LOGINLiana mendapatkan informasi yang sangat penting. Evan dan Karin berencana ingin mengambil alih perusahaan. Dia tidak akan membiarkan perusahaannya jatuh ke tangan Evan dan Karin. Sekarang dia harus mencari cara menyelamatkan perusahaannya.
Di dalam kamar perempuan itu mondar-mandir tidak tenang. Rencana Evan dan Karin semakin keterlaluan. Harus segera mengantisipasi rencana itu sebelum terlambat. Liana menghentikan gerakan balak bali. Tiba-tiba sebuah ide muncul untuk menyelamatkan perusahaannya. Sangat yakin kalau Evan dan Karin tidak akan bisa memanfaatkan perusahaannya. Setelah yakin dengan idenya, dia segera mengambil uang. Sudah terlalu lama dia berada di dalam kamar. Sekarang keputusan Liana sudah kuat. Dia tidak akan melepaskan Karin dan Evan. Mereka berdua harus bertanggung jawab apa yang sudah mereka lakukan. Terutama tidak ada maaf lagi untuk Karin. *** Sesuai dengan rencana, Liana segera pergi ke rumah paman dan bibinya. Dia sudah mengabari kalau akan berkunjung ke rumah mereka. Ada hal penting yang ingin dibahas. Sehingga mereka sangat menunggu kedatangan Liana. Sangat jarang keponakan mereka serius itu. Saat Liana pergi, Karin sudah tidak ada di rumah. Dia sudah pergi entah ke mana. Padahal dia sendiri yang menawarkan diri untuk menemaninya. Pagi-pagi buta saja sudah tidak terlihat batang hidungnya. *** Paman dan bibi Liana menyambutnya dengan sangat senang. Mereka sudah menganggap Liana sebagai anak mereka sendiri. Apalagi mereka hanya memiliki dua anak laki-laki saja. Tanpa anak perempuan yang sudah mereka nanti-nanti. Nasib berkata lain saat sang bibi tidak bisa hamil lagi. "Sayang ayo masuk. Paman sudah menunggu di dalam," ujar Sulastri ramah, istri paman Liana. "Terima kasih, Bi." Liana berjalan bersama bibinya menuju ke ruang keluarga. Di sana sudah ada Darman, pamannya yang telah menunggu sejak tadi. "Paman, bagaimana kabar Paman," sapa Liana setelah duduk di sofa samping Sulastri. "Paman baik-baik saja. Bagaimana dengan kamu?" tanya Darman balik. Meletakkan kembali koran yang sedang dibaca. "Kabar Liana tidak baik Paman," sahut Liana dengan mata berkaca-kaca siap menumpahkan semua emosinya. "Sayang, apa terjadi kamu? Apa kamu sakit? Ayo kita ke rumah sakit?" tanya Sulastri dengan sangat khawatir. Tidak lupa mengecek suhu tubuh Liana. "Liana ... Liana …," ucap Liana dengan tidak sanggup. Darman dan Sulastri berusaha menenangkan Liana yang sudah menangis. Menunggu sampai keponakan satu-satunya itu melepaskan semua emosi. Tidak memaksa Liana untuk bercerita. Setelah Liana bisa menguasai diri, dia menceritakan semua yang didengar kepada paman dan bibinya. Mulai dari Karin dan Evan yang bersekongkol ingin menguras harta sampai dia yang pura-pura bisu untuk mengelabui mereka. "Dasar lelaki kurang ajar. Laki-laki yang tidak tahu malu. Dia dan teman kamu itu sama-sama busuk. Sejak kamu membawa Evan kepada Paman, Paman tidak suka sama dia. Ternyata insting paman tidak salah," umpat Darman marah. Darman yang selama ini telah menganggap Liana sebagai anak tidak pernah menyakiti sekalipun. Sekarang ada dua lalat busuk yang ingin menempel pada Liana. Mana mungkin dia akan tinggal diam. "Sayang," tegur Sulastri tidak suka dengan perkataan kasar sang suami. Suaminya boleh marah, tapi tidak baik berkata kotor. Sulastri memeluk Liana dengan erat. Tangannya yang kasar karena sering mengerjakan pekerjaan rumah senantiasa mengelus punggung Liana. Liana butuh disayang agar lebih tenang. "Liana, sekarang apa yang yang kamu inginkan? Apa kamu masih mau bertahan sama laki-laki itu?" tanya Darman setelah Liana terlihat lebih tenang. "Nggak Paman, Liana tidak mau lagi bersama dia. Liana harus mengambil apa yang menjadi milik Liana sebelum mereka pergi. Mereka tidak boleh membawa peninggalan orang tua Liana," sahut Liana. "Kamu hanya mengambil milik kamu? Apa kamu tidak ingin menuntut mereka atas penipuan?" tanya Darman kurang puas dengan keputusan Liana. "Paman, Liana juga ingin membalas perbuatan mereka, tapi Liana ingin menyelamatkan warisan yang telah ditinggalkan oleh kedua orangtua Liana terlebih dahulu." "Sayang, benar apa yang dikatakan oleh Liana. Sekarang yang penting adalah Liana baik-baik saja dan mengambil semua hak miliknya," kata Sulastri setuju dengan pola pikir Liana. "Baiklah jika itu yang kamu mau. Sekarang apa yang bisa Paman bantu," sahut Darman mengalah. "Paman, untuk sementara apa Paman mau mengambil ahli perusahaan milik Liana. Jika perusahaan Liana berada di tangan Paman, mereka tidak akan bisa berkutik." "Paman tidak masalah mengambil alih perusahaan kamu. Perusahaan Paman sudah di pegang oleh kedua sepupu kamu. Pilihan kamu sangat tepat, Liana. Kalau sampai perusahaan itu jatuh ke tangan mereka, perusahaan itu tidak akan pernah kembali." "Terus, Liana juga ingin mengambil rumah yang telah mereka beli dengan uang Liana. Liana sudah mendapatkan alamatnya. Ini," ujar Liana menyerahkan alamat yang dia ingat dari notifikasi handphone Evan kepada Darman. Darman mengambil alamat yang telah Liana tulis pada selembar kertas. Lokasi rumah itu tidak terlalu jauh dan berada di tempat yang sangat strategis. Termasuk kawasan rumah elit. "Tolong Paman selidiki di mana rumah itu. Nanti Liana ingin melihatnya langsung." "Baiklah. Ini sangat mudah bagi Paman." "Bagaimana cara kamu mengambil rumah itu sayang? Rumah itu kan atas nama mereka? Kamu tidak bisa mengambil rumah itu begitu saja. Tidak ada bukti mereka membeli rumah itu dari uang kamu?" "Bi, Liana sudah mempunyai ide untuk bisa mendapat rumah itu sekaligus perusahan milik Evan," sahut Liana dengan yakin. "Maksud kamu?" tanya Sulastri dan Darman barengan. "Paman, Liana ingin agar Paman menyusupkan salah satu orang kepercayaan Paman ke perusahaan Evan. Paman juga harus membantu perusahaan Evan sampai sahamnya bisa melonjak naik dengan cepat." "Kenapa Paman harus menaikkan saham mereka. Itu akan menguntungkan mereka. Paman tidak mau," tolak Darman mentah-mentah. "Paman tenang dulu, nanti setelah perusahaan Evan naik, Paman suruh orang Paman itu agar Evan mau menginvestasikan rumah itu untuk perusahaan. Pasti Evan akan tergiur dan berpikir kalau perusahaannya akan semakin maju. Setelah Evan menginvestasikan rumah itu, Paman jatuhkan lagi harga saham Evan sejatuh-jatuhnya nanti. Lalu Paman suruh orang lagi untuk membeli saham itu dengan harga semurah mungkin. Bagaimana menurut paman?" "Liana, kamu sangat pintar. Kita bisa mengambil dua langkah sekaligus," puji Darman bangga. Liana bisa berpikir sejauh itu. "Liana tidak akan seperti ini kalau tidak ada didikan dari Paman dan papa. Kalian yang telah membesarkan Liana sampai seperti ini." "Kamu memang anak Paman yang sangat pintar. Di usia yang sangat muda kamu bisa mengelola perusahaan kamu sendiri. Evan dan Karin telah salah memilih sasaran." Setelah selesai bernegosiasi dengan paman dan bibinya, Liana memutuskan untuk makan siang di sana. Di sanalah dia bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga yang utuh. "Apa kamu harus pulang sayang?" tanya Sulastri tidak rela jika Liana pulang begitu cepat setelah makan. "Iya Tante, Liana harus pulang. Liana tidak boleh membiarkan mereka tinggal berduaan di rumah Liana," sahut Liana dengan berat. Liana juga masih ingin bersama bibi dan pamannya. Ditambah dengan kedua kakak sepupunya yang sangat menyayangi dia. Jika mereka tahu kalau dia diperlakukan seperti itu, mereka bisa murka dan menghancurkan Evan dengan sekali genggam. "Kamu harus hati-hati. Jika ada sesuatu segera kabari Paman." "Iya Paman. Liana pamit dulu." Bersambung …."Virga! Cukup!" ucap Darman keluar dari mobil bersama Liana. Liana dan Darman tiba bersamaan dengan polisi. "Jangan bergerak! Kalian berdua sudah terkepung. Kalian akan kami tahan dengan kasus percobaan pembunuhan, penipuan dan perampokan." "Jangan dulu, aku belum puas mengajar mereka," larang Virga. "Virga, cukup!" Virga mengabaikan larangan mereka. Dia yang masih berada di atas tubuh Evan membalikkan badan Evan. Dia melanjutkan menghajar Evan. Evan sama sekali tidak bisa melawan. Tangannya sangat sakit dan tidak bisa digerakkan lagi. Polisi segera menahan tubuh Virga. Virga menghajar Evan bagaikan orang kesurupan. Sedangkan Evan yang tidak sanggup menahan lagi akhirnya jatuh pingsan. "Liana, tolong maafkan aku," mohon Karin tidak mau masuk penjara. "Maaf? Kemana saja kamu selama ini. Sekarang sudah terlambat kamu minta maaf. Andai saja waktu itu kamu minta maaf, mungkin aku akan melepaskan kamu," sahut Liana. "Liana, aku bersalah Liana. Aku benar-benar minta maaf." "P
Virga menutup telepon dari Liana. Dia segera mengambil kunci mobil milik dan sebelah tangan tangan menghubungi bawahnya. "Kamu cepat cari di mana lokasi Evan. Aku ingin secepatnya kamu menemukan mereka. Jangan sampai mereka kabur ke luar negeri," perintah Virga. Virga menutup kembali handphone. Segera masuk ke dalam mobil. Tangannya dengan cekatan menghidupkan dan membawa mobil mengelilingi kota. Virga berkeliling kota sambil menunggu bawahan mendapat posisi pasti Evan dan Karin. Setelah berhasil mendapatkan titik mereka, Virga langsung menuju ke sana. "Ternyata mereka berniat kabur ke luar negeri sesuai dugaan aku. Jangan harap kalian bisa lepas dari genggaman tangan aku." Virga segera memutar arah mobil. Dengan kecepatan tinggi dia mengejar mobil milik Evan dan Karin. Setelah mobil milik Evan ditemukan, dia menghadang mobil milik mereka berdua. "Evan, awas!" teriak Karin terkejut. Evan juga terkejut dengan mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya. Dia dengan cepat menginjak
"Apa yang ingin kamu katakan sama Paman. Sepertinya sangat penting," ujar Darman. "Paman, kemarin Evan berencana ingin meracuni aku. Semalam dia tiba-tiba kasih aku teh. Dalam teh itu ada sesuatu obat," terang Liana. "Apa? Evan ingin meracuni kamu?" tanya Darman terkejut. Darman tidak akan melepaskan Evan jika terjadi sesuatu yang buruk sama Liana. Dia beserta anaknya akan mengejar Evan sampai ke ujung dunia sekalipun. "Iya Paman. Untung saja Liana cepat sadar. Selama ini Evan tidak pernah membuat aku teh. Jadi Liana tanpa pikir panjang membuang teh tersebut." "Apa? Evan gagal meracuni Liana. Apa Liana sudah curiga sama Evan. Sejak kapan dia mengetahui semua ini. Gawat, aku harus bilang hal ini kepada Evan. Tapi aku harus menunggu mereka selesai bicara dulu," putus Karin tetap berada di sana. "Kamu tenang saja Liana. Kita akan memenjarakan Evan dengan kasus percobaan pembunuhan. Sekarang kita sudah berhasil mengambil semua harta milik kamu yang diambil oleh mereka." 'Ternyata
Evan langsung menjalankan rencananya saat malam hari. Tidak buang-buang waktu lagi. Dia memasukkan serbuk obat yang didapatkan dari temannya ke dalam teh. Memberikan racun lewat teh itu kepada Liana. "Liana," panggil Evan mencari Liana setelah teh itu selesai dibuat. Liana berada di depan TV sedang mengerjakan laporan. Bukan hal besar yang harus diperiksa. Hanya mencocokkan data saja. Jadi dia memutuskan mengerjakan di ruang TV sambil menyalakan TV. Supaya tidak terlalu sunyi. "Ada apa Evan," sahut Liana menatap ke arah Evan yang melangkah ke arahnya. "Ini, aku buatkan teh buat kamu. Kamu pasti sangat capek dan mengurus itu. Ini, minum dulu," kata Evan menyodorkan gelas teh ke arah Liana. 'Tumben dia buat aku teh. Ini pasti ada sesuatu yang tidak beres. Tidak mungkin dia langsung berubah,' curiga Liana. "Terima kasih ya. Kamu sangat baik," sahut Liana tetap menerima teh tersebut. Mencegah Evan curiga jika dia mencurigai teh tersebut. Liana hanya meletakkan teh itu di di atas me
"Apa? Terus bagaimana dengan pak Dirga. Dia orang yang sangat penting di perusahaan kita?" "Dia juga ikut membatalkan proyek dengan kita. Andai dia masih membantu kita, perusahaan kita masih bisa diselamatkan." "Apa kamu sudah membujuk pak Dirga, Evan?" "Aku sudah berusaha membujuk dia. Dia tetap tidak mau membantu kita. Kamu lihat memar di wajah aku, dia yang menghajar aku sampai begini," ujar Evan menunjukkan memar di beberapa tempat di tubuhnya. "Dia menghajar kamu?" tanya Karin kurang percaya. Setahu Karin, pak Dirga bukan tipe orang yang akan bersikap kasar. "Kenapa pak Dirga memukul kamu?" tanya Karin penasaran. "Tadi aku ingin menjamin Liana jika dia mau tetap bekerja sama dengan kita. Kamu kan tahu, pak Dirga itu menyukai Liana. Jadi aku berusaha membujuk dia mau membantu kita dan aku akan memberikan Liana untuk dia." "Kamu menjual Liana begitu saja?" "Iya." 'Pantas saja pak Dirga marah. Tidak semua orang akan berpikir bijak seperti dia. Lagian, kenapa Evan bisa ne
"Ada apa Pak Evan menemui saya?" "Pak Dirga, kenapa Bapak membatalkan proyek yang sudah kita buat?" "Proyek yang telah kita buat mengalami banyak kendala. Jika saya melanjutkan ini, maka hanya akan sia-sia." "Pak, saya masih bisa mengelola semua itu. Saya hanya perlu modal sedikit saja dari Bapak," pinta Evan menyakinkan Dirga. "Saya tidak mau melanjutkan lagi. Saya tidak ingin waktu saya terbuang sia-sia." Evan bingung harus bagaimana. Dia tidak ingin kehilangan pak Dirga. Hanya Dirga satu-satunya penolong. "Pak, tolong lah. Tolong berikan kesempatan buat saya sekali lagi," mohon Evan dengan bersujud. Evan rela bersujud. Dia akan melakukan apapun untuk menyelamatkan perusahaan. "Maaf Pak, perusahaan kami hanya memberikan kesempatan sekali saja. Orang di perusahaan kami menghindari resiko yang sangat berbahaya. Karena itu akan mempengaruhi perusahaan kami." "Pak, jika Bapak berjanji mau membantu saya maka saya akan melakukan apapun," ucap Evan dengan nekad. "Apa maksud Bapa







