Share

Bab 7

Author: Prince Molina
last update publish date: 2026-01-31 19:12:06

Wajah Pak Karyo langsung berubah merah padam seperti kepiting rebus yang baru saja diangkat dari air mendidih. Ia merasa harga dirinya sebagai lelaki terhormat di desa Sukamaju hancur berkeping-keping karena dipermalukan soal ukuran pusakanya di depan warga.

Bapak-bapak yang tadi tertawa mengejek Tresna, kini justru saling lirik dan menahan tawa melihat Pak Karyo yang mati kutu dihajar kata-kata pedas dari Silvi.

Silvi sama sekali tidak peduli dengan suasana canggung yang dia ciptakan di dalam warung kopi yang remang-remang itu. Ia malah makin sengaja memepetkan tubuhnya ke lengan Tresna, memberikan tekanan yang sangat terasa kenyal dan empuk bagi sang mantri desa. Tangannya yang lentik menjangkau piring mie instan milik Tresna, mengambil satu buah kerupuk putih dengan santai lalu mengunyahnya pelan.

"Mas, nanti malam ke rumah ya, jangan sampai lupa lho pokoknya," bisik Silvi tepat di lubang telinga Tresna dengan suara yang sangat manja.

Keharuman sabun mandi Silvi yang bercampur aroma minyak angin langsung menyergap indra penciuman Tresna, membuat kepalanya mendadak terasa sedikit pening. Sensasi kenyal di lengannya benar-benar membuat amarah Tresna kepada Pak Karyo surut seketika, berganti dengan gairah yang mulai berdenyut di bawah perut.

"Kerokan yang tadi pagi itu sebenarnya belum tuntas banget, bagian bawah pinggang aku masih kerasa pegal-pegal nih."

Pak Karyo yang sudah tidak kuat lagi menahan rasa malu segera berdiri dari kursinya sambil menggebrak meja dengan sangat keras hingga sendok di gelasnya berdenting. Ia meludah ke lantai tanah warung kopi itu sebagai tanda kebencian yang sudah mendarah daging kepada sosok Tresna yang dianggapnya sebagai pembawa sial.

"Awas lo ya, Tresna! Gue bersumpah bakal bikin lo diusir dari desa ini secepatnya, liat saja nanti apa yang bakal Bapak Kades lakuin ke lo!"

Pak Karyo pergi dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan. Meninggalkan aroma rokok klobot yang menyengat dan suasana warung yang mendadak jadi sangat sepi.

Tresna hanya bisa menghela napas panjang. Ia sadar betul bahwa sekarang ia punya musuh besar yang berbahaya, tapi ia juga punya pelindung yang terasa sangat nikmat.

Setelah menghabiskan mie instannya, Tresna memutuskan untuk segera pulang karena badannya juga sudah terasa sangat lelah akibat rentetan kejadian sejak siang tadi. Ia berjalan menyusuri jalanan desa yang becek dengan pikiran yang masih kacau, membayangkan ancaman Pak Karyo yang biasanya tidak pernah main-main kalau soal urusan menggusur orang.

Lampu-lampu jalan desa yang remang-remang menemani langkah kakinya sampai ia tiba di depan sebuah rumah kayu sederhana yang nampak sangat tenang di bawah naungan pohon mangga.

Rumah itu sudah nampak sepi, lampu bagian tengah sudah dimatikan. Menandakan bahwa penghuninya kemungkinan besar sudah beristirahat di dalam kamar masing-masing.

Tresna masuk melalui pintu samping yang langsung menuju ke arah dapur. Ia merasa tenggorokannya sangat kering dan butuh siraman air dingin dari dalam kendi.

Saat ia baru saja meneguk air dingin itu, matanya menangkap sosok wanita yang sedang duduk dengan tenang di meja makan kayu yang berada di sudut dapur.

Wanita itu adalah Arum, tante kandung yang telah merawatnya sejak kecil dan kini harus menjalani hidup dalam kegelapan karena kebutaan yang dideritanya.

Malam ini penampilan Arum nampak sangat berbeda dari biasanya. Ia hanya mengenakan lingerie tidur satin warna merah marun yang kainnya nampak sangat licin.

Baju tidur itu nampak agak melorot di bagian bahu kanannya, memperlihatkan kulit bahu yang putih susu dan sangat halus meskipun usianya sudah menginjak kepala tiga. Rupanya Arum sedang menunggunya pulang, ia nampak sangat peka dengan suara langkah kaki keponakannya meskipun ia tidak bisa melihat sosok Tresna secara langsung.

"Kenapa baru pulang, Tres? Ada masalah lagi ya sama Pak Karyo atau orang-orang warung itu?" tanya Arum dengan suara yang sangat lembut sekaligus penuh kekhawatiran.

"Nggak apa-apa kok Tante, cuma tadi mampir makan mi sebentar karena lapar banget, Tante kok belum tidur jam segini?"

"Tante nggak bisa tidur kalau belum dengar suara pintu terbuka. Rasanya hati Tante nggak tenang kalau keponakan Tante yang ganteng ini belum ada di rumah."

Arum berdiri dari kursinya dan mulai melangkah perlahan mendekati posisi Tresna berdiri. Tangannya meraba-raba udara untuk mencari keberadaan tubuh Tresna di depannya.

Tresna bisa mencium wangi lotion melati yang sangat khas. Aroma yang selalu dipakai tantenya setiap kali hendak naik ke atas ranjang untuk tidur.

Saat Arum sudah sangat dekat, ia mencondongkan tubuhnya ke depan untuk mencoba menyentuh wajah Tresna guna memastikan kondisi keponakannya itu baik-baik saja.

Posisi itu membuat belahan dada Arum yang nampak sangat matang dan penuh terpampang tepat di depan mata Tresna yang posisinya sedikit lebih rendah.

Kulitnya yang putih susu nampak sangat kontras dengan warna merah marun dari baju tidur satin yang ia kenakan, menciptakan pemandangan yang sangat menggoda iman.

Tresna menahan napasnya kuat-kuat, ia merasa jantungnya kembali berdegup kencang. Si Gatot di balik celananya kembali bangun tanpa meminta izin terlebih dahulu.

Tresna merasa sangat salah tingkah dan mencoba sedikit mundur. Namun karena ia gugup, gerakan kakinya justru tidak sinkron dengan gerakan tangannya sendiri.

Akibatnya, tangan kiri Arum yang sedang meraba-raba mencari bahu Tresna justru tidak sengaja mendarat tepat di area sensitif di balik celana kain milik Tresna.

Arum sempat terdiam sejenak, jari-jarinya yang halus merasakan ada sesuatu yang sangat keras, panas, dan berdenyut di balik kain celana tipis yang dipakai Tresna. Bukannya menjauhkan tangannya karena merasa malu atau terkejut, Arum justru tetap membiarkan telapak tangannya menempel di sana dengan sangat erat.

Ia mulai mengelus-elus bagian yang menegang itu dengan gerakan yang sangat lembut, seolah-olah ia sedang mencoba mengenali ukuran pusaka milik keponakannya sendiri. Sebuah senyuman penuh arti muncul di bibir Arum yang merah alami, ia nampak sangat puas dengan apa yang baru saja ia temukan di bawah sana.

"Lho, ini kok punyamu keras banget begini, Tres? Apa kamu habis lihat sesuatu yang nggak bener di warung tadi sampai jadi seperti ini?"

"Aduh... Tante... ini... ini refleks saja Tante, maafin saya, saya beneran nggak bermaksud buat lancang sama Tante sendiri."

"Kamu nggak perlu minta maaf, Tante tahu persis kalau milik keponakan Tante ini terlalu sempurna untuk disebut sebagai milik manusia normal pada umumnya."

Arum makin mendekatkan tubuhnya hingga dada empuknya bersentuhan langsung dengan dada Tresna, membuat napas sang mantri desa makin tersengal-sengal tidak keruan. Ia terus mengelus Si Gatot dengan ritme yang makin berani, membuat Tresna merasa seluruh saraf di tubuhnya seperti sedang meleleh karena kenikmatan yang luar biasa.

"Kamu itu laki-laki normal, Tres. Wajar kalau stres butuh pelampiasan, apalagi kamu tiap hari selalu dihina dan dipojokkan sama orang-orang desa yang jahat itu."

"Tapi Tante... kita ini kan... maksud saya... Tante itu sudah seperti ibu saya sendiri."

"Tante tahu itu, tapi Tante juga punya mata hati yang bisa merasakan betapa tersiksanya kamu menahan hasratmu itu sendirian selama bertahun-tahun ini."

"Daripada kamu cari wanita nggak bener di luar, Tante lebih rela kalau kamu..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   EXTRA CHAPTER 7

    "Tolong! Maling! Cegat mereka!" jerit Silvi dari samping amben, meringis menahan sakit di kakinya yang terkilir saat mencoba berdiri.Namun tiga penyusup itu tak memedulikan teriakan Silvi. Mereka melompati pagar besi pekarangan dan menghilang di balik pekatnya malam desa.Fwooosh!Lidah api yang tadi menyambar jerami kering kini kian tak terkendali. Kobaran api menyambar dinding kayu bagian samping rumah joglo dengan cepat dan memancarkan asap hitam tebal ke udara. Suara kayu jati tua yang mulai terbakar berderak nyaring, membawa hawa panas yang menyengat hingga ke teras."Gusti! Apinya membesar! Linda, apinya nyamber!" teriak Silvi panik, matanya membelalak menatap kobaran merah di samping rumah."Ambil air!" seru Linda dari pintu depan. Sambil menahan bahunya yang terkilir, Linda berlari pincang menuju gentong tanah liat di sudut teras. Dia mengambil air menggunakan ember plastik tua.Tanpa memedulikan rasa nyeri di kakinya, Silvi ikut menyeret tubuhnya ke dekat gentong. Tangannya

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   EXTRA CHAPTER 6

    "Lepasin! Jangan sentuh anakku!" teriak Clara dari lantai dengan suara parau.Sambil merangkak cepat di atas lantai berdebu, Clara langsung memeluk erat kaki kanan penyusup itu. Dia menahan kaki si penyusup sekuat tenaga agar tidak bisa melangkah mendekati kasur."Lepas, Bangsat!" bentak si penyusup gusar.Pria itu mengibaskan kakinya kasar, tapi Clara makin meremas pergelangan kakinya. Langkah pria itu tertahan, jarinya batal menyambar baju Wira."Lepas nggak?!" teriak pria itu seraya menghentakkan kakinya."Nggak bakal!" seru Clara histeris, terus mengunci kaki pria itu.Wira yang melihat ibunya diseret di lantai mendadak berhenti menangis. Matanya yang sembap menatap Clara yang sedang ditahan pria itu. Meski badannya masih lemas dan sempoyongan bekas demam, anak balita itu memaksakan diri bangun."Lepasin Ibu! Jangan nakal!" teriak Wira dengan suara serak.Dengan kaki gemetaran, Wira berdiri di atas kasur sambil memegangi pinggiran dipan. Tangan mungilnya mengepal, lalu memukul-muk

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   EXTRA CHAPTER 5

    Suasana pekarangan rumah joglo terasa makin mencekam saat hari berganti gelap. Suara hentakan sepatu lars yang berat di atas pecahkan ubin teras terdengar jelas, mendekat dengan cepat ke arah mereka."Linda! Mereka makin dekat! Gimana ini?!" bisik Silvi panik dengan napas terengah-engah."Kalian di dalam aja! Amankan berkasnya!" potong Linda cepat, langsung melangkah keluar kamar menuju teras."Tapi mereka bertiga!" seru Silvi menyusul dari belakang."Aku tahu. Tapi kita nggak boleh biarin mereka masuk!" jawab Linda tegas, matanya tertuju pada tiga pria berbadan tegap di pekarangan.Silvi tak mau tinggal diam. Ia berlari ke teras depan sambil menengok kanan-kiri, mencari apa saja yang bisa dipakai melipat lawan. Tangannya refleks menyambar tampah bambu bekas jemuran kerupuk di samping amben."Pergi kalian! Nggak usah macam-macam di sini!" teriak Silvi sambil mengangkat tampah tinggi-tinggi."Silvi, awas!" seru Linda dari tangga teras.Tanpa pikir panjang, Silvi melempar tampah itu sek

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   EXTRA CHAPTER 4

    Keheningan seketika menyelimuti kamar tengah rumah joglo saat deru tangis Wira perlahan mereda. Tangan mungilnya yang memar terkulai lemas di atas kasur, matanya yang bening menatap lurus ke arah celah di balik lemari kayu jati yang telah bergeser."Clara, coba kamu lihat ke balik lemari itu," seru Linda menahan napasnya. Kedua tangannya masih menempel ketat di daun pintu kamar demi menahan sisa getaran dari arah teras. "Sesuatu yang diomongin Wira pasti ada di sana!"Clara tidak membuang waktu. Dengan langkah bergetar, dokter itu melangkah mendekati sudut kamar. Debu semen putih berterbangan menutupi lantai kayu di sekitar celah tersebut."Hati-hati! Siapa tahu ada pecahan bata atau hewan berbisa di dalamnya!" peringat Silvi setengah berbisik, matanya ikut melirik waspada ke sudut ruangan."Iya, Sil," jawab Clara pelan.Clara berlutut di atas lantai kayu yang kotor oleh serpihan semen. Dia menyipitkan mata, mengamati rongga rahasia berukuran satu jengkal yang tersembunyi di balik sus

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   EXTRA CHAPTER 3

    Suara gemuruh nyaring mendadak muncul dari dalam bumi, persis di bawah pijakan kaki mereka. Meja teras bergetar hebat hingga cangkir teh yang tersisa bergoyang keras dan jatuh berdenting ke ubin."Awas!" teriak Linda refleks merangkul bahu Silvi dan Tante Arum.Ubin teras berwarna abu-abu yang berada tepat di bawah amben bambu mendadak terbelah. Retakan panjang merambat cepat sepanjang satu meter, memperlihatkan celah hitam di balik ubin yang pecah.Dari balik retakan tanah tersebut, kepulan asap tipis berwarna keabu-abuan keluar perlahan. Aroma sengatan belerang yang sangat tajam dan hawa panas mendadak menyeruak memenuhi teras rumah joglo, membuat mereka semua terbatuk-batuk."Asap apa ini?!" jerit Silvi sambil menutupi hidung dan mulutnya pakai keliman baju. "Baunya aneh banget! Panas!""Asap belerang..." bisik Linda dengan mata terbelalak menatap ubin yang terbelah.Clara memeluk erat tubuh Wira yang makin kejang di dalam dekapannya. "Linda! Silvi! Asapnya makin tebal!""Jangan di

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   EXTRA CHAPTER 2

    Hawa asing yang berembus dari kain hitam tua itu terasa makin menusuk kulit. Udara sore mendadak berhenti bertiup, meninggalkan keheningan tegang yang mencekam pekarangan rumah joglo."Bawa ke teras, Lin! Cepat!" seru Clara panik sambil menopang tubuh Wira yang mendadak terkulai lemas di pelukannya.Linda tidak menjawab. Dengan langkah cepat dan raut wajah membatu, dia membawa gulungan kain hitam berbau minyak tanah itu menuju teras rumah.Silvi mengekor tergesa-gesa dari belakang, matanya tak lepas menatap ikatan benang serat pohon yang membelit kain kusam tersebut."Biar aku bantu gendong Wira," panggil Silvi terengah-engah, berlutut untuk menopang kaki mungil Wira."Nggak usah, Sil! Aku masih sanggup. Tolong bersihkan meja teras dulu!" potong Clara cepat.Clara menggendong anaknya naik ke anak tangga teras. Suhu tubuh Wira meningkat sangat cepat, rasa panas menyengat kini menembus pakaian tipis yang dikenakan dokter itu."Sakit, Ibu... Panas..." bisik Wira serak. Bibir mungilnya ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status