Share

Bab 6

Author: Prince Molina
last update publish date: 2026-01-30 21:41:27

Tresna mengangguk pelan sambil menyesap sisa kopi hitamnya yang mulai mendingin karena hawa hujan. Ia menunjuk ke arah pojok ruangan, di mana terdapat sebuah tirai pembatas berwarna hijau lumut yang kainnya sudah nampak sangat tipis dimakan usia.

"Pakai saja di situ, Mbak Rini. Gordennya rapat kok, nggak bakal ada orang yang berani masuk dalam kondisi hujan badai begini," ujar Tresna dengan suara yang diusahakan tetap tenang meski jantungnya mulai berulah lagi.

Rini berjalan pelan menuju balik tirai yang tingginya hanya sebatas leher orang dewasa tersebut. Karena posisi lampu neon klinik yang tepat berada di atas ruang ganti, siluet Rini terekam dengan sangat jelas pada kain tipis itu seperti pertunjukan wayang kulit yang sangat nyata.

Tresna duduk di kursi tunggu kayu sambil meremas lututnya sendiri. Dia berusaha keras menahan imajinasi liar yang mendadak meledak di kepalanya.

Melalui bayangan di kain, Tresna bisa melihat siluet Rini yang sedang melucuti satu per satu pakaian basahnya dengan gerakan yang sangat anggun namun lambat.

Siluet itu merekam jelas saat Rini melepas bra kremnya. Lalu membungkuk dengan lekuk tubuh yang sangat menggoda untuk memakai baju ganti yang dia bawa di dalam tas.

Tresna merasa tenggorokannya benar-benar kering kerontang saat melihat lekukan bayangan dada Rini yang ternyata memang jauh lebih berisi dan padat daripada dugaannya selama ini.

Tubuh bidan yang dikenal polos dan kalem itu sekarang hanya berjarak selembar kain tipis darinya. Membuat Tresna harus mengatur napas agar tidak lepas kendali.

Ia terus menahan gejolak hebat yang menyerang bagian bawah perutnya. Sampai akhirnya Rini keluar dari balik tirai dengan baju daster batik yang nampak lebih longgar.

Rini melangkah mendekati Tresna yang masih terduduk kaku. Wajahnya nampak sangat merah merona namun terselip keberanian yang tidak biasa di matanya.

Tanpa disangka, sebelum ia benar-benar berpamitan, Rini memberikan sebuah ucapan terima kasih berupa sebuah sentuhan kecil yang sangat singkat namun telak ke arah Si Gatot.

Tresna langsung berdiri tegak dengan tubuh yang terasa sangat kaku dan tegang seperti ditarik oleh kawat baja berkekuatan tinggi. Kejadian itu berlangsung sangat cepat, membuat Tresna hanya bisa melongo saat melihat Rini justru tertawa kecil melihat ekspresi wajahnya yang sangat shock dan kebingungan.

"Terima kasih banyak ya Mas Tresna buat bantuannya tadi, payungnya saya pinjam dulu ya buat kembali ke Puskesmas sekarang," pamit Rini dengan nada yang mendadak ceria.

Rini segera melangkah keluar menembus sisa-sisa hujan, meninggalkan Tresna yang masih berdiri merenung sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang hingga waktu Isya tiba.

Karena perutnya mulai terasa lapar lagi, Tresna memutuskan untuk mampir ke warung kopi di ujung desa guna memakan seporsi mi instan panas sebelum pulang ke rumah.

Suasana di warung kopi itu nampak cukup ramai oleh bapak-bapak yang sedang berteduh dan bermain kartu untuk menghabiskan waktu malam. Di sana ternyata sudah ada Pak Karyo, bapak-bapak sombong yang memang sejak lama menaruh rasa iri dan benci yang sangat mendalam pada ketampanan serta kharisma yang dimiliki oleh Tresna.

Melihat kedatangan Tresna yang nampak tenang, Pak Karyo langsung menyeringai licik dan sengaja mengeraskan suaranya agar didengar oleh seluruh warga yang ada di sana.

"Woy, Pak Mantri Cabul! Dengar-dengar tadi siang anak Pak Kades lari ketakutan dari klinik lo? Lo apain anak orang sampai dia nangis-nangis begitu di jalan?"

"Dasar dukun berkedok medis, bisanya cuma raba-raba pasien wanita saja kalau sedang periksa!" hardik Pak Karyo dengan nada yang sangat menghina dan penuh kebencian.

Warga yang ada di dalam warung tersebut sontak ikut tertawa terbahak-bahak. Seolah-olah mereka sangat menikmati pelecehan yang ditujukan kepada mantri muda yang malang itu.

Tresna hanya bisa terdiam membisu sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja kayu yang kotor. Dia sadar betul posisinya yang miskin akan selalu kalah jika harus melawan orang kaya seperti Pak Karyo.

Hinaannya terus mengalir tanpa henti, membuat suhu di dalam warung kopi itu terasa makin panas meskipun di luar sana hujan masih menyisakan rintik-rintik dingin yang menetes.

"Halah, paling-paling si Arum yang buta itu juga cuma jadi tameng doang di rumah," celetuk Pak Karyo sambil menyulut rokok klobotnya, matanya menyipit penuh kebencian ke arah Tresna.

"Kasihan bener punya tante buta, mending kalau dirawat beneran, ini malah dipake buat nutupin kelakuan bejat keponakannya yang doyan masuk-masukin cewek ke klinik. Apa jangan-jangan si Arum itu juga sering kamu pegang-pegang kalau malam pas dia nggak bisa liat apa-apa, hah? Kan lumayan, daripada jomblo karatan, mending sikat yang ada di rumah!"

Tawa riuh bapak-bapak di warung kopi itu makin pecah, terdengar sangat menjijikkan di telinga Tresna.

"Bener itu Pak Karyo, pantesan betah banget tinggal berdua saja, padahal si Arum itu kan masih kencang kalau cuma dilihat dari belakang," timpal salah satu warga sambil terkekeh-kekeh.

Pak Karyo makin menjadi-jadi, dia menggebrak meja kayu di depannya hingga kopi di gelasnya tumpah sedikit. "Mana ada mantri jujur tapi milih tinggal sama janda buta kalau nggak ada maunya? Kamu itu cuma benalu desa, Tresna! Udah miskin, nggak punya ijazah, kerjanya cuma manfaatin kekurangan tante sendiri buat nyari kesenangan. Dasar perjaka gendeng, nggak laku sama perawan, akhirnya tante sendiri yang jadi korban!"

Tresna hanya bisa diam mematung, rahangnya mengeras sampai urat-urat di lehernya nampak menonjol karena menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun. Namun, sebelum kepalan tangan Tresna melayang ke wajah sombong Pak Karyo, sebuah suara lantang membelah suasana warung yang gaduh itu.

Namun, di tengah suasana yang sangat menjatuhkan mental itu, tiba-tiba muncul Silvi dari kegelapan malam dengan penampilan yang sangat mencolok mata. Janda kembang itu datang mengenakan daster santai tanpa lengan yang dengan berani memamerkan bagian ketiaknya yang sangat putih bersih serta lengan mulusnya yang nampak sangat kencang.

Tanpa mempedulikan tatapan lapar bapak-bapak di sana, Silvi langsung duduk di samping Tresna dan memepetkan tubuhnya dengan sangat erat hingga payudaranya yang empuk menempel di lengan Tresna.

"Eh Pak Karyo, mulut situ dijaga ya kalau bicara, jangan asal nuduh orang sembarangan kalau nggak punya bukti yang jelas dan nyata!"

"Mas Tresna itu tangannya ajaib sekali. Tadi pagi saya masuk angin parah sampai nggak bisa bangun, tapi sekali disentuh sama Mas Tresna langsung sembuh seketika itu juga."

Silvi menatap Pak Karyo dengan pandangan yang sangat merendahkan, membuat bapak-bapak genit itu mendadak terdiam seribu bahasa karena kaget melihat pembelaan yang begitu berani.

"Situ aja yang iri karena burung situ kecil, nggak kayak Mas Tresna yang perkasa, makanya jangan suka menghina orang yang kemampuannya jauh di atas situ!" bela Silvi dengan suara yang sangat lantang dan manja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Gumandasa Gumandasa
Untuk mendapatkan "Bonusku", durasi iklannya terlalu panjang Choy... gile beneerrr
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   EXTRA CHAPTER 8

    Tante Arum tak menjawab. Langkah kakinya yang tenang terus mendekati tempat Clara dan Wira berada. Mengikuti arah napas dan isakan kecil balita itu, Tante Arum meraba pelan rumput pekarangan lalu berlutut tepat di depan Wira."Sini, Nak," bisik Tante Arum lembut.Dari saku kebayanya, Tante Arum mengeluarkan batu hitam kecil yang tadi sempat dia gunakan. Batu itu kini tak lagi panas, melainkan memancarkan hawa sejuk yang aneh. Jemari Tante Arum meraba perlahan, menemukan dahi Wira yang basah oleh keringat dingin, lalu menempelkan batu hitam itu tepat di tengahnya."Tante... Itu buat apa?" tanya Clara panik, menahan napas seraya memegang bahu anaknya."Tahan sebentar, Clara. Demamnya bukan hanya karena demam biasa," sahut Tante Arum tenang. "Hawa panas sudah menyumbat dadanya."Wira yang tadinya terengah-engah mendadak tenang. Napas bocah empat tahun itu pelan-pelan makin teratur. Rasa hangat dan sesak di dadanya mendadak hilang begitu dahi kecilnya tersentuh batu sejuk itu."Ibu..." bi

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   EXTRA CHAPTER 7

    "Tolong! Maling! Cegat mereka!" jerit Silvi dari samping amben, meringis menahan sakit di kakinya yang terkilir saat mencoba berdiri.Namun tiga penyusup itu tak memedulikan teriakan Silvi. Mereka melompati pagar besi pekarangan dan menghilang di balik pekatnya malam desa.Fwooosh!Lidah api yang tadi menyambar jerami kering kini kian tak terkendali. Kobaran api menyambar dinding kayu bagian samping rumah joglo dengan cepat dan memancarkan asap hitam tebal ke udara. Suara kayu jati tua yang mulai terbakar berderak nyaring, membawa hawa panas yang menyengat hingga ke teras."Gusti! Apinya membesar! Linda, apinya nyamber!" teriak Silvi panik, matanya membelalak menatap kobaran merah di samping rumah."Ambil air!" seru Linda dari pintu depan. Sambil menahan bahunya yang terkilir, Linda berlari pincang menuju gentong tanah liat di sudut teras. Dia mengambil air menggunakan ember plastik tua.Tanpa memedulikan rasa nyeri di kakinya, Silvi ikut menyeret tubuhnya ke dekat gentong. Tangannya

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   EXTRA CHAPTER 6

    "Lepasin! Jangan sentuh anakku!" teriak Clara dari lantai dengan suara parau.Sambil merangkak cepat di atas lantai berdebu, Clara langsung memeluk erat kaki kanan penyusup itu. Dia menahan kaki si penyusup sekuat tenaga agar tidak bisa melangkah mendekati kasur."Lepas, Bangsat!" bentak si penyusup gusar.Pria itu mengibaskan kakinya kasar, tapi Clara makin meremas pergelangan kakinya. Langkah pria itu tertahan, jarinya batal menyambar baju Wira."Lepas nggak?!" teriak pria itu seraya menghentakkan kakinya."Nggak bakal!" seru Clara histeris, terus mengunci kaki pria itu.Wira yang melihat ibunya diseret di lantai mendadak berhenti menangis. Matanya yang sembap menatap Clara yang sedang ditahan pria itu. Meski badannya masih lemas dan sempoyongan bekas demam, anak balita itu memaksakan diri bangun."Lepasin Ibu! Jangan nakal!" teriak Wira dengan suara serak.Dengan kaki gemetaran, Wira berdiri di atas kasur sambil memegangi pinggiran dipan. Tangan mungilnya mengepal, lalu memukul-muk

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   EXTRA CHAPTER 5

    Suasana pekarangan rumah joglo terasa makin mencekam saat hari berganti gelap. Suara hentakan sepatu lars yang berat di atas pecahkan ubin teras terdengar jelas, mendekat dengan cepat ke arah mereka."Linda! Mereka makin dekat! Gimana ini?!" bisik Silvi panik dengan napas terengah-engah."Kalian di dalam aja! Amankan berkasnya!" potong Linda cepat, langsung melangkah keluar kamar menuju teras."Tapi mereka bertiga!" seru Silvi menyusul dari belakang."Aku tahu. Tapi kita nggak boleh biarin mereka masuk!" jawab Linda tegas, matanya tertuju pada tiga pria berbadan tegap di pekarangan.Silvi tak mau tinggal diam. Ia berlari ke teras depan sambil menengok kanan-kiri, mencari apa saja yang bisa dipakai melipat lawan. Tangannya refleks menyambar tampah bambu bekas jemuran kerupuk di samping amben."Pergi kalian! Nggak usah macam-macam di sini!" teriak Silvi sambil mengangkat tampah tinggi-tinggi."Silvi, awas!" seru Linda dari tangga teras.Tanpa pikir panjang, Silvi melempar tampah itu sek

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   EXTRA CHAPTER 4

    Keheningan seketika menyelimuti kamar tengah rumah joglo saat deru tangis Wira perlahan mereda. Tangan mungilnya yang memar terkulai lemas di atas kasur, matanya yang bening menatap lurus ke arah celah di balik lemari kayu jati yang telah bergeser."Clara, coba kamu lihat ke balik lemari itu," seru Linda menahan napasnya. Kedua tangannya masih menempel ketat di daun pintu kamar demi menahan sisa getaran dari arah teras. "Sesuatu yang diomongin Wira pasti ada di sana!"Clara tidak membuang waktu. Dengan langkah bergetar, dokter itu melangkah mendekati sudut kamar. Debu semen putih berterbangan menutupi lantai kayu di sekitar celah tersebut."Hati-hati! Siapa tahu ada pecahan bata atau hewan berbisa di dalamnya!" peringat Silvi setengah berbisik, matanya ikut melirik waspada ke sudut ruangan."Iya, Sil," jawab Clara pelan.Clara berlutut di atas lantai kayu yang kotor oleh serpihan semen. Dia menyipitkan mata, mengamati rongga rahasia berukuran satu jengkal yang tersembunyi di balik sus

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   EXTRA CHAPTER 3

    Suara gemuruh nyaring mendadak muncul dari dalam bumi, persis di bawah pijakan kaki mereka. Meja teras bergetar hebat hingga cangkir teh yang tersisa bergoyang keras dan jatuh berdenting ke ubin."Awas!" teriak Linda refleks merangkul bahu Silvi dan Tante Arum.Ubin teras berwarna abu-abu yang berada tepat di bawah amben bambu mendadak terbelah. Retakan panjang merambat cepat sepanjang satu meter, memperlihatkan celah hitam di balik ubin yang pecah.Dari balik retakan tanah tersebut, kepulan asap tipis berwarna keabu-abuan keluar perlahan. Aroma sengatan belerang yang sangat tajam dan hawa panas mendadak menyeruak memenuhi teras rumah joglo, membuat mereka semua terbatuk-batuk."Asap apa ini?!" jerit Silvi sambil menutupi hidung dan mulutnya pakai keliman baju. "Baunya aneh banget! Panas!""Asap belerang..." bisik Linda dengan mata terbelalak menatap ubin yang terbelah.Clara memeluk erat tubuh Wira yang makin kejang di dalam dekapannya. "Linda! Silvi! Asapnya makin tebal!""Jangan di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status