Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 164: Kembalinya Ketertiban di Los Pasar

Share

Bab 164: Kembalinya Ketertiban di Los Pasar

Author: Ibrahiman
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-18 19:28:49

​"Aduh, bayar dulu satenya daripada mikirin suara ketukan besi di kolong panggangan arang ruko kelurahan yang bener-bener mengada-ada dan bikin pusing kepala itu, sekarang hal yang paling nyata adalah mengantarkan kamu pulang ke penginapan dengan selamat tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil merogoh dompet kulitnya yang tebal berisi hasil jerih payah kuli panggul pasar tiga ton, meresapi kembali getaran asmara suc
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 170:

    Sentuhan Pagi di Balik Jendela​Madun meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kepalanya sempat pening memikirkan rupa-rupa gangguan gaib kiriman dari pemilik warung remang-remang lintas kelurahan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi menjaga ketertiban sirkulasi udara kamar bungalow.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk mendorong slot kunci jendela kuningan, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi benteng pelindung bidadari barat. Sambil melipat kedua tangan kekarnya secara interaktif di depan dada, Madun menatap lembut ke arah kekasih bulenya yang nampak bangkit dari kasur. "Nah, kalau jendelanya sudah terbuka lebar and angin segar pegunungan sudah masuk b

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 169: Kejutan di Balik Selimut Sutra

    ​ Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil melangkah mundur dari sisi tempat tidur, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kepalanya sempat pening membayangkan rupa-rupa gangguan gaib dari ruko remang-remang lintas kecamatan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi menjaga ketertiban suasana kamar tidur.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk mengambil segelas air putih di atas meja kecil, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi benteng pelindung bidadari barat. Sambil melikat kedua tangan kekarnya secara interaktif di depan dada, Madun menatap lembut ke arah kekasih bulenya yang nampak sangat manja di atas kasur. "Nah, kalau kamarnya sudah tenang and air mi

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 168: Gantungan Kelambu Kamar Bungalow

    ​"Aduh, abaikan saja urusan getaran gantungan kelambu tempat tidur di dalam kamar yang bener-bener mengada-ada dan bikin pusing kepala itu, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau memastikan kamu bisa tidur nyenyak di atas kasur empuk ini fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil melangkah santai merapikan seprai kasur kelurahan, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah melangkah aman melewati ambang teras kamar bungalow subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi menjaga ketertiban suasana kamar tidur.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk menyalakan lampu jepit di sudut ruangan, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan peso

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 167: Kecupan Hangat di Daun Pintu

    ​Madun bernaps sedalam-dalamnya sambil memutar anak kunci kuningan, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah melangkah aman di atas lantai tegel teras bungalows subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi menjaga sopan santun lingkungan kelurahan desa setempat.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk membukakan daun pintu kayu dengan lebar, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi benteng pelindung bidadari barat. Sambil melipat kedua tangan kekarnya secara interaktif di depan dada, Madun menatap lembut ke arah kekasih bulenya yang sudah mulai menyandarkan kepala pirangnya. "Nah, kalau kamarnya sudah terbuka aman dan siap pakai begini kan hati jantan Mas Madun bisa fo

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 166: Sentuhan Lembut di Ambang Pintu

    Madun bener-bener cuma mau memastikan kamu masuk ke dalam kamar untuk istirahat fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil membuka grendel pintu pagar anyaman bambu, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kaki kokohnya sukses melangkah aman memasuki area halaman bungalows subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat beton pondasi jembatan kelurahan demi menjaga kesopanan tempat.​Madun langsung melangkah tenang memimpin jalan menyusuri jalan setapak taman yang rindang, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi tameng pelindung bidadari barat. Sambil melipat kedua tangan kekarnya secara interaktif di depan dada, Ma

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 165: Sunrise yang Indah

    Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil merapikan letak dompet kulitnya yang tebal, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kaki kokohnya sukses melangkah aman menjauhi tikungan ruko pasar yang mulai ramai dipadati pedagang keliling subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat beton pondasi jembatan desa demi menjaga ketertiban umum.​Madun langsung melangkah lebar memimpin jalan menyusuri trotoar jalan setapak yang teduh, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi tameng pelindung bidadari barat. Sambil melipat kedua tangan kekarnya secara interaktif di depan dada, Madun menatap lembut ke arah kekasih bulenya yang nampak masih mengantuk. "Nah, kalau jalannya santai di bawah rindangnya pohon perin

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status