Mag-log inSinar matahari sore yang tadinya menyepuh perbukitan kini telah sepenuhnya tergantikan oleh pekatnya malam. Suasana di dalam ruko kecil Madun terasa begitu senyap, diisolasi dari keriuhan luar desa yang mulai terlelap. Setelah seharian penuh dihabiskan untuk drama melelahkan—mulai dari terapi mental Jono, urusan kambing hingga urusan utang warung—waktu pribadi yang dinanti-nanti akhirnya tiba.Sudah beberapa hari ini, perhatian dan tenaga sang jagoan desa tersita habis untuk menjinakkan kelakuan absurd sang pemuda konyol. Akibatnya, ritme keintiman antara Madun dan Nabila sedikit terganggu. Kebutuhan batin yang tertunda itu kini menjelma menjadi gairah terpendam yang siap meledak kapan saja.Nabila duduk di tepi ranjang sederhana, mengenakan kaus longgar hitam milik Madun. Rambut hitam ikalnya tergerai bebas menutupi sebelah bahunya. Tatapan matanya sayu, menyimpan kerinduan mendalam sekaligus protes manja yang sudah sejak siang tertahan di dalam dadanya.Madun melangkah masuk dar
Sinar matahari sore menyepuh atap-atap ruko dengan warna keemasan yang tenang. Namun, suasana di dalam ruko kecil Madun sama sekali tidak setenang pemandangan di luar. Di atas kursi kayu, Madun duduk bersidekap dengan rahang tegas yang mengeras dan alis tebal bertaut tajam. Pandangan matanya lurus menatap ke depan, memandangi sosok pemuda kurus berjaket hoodie hitam yang sedang berdiri kaku bagaikan tiang listrik di tengah ruangan.Ya, itu adalah Jono.Dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam, Jono sukses mencetak rekor MURI sebagai makhluk paling tidak berfaedah di desa. Mulai dari maling ayam amatiran yang berujung tarian lumpur bebek, merayu ayam petelur tetangga hingga nyaris dinikahkan secara adat, sampai yang terbaru siang tadi: Jono tertangkap basah sedang mencoba menaiki sepeda ontel milik Pak RT sambil mengenakan helm konstruksi proyek bangunan dan berteriak-teriak bahwa dirinya adalah astronot NASA yang sedang meluncur ke galaksi bima sakti.Kesabaran Madun—seor
Matahari siang bergeser ke puncak langit, memancarkan terik panas yang menyengat atap-atap ruko di sudut desa. Aroma lezat sisa nasi padang bersponsor dari Jono pagi tadi masih meninggalkan jejak kenyamanan di dalam ruangan kecil Madun. Namun, kedamaian itu terbukti sangat rapuh. Hanya selang beberapa jam setelah drama baskom hijau, semesta sepertinya belum puas menguji kewarasan sang jagoan desa dan kekasih setianya.Suara ketukan pintu kayu berbunyi kencang, disusul oleh suara ribut-ribut dari luar pelataran ruko.Tok, tok, tok!"Madun! Woy, Madun! Keluar kamu! Tanggung jawab!" teriak suara seorang lelaki paruh baya dengan nada menggelegar penuh emosi dari luar.Nabila, yang sedang duduk santai di tepi ranjang sambil merapikan sisa bungkus nasi padang, langsung menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke arah Madun dengan alis bertaut bingung.Madun yang sedang meregangkan otot-otot tubuhnya mendengus kesal. Ia mengenakan kembali kaus oblong hitamnya dengan gerakan cepat. "Siapa la
Fajar menyingsing dengan warna jingga lembut yang perlahan menyapu sisa-sisa kegelapan di atas atap-atap rumah penduduk desa. Udara pagi perbukitan terasa sangat sejuk, membawa aroma embun pagi dan dedaunan basah. Namun, kesejukan pagi itu tidak berlaku di dalam ruko kecil milik Madun. Di sana, atmosfer justru sedang berada di ambang ledakan nuklir akibat kombinasi maut antara rasa kasihan yang salah tempat, perut kosong yang keroncongan, dan sebuah baskom plastik berwarna hijau terang.Di atas ranjang kayu, Nabila mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan. Gadis cantik mantan siswi teladan itu menggeliat manja, meraba sisi sebelah ranjang yang ternyata sudah kosong melompong. Aroma harum kopi hitam yang biasa diseduh Madun tidak tercium sama sekali. Yang terdengar justru suara gemerincing piring di dapur kecil dan suara bisik-bisik mencurigakan.Nabila bangkit dengan rambut ikal sebahu yang sedikit berantakan, mengenakan kaus longgar kesayangannya. Dengan langkah gontai penuh rasa kan
Malam semakin larut, menyisakan keheningan pekat yang menyelimuti perkampungan. Di dalam ruko kecil Madun, sisa-sisa tawa akibat insiden kompor gas yang rewel beberapa jam lalu telah mereda. Nabila tertidur pulas dalam pelukan hangat Madun di atas ranjang sederhana, menikmati ketenangan setelah hari-hari penuh ketegangan dan badai gairah.Namun, ketenangan itu tidak berlangsung sampai pagi. Pukul dua dini hari, sebuah suara berisik dari arah luar ruko membangunkan Madun secara mendadak.Kriet... bruk!Suara genteng bergeser disusul suara benda jatuh di pekarangan samping membuat mata tajam Madun langsung terbuka lebar. Insting lelakinya sebagai jagoan desa langsung siaga. Dengan gerakan senyap agar tidak membangunkan Nabila, Madun bangkit dari ranjang, mengenakan celana pendek loreng kesayangannya, dan menyambar sebatang balok kayu pendek yang tergeletak di sudut ruangan."Siapa di luar... Berani banget cari mati di kandang Madun," gumamnya geram dengan suara berat bernada rendah
Matahari malam telah merayap naik, menggantikan bias jingga sore dengan kepekatan langit yang bertabur bintang. Di dalam ruko kecil Madun, suasana yang tadinya dipenuhi oleh gelora panas dan adegan intens antara dua insan yang dimabuk candu perlahan-lahan mencair, bergeser menjadi momen-momen ringan yang tak terduga.Nabila berbaring telentang di atas ranjang dengan selimut tebal membalut tubuh mungilnya. Napasnya sudah kembali teratur setelah rentetan aksi liar di atas singgasana yang menguras tenaga beberapa jam lalu. Wajah cantiknya tampak merona puas, matanya setengah terpejam menikmati sisa-sisa rasa lelah yang menyenangkan.Di sisi lain ranjang, Madun—sang jagoan desa yang terkenal garang, ditakuti para pemuda, disegani para tetua, dan dipuja oleh para kembang desa—tengah menghadapi sebuah masalah besar yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertarungan fisik maupun dominasi asmara.Masalah besar itu bernama: Mien Instan dan Kompor Gas yang Ngadat.Karena seharian pe
"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o
Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep







