LOGINDari arah kegelapan jalan raya, sorot lampu jauh dari tiga unit truk tronton berukuran raksasa tampak membelah kabut malam.Namun, di barisan paling depan, sebuah truk bak terbuka yang dipenuhi oleh puluhan orang sakit dari desa seberang melaju kencang, menderu liar menerobos portal bambu pembatas wilayah hingga patah menjadi dua.BRAKKK!"Mas! Mereka ndak mau berhenti! Portalnya ditabrak!" jerit Clara dari teras, tangannya gemetar menunjuk ke arah jalan raya.Melihat armada itu nekat merangsek masuk, Linda ndak membuang waktu lagi. Jiwa kepemimpinannya sebagai kepala desa baru mendidih. Tanpa rasa takut sedikit pun, Linda langsung melesat lurus ke tengah jalan tanah yang berdebu. Dia berdiri tegak tepat di jalur roda, lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk mengadang laju kendaraan berat tersebut."Mbak Linda! Jangan, Mbak! Bahaya!" teriak beberapa pemuda karang taruna yang baru berdatangan dari arah pos ronda.Sopir truk seberang itu terkejut melihat sosok kepala desa pe
"Mas... hangat banget," bisik Silvi yang memperhatikan dari balik pintu dengan mata berbinar kagum. Karisma mistis Tresna selalu sukses membuat para wanitanya tunduk dan terpesona."Clara, pantau nadinya sekarang," perintah Tresna rendah, keringat jantannya mulai tampak berkilau di pelipis.Clara dengan cekatan menempelkan alat pemantau portabel ke pergelangan kaki si pemuda yang bebas dari luka melepuh. Matanya melekat pada layar kecil di tangannya."Astaga... naik, Mas! Detak jantungnya mulai stabil! Pernapasannya juga nggak seengap-engap tadi!" seru Clara nggak bisa menyembunyikan rasa takjubnya pada kemampuan pria pelindung desa itu."Hebat kamu, Mas. Energi panasmu bisa menekan penyebaran racun biologis di dalam darahnya buat sementara waktu.""Ini cuma buat bertahan beberapa jam. Sisa urusannya tetap ada di tangan medismu," sahut Tresna, menurunkan tangannya kembali sambil mengembuskan napas panjang.Linda yang berdiri di belakang mereka berdua sejak tadi hanya bisa terdiam deng
"Iya, Mas. Ini menular lewat cairan tubuh dan kontak kulit. Makanya aku larang kalian pegang! Sekali tertular, dalam waktu dua puluh empat jam kulit kita bakal melepuh seperti ini!" jelas Clara, peluh dingin mulai membasahi dahinya sendiri di balik sarung tangan karet.Mendengar penjelasan Clara, pemuda yang terkapar di lantai itu mendadak menggerakkan tangannya yang penuh luka melepuh. Dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, dia memegang ujung celana panjang Tresna."M-Mas... Tresna..." rintihnya dengan mata yang mulai memutih, berada di ambang maut.Tresna tidak mundur sedikit pun. Dia tetap berdiri kokoh bak batu karang meski ujung celananya dikotori oleh tangan penuh luka itu. Matanya menatap ke bawah dengan pandangan tajam."Iya, aku di sini. Ada apa? Siapa yang bikin kamu jadi begini?" tanya Tresna, suaranya berat dan dalam."J-Juragan... Juragan Karso..." bisik pemuda itu, napasnya putus-putus seperti ikan yang kekurangan air."Kenapa dengan Juragan Karso? Bicara yang jelas!" tunt
Sisa-sisa gairah yang baru saja mereda seketika menguap. Suasana hangat di dalam kamar tidur utama itu berubah mencekam dalam hitungan detik."Nggak usah panik. Pakai bajumu, Lin. Biar aku yang urus," perintah Tresna rendah, suaranya dingin dan menenangkan namun tak menerima bantahan.Tresna dan Linda segera melompat turun dari atas kasur kapuk mereka. Dengan gerakan yang sangat terburu-buru, keduanya menyambar pakaian masing-masing yang terserak di lantai kayu.Sambil mendengarkan gedoran pintu yang kian kencang di luar, Tresna memastikan seluruh kancing celananya terpasang rapi, lalu menyampirkan kaos dalamnya. Pria itu bergerak cepat, melangkah lebar keluar kamar menuju ruang tamu untuk membuka pintu utama rumah joglo.Di luar kamar, lampu ruang tengah sudah menyala. Silvi dan Clara rupanya sudah berdiri di dekat meja panjang dengan wajah tegang, merapatkan pakaian mereka karena hawa dingin malam yang mencekam."Mas Tresna! Itu siapa yang gedor-gedor? Kok ngeri banget suaranya?" bi
"I-iya, Mas... ahh! Aku... mau keluar, Mas Tresna! Uhh!" jerit Linda pasrah, ayunan pinggulnya semakin cepat dan bergetar hebat seiring dengan puncak kepuasan yang sudah di ambang mata.Tresna segera menahan pinggul ramping Linda menggunakan kedua telapak tangannya yang lebar dan kasar. Otot-otot lengannya menegang kuat, membantu wanita itu menjaga keseimbangan ritme gerakan yang semakin liar di atas perutnya."Mas... Mas Tresna... uhnn, cepet banget... aku nggak kuat," rintih Linda dengan napas yang putus-putus."Tahan, Lin. Ikutin gerakanku," bisik Tresna rendah, matanya menggelap penuh kepuasan dominasi.Keringat deras mengalir membasahi tubuh mereka berdua di dalam kamar tidur utama tersebut. Suhu ruangan terus meningkat drastis, terasa sangat panas akibat gesekan fisik yang terjadi tanpa henti di atas kasur kapuk.Linda yang sudah berada di puncak kenikmatan mendadak mencondongkan tubuh mulusnya ke depan. Sambil terengah-engah, dia menempelkan dua buah kembarnya yang sangat padat
"Ke dalam mana, Lin? Ini piringnya belum kelar semua," sahut Tresna pura-pura bertanya, meskipun dia tahu betul arti dari tatapan mata Linda."Udah, biarin Clara sama Silvi yang beresin di belakang. Aku mau kasih sesuatu buat kamu. Hadiah pribadi dari aku," bisik Linda lagi, merapatkan tubuhnya hingga dadanya yang kenyal menyenggol lengan kekar Tresna.Tresna terkekeh rendah, merasakan kehangatan kulit Linda. "Ya sudah, ayo. Aku mau lihat hadiah apa yang mau kamu kasih."Linda menarik tangan Tresna dengan langkah tergesa-gesa, menuntun pria itu masuk ke dalam kamar tidur utama rumah joglo yang bernuansa kayu jati kuno. Begitu mereka berdua berada di dalam, Linda langsung menutup pintu kayu yang tebal itu dengan rapat.Cklek!Suara kunci pintu yang berputar dari arah dalam mengunci dunia luar. Di dalam kamar yang hanya diterangi oleh lampu tidur kuning remang-remang itu, atmosfer seketika berubah menjadi sangat panas dan pekat.Tresna bersandar di dekat lemari pakaian kayu, menyilangka







