مشاركة

Bab 5

مؤلف: Prince Molina
last update آخر تحديث: 2026-01-29 12:30:54

Linda menelan ludah dengan susah payah saat menyadari bahwa mantri itu ternyata memiliki ukuran yang sangat tidak masuk akal bagi ukuran laki-laki desa pada umumnya. Dia segera membuang muka dan keluar dari klinik dengan langkah seribu, menyisakan Tresna yang hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah laku Linda yang nampak sangat ketakutan.

Tresna merasa sangat senang bukan main karena sekarang dia punya modal yang cukup untuk membeli kopi hitam kesukaannya. Dia segera mengunci klinik sejenak dan melangkah menuju warung kopi milik Mbak Yul yang letaknya berada tepat di sebelah bangunannya.

Tresna memesan kopi hitam panas, teh hangat untuk tantenya, serta dua bungkus indomie goreng untuk mereka makan siang nanti di rumah.

"Tumben amat Mas Mantri borong makanan, habis dapet pasien kaya ya tadi di tempat praktek?" tanya Mbak Yul sambil membungkus belanjaan Tresna.

"Iya Mbak, baru saja ada pasien yang bayarnya pakai uang kertas baru, rezeki anak sholeh memang nggak bakal tertukar."

Tresna membayar belanjaannya dan segera kembali menuju klinik sambil menenteng plastik berisi makanan yang masih mengepul panas dan sangat harum.

Namun, baru saja dia melangkahkan kakinya beberapa meter dari warung, langit desa yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi gelap gulita. Hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras sekali di desa itu, membuat jalanan tanah yang tadinya berdebu langsung berubah jadi becek.

Tresna berlari kecil memasuki kliniknya yang sepi, berusaha agar pesanan indomie goreng dan teh hangat milik tantenya tidak terkena air hujan.

Dia baru saja hendak meletakkan bungkusan makanan itu di atas meja praktik saat pintu kliniknya kembali terbuka dengan suara derit pelan. Seorang tamu tak terduga masuk menerobos derasnya hujan dengan membawa sebuah payung yang nampak sudah rusak parah di bagian kerangkanya.

Dia adalah Nabila, istri muda juragan tanah yang dikenal sangat polos, kalem, dan selalu berpakaian sangat rapi saat bertemu orang. Nabila datang dengan kondisi yang sangat memprihatinkan karena hampir seluruh bagian tubuhnya sudah basah kuyup akibat amukan hujan di luar sana.

Seragam dinas putih tipis yang dia kenakan kini menempel sangat ketat di kulitnya yang bening. Mencetak jelas bentuk tubuh yang selama ini tersembunyi.

Nabila berniat meminjam stok alkohol medis karena stok di tempatnya bekerja sedang habis total dan dia membutuhkannya segera untuk pasien. Namun saat masuk ke dalam ruangan, Nabila justru terlihat menggigil kedinginan dengan bibir yang sudah mulai sedikit membiru karena suhu udara turun.

Tresna terpaku diam di tempatnya berdiri saat melihat bra berwarna krem milik Nabila tercetak sangat jelas di balik kain seragam yang basah. Ternyata di balik sifatnya yang pendiam, Nabila memiliki lekuk payudara yang jauh lebih berisi daripada yang terlihat saat dia memakai baju kering.

Tresna segera mengambilkan handuk bersih dari dalam lemari kaca dan memberikannya kepada Nabila yang masih berdiri mematung di dekat pintu masuk.

Nabila menerima handuk itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia mulai mengelap sisa-sisa air hujan yang masih menempel di wajah dan rambutnya.

Nabila tidak sadar bahwa gerakan tangannya saat mengeringkan rambut justru membuat kemeja putihnya yang basah tertarik ke arah atas dengan sangat tinggi. Gerakan itu memperlihatkan perutnya yang ramping dan pusar yang tertutup oleh kain basah, menciptakan pemandangan yang sangat menggoda iman bagi siapa pun.

Tresna segera menyuguhkan teh hangat yang seharusnya dia berikan kepada tantenya tadi agar Nabila bisa sedikit merasa lebih hangat di tengah dingin.

Mata Tresna benar-benar tidak bisa lepas dari bagian dada Nabila yang sekarang tercetak sangat jelas seperti sengaja dipamerkan di depan matanya yang liar.

Nabila yang akhirnya menyadari arah tatapan lapar dari Tresna bukannya menjadi marah, dia malah tersipu malu dengan wajah yang tertunduk sangat dalam. Dia mencoba menutupi bagian dadanya yang menonjol itu dengan menggunakan kedua lengannya yang ramping agar tidak terlihat terlalu vulgar di depan Tresna.

Namun, gerakan Nabila yang mencoba menutupi dadanya itu justru membuat belahan dadanya semakin tertekan ke arah tengah dan nampak makin menonjol keluar.

Tresna merasa tenggorokannya mendadak menjadi sangat kering. Padahal di luar sana air hujan sedang tumpah dengan sangat melimpah dari langit yang gelap.

Suasana di dalam klinik kembali menjadi sangat panas dan penuh dengan ketegangan seksual yang sangat kental antara mantri desa dan istri juragan tanah itu.

"Mas Mantri, hujannya kok awet banget ya, saya jadi nggak bisa pulang kalau cuacanya masih badai begini di luar."

"Iya Mbak Nabila, ini hujannya memang nggak biasa, kayaknya bakal lama berhenti kalau melihat awannya yang hitam pekat begitu."

Gemuruh guntur yang sangat keras mendadak meledak di langit Desa Sukamaju, membuat kaca-kaca jendela klinik yang sudah tua itu bergetar hebat seolah mau pecah. Air hujan yang tumpah dari langit nampak sangat tebal seperti tirai putih yang menutup pandangan mata ke arah jalanan tanah yang sekarang sudah berubah jadi aliran sungai lumpur. Suara hantaman air di atas atap seng klinik yang sudah berkarat itu menimbulkan kebisingan yang sangat luar biasa, hingga mereka berdua harus bicara sedikit lebih keras agar bisa terdengar.

"Waduh, kalau hujannya segalak ini sih, jembatan kayu di depan pasar bisa-bisa hanyut terbawa arus kalau sungainya meluap lagi kayak tahun lalu," ujar Tresna sambil menatap ke luar jendela yang buram karena embun.

"Iya Mas, mana petirnya besar-besar begitu, saya jadi makin ngeri mau nekat keluar meskipun pakai payung yang sudah rombeng begini."

Nabila berdiri makin merapat ke arah meja praktik Tresna. Seolah mencari perlindungan dari suara gelegar petir yang terus-menerus menyambar di kejauhan dengan kilatan cahaya yang menyilaukan mata.

Hawa dingin yang menusuk tulang mulai merambat masuk melalui celah-celah pintu kayu, membuat Nabila yang bajunya masih basah kuyup itu kembali menggigil dengan tubuh yang gemetar sangat halus.

Tresna bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana bulu kuduk di leher jenjang Nabila berdiri tegak karena suhu udara yang mendadak anjlok drastis akibat badai.

"Maaf, Mas Tresna, saya boleh numpang ganti baju di sini sebentar? Kebetulan di dalam tas saya bawa baju ganti karena tadi mau ke puskesmas."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 5

    Linda menelan ludah dengan susah payah saat menyadari bahwa mantri itu ternyata memiliki ukuran yang sangat tidak masuk akal bagi ukuran laki-laki desa pada umumnya. Dia segera membuang muka dan keluar dari klinik dengan langkah seribu, menyisakan Tresna yang hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah laku Linda yang nampak sangat ketakutan.Tresna merasa sangat senang bukan main karena sekarang dia punya modal yang cukup untuk membeli kopi hitam kesukaannya. Dia segera mengunci klinik sejenak dan melangkah menuju warung kopi milik Mbak Yul yang letaknya berada tepat di sebelah bangunannya.Tresna memesan kopi hitam panas, teh hangat untuk tantenya, serta dua bungkus indomie goreng untuk mereka makan siang nanti di rumah."Tumben amat Mas Mantri borong makanan, habis dapet pasien kaya ya tadi di tempat praktek?" tanya Mbak Yul sambil membungkus belanjaan Tresna."Iya Mbak, baru saja ada pasien yang bayarnya pakai uang kertas baru, rezeki anak sholeh memang nggak bakal tertukar."Tresna

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 4

    Linda masih terbaring pasrah di atas ranjang periksa yang reot. Saat ini dia napasnya sudah memburu seperti orang habis lari keliling lapangan desa.Tresna tidak menunjukkan tanda-tanda ingin melepaskan cengkeramannya yang mantap pada betis Linda yang putih mulus dan terasa sangat hangat di bawah telapak tangannya. Matanya menatap lekat ke arah pergelangan kaki Linda yang mulai mengempis bengkaknya, namun pikirannya sudah melayang jauh ke arah lain yang lebih menggoda."Mas Tresna, ini sudah cukup belum pijatnya, rasanya kaki aku sudah mulai enteng dan nggak senut-senut lagi kayak tadi pas baru jatuh.""Belum Linda, ini baru luarnya saja yang sembuh, urat bagian dalamnya masih banyak yang mlintir dan butuh saya luruskan biar nggak permanen sakitnya."Dengan alasan medis untuk meluruskan urat yang terjepit. Jemari kasar Tresna mulai menekan satu titik sensitif yang berada tepat di lekukan balik lutut Linda.Tekanan itu seketika membuat Linda tersentak kaget. Tubuhnya melengkung ke atas

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 3

    Keadaan di atas lantai semen klinik yang dingin itu mendadak jadi sangat kacau balau buat Tresna yang posisinya berada tepat di bawah tubuh molek Linda.Rok pendek milik anak Pak Kades itu tersingkap total ke atas akibat benturan keras saat mereka berdua jatuh tadi. Sehingga tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi imajinasi liar.Tresna hanya bisa melotot saat melihat paha Linda yang putih mulus dan celana dalam renda warna merah jambu terpampang nyata tepat di depan batang hidungnya sendiri.Aroma khas dari area kewanitaan Linda yang sangat wangi karena perawatan mahal bercampur dengan parfum branded langsung menampar indra penciuman Tresna dengan sangat keras sekali. Tresna merasa otaknya mendadak macet total, sementara Si Gatot di balik celana kainnya yang tadi sudah mulai tenang sekarang malah makin mengeras dan menegang hebat.Linda yang tersadar dengan posisinya yang sangat memalukan itu langsung berteriak kencang sambil mencoba memukul pundak Tresna dengan sisa tenaga yang ada.

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 2

    Tresna hanya bisa mematung seperti patung selamat datang di pinggir desa Sukamaju yang kusam. Napasnya memburu tidak keruan karena ucapan Silvi yang benar-benar di luar nalar sehatnya sebagai seorang mantri.Janda kembang itu malah makin menjadi-jadi dalam melancarkan aksi godaannya yang maut di siang bolong itu. Dia memutar badannya sedikit hingga posisi duduknya sekarang benar-benar berhadapan langsung dengan wajah Tresna yang pucat.Tresna masih memegang koin logam untuk kerokan dengan ujung jari yang gemetar hebat karena menahan gejolak batin.Mata Silvi yang sayu namun penuh gairah itu menatap tepat ke arah tonjolan di balik celana kain Tresna. Tangan Silvi yang halus perlahan mulai merayap naik ke paha sang mantri dengan gerakan yang sangat berani.Tresna merasa seluruh saraf di tubuhnya seperti baru saja kesetrum aliran listrik tegangan tinggi dari kabel yang terkelupas. Otaknya sudah berteriak sangat keras supaya dia segera lari, tapi kakinya seolah sudah tertanam kuat di lant

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 1

    "Mas Tresna, tolongin, ini punggungku rasanya mau copot, kayak ada beban berat yang nempel nggak mau lepas dari tadi pagi!"Pintu klinik kayu yang sudah agak miring itu terbuka dengan suara debuman keras. Menampilkan sosok Silvi yang berdiri dengan napas tersenggal-senggal di ambang pintu.Tresna yang sedang melamun memikirkan nasib dompetnya yang makin menipis di usia dua puluh delapan tahun, hampir saja terjungkal dari kursi kayunya karena kaget bukan main.Dia mengusap wajahnya yang kusam. Menatap janda kembang itu dengan pandangan bingung sambil berusaha merapikan kaos oblongnya yang sudah melar di bagian leher.Pikirannya yang tadi penuh dengan bayangan ancaman Pak Kades Aditama tentang penutupan klinik ilegalnya langsung buyar seketika, digantikan oleh pemandangan di depan matanya."Mbak Silvi, kalau masuk itu mbok ya ketok pintu dulu toh, ini klinik pengobatan bukan gerbang tol yang main terobos saja," jawab Tresna dengan nada yang diusahakan tetap tenang meskipun jantungnya su

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status