Home / Male Adult / Purba Sang Pemuas / Bab 44 Selamatkan Betina VVIP

Share

Bab 44 Selamatkan Betina VVIP

Author: Allina
last update publish date: 2026-04-22 09:42:47

Bagi telinga Arya yang terbiasa hidup di hutan peka, irama dentuman bass yang sampai menggetarkan aspal pijakannya itu terdengar persis seperti suara genderang perang suku musuh yang sedang menabuh genderang menantang bertarung.

"Dua pejantan penjaga yang berdiri menghalangi pintu masuk gua besar ini terlihat lumayan tangguh untuk ukuran manusia modern zaman ini, tapi sayang sekali perut mereka malah tertutup tumpukan lemak babi yang menjijikkan," analisis Arya dalam kepalanya, menilai kekuatan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Purba Sang Pemuas   Bab 73 Ulat Tanah Bergetar

    Melihat empat tongkat kayu diacungkan ke arahnya, Arya justru memiringkan kepalanya dengan tatapan kelewat datar.Sama sekali tidak ada kilatan ketakutan dari bola matanya yang semerah darah segar. Otaknya justru merasa sangat terhina melihat senjata tumpul yang dibawa oleh para manusia modern jalanan ini. Sepertinya, kera-kera kurus ini belum paham bahwa mereka sedang berhadapan dengan predator puncak pelahap daging dari zaman prasejarah."Kalian mencoba merampok Kepala Suku hanya bermodalkan ranting kayu patah yang bahkan tidak memiliki ujung tajam?"Tertawa meremehkan, preman bertato itu meludah kasar ke tanah. "Bacot lu kegedean, Bang! Sikat aja langsung kakinya biar dia nyungsep cium tanah!"Mendapat aba-aba serangan, dua preman terdepan langsung mengayunkan tongkat baseball mereka mengincar lutut Arya.Menghadapi serangan lambat tersebut, Arya sama sekali tidak repot-repot menghindar apalagi memundurkan langkahnya. Dibiarkannya kayu keras itu membentur tulang keringnya dengan su

  • Purba Sang Pemuas   Bab 72 Batu Sihir Dicuri

    Mendengar panggilan udik tersebut, dahi ibu warung itu berkerut dalam penuh keheranan."Beli rokok maksudnya, Bang? Sebungkus tiga puluh ribu, mana duitnya sini?" tagih si ibu warung sembari menengadahkan telapak tangannya tanpa rasa takut.Karena permintaan itu, Arya terdiam kaku memikirkan konsep pertukaran barang di dunia modern. Dia sama sekali tidak membawa sepeser pun lembaran kertas bergambar yang sering dipuja-puja oleh manusia zaman ini. Tiba-tiba saja, otaknya teringat pada pesan Viona tentang fungsi serbaguna dari sebuah batu pipih ajaib.Dikeluarkannya ponsel pintar keluaran terbaru seharga belasan juta itu dari saku celana jinsnya."Aku tidak punya kertas gambar, tapi betina hukumku bilang batu sihir ini bisa menelan dan menukar barang apa saja. Cepat tukar batuku ini dengan kotak herbalmu!" ujar Arya menyodorkan hapenya dengan gaya mendominasi.Melihat layar ponsel mahal yang menyala terang itu, ibu warung malah memutar bola matanya dengan raut wajah malas."Oh, abangnya

  • Purba Sang Pemuas   Bab 71 Herbal Pembakar Jiwa

    Berdiri di depan mereka, seorang wanita matang dengan setelan blazer abu-abu yang membungkus tubuh sintalnya dengan sempurna.Wajahnya cantik dengan garis rahang yang tegas, dipermanis oleh kacamata bingkai tipis yang memberikan kesan cerdas sekaligus dingin. Dialah Bu Amara, dosen psikologi perkembangan yang terkenal paling disegani sekaligus menjadi dambaan rahasia banyak mahasiswa pria. Rambut hitam panjangnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus tanpa cacat sedikit pun."Sore, Sarah, Clarissa. Tampaknya kalian sedang asyik membicarakan sesuatu yang sangat menarik sampai tidak sadar saya berdiri di sini," tegur Bu Amara dengan suara bariton yang lembut namun berwibawa.Merespons teguran tersebut, Sarah buru-buru merapikan kemeja BEM miliknya dengan gerakan yang sangat kikuk. Jantungnya berdebar kencang karena takut jika dosen cerdas ini sempat menangkap sepatah kata tentang obrolan vulgar mereka tadi."S-sore, Bu Amara. Ini... kami cuma lagi bah

  • Purba Sang Pemuas   Bab 70 Vespa Disangka Naga

    Sambil menyesap kopi hitamnya yang mulai mendingin, Leo terus mencuri pandang ke arah Arya. Aroma tembakau dari lintingan herbal itu masih menguar di antara mereka, menciptakan kabut tipis di bawah pohon akasia. Di samping Leo, duduklah Ardi dan beberapa anggota gengnya yang lain, termasuk Dika si kerempeng yang masih gemetar kecil.Melihat Arya yang hanya diam membisu menatap Vespa hijau, Ardi memberanikan diri untuk membuka suara."Sumpah, Ar, lo bener-bener beda banget sama Arya yang dulu gue palakin duit parkirnya. Sejak kapan lo belajar teknik cekik leher sampe Pak Handoko kencing di celana gitu?" tanya Ardi dengan nada penasaran yang kental.Mengabaikan pertanyaan tersebut, Arya justru lebih tertarik mengorek kerak kopi di dasar gelas plastiknya menggunakan ujung kuku. Baginya, pertanyaan tentang masa lalu pejantan asli pemilik tubuh ini adalah hal yang sangat tidak mengenyangkan perut."Naga air ini... apakah dia juga punya jantung yang berdetak di dalam perut gendutnya?" gumam

  • Purba Sang Pemuas   Bab 69 Dosen Ngompol Berjamaah

    Muncul dari balik debu reruntuhan pintu, sesosok pria berotot raksasa dengan kemeja flanel kucel berdiri menjulang memenuhi ambang pintu.Sorot mata setajam elang milik Arya berkilat merah memancarkan hawa membunuh murni yang seketika membekukan suhu di dalam ruangan pengap tersebut. Hidung mancungnya mengendus tajam bau keringat ketakutan Sarah yang berpadu dengan aroma busuk niat jahat dari sang dosen hidung belang."Bau busuk pejantan kera ini sungguh menusuk hidungku sampai ke dasar paru-paru," geram Arya sembari melangkah masuk menghancurkan ubin lantai dengan setiap pijakan kakinya.Menatap nyalang ke arah reruntuhan kayu yang berantakan, Handoko mundur teratur hingga punggungnya membentur lemari arsip. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai membanjiri dahi dosen paruh baya tersebut melihat sosok monster yang baru saja menghancurkan pintu ruangannya. Amarah yang tadi sempat meluap untuk menaklukkan Sarah kini menguap tak berbekas, digantikan oleh getaran hebat di kedua lututn

  • Purba Sang Pemuas   Bab 68 Dosen Hidung Beling

    Keesokan paginya, suasana kampus universitas terlihat masih cukup lengang karena baru memasuki masa awal perkuliahan.Sinar matahari yang menyelinap di sela-sela gedung beton menyinari lorong-lorong fakultas yang masih berbau cat baru. Beberapa mahasiswa tampak duduk santai di taman, namun jumlahnya tidak sebanyak saat ujian akhir berlangsung. Menariknya, fokus penglihatan orang-orang di sana bukan lagi tertuju pada Arya, melainkan pada sosok Ketua BEM yang berjalan gontai.Berjalan menyusuri koridor dengan kepala tertunduk, Sarah merasa beban di pundaknya terasa berkali-kali lipat lebih berat.Alasannya sangat jelas; rasa bersalah yang teramat dalam terus menghantui hatinya pasca insiden fitnah murahan di kantin kemarin. Dia merasa telah gagal menjadi penegak moral karena ikut terhasut oleh kebohongan yang disebarkan Rasti mengenai Arya. Padahal, dia adalah sosok yang paling menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran berdasarkan pedoman religiusnya."Gue bener-bener jahat banget... ken

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status