Share

Bab 7. Mencari Bantuan

last update Last Updated: 2025-11-13 09:00:01

Liana mendapatkan informasi yang sangat penting. Evan dan Karin berencana ingin mengambil alih perusahaan. Dia tidak akan membiarkan perusahaannya jatuh ke tangan Evan dan Karin. Sekarang dia harus mencari cara menyelamatkan perusahaannya.

Di dalam kamar perempuan itu mondar-mandir tidak tenang. Rencana Evan dan Karin semakin keterlaluan. Harus segera mengantisipasi rencana itu sebelum terlambat.

Liana menghentikan gerakan balak bali. Tiba-tiba sebuah ide muncul untuk menyelamatkan perusahaannya. Sangat yakin kalau Evan dan Karin tidak akan bisa memanfaatkan perusahaannya. Setelah yakin dengan idenya, dia segera mengambil uang. Sudah terlalu lama dia berada di dalam kamar.

Sekarang keputusan Liana sudah kuat. Dia tidak akan melepaskan Karin dan Evan. Mereka berdua harus bertanggung jawab apa yang sudah mereka lakukan. Terutama tidak ada maaf lagi untuk Karin.

***

Sesuai dengan rencana, Liana segera pergi ke rumah paman dan bibinya. Dia sudah mengabari kalau akan berkunjung ke rumah mereka. Ada hal penting yang ingin dibahas. Sehingga mereka sangat menunggu kedatangan Liana. Sangat jarang keponakan mereka serius itu.

Saat Liana pergi, Karin sudah tidak ada di rumah. Dia sudah pergi entah ke mana. Padahal dia sendiri yang menawarkan diri untuk menemaninya. Pagi-pagi buta saja sudah tidak terlihat batang hidungnya.

***

Paman dan bibi Liana menyambutnya dengan sangat senang. Mereka sudah menganggap Liana sebagai anak mereka sendiri. Apalagi mereka hanya memiliki dua anak laki-laki saja. Tanpa anak perempuan yang sudah mereka nanti-nanti. Nasib berkata lain saat sang bibi tidak bisa hamil lagi.

"Sayang ayo masuk. Paman sudah menunggu di dalam," ujar Sulastri ramah, istri paman Liana.

"Terima kasih, Bi."

Liana berjalan bersama bibinya menuju ke ruang keluarga. Di sana sudah ada Darman, pamannya yang telah menunggu sejak tadi.

"Paman, bagaimana kabar Paman," sapa Liana setelah duduk di sofa samping Sulastri.

"Paman baik-baik saja. Bagaimana dengan kamu?" tanya Darman balik. Meletakkan kembali koran yang sedang dibaca.

"Kabar Liana tidak baik Paman," sahut Liana dengan mata berkaca-kaca siap menumpahkan semua emosinya.

"Sayang, apa terjadi kamu? Apa kamu sakit? Ayo kita ke rumah sakit?" tanya Sulastri dengan sangat khawatir. Tidak lupa mengecek suhu tubuh Liana.

"Liana ... Liana …," ucap Liana dengan tidak sanggup.

Darman dan Sulastri berusaha menenangkan Liana yang sudah menangis. Menunggu sampai keponakan satu-satunya itu melepaskan semua emosi. Tidak memaksa Liana untuk bercerita.

Setelah Liana bisa menguasai diri, dia menceritakan semua yang didengar kepada paman dan bibinya. Mulai dari Karin dan Evan yang bersekongkol ingin menguras harta sampai dia yang pura-pura bisu untuk mengelabui mereka.

"Dasar lelaki kurang ajar. Laki-laki yang tidak tahu malu. Dia dan teman kamu itu sama-sama busuk. Sejak kamu membawa Evan kepada Paman, Paman tidak suka sama dia. Ternyata insting paman tidak salah," umpat Darman marah.

Darman yang selama ini telah menganggap Liana sebagai anak tidak pernah menyakiti sekalipun. Sekarang ada dua lalat busuk yang ingin menempel pada Liana. Mana mungkin dia akan tinggal diam.

"Sayang," tegur Sulastri tidak suka dengan perkataan kasar sang suami. Suaminya boleh marah, tapi tidak baik berkata kotor.

Sulastri memeluk Liana dengan erat. Tangannya yang kasar karena sering mengerjakan pekerjaan rumah senantiasa mengelus punggung Liana. Liana butuh disayang agar lebih tenang.

"Liana, sekarang apa yang yang kamu inginkan? Apa kamu masih mau bertahan sama laki-laki itu?" tanya Darman setelah Liana terlihat lebih tenang.

"Nggak Paman, Liana tidak mau lagi bersama dia. Liana harus mengambil apa yang menjadi milik Liana sebelum mereka pergi. Mereka tidak boleh membawa peninggalan orang tua Liana," sahut Liana.

"Kamu hanya mengambil milik kamu? Apa kamu tidak ingin menuntut mereka atas penipuan?" tanya Darman kurang puas dengan keputusan Liana.

"Paman, Liana juga ingin membalas perbuatan mereka, tapi Liana ingin menyelamatkan warisan yang telah ditinggalkan oleh kedua orangtua Liana terlebih dahulu."

"Sayang, benar apa yang dikatakan oleh Liana. Sekarang yang penting adalah Liana baik-baik saja dan mengambil semua hak miliknya," kata Sulastri setuju dengan pola pikir Liana.

"Baiklah jika itu yang kamu mau. Sekarang apa yang bisa Paman bantu," sahut Darman mengalah.

"Paman, untuk sementara apa Paman mau mengambil ahli perusahaan milik Liana. Jika perusahaan Liana berada di tangan Paman, mereka tidak akan bisa berkutik."

"Paman tidak masalah mengambil alih perusahaan kamu. Perusahaan Paman sudah di pegang oleh kedua sepupu kamu. Pilihan kamu sangat tepat, Liana. Kalau sampai perusahaan itu jatuh ke tangan mereka, perusahaan itu tidak akan pernah kembali."

"Terus, Liana juga ingin mengambil rumah yang telah mereka beli dengan uang Liana. Liana sudah mendapatkan alamatnya. Ini," ujar Liana menyerahkan alamat yang dia ingat dari notifikasi handphone Evan kepada Darman.

Darman mengambil alamat yang telah Liana tulis pada selembar kertas. Lokasi rumah itu tidak terlalu jauh dan berada di tempat yang sangat strategis. Termasuk kawasan rumah elit.

"Tolong Paman selidiki di mana rumah itu. Nanti Liana ingin melihatnya langsung."

"Baiklah. Ini sangat mudah bagi Paman."

"Bagaimana cara kamu mengambil rumah itu sayang? Rumah itu kan atas nama mereka? Kamu tidak bisa mengambil rumah itu begitu saja. Tidak ada bukti mereka membeli rumah itu dari uang kamu?"

"Bi, Liana sudah mempunyai ide untuk bisa mendapat rumah itu sekaligus perusahan milik Evan," sahut Liana dengan yakin.

"Maksud kamu?" tanya Sulastri dan Darman barengan.

"Paman, Liana ingin agar Paman menyusupkan salah satu orang kepercayaan Paman ke perusahaan Evan. Paman juga harus membantu perusahaan Evan sampai sahamnya bisa melonjak naik dengan cepat."

"Kenapa Paman harus menaikkan saham mereka. Itu akan menguntungkan mereka. Paman tidak mau," tolak Darman mentah-mentah.

"Paman tenang dulu, nanti setelah perusahaan Evan naik, Paman suruh orang Paman itu agar Evan mau menginvestasikan rumah itu untuk perusahaan. Pasti Evan akan tergiur dan berpikir kalau perusahaannya akan semakin maju. Setelah Evan menginvestasikan rumah itu, Paman jatuhkan lagi harga saham Evan sejatuh-jatuhnya nanti. Lalu Paman suruh orang lagi untuk membeli saham itu dengan harga semurah mungkin. Bagaimana menurut paman?"

"Liana, kamu sangat pintar. Kita bisa mengambil dua langkah sekaligus," puji Darman bangga. Liana bisa berpikir sejauh itu.

"Liana tidak akan seperti ini kalau tidak ada didikan dari Paman dan papa. Kalian yang telah membesarkan Liana sampai seperti ini."

"Kamu memang anak Paman yang sangat pintar. Di usia yang sangat muda kamu bisa mengelola perusahaan kamu sendiri. Evan dan Karin telah salah memilih sasaran."

Setelah selesai bernegosiasi dengan paman dan bibinya, Liana memutuskan untuk makan siang di sana. Di sanalah dia bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga yang utuh.

"Apa kamu harus pulang sayang?" tanya Sulastri tidak rela jika Liana pulang begitu cepat setelah makan.

"Iya Tante, Liana harus pulang. Liana tidak boleh membiarkan mereka tinggal berduaan di rumah Liana," sahut Liana dengan berat.

Liana juga masih ingin bersama bibi dan pamannya. Ditambah dengan kedua kakak sepupunya yang sangat menyayangi dia. Jika mereka tahu kalau dia diperlakukan seperti itu, mereka bisa murka dan menghancurkan Evan dengan sekali genggam.

"Kamu harus hati-hati. Jika ada sesuatu segera kabari Paman."

"Iya Paman. Liana pamit dulu."

Bersambung ….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pura-Pura Tuli Untuk Membongkar Rahasia Suamiku   Bab 30. Kesalahpahaman

    Liana kembali mendorong Dirga. Kemudian dia menampar Dirga dengan sangat keras. Sekalian melampiaskan kekesalannya saat dia masih kecil. Kapan lagi dia bisa membalas tanpa dikerjain balik. Dirga memegang pipinya yang berdenyut. Dia tidak menyangka kalau Liana akan menamparnya sekeras itu. Menyesal dia menyuruh Liana berbuat senatural mungkin. "Pak, kalau punya mulut itu dijaga. Saya tidak akan pernah tertarik sama lelaki seperti anda. Bagi saya Evan adalah suami terbaik di dunia ini," ujar Liana keras agar Evan bisa mendengar dengan baik. "Terbaik? Aku ini jauh lebih kaya daripada Evan. Perusahaan aku sudah bertahun-tahun sukses. Perusahaan suami kamu itu bisa sukses berkat aku. Aku bisa saja memutuskan kontak di antara kami. Kita lihat, apa suami kamu itu masih bisa bertahan." "Suami saya memang tidak sekaya Bapak. Tapi hati anda itu jauh lebih miskin," ujar Liana meninggalkan Dirga sendiri. *** Evan dari tadi menyaksikan interaksi Liana dan Dirga. Dia sangat kaget ketika Lia

  • Pura-Pura Tuli Untuk Membongkar Rahasia Suamiku   Bab 29. Kemunculan Sepupu

    "Kenapa kamu bisa ada di sini? Kamu mengikuti aku? Di mana Evan?" tanya Liana panik. Liana melirik ke arah belakang Dirga. Sepanjang mata memandang, tidak ada sosok Evan. Ada perasaan lega jika hanya ada mereka berdua. "Apa aku tidak boleh mengikuti orang yang aku sayangi," sahut Dirga cuek. "Kamu kalau ngomong dijaga ya. Nanti kalau ada yang dengar bisa salah paham. Apalagi di dengar oleh Evan," tegur Liana. "Salah paham apanya. Wajar dong jika seorang kakak sepupu menyayangi adik sepupunya sendiri. Kalau masalah Evan, dia masih di meja makan. Jadi kamu tidak perlu takut jika kita akan ketahuan," ujar Dirga. Benar, Dirga dan Liana adalah saudara sepupu. Jadi Liana sangat terkejut saat tahu klien Evan adalah Dirga. Padahal sudah jauh-jauh hari mewanti-wanti paman agar sepupu tidak ikut campur masalahnya. "Sudahlah, jangan banyak basa-basi. Apa paman yang menyuruh kamu menjadi klien dari Evan?" "Bukan." "Terus," ujar Liana memicing mata. Tidak percaya dengan mudah jawaban Sepup

  • Pura-Pura Tuli Untuk Membongkar Rahasia Suamiku   Bab 28. Sosok Yang Tidak Asing

    Evan ingin menghubungi kliennya, namun sebelum berhasil menghubungi klien, klien sudah terlebih dahulu muncul di depan Evan. "Selamat malam Pak Dirga," sapa Evan. Evan segera berdiri dan memberi hormat. Sedangkan posisi Liana membelakangi Dirga. "Selamat malam juga Pak Evan," balasnya. Mata Liana sontak membesar ketika Evan menyebutkan nama Dirga. Apalagi suara Dirga yang terasa tidak asing. Dia berharap kalau Dirga yang disebutkan oleh Evan adalah orang yang berbeda dengan yang dia kenal. "Maaf Pak, saya telat. Tadi saya mengalami mogok di jalan," terang Dirga. "Tidak apa-apa Pak. Saya maklum kok. Kami juga baru datang," ujar Evan cari muka. Mata Dirga beralih ke arah punggung Liana. Liana masih saja membeku di tempat. "Apa ini istri Bapak?" tanya Dirga basa basi. "Iya Pak, ini istri saya," sahut Evan. Evan tidak enak dengan Klien. Liana masih belum bangun juga dari kursi. Itu sikap yang tidak sopan kepada klien. "Liana," panggil Evan dengan suara kecil. Liana tersadar

  • Pura-Pura Tuli Untuk Membongkar Rahasia Suamiku   Bab 27. Akhirnya Pergi Juga

    Mirna gugup dengan pertanyaan Evan. Dia segera memutarkan otaknya mencari alasan. "Ah, tadi Kakak haus. Jadi Kakak mau ambil minum," jawab Mirna menyakinkan mereka tapi tidak mempan pada Liana yang sudah tahu semuanya. "Kenapa kalian berdua malam ini kompak cari minum." "Kakak kan juga haus. Kakak pamit duluan ke kamar ya. Kakak masih ngantuk. Hoam … " kata Mirna sambil menguap. Lalu segera kabur dari sana. "Evan …." "Aku juga ngantuk berat Liana. Aku pergi duluan ya. Lampunya juga sudah nyala," potong Evan yang ikut pergi. Evan sama sekali tidak mau menggantikan guci yang telah dihancurkan oleh Mirna. Oleh karena itu dia memilih kabur. "Kakak dan adik sama-sama saja. Lari dari tanggung jawabnya. Untung saja guci ini guci KW. Kalau enggak, aku bisa rugi," kata Liana berdecak lidah. *** Mirna langsung lari ke dalam kamarnya. Setelah berada di dalam kamar, dia dengan cepat mengunci pintu agar tidak ada yang masuk. Dia sangat gugup dan panik. Lalu segera menghubungi suaminya yan

  • Pura-Pura Tuli Untuk Membongkar Rahasia Suamiku   Bab 26. Panik

    *** Ketika tengah malam Mirna terbangun. Sengaja memasang alarm untuk menjalankan misinya sebelum tidur. Dia juga sudah menghubungi sang suami untuk menunggunya di depan rumah Liana. Mirna bekerjasama dengan sang suami untuk membawa kabur guci milik Liana. Tidak mungkin bisa dibawa sendiri. Setelah itu mereka bisa kabur. Keadaan malam sangat sunyi. Dimana orang-orang sudah tertidur lelap. Jam masih menunjukkan pukul 1 dini hari. Sehingga semua orang masih berada di dalam dunia mimpi. Dalam gelapnya ruangan yang hanya disinari oleh sinar bulan dan lampu yang berada di luar rumah yang menembus kaca, Mirna berjalan secara mengendap-ngendap. Berjalan hati-hati agar tidak menabrak barang lain. Supaya tidak membangunkan orang lain. Sekarang dia sudah berdiri dekat dengan guci. Setelah memastikan semuanya aman, tangannya langsung mengelus guci tersebut. "Kamu adalah milik aku. Setelah ini aku bisa pergi dari sini. Setelah uangnya habis, baru aku akan kembali ke sini, deh," ucap Mirna

  • Pura-Pura Tuli Untuk Membongkar Rahasia Suamiku   Bab 25. Gadai

    "Kenapa kamu lama sekali?" tanya Karin dengan kedua tangan di pinggang. Menghadang Evan tepat di depan pintu masuk. Karin sudah menunggu Evan sejak tadi pagi. Mereka sudah membuat janji akan bertemu jam 8. Namun sekarang sudah jam 9 lewat. "Nanti aku jelaskan. Kita masuk dulu," ajak Evan masuk ke dalam rumah setelah menggeser tubuh Karin. Karin berdecak kesal. Menurunkan kedua tangan untuk menutup pintu. Setelah menutup pintu, dia mengikuti Evan yang sudah duduk di atas sofa. "Apa Liana curiga kamu pergi. Atau dia malah melarang kamu pergi?" tanya Karin ikut duduk di samping Evan. "Dia hanya tanya aku pergi kemana saja." "Terus." "Aku bilang saja ingin menemui teman-teman aku. Dia sama sekali tidak melarang aku pergi." "Owh," jawab Karin pendek. "Kamu kenapa cemberut. Aku kan sudah ada di sini." "Aku masih kesal dengan kakak kamu. Setidaknya kita bisa sering jumpa di rumah Liana. Ditambah aku tidak bisa kerja bersama kamu. Kenapa sih dengan keluargamu, tidak ada satupun yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status