LOGINTresna mengangguk pelan sambil menyesap sisa kopi hitamnya yang mulai mendingin karena hawa hujan. Ia menunjuk ke arah pojok ruangan, di mana terdapat sebuah tirai pembatas berwarna hijau lumut yang kainnya sudah nampak sangat tipis dimakan usia.
"Pakai saja di situ, Mbak Rini. Gordennya rapat kok, nggak bakal ada orang yang berani masuk dalam kondisi hujan badai begini," ujar Tresna dengan suara yang diusahakan tetap tenang meski jantungnya mulai berulah lagi.
Rini berjalan pelan menuju balik tirai yang tingginya hanya sebatas leher orang dewasa tersebut. Karena posisi lampu neon klinik yang tepat berada di atas ruang ganti, siluet Rini terekam dengan sangat jelas pada kain tipis itu seperti pertunjukan wayang kulit yang sangat nyata.
Tresna duduk di kursi tunggu kayu sambil meremas lututnya sendiri. Dia berusaha keras menahan imajinasi liar yang mendadak meledak di kepalanya.
Melalui bayangan di kain, Tresna bisa melihat siluet Rini yang sedang melucuti satu per satu pakaian basahnya dengan gerakan yang sangat anggun namun lambat.
Siluet itu merekam jelas saat Rini melepas bra kremnya. Lalu membungkuk dengan lekuk tubuh yang sangat menggoda untuk memakai baju ganti yang dia bawa di dalam tas.
Tresna merasa tenggorokannya benar-benar kering kerontang saat melihat lekukan bayangan dada Rini yang ternyata memang jauh lebih berisi dan padat daripada dugaannya selama ini.
Tubuh bidan yang dikenal polos dan kalem itu sekarang hanya berjarak selembar kain tipis darinya. Membuat Tresna harus mengatur napas agar tidak lepas kendali.
Ia terus menahan gejolak hebat yang menyerang bagian bawah perutnya. Sampai akhirnya Rini keluar dari balik tirai dengan baju daster batik yang nampak lebih longgar.
Rini melangkah mendekati Tresna yang masih terduduk kaku. Wajahnya nampak sangat merah merona namun terselip keberanian yang tidak biasa di matanya.
Tanpa disangka, sebelum ia benar-benar berpamitan, Rini memberikan sebuah ucapan terima kasih berupa sebuah sentuhan kecil yang sangat singkat namun telak ke arah Si Gatot.
Tresna langsung berdiri tegak dengan tubuh yang terasa sangat kaku dan tegang seperti ditarik oleh kawat baja berkekuatan tinggi. Kejadian itu berlangsung sangat cepat, membuat Tresna hanya bisa melongo saat melihat Rini justru tertawa kecil melihat ekspresi wajahnya yang sangat shock dan kebingungan.
"Terima kasih banyak ya Mas Tresna buat bantuannya tadi, payungnya saya pinjam dulu ya buat kembali ke Puskesmas sekarang," pamit Rini dengan nada yang mendadak ceria.
Rini segera melangkah keluar menembus sisa-sisa hujan, meninggalkan Tresna yang masih berdiri merenung sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang hingga waktu Isya tiba.
Karena perutnya mulai terasa lapar lagi, Tresna memutuskan untuk mampir ke warung kopi di ujung desa guna memakan seporsi mi instan panas sebelum pulang ke rumah.
Suasana di warung kopi itu nampak cukup ramai oleh bapak-bapak yang sedang berteduh dan bermain kartu untuk menghabiskan waktu malam. Di sana ternyata sudah ada Pak Karyo, bapak-bapak sombong yang memang sejak lama menaruh rasa iri dan benci yang sangat mendalam pada ketampanan serta kharisma yang dimiliki oleh Tresna.
Melihat kedatangan Tresna yang nampak tenang, Pak Karyo langsung menyeringai licik dan sengaja mengeraskan suaranya agar didengar oleh seluruh warga yang ada di sana.
"Woy, Pak Mantri Cabul! Dengar-dengar tadi siang anak Pak Kades lari ketakutan dari klinik lo? Lo apain anak orang sampai dia nangis-nangis begitu di jalan?"
"Dasar dukun berkedok medis, bisanya cuma raba-raba pasien wanita saja kalau sedang periksa!" hardik Pak Karyo dengan nada yang sangat menghina dan penuh kebencian.
Warga yang ada di dalam warung tersebut sontak ikut tertawa terbahak-bahak. Seolah-olah mereka sangat menikmati pelecehan yang ditujukan kepada mantri muda yang malang itu.
Tresna hanya bisa terdiam membisu sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja kayu yang kotor. Dia sadar betul posisinya yang miskin akan selalu kalah jika harus melawan orang kaya seperti Pak Karyo.
Hinaannya terus mengalir tanpa henti, membuat suhu di dalam warung kopi itu terasa makin panas meskipun di luar sana hujan masih menyisakan rintik-rintik dingin yang menetes.
"Halah, paling-paling si Arum yang buta itu juga cuma jadi tameng doang di rumah," celetuk Pak Karyo sambil menyulut rokok klobotnya, matanya menyipit penuh kebencian ke arah Tresna.
"Kasihan bener punya tante buta, mending kalau dirawat beneran, ini malah dipake buat nutupin kelakuan bejat keponakannya yang doyan masuk-masukin cewek ke klinik. Apa jangan-jangan si Arum itu juga sering kamu pegang-pegang kalau malam pas dia nggak bisa liat apa-apa, hah? Kan lumayan, daripada jomblo karatan, mending sikat yang ada di rumah!"
Tawa riuh bapak-bapak di warung kopi itu makin pecah, terdengar sangat menjijikkan di telinga Tresna.
"Bener itu Pak Karyo, pantesan betah banget tinggal berdua saja, padahal si Arum itu kan masih kencang kalau cuma dilihat dari belakang," timpal salah satu warga sambil terkekeh-kekeh.
Pak Karyo makin menjadi-jadi, dia menggebrak meja kayu di depannya hingga kopi di gelasnya tumpah sedikit. "Mana ada mantri jujur tapi milih tinggal sama janda buta kalau nggak ada maunya? Kamu itu cuma benalu desa, Tresna! Udah miskin, nggak punya ijazah, kerjanya cuma manfaatin kekurangan tante sendiri buat nyari kesenangan. Dasar perjaka gendeng, nggak laku sama perawan, akhirnya tante sendiri yang jadi korban!"
Tresna hanya bisa diam mematung, rahangnya mengeras sampai urat-urat di lehernya nampak menonjol karena menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun. Namun, sebelum kepalan tangan Tresna melayang ke wajah sombong Pak Karyo, sebuah suara lantang membelah suasana warung yang gaduh itu.
Namun, di tengah suasana yang sangat menjatuhkan mental itu, tiba-tiba muncul Silvi dari kegelapan malam dengan penampilan yang sangat mencolok mata. Janda kembang itu datang mengenakan daster santai tanpa lengan yang dengan berani memamerkan bagian ketiaknya yang sangat putih bersih serta lengan mulusnya yang nampak sangat kencang.
Tanpa mempedulikan tatapan lapar bapak-bapak di sana, Silvi langsung duduk di samping Tresna dan memepetkan tubuhnya dengan sangat erat hingga payudaranya yang empuk menempel di lengan Tresna.
"Eh Pak Karyo, mulut situ dijaga ya kalau bicara, jangan asal nuduh orang sembarangan kalau nggak punya bukti yang jelas dan nyata!"
"Mas Tresna itu tangannya ajaib sekali. Tadi pagi saya masuk angin parah sampai nggak bisa bangun, tapi sekali disentuh sama Mas Tresna langsung sembuh seketika itu juga."
Silvi menatap Pak Karyo dengan pandangan yang sangat merendahkan, membuat bapak-bapak genit itu mendadak terdiam seribu bahasa karena kaget melihat pembelaan yang begitu berani.
"Situ aja yang iri karena burung situ kecil, nggak kayak Mas Tresna yang perkasa, makanya jangan suka menghina orang yang kemampuannya jauh di atas situ!" bela Silvi dengan suara yang sangat lantang dan manja.
Dari arah kegelapan jalan raya, sorot lampu jauh dari tiga unit truk tronton berukuran raksasa tampak membelah kabut malam.Namun, di barisan paling depan, sebuah truk bak terbuka yang dipenuhi oleh puluhan orang sakit dari desa seberang melaju kencang, menderu liar menerobos portal bambu pembatas wilayah hingga patah menjadi dua.BRAKKK!"Mas! Mereka ndak mau berhenti! Portalnya ditabrak!" jerit Clara dari teras, tangannya gemetar menunjuk ke arah jalan raya.Melihat armada itu nekat merangsek masuk, Linda ndak membuang waktu lagi. Jiwa kepemimpinannya sebagai kepala desa baru mendidih. Tanpa rasa takut sedikit pun, Linda langsung melesat lurus ke tengah jalan tanah yang berdebu. Dia berdiri tegak tepat di jalur roda, lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk mengadang laju kendaraan berat tersebut."Mbak Linda! Jangan, Mbak! Bahaya!" teriak beberapa pemuda karang taruna yang baru berdatangan dari arah pos ronda.Sopir truk seberang itu terkejut melihat sosok kepala desa pe
"Mas... hangat banget," bisik Silvi yang memperhatikan dari balik pintu dengan mata berbinar kagum. Karisma mistis Tresna selalu sukses membuat para wanitanya tunduk dan terpesona."Clara, pantau nadinya sekarang," perintah Tresna rendah, keringat jantannya mulai tampak berkilau di pelipis.Clara dengan cekatan menempelkan alat pemantau portabel ke pergelangan kaki si pemuda yang bebas dari luka melepuh. Matanya melekat pada layar kecil di tangannya."Astaga... naik, Mas! Detak jantungnya mulai stabil! Pernapasannya juga nggak seengap-engap tadi!" seru Clara nggak bisa menyembunyikan rasa takjubnya pada kemampuan pria pelindung desa itu."Hebat kamu, Mas. Energi panasmu bisa menekan penyebaran racun biologis di dalam darahnya buat sementara waktu.""Ini cuma buat bertahan beberapa jam. Sisa urusannya tetap ada di tangan medismu," sahut Tresna, menurunkan tangannya kembali sambil mengembuskan napas panjang.Linda yang berdiri di belakang mereka berdua sejak tadi hanya bisa terdiam deng
"Iya, Mas. Ini menular lewat cairan tubuh dan kontak kulit. Makanya aku larang kalian pegang! Sekali tertular, dalam waktu dua puluh empat jam kulit kita bakal melepuh seperti ini!" jelas Clara, peluh dingin mulai membasahi dahinya sendiri di balik sarung tangan karet.Mendengar penjelasan Clara, pemuda yang terkapar di lantai itu mendadak menggerakkan tangannya yang penuh luka melepuh. Dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, dia memegang ujung celana panjang Tresna."M-Mas... Tresna..." rintihnya dengan mata yang mulai memutih, berada di ambang maut.Tresna tidak mundur sedikit pun. Dia tetap berdiri kokoh bak batu karang meski ujung celananya dikotori oleh tangan penuh luka itu. Matanya menatap ke bawah dengan pandangan tajam."Iya, aku di sini. Ada apa? Siapa yang bikin kamu jadi begini?" tanya Tresna, suaranya berat dan dalam."J-Juragan... Juragan Karso..." bisik pemuda itu, napasnya putus-putus seperti ikan yang kekurangan air."Kenapa dengan Juragan Karso? Bicara yang jelas!" tunt
Sisa-sisa gairah yang baru saja mereda seketika menguap. Suasana hangat di dalam kamar tidur utama itu berubah mencekam dalam hitungan detik."Nggak usah panik. Pakai bajumu, Lin. Biar aku yang urus," perintah Tresna rendah, suaranya dingin dan menenangkan namun tak menerima bantahan.Tresna dan Linda segera melompat turun dari atas kasur kapuk mereka. Dengan gerakan yang sangat terburu-buru, keduanya menyambar pakaian masing-masing yang terserak di lantai kayu.Sambil mendengarkan gedoran pintu yang kian kencang di luar, Tresna memastikan seluruh kancing celananya terpasang rapi, lalu menyampirkan kaos dalamnya. Pria itu bergerak cepat, melangkah lebar keluar kamar menuju ruang tamu untuk membuka pintu utama rumah joglo.Di luar kamar, lampu ruang tengah sudah menyala. Silvi dan Clara rupanya sudah berdiri di dekat meja panjang dengan wajah tegang, merapatkan pakaian mereka karena hawa dingin malam yang mencekam."Mas Tresna! Itu siapa yang gedor-gedor? Kok ngeri banget suaranya?" bi
"I-iya, Mas... ahh! Aku... mau keluar, Mas Tresna! Uhh!" jerit Linda pasrah, ayunan pinggulnya semakin cepat dan bergetar hebat seiring dengan puncak kepuasan yang sudah di ambang mata.Tresna segera menahan pinggul ramping Linda menggunakan kedua telapak tangannya yang lebar dan kasar. Otot-otot lengannya menegang kuat, membantu wanita itu menjaga keseimbangan ritme gerakan yang semakin liar di atas perutnya."Mas... Mas Tresna... uhnn, cepet banget... aku nggak kuat," rintih Linda dengan napas yang putus-putus."Tahan, Lin. Ikutin gerakanku," bisik Tresna rendah, matanya menggelap penuh kepuasan dominasi.Keringat deras mengalir membasahi tubuh mereka berdua di dalam kamar tidur utama tersebut. Suhu ruangan terus meningkat drastis, terasa sangat panas akibat gesekan fisik yang terjadi tanpa henti di atas kasur kapuk.Linda yang sudah berada di puncak kenikmatan mendadak mencondongkan tubuh mulusnya ke depan. Sambil terengah-engah, dia menempelkan dua buah kembarnya yang sangat padat
"Ke dalam mana, Lin? Ini piringnya belum kelar semua," sahut Tresna pura-pura bertanya, meskipun dia tahu betul arti dari tatapan mata Linda."Udah, biarin Clara sama Silvi yang beresin di belakang. Aku mau kasih sesuatu buat kamu. Hadiah pribadi dari aku," bisik Linda lagi, merapatkan tubuhnya hingga dadanya yang kenyal menyenggol lengan kekar Tresna.Tresna terkekeh rendah, merasakan kehangatan kulit Linda. "Ya sudah, ayo. Aku mau lihat hadiah apa yang mau kamu kasih."Linda menarik tangan Tresna dengan langkah tergesa-gesa, menuntun pria itu masuk ke dalam kamar tidur utama rumah joglo yang bernuansa kayu jati kuno. Begitu mereka berdua berada di dalam, Linda langsung menutup pintu kayu yang tebal itu dengan rapat.Cklek!Suara kunci pintu yang berputar dari arah dalam mengunci dunia luar. Di dalam kamar yang hanya diterangi oleh lampu tidur kuning remang-remang itu, atmosfer seketika berubah menjadi sangat panas dan pekat.Tresna bersandar di dekat lemari pakaian kayu, menyilangka







