Beranda / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 119: Pelarian Ke lereng Semeru

Share

Bab 119: Pelarian Ke lereng Semeru

Penulis: Ibrahiman
last update Tanggal publikasi: 2026-06-03 10:23:37

Madun menghela napas panjang melihat ruko kelontong pasar desa yang menjauh di belakangnya, memutuskan kabur ke tengah hutan belantara seorang diri demi sembuhkan halusinasi kejaran janda yang semakin menjadi-jadi. Madun, wajah tampan rahang tegas hidung mancung, gendong ransel kain usang dengan langkah lunglai, berharap pohon tua bisa sembunyikan tubuh sawo matang tinggi kekar berot penuh urat dari jeratan takdir pengantin siber. "Aduh Gusti, mending saya hidup sunyi makan umbi ganyong bareng
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 418: Perjalanan Menuju Vila Puncak Menteng Elit

    ​Pukul 16.00 sore, Sabtu, 7 November 2026. Suasana di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, mulai berangsur sejuk tatkala tirai sore perlahan turun menggantikan teriknya sengatan matahari. Di dalam istana kuliner RM Jagoan Rasa, aktivitas operasional hari itu sengaja ditutup lebih awal dari jadwal biasanya. Kepulan asap dari panggangan arang telah padam, kursi-kursi kayu jati telah tersusun rapi di bawah meja, dan para pegawai dipulangkan lebih cepat untuk memberikan waktu istirahat penuh. Hari Sabtu sore ini menyimpan sebuah agenda rahasia yang jauh lebih besar dan menegangkan—sebuah ekspedisi balas dendam berbalut romansa menuju pegunungan Puncak, Bogor.​Di dalam kamar utama ruang belakang kedai, Vanesha berdiri di depan cermin besar berbingkai ukiran kayu jati klasik. Ia tengah memeriksa kembali penampilan paripurnanya. Mengenakan balutan gaun malam elegan berwarna hitam pekat berbahan sutra lembut yang memeluk siluet tubuh rampingnya dengan sempurna, Vanesha tampak memancarkan aura dom

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 417: Rencana Balas Dendam Vanesha

    ​Pukul 10.00 pagi, Selasa, 3 November 2026. Setelah deru mesin mobil sport putih mutiara milik Cleo dan Michelle melesat menjauh meninggalkan area pelataran parkir, suasana di dalam istana kuliner RM Jagoan Rasa kembali berangsur tenang. Aroma harum sate jando yang dibakar di atas bara arang merah menyala kembali mendominasi udara pagi kawasan Menteng, bercampur dengan obrolan ringan para pelanggan yang menikmati hidangan sarapan kesukaan mereka.​Di dekat meja kasir utama, Vanesha masih berdiri tegap dengan balutan apron putih bersihnya. Namun, pandangan mata elangnya tidak lagi tertuju pada buku catatan keuangan harian, melainkan terpaku lekat-lekat pada selembar amplop tebal bertekstur beludru hitam berhias stempel emas yang tergeletak di atas meja kayu. Amplop eksklusif berisi undangan Private Barbecue Party di vila pribadi kawasan Puncak itu kini menjadi pusat perhatian mutlak bagi sang permaisuri Menteng.​Ekspresi wajah Vanesha yang tadinya diselimuti rasa curiga dan ketegangan

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 416: Tawaran VIP Misterius dari Dua Gadis

    ​Pukul 09.30 pagi, Selasa, 3 November 2026. Matahari pagi menyinari kawasan Menteng, Jakarta Pusat, dengan pancaran sinarnya yang cerah, menembus sela-sela rimbunnya pepohonan ketapang di sepanjang tepi jalan. Di dalam istana kuliner RM Jagoan Rasa, kesibukan pagi hari sudah terasa sejak gerai dibuka satu jam yang lalu. Aroma harum daging kambing muda yang direbus bersama rempah-rempah pilihan menguar pekat, bercampur dengan kepulan asap tipis dari tungku arang di sudut dapur terbuka.​Para pelanggan setia—mulai dari pegawai kantoran kelas atas, pengusaha lokal, hingga warga sekitar yang gemar sarapan berat—telah memenuhi separuh dari meja-meja kayu jati yang tertata rapi. Di balik meja kasir utama, Vanesha berdiri tegak dengan balutan apron putih bersih, tangannya cekatan menghitung lembaran uang kembalian sambil sesekali melempar senyuman ramah kepada para tamu. Sementara itu, Madun—sang jagoan Menteng yang agung—tampak sibuk berdiri di depan panggangan sate, mengenakan kaos hitam p

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 415: Rayuan Pagi Meredakan Amuk Permaisuri

    ​Pukul 06.30 pagi, Senin, 2 November 2026. Sinar matahari pagi menyinari jalanan ibu kota dengan kehangatan lembut, menembus celah-celah pepohonan rindang di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Udara pagi terasa begitu segar, membawa aroma embun yang bercampur dengan sisa-sisa wangi rempah dapur dari kedai RM Jagoan Rasa yang mulai bernyawa kembali. Di ruang belakang kedai, Vanesha sudah terbangun jauh lebih awal dari biasanya. Mengenakan apron santai berwarna pastel yang membalut tubuh rampingnya, ia sibuk merapikan meja makan kecil dan menyeduh secangkir kopi hitam pekat untuk mengawali hari.​Meskipun malam tadi hukuman berat berupa cucian segunung piring kotor telah tuntas dilaksanakan oleh Madun hingga bersih mengkilap, sisa-sisa kekesalan di hati Vanesha akibat insiden lirik-lirik genit ke "cewek porselen" kemarin sore masih sedikit membekas di wajah cantiknya. Bibir mungilnya sesekali mengerucut lucu, menunjukkan gestur ngambek manja seorang permaisuri yang belum sepenuhnya memberi

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 414: Sesi Interogasi Dapur Belakang

    ​Malam semakin larut, merayap pelan di atas atap seng kedai yang mulai mendingin setelah dihembus angin malam kota yang berembus tenang. Di luar sana, hiruk-pikuk kendaraan perlahan mereda, menyisakan deru mesin motor yang sesekali lewat di kejauhan. Lampu-lampu sorot di bagian depan kedai satu per satu mulai dipadamkan, menandakan bahwa jam operasional hari itu telah resmi berakhir dan saatnya bagi para penghuninya untuk beristirahat. Namun, keheningan yang seharusnya membawa kedamaian justru terasa begitu mencekam di dalam ruang utama kedai yang remang-remang.​Vanesha berdiri di dekat meja kasir, tangannya sibuk membereskan tumpukan nota pesanan sementara telinganya awas mendengar setiap derap langkah di sekitarnya. Di sisi lain ruangan, Madun tengah membereskan sisa piring kotor dan mengelap permukaan meja kayu yang masih menyisakan noda kecap serta remah-remah makanan. Gerakan Madun tampak lebih lambat dari biasanya, seolah ada beban tak kasat mata yang menghimpit pundaknya sejak

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 413: Cleo dan Michelle Kicep di Hadapan Permaisuri

    ​Deritan ban mobil taksi online yang berdecit kecil di atas aspal panas kawasan Menteng menandakan pelarian kilat yang dilakukan oleh dua mahasiswi high class tersebut. Di dalam kabin mobil ber-AC dingin, Cleo dan Michelle masih megap-megap mengatur napas mereka yang tersengal-sengal. Jantung keduanya berdegup kencang seakan baru saja lolos dari kejaran kawanan singa lapar di tengah hutan belantara. Keringat dingin masih membasahi pelipis dan tengkuk mereka, menyisakan sisa-sisa keterkejutan luar biasa akibat ancaman maut dari sang permaisuri kedai beberapa menit lalu.​"Gila... Sumpah, gila banget!" seru Michelle dengan suara bergetar panik, memegang dadanya yang masih naik turun tidak beraturan. "Nyaris banget usus kita dibungkus rapi pakai daun pisang sama ratunya tadi! Bisa-bisa nama kita masuk berita kriminal koran lokal besok pagi dengan judul 'Dua Mahasiswi Kampus Elite Berakhir Jadi Bungkus Sate Jando'."​Cleo, yang duduk di sampingnya sambil merapikan kacamata berbingkai beni

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status