juta.

"Karin, kamu dengar sendiri kata Liana. Perusahaan dia juga ada masalah."

"Itu pasti hanya akal-akalan Liana. Dia tidak mau memberikan uang untuk kamu."

"Karin, Liana tidak pernah berbohong sama kita. Dia selalu memberikan uang berapa banyak yang aku mau. Mungkin saja dia benar-benar tidak ada uang."

"Iya sih, dia selalu memberikan uang sama kita," ujar Karin masih sebel.

"Sudah, kamu terima seberapa adanya saja."

"Uang segitu mana cukup."

"Kamu sabar saja, kalau perusahaan Liana kembali stabil, kita akan minta lebih banyak lagi," bujuk Evan.

"Evan, bagaimana kalau kamu saja yang memegang perusahaan Liana," usul Karin yang menemukan solusi agar bisa mengambil harta Liana lebih banyak.

"Maksud kamu?" tanya Evan tidak paham dengan perkataan Karin.

"Sekarang Liana itu jadi tuli, dia akan kesulitan dalam mengurus perusahaannya. Kamu bisa berpura-pura untuk membantu perusahaan dia. Minta dia menyetujui kamu sebagai bos di perusahaan dia. Setelah itu kamu bisa mengambil uang dana perusahaan secara diam," terang Karin bangga dengan idenya.

"Ide kamu bagus juga," gumam Evan yang tidak kepikiran mengambil alih perusahaan.

"Sana, kamu langsung minta sama Liana," suruh Karin bagaikan menyuruh meminta permen saja.

"Nanti saja ya, takutnya Liana tidak setuju atau curiga. Kita tadi sudah meminta uang padanya."

"Ya udah deh. Tapi kamu harus janji agar minta sama Liana untuk mengurus perusahaan dia."

"Iya, aku janji."

Bersambung ….

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pura-Pura Tuli Untuk Membongkar Rahasia Suamiku   Bab 30. Kesalahpahaman

    Liana kembali mendorong Dirga. Kemudian dia menampar Dirga dengan sangat keras. Sekalian melampiaskan kekesalannya saat dia masih kecil. Kapan lagi dia bisa membalas tanpa dikerjain balik. Dirga memegang pipinya yang berdenyut. Dia tidak menyangka kalau Liana akan menamparnya sekeras itu. Menyesal dia menyuruh Liana berbuat senatural mungkin. "Pak, kalau punya mulut itu dijaga. Saya tidak akan pernah tertarik sama lelaki seperti anda. Bagi saya Evan adalah suami terbaik di dunia ini," ujar Liana keras agar Evan bisa mendengar dengan baik. "Terbaik? Aku ini jauh lebih kaya daripada Evan. Perusahaan aku sudah bertahun-tahun sukses. Perusahaan suami kamu itu bisa sukses berkat aku. Aku bisa saja memutuskan kontak di antara kami. Kita lihat, apa suami kamu itu masih bisa bertahan." "Suami saya memang tidak sekaya Bapak. Tapi hati anda itu jauh lebih miskin," ujar Liana meninggalkan Dirga sendiri. *** Evan dari tadi menyaksikan interaksi Liana dan Dirga. Dia sangat kaget ketika Lia

  • Pura-Pura Tuli Untuk Membongkar Rahasia Suamiku   Bab 29. Kemunculan Sepupu

    "Kenapa kamu bisa ada di sini? Kamu mengikuti aku? Di mana Evan?" tanya Liana panik. Liana melirik ke arah belakang Dirga. Sepanjang mata memandang, tidak ada sosok Evan. Ada perasaan lega jika hanya ada mereka berdua. "Apa aku tidak boleh mengikuti orang yang aku sayangi," sahut Dirga cuek. "Kamu kalau ngomong dijaga ya. Nanti kalau ada yang dengar bisa salah paham. Apalagi di dengar oleh Evan," tegur Liana. "Salah paham apanya. Wajar dong jika seorang kakak sepupu menyayangi adik sepupunya sendiri. Kalau masalah Evan, dia masih di meja makan. Jadi kamu tidak perlu takut jika kita akan ketahuan," ujar Dirga. Benar, Dirga dan Liana adalah saudara sepupu. Jadi Liana sangat terkejut saat tahu klien Evan adalah Dirga. Padahal sudah jauh-jauh hari mewanti-wanti paman agar sepupu tidak ikut campur masalahnya. "Sudahlah, jangan banyak basa-basi. Apa paman yang menyuruh kamu menjadi klien dari Evan?" "Bukan." "Terus," ujar Liana memicing mata. Tidak percaya dengan mudah jawaban Sepup

  • Pura-Pura Tuli Untuk Membongkar Rahasia Suamiku   Bab 28. Sosok Yang Tidak Asing

    Evan ingin menghubungi kliennya, namun sebelum berhasil menghubungi klien, klien sudah terlebih dahulu muncul di depan Evan. "Selamat malam Pak Dirga," sapa Evan. Evan segera berdiri dan memberi hormat. Sedangkan posisi Liana membelakangi Dirga. "Selamat malam juga Pak Evan," balasnya. Mata Liana sontak membesar ketika Evan menyebutkan nama Dirga. Apalagi suara Dirga yang terasa tidak asing. Dia berharap kalau Dirga yang disebutkan oleh Evan adalah orang yang berbeda dengan yang dia kenal. "Maaf Pak, saya telat. Tadi saya mengalami mogok di jalan," terang Dirga. "Tidak apa-apa Pak. Saya maklum kok. Kami juga baru datang," ujar Evan cari muka. Mata Dirga beralih ke arah punggung Liana. Liana masih saja membeku di tempat. "Apa ini istri Bapak?" tanya Dirga basa basi. "Iya Pak, ini istri saya," sahut Evan. Evan tidak enak dengan Klien. Liana masih belum bangun juga dari kursi. Itu sikap yang tidak sopan kepada klien. "Liana," panggil Evan dengan suara kecil. Liana tersadar

  • Pura-Pura Tuli Untuk Membongkar Rahasia Suamiku   Bab 27. Akhirnya Pergi Juga

    Mirna gugup dengan pertanyaan Evan. Dia segera memutarkan otaknya mencari alasan. "Ah, tadi Kakak haus. Jadi Kakak mau ambil minum," jawab Mirna menyakinkan mereka tapi tidak mempan pada Liana yang sudah tahu semuanya. "Kenapa kalian berdua malam ini kompak cari minum." "Kakak kan juga haus. Kakak pamit duluan ke kamar ya. Kakak masih ngantuk. Hoam … " kata Mirna sambil menguap. Lalu segera kabur dari sana. "Evan …." "Aku juga ngantuk berat Liana. Aku pergi duluan ya. Lampunya juga sudah nyala," potong Evan yang ikut pergi. Evan sama sekali tidak mau menggantikan guci yang telah dihancurkan oleh Mirna. Oleh karena itu dia memilih kabur. "Kakak dan adik sama-sama saja. Lari dari tanggung jawabnya. Untung saja guci ini guci KW. Kalau enggak, aku bisa rugi," kata Liana berdecak lidah. *** Mirna langsung lari ke dalam kamarnya. Setelah berada di dalam kamar, dia dengan cepat mengunci pintu agar tidak ada yang masuk. Dia sangat gugup dan panik. Lalu segera menghubungi suaminya yan

  • Pura-Pura Tuli Untuk Membongkar Rahasia Suamiku   Bab 26. Panik

    *** Ketika tengah malam Mirna terbangun. Sengaja memasang alarm untuk menjalankan misinya sebelum tidur. Dia juga sudah menghubungi sang suami untuk menunggunya di depan rumah Liana. Mirna bekerjasama dengan sang suami untuk membawa kabur guci milik Liana. Tidak mungkin bisa dibawa sendiri. Setelah itu mereka bisa kabur. Keadaan malam sangat sunyi. Dimana orang-orang sudah tertidur lelap. Jam masih menunjukkan pukul 1 dini hari. Sehingga semua orang masih berada di dalam dunia mimpi. Dalam gelapnya ruangan yang hanya disinari oleh sinar bulan dan lampu yang berada di luar rumah yang menembus kaca, Mirna berjalan secara mengendap-ngendap. Berjalan hati-hati agar tidak menabrak barang lain. Supaya tidak membangunkan orang lain. Sekarang dia sudah berdiri dekat dengan guci. Setelah memastikan semuanya aman, tangannya langsung mengelus guci tersebut. "Kamu adalah milik aku. Setelah ini aku bisa pergi dari sini. Setelah uangnya habis, baru aku akan kembali ke sini, deh," ucap Mirna

  • Pura-Pura Tuli Untuk Membongkar Rahasia Suamiku   Bab 25. Gadai

    "Kenapa kamu lama sekali?" tanya Karin dengan kedua tangan di pinggang. Menghadang Evan tepat di depan pintu masuk. Karin sudah menunggu Evan sejak tadi pagi. Mereka sudah membuat janji akan bertemu jam 8. Namun sekarang sudah jam 9 lewat. "Nanti aku jelaskan. Kita masuk dulu," ajak Evan masuk ke dalam rumah setelah menggeser tubuh Karin. Karin berdecak kesal. Menurunkan kedua tangan untuk menutup pintu. Setelah menutup pintu, dia mengikuti Evan yang sudah duduk di atas sofa. "Apa Liana curiga kamu pergi. Atau dia malah melarang kamu pergi?" tanya Karin ikut duduk di samping Evan. "Dia hanya tanya aku pergi kemana saja." "Terus." "Aku bilang saja ingin menemui teman-teman aku. Dia sama sekali tidak melarang aku pergi." "Owh," jawab Karin pendek. "Kamu kenapa cemberut. Aku kan sudah ada di sini." "Aku masih kesal dengan kakak kamu. Setidaknya kita bisa sering jumpa di rumah Liana. Ditambah aku tidak bisa kerja bersama kamu. Kenapa sih dengan keluargamu, tidak ada satupun yan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status