LOGINLinda menelan ludah dengan susah payah saat menyadari bahwa mantri itu ternyata memiliki ukuran yang sangat tidak masuk akal bagi ukuran laki-laki desa pada umumnya. Dia segera membuang muka dan keluar dari klinik dengan langkah seribu, menyisakan Tresna yang hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah laku Linda yang nampak sangat ketakutan.
Tresna merasa sangat senang bukan main karena sekarang dia punya modal yang cukup untuk membeli kopi hitam kesukaannya. Dia segera mengunci klinik sejenak dan melangkah menuju warung kopi milik Mbak Yul yang letaknya berada tepat di sebelah bangunannya.
Tresna memesan kopi hitam panas, teh hangat untuk tantenya, serta dua bungkus indomie goreng untuk mereka makan siang nanti di rumah.
"Tumben amat Mas Mantri borong makanan, habis dapet pasien kaya ya tadi di tempat praktek?" tanya Mbak Yul sambil membungkus belanjaan Tresna.
"Iya Mbak, baru saja ada pasien yang bayarnya pakai uang kertas baru, rezeki anak sholeh memang nggak bakal tertukar."
Tresna membayar belanjaannya dan segera kembali menuju klinik sambil menenteng plastik berisi makanan yang masih mengepul panas dan sangat harum.
Namun, baru saja dia melangkahkan kakinya beberapa meter dari warung, langit desa yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi gelap gulita. Hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras sekali di desa itu, membuat jalanan tanah yang tadinya berdebu langsung berubah jadi becek.
Tresna berlari kecil memasuki kliniknya yang sepi, berusaha agar pesanan indomie goreng dan teh hangat milik tantenya tidak terkena air hujan.
Dia baru saja hendak meletakkan bungkusan makanan itu di atas meja praktik saat pintu kliniknya kembali terbuka dengan suara derit pelan. Seorang tamu tak terduga masuk menerobos derasnya hujan dengan membawa sebuah payung yang nampak sudah rusak parah di bagian kerangkanya.
Dia adalah Rini, istri muda juragan tanah yang dikenal sangat polos, kalem, dan selalu berpakaian sangat rapi saat bertemu orang. Rini datang dengan kondisi yang sangat memprihatinkan karena hampir seluruh bagian tubuhnya sudah basah kuyup akibat amukan hujan di luar sana.
Seragam dinas putih tipis yang dia kenakan kini menempel sangat ketat di kulitnya yang bening. Mencetak jelas bentuk tubuh yang selama ini tersembunyi.
Rini berniat meminjam stok alkohol medis karena stok di tempatnya bekerja sedang habis total dan dia membutuhkannya segera untuk pasien. Namun saat masuk ke dalam ruangan, Rini justru terlihat menggigil kedinginan dengan bibir yang sudah mulai sedikit membiru karena suhu udara turun.
Tresna terpaku diam di tempatnya berdiri saat melihat bra berwarna krem milik Rini tercetak sangat jelas di balik kain seragam yang basah. Ternyata di balik sifatnya yang pendiam, Rini memiliki lekuk payudara yang jauh lebih berisi daripada yang terlihat saat dia memakai baju kering.
Tresna segera mengambilkan handuk bersih dari dalam lemari kaca dan memberikannya kepada Rini yang masih berdiri mematung di dekat pintu masuk.
Rini menerima handuk itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia mulai mengelap sisa-sisa air hujan yang masih menempel di wajah dan rambutnya.
Rini tidak sadar bahwa gerakan tangannya saat mengeringkan rambut justru membuat kemeja putihnya yang basah tertarik ke arah atas dengan sangat tinggi. Gerakan itu memperlihatkan perutnya yang ramping dan pusar yang tertutup oleh kain basah, menciptakan pemandangan yang sangat menggoda iman bagi siapa pun.
Tresna segera menyuguhkan teh hangat yang seharusnya dia berikan kepada tantenya tadi agar Rini bisa sedikit merasa lebih hangat di tengah dingin.
Mata Tresna benar-benar tidak bisa lepas dari bagian dada Rini yang sekarang tercetak sangat jelas seperti sengaja dipamerkan di depan matanya yang liar.
Rini yang akhirnya menyadari arah tatapan lapar dari Tresna bukannya menjadi marah, dia malah tersipu malu dengan wajah yang tertunduk sangat dalam. Dia mencoba menutupi bagian dadanya yang menonjol itu dengan menggunakan kedua lengannya yang ramping agar tidak terlihat terlalu vulgar di depan Tresna.
Namun, gerakan Rini yang mencoba menutupi dadanya itu justru membuat belahan dadanya semakin tertekan ke arah tengah dan nampak makin menonjol keluar.
Tresna merasa tenggorokannya mendadak menjadi sangat kering. Padahal di luar sana air hujan sedang tumpah dengan sangat melimpah dari langit yang gelap.
Suasana di dalam klinik kembali menjadi sangat panas dan penuh dengan ketegangan seksual yang sangat kental antara mantri desa dan istri juragan tanah itu.
"Mas Mantri, hujannya kok awet banget ya, saya jadi nggak bisa pulang kalau cuacanya masih badai begini di luar."
"Iya Mbak Rini, ini hujannya memang nggak biasa, kayaknya bakal lama berhenti kalau melihat awannya yang hitam pekat begitu."
Gemuruh guntur yang sangat keras mendadak meledak di langit Desa Sukamaju, membuat kaca-kaca jendela klinik yang sudah tua itu bergetar hebat seolah mau pecah. Air hujan yang tumpah dari langit nampak sangat tebal seperti tirai putih yang menutup pandangan mata ke arah jalanan tanah yang sekarang sudah berubah jadi aliran sungai lumpur. Suara hantaman air di atas atap seng klinik yang sudah berkarat itu menimbulkan kebisingan yang sangat luar biasa, hingga mereka berdua harus bicara sedikit lebih keras agar bisa terdengar.
"Waduh, kalau hujannya segalak ini sih, jembatan kayu di depan pasar bisa-bisa hanyut terbawa arus kalau sungainya meluap lagi kayak tahun lalu," ujar Tresna sambil menatap ke luar jendela yang buram karena embun.
"Iya Mas, mana petirnya besar-besar begitu, saya jadi makin ngeri mau nekat keluar meskipun pakai payung yang sudah rombeng begini."
Rini berdiri makin merapat ke arah meja praktik Tresna. Seolah mencari perlindungan dari suara gelegar petir yang terus-menerus menyambar di kejauhan dengan kilatan cahaya yang menyilaukan mata.
Hawa dingin yang menusuk tulang mulai merambat masuk melalui celah-celah pintu kayu, membuat Rini yang bajunya masih basah kuyup itu kembali menggigil dengan tubuh yang gemetar sangat halus.
Tresna bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana bulu kuduk di leher jenjang Rini berdiri tegak karena suhu udara yang mendadak anjlok drastis akibat badai.
"Maaf, Mas Tresna, saya boleh numpang ganti baju di sini sebentar? Kebetulan di dalam tas saya bawa baju ganti karena tadi mau ke puskesmas."
"Mas Tresna! Dokter! Gawat, Mas!"Pintu kayu itu mendadak terbuka lebar karena didorong kasar dari luar. Di ambang pintu, seorang pemuda karang taruna berdiri sambil memegangi kusen, napasnya putus-putus dan badannya gemetar hebat. Bajunya sudah tidak keruan, basah kuyup dan penuh noda lumpur parit yang kotor.Tresna yang sigap menggeser tubuh kekarnya, berdiri pas di depan Clara untuk melindungi dokter itu. Sorot matanya seketika berubah dingin beneran."Ada apa, Jok?! Masuk nggak pakai aturan, main dobrak saja!" gertak Tresna, suaranya berat memicu wibawa yang bikin merinding."M-maaf, Mas Tresna... tapi ini darurat!" tangis pemuda bernama Joko itu dengan wajah ketakutan setengah mati.Tresna tidak membentak lagi. Dia maju satu langkah, menatap Joko dari atas ke bawah dengan pandangan taktisnya yang tajam. "Tenangkan dirimu, Jok. Bicara yang jelas, ada apa di luar?""Perbatasan, Mas! Perbatasan desa kita jebol!" seru Joko dengan suara serak, napasnya masih putus-putus. "Ratusan warg
"Astaga... lukanya langsung mengering, Mas! Ini… ini nggak masuk akal!" seru Clara takjub, matanya melotot nggak percaya menatap hasil kerja Tresna."Sambiloto itu rajanya obat antiseptik alami, ditambah temulawak buat netralisir racun di kulit. Nenek moyang kita sudah pakai ini sebelum manusia jaman sekarang bikin obat dalam bentuk pil," sahut Tresna santai, menaruh kembali spatula kayu ke meja.Ketegangan yang sangat menguras pikiran dan tenaga selama proses pengobatan darurat tadi membuat atmosfer di dalam ruangan tertutup itu terasa sangat pekat. Napas Clara terdengar memburu sangat kencang, dadanya yang padat di balik jas dokter putihnya tampak naik-turun dengan kontras.Clara menatap tubuh kekar Tresna yang gagah, berdiri tegak tanpa ada rasa takut sedikit pun di tengah ancaman wabah mematikan. Gairah dan rasa kagumnya sebagai seorang wanita itu langsung memuncak, mengalahkan rasa takutnya pada penyakit.Dokter muda itu mendadak melangkah maju, lalu menarik lengan kekar Tresna d
"Aku harus tahu ini jenis patogen apa, Mas. Tanpa data akurat, kita nggak bakal bisa bikin penawarnya," sahut Clara serius.Clara mengambil sebuah spuit dari dalam lemari kaca. Tanpa membuang waktu, dia mencari area kulit di lengan pemuda itu yang masih bersih dari luka melepuh, lalu dengan jeli menusukkan jarum suntik tersebut tepat di atas pembuluh darahnya.Perlahan, Clara menarik tuas spuit hingga tabung bening itu terisi beberapa mililiter sampel darah yang berwarna agak kehitaman dan kental."Warnanya nggak wajar banget, Mas. Darah manusia nggak sepekat ini kalau cuma infeksi biasa," bisik Clara, wajahnya tegang.Clara membawa tabung sampel darah itu ke sudut meja laboratorium. Dia memasukkannya ke dalam sebuah mesin analisis portabel miliknya, alat khusus yang sengaja dia bawa dari rumah sakit pusat kota karena bisa membaca struktur DNA bakteri dalam hitungan menit.Bzzzzt... bzzzzt...Mesin laboratorium kecil berbentuk kotak hitam itu mulai bekerja, lampu indikator birunya ber
Dari arah kegelapan jalan raya, sorot lampu jauh dari tiga unit truk tronton berukuran raksasa tampak membelah kabut malam.Namun, di barisan paling depan, sebuah truk bak terbuka yang dipenuhi oleh puluhan orang sakit dari desa seberang melaju kencang, menderu liar menerobos portal bambu pembatas wilayah hingga patah menjadi dua.BRAKKK!"Mas! Mereka ndak mau berhenti! Portalnya ditabrak!" jerit Clara dari teras, tangannya gemetar menunjuk ke arah jalan raya.Melihat armada itu nekat merangsek masuk, Linda ndak membuang waktu lagi. Jiwa kepemimpinannya sebagai kepala desa baru mendidih. Tanpa rasa takut sedikit pun, Linda langsung melesat lurus ke tengah jalan tanah yang berdebu. Dia berdiri tegak tepat di jalur roda, lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk mengadang laju kendaraan berat tersebut."Mbak Linda! Jangan, Mbak! Bahaya!" teriak beberapa pemuda karang taruna yang baru berdatangan dari arah pos ronda.Sopir truk seberang itu terkejut melihat sosok kepala desa pe
"Mas... hangat banget," bisik Silvi yang memperhatikan dari balik pintu dengan mata berbinar kagum. Karisma mistis Tresna selalu sukses membuat para wanitanya tunduk dan terpesona."Clara, pantau nadinya sekarang," perintah Tresna rendah, keringat jantannya mulai tampak berkilau di pelipis.Clara dengan cekatan menempelkan alat pemantau portabel ke pergelangan kaki si pemuda yang bebas dari luka melepuh. Matanya melekat pada layar kecil di tangannya."Astaga... naik, Mas! Detak jantungnya mulai stabil! Pernapasannya juga nggak seengap-engap tadi!" seru Clara nggak bisa menyembunyikan rasa takjubnya pada kemampuan pria pelindung desa itu."Hebat kamu, Mas. Energi panasmu bisa menekan penyebaran racun biologis di dalam darahnya buat sementara waktu.""Ini cuma buat bertahan beberapa jam. Sisa urusannya tetap ada di tangan medismu," sahut Tresna, menurunkan tangannya kembali sambil mengembuskan napas panjang.Linda yang berdiri di belakang mereka berdua sejak tadi hanya bisa terdiam deng
"Iya, Mas. Ini menular lewat cairan tubuh dan kontak kulit. Makanya aku larang kalian pegang! Sekali tertular, dalam waktu dua puluh empat jam kulit kita bakal melepuh seperti ini!" jelas Clara, peluh dingin mulai membasahi dahinya sendiri di balik sarung tangan karet.Mendengar penjelasan Clara, pemuda yang terkapar di lantai itu mendadak menggerakkan tangannya yang penuh luka melepuh. Dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, dia memegang ujung celana panjang Tresna."M-Mas... Tresna..." rintihnya dengan mata yang mulai memutih, berada di ambang maut.Tresna tidak mundur sedikit pun. Dia tetap berdiri kokoh bak batu karang meski ujung celananya dikotori oleh tangan penuh luka itu. Matanya menatap ke bawah dengan pandangan tajam."Iya, aku di sini. Ada apa? Siapa yang bikin kamu jadi begini?" tanya Tresna, suaranya berat dan dalam."J-Juragan... Juragan Karso..." bisik pemuda itu, napasnya putus-putus seperti ikan yang kekurangan air."Kenapa dengan Juragan Karso? Bicara yang jelas!" tunt







