LOGIN"Wah, mobil siapa itu, Clara? Bagus dan gagah sekali kelihatannya," celetuk Silvi sambil smelongo melihat kemewahan kendaraan tersebut."Itu milik pribadiku, Silvi. Aku menyiapkannya untuk mengantisipasi kondisi terburuk Mas Tresna," jawab Clara dengan nada santai.Mobil van itu berhenti tepat di samping Tresna dengan suara mesin diesel yang terdengar sangat halus dan berkelas di telinga. Pintu geser samping mobil van itu terbuka secara otomatis, menampilkan pemandangan interior kabin yang luar biasa mewah dan nyaman. Di bagian tengah kabinnya terdapat sebuah ranjang empuk berukuran luas yang tertutup sprei putih bersih serta bantal yang nampak sangat nyaman."Silakan masuk, Mas. Kamu butuh istirahat di tempat yang jauh lebih layak daripada lantai semen ini.""Clara, aku benar-benar sudah merasa sehat dan kuat sekarang. Kamu tidak perlu repot-repot sampai seperti ini," kilah Tresna merasa sedikit sungkan."Jangan membantah perintah dokter, Mas Tresna! Kamu sudah hampir mati tadi, nuru
Lampu-lampu rotator polisi masih memantul liar di dinding gudang, menciptakan bias warna merah dan biru yang bersahutan dengan sisa cahaya fajar. Di tengah aula yang berantakan itu, Tresna tetap berdiri tegak meski kemejanya sudah koyak tak berbentuk sama sekali.Pandangannya yang tajam tidak bergeser sedikit pun dari wajah Kombes Hendrawan yang masih menanti jawabannya dengan penuh selidik. Dia seolah sedang menimbang kekuatan mental perwira di depannya sebelum memberikan rahasia terbesar malam ini."Bukti apa yang kamu maksud, Tresna? Jangan bilang kamu cuma mau menyuapku dengan cerita rakyat," ulang Hendrawan dengan suara baritonnya yang menekan kuat.Tresna tidak langsung menjawab, dia hanya memberikan senyuman tipis yang penuh makna kepada sang perwira tinggi kepolisian tersebut. Perlahan, dia merogoh bagian dalam kemejanya yang robek tanpa memedulikan tatapan waspada para personel Brimob di sekitarnya.Tangannya kemudian menarik keluar tumpukan dokumen tebal bersampul biru dan s
Daging dan kulit yang robek menyatu kembali dalam hitungan detik tanpa meninggalkan setetes darah pun yang baru. Pendarahan hebat itu berhenti total meninggalkan paha yang kembali mulus laksana tidak pernah terkena terjangan timah panas sebelumnya."Ini nggak mungkin... ilmu medis mana yang bisa begini?" gumam Clara dengan raut wajah penuh keterkejutan. Dia menatap tangannya yang masih memegang perban berlumur darah, namun luka di bawahnya sudah hilang secara sempurna tanpa bekas.Belum sempat mereka mencerna apa yang terjadi, suara gemeretak tulang kembali terdengar dari dalam rongga dada Tresna. Tulang rusuk Tresna yang sebelumnya patah secara ajaib kembali menyambung utuh dengan bunyi yang sangat nyata dan keras.Bekas luka memar yang menghitam di permukaan kulit dadanya memudar seketika digantikan oleh kulit cokelat yang kencang. Fenomena regenerasi sel yang luar biasa ini terjadi begitu cepat sehingga membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa kehilangan logika."Mas Tresna...
Tepat pada detik pintu itu jebol, kesadaran Tresna benar-benar padam meninggalkan tubuh kekarnya yang jatuh telungkup tak berdaya.Clara, Linda, dan Silvi yang sedari tadi menunggu dengan jantung berdebar di luar baris pertahanan langsung nekat berlari menerobos kerumunan polisi. Wajah mereka pucat pasi dipenuhi kepanikan yang luar biasa melihat kondisi di dalam gudang. Mereka berteriak histeris saat melihat sosok pria yang mereka cintai terkapar tak bergerak di tengah genangan darah yang masih hangat."Mas Tresna! Ya Tuhan, Mas!" jerit Linda dengan suara yang melengking tinggi membelah kesunyian aula gudang. Gadis itu hampir saja terjatuh jika tidak segera ditangkap oleh Silvi yang juga sedang menangis sesenggukan.Clara dengan naluri medisnya yang tajam bergerak lebih cepat dibandingkan siapa pun dan langsung berlutut di samping tubuh lemas Tresna. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh kulit Tresna yang mulai terasa mendingin akibat kehilangan banyak darah. Dia segera memaksakan di
Langkah kaki Tresna terasa sangat berat dan lambat saat dia mencoba menyeret tubuhnya yang ringsek di atas lantai beton. Paha kirinya yang tertembak terasa seolah sedang dihujam oleh ribuan jarum panas setiap kali ototnya dipaksa untuk menumpu beban.Darah segar merembes keluar dari balik balutan kain daster batik yang melilit erat di kakinya. Jejak merah pekat tertinggal di sepanjang jalur pergerakannya, menandakan sisa kehidupan yang terus terkuras habis."Satu langkah lagi... gue nggak boleh mati di sini," bisik Dia dengan napas yang tersengal parah.Bunyi gesekan sandalnya dengan lantai semen menggema lirih di aula raksasa yang kini mendadak sunyi senyap laksana kuburan.Tresna akhirnya sampai di depan meja kerja kayu jati milik sang Bos Mafia yang baru saja tewas mengenaskan. Dia mencengkeram tepian meja yang kokoh itu menggunakan jemarinya yang gemetar hebat demi menjaga tubuhnya agar tidak ambruk.Pandangan mata Tresna langsung terkunci pada brankas besi baja yang pintunya masi
"Hhh... hhh... pergi lu semua," bisik Tresna sambil merosot perlahan karena sudah tidak sanggup lagi menahan beban tubuhnya sendiri.Dia bersandar lemah pada tiang beton yang hancur di belakangnya, mencoba menahan kesadaran yang terus memudar akibat rasa sakit. Napasnya tersengal-sengal, setiap tarikan udara memicu rasa perih yang luar biasa menusuk bagian tulang rusuknya yang telah retak.Tangan kanannya menekan kuat luka di paha kirinya yang terus mengeluarkan darah segar berwarna pekat. Cairan hangat itu membasahi telapak tangannya, mengingatkan Tresna bahwa luka tembak itu masih sangat berbahaya jika tidak segera ditangani."Gusti... akhirnya… selesai…" gumam Tresna sambil menatap langit-langit gudang yang remang dengan pandangan mata yang mulai berkunang-kunang.Lelaki itu mencoba berdiri, namun kakinya langsung lemas dan dia kembali terduduk dengan ringisan sakit yang tertahan di kerongkongan. "Sial... paha gue beneran tembus," keluhnya sambil menatap nanar ke arah kakinya yang







