เข้าสู่ระบบKabut tipis sisa pagi tadi masih menyelimuti dahan-dahan pohon besar di pinggiran hutan lindung kaki Gunung Rinjani. Suasana yang tadinya sunyi mendadak terusik oleh suara langkah kaki tergesa-gesa yang menginjak ranting-ranting kering. Di balik semak-semak belukar yang lebat, muncullah sosok Madun—sang jagoan desa—bersama Nabila, kekasih setianya.Namun, penampilan mereka saat ini sungguh jauh dari kata normal. Akibat insiden pelarian maut dari teror Wewe Gombel sehari sebelumnya, seluruh pakaian utama mereka robek hancur berkeping-keping dan tersangkut di duri-duri semak belukar. Demi menutupi rasa malu dan menjaga aurat di alam terbuka, Madun terpaksa menggunakan keahlian bertahan hidup tingkat tinggi ala manusia purba.Dengan menggunakan pisau lipat kecil di saku celananya, Madun dengan telaten menguliti kulit kayu pohon, lalu merangkainya sedemikian rupa menjadi pakaian darurat. Nabila dibuatkan sebuah terusan pendek dari serat kulit pohon yang lemas, sementara Madun sendiri m
Sinar mentari pagi yang tadinya hangat perlahan-lahan tertutup oleh kabut tebal yang turun dengan cepat dari puncak bukit. Suasana di sekitar tepi Danau Rinjani yang semalam menjadi saksi bisu kemping romantis Madun dan Nabila mendadak berubah menjadi mencekam. Angin pegunungan berhembus kencang, membawa aroma bunga kantil busuk dan kemenyan tua yang menusuk hidung.Di dalam tenda dome yang hangat, Madun dan Nabila masih terlelap dalam pelukan erat setelah semalaman penuh merayakan cinta. Namun, ketenangan itu sekadar ilusi sesaat.Kriek... Bruk!Suara ranting patah yang sangat keras terdengar tepat di luar tenda. Disusul oleh suara napas berat, serak, dan lolongan tawa melengking yang mengerikan."Hihihi... Hihihi... Pengen... Aku pengen ikutan genjotan juga..." suara perempuan tua melengking terdengar menggema di udara, membuat bulu kuduk berdiri seketika.Nabila terbangun dengan mata terbelalak kaget. Ia langsung merinding hebat mendengar suara itu. "O-Om! Suara apa itu?! Ser
Semburat senja berwarna jingga keemasan perlahan-lahan turun di balik barisan pohon pinus yang mengelilingi tepian Danau Rinjani. Udara sore di pegunungan terasa begitu sejuk, membawa aroma basah dedaunan dan tanah khas alam liar yang menenangkan. Di dekat bibir air yang tenang, sebuah tenda dome berukuran sedang telah berdiri kokoh dengan lampu-lampu kecil bergaya aesthetic yang menghiasi bagian depannya.Madun—sang jagoan desa—tampak sibuk merakit dua buah joran pancing di atas kursi lipat portabel. Di sampingnya, Nabila duduk di atas tikar piknik berbalut jaket tebal rajut berwarna krem, memeluk kedua lututnya sambil menikmati pemandangan air danau yang memantulkan langit petang yang mulai temaram.Perjalanan panjang mendaki bukit menggunakan motor trail sore tadi akhirnya terbayar lunas. Ini adalah rencana liburan spesial yang disusun Madun khusus untuk merayakan hubungan mereka jauh dari kebisingan desa dan ruko kecil yang sempit."Udah siap belum, Ratu?" panggil Madun dengan
Sinar matahari sore baru saja mulai melandai, memantulkan warna keemasan yang hangat di atas atap-atap ruko kecil Madun. Suasana di dalam ruangan tampak tenang, namun di balik ketenangan itu, ada pusaran angin puyuh rahasia yang siap meledak kapan saja.Semalam sebelumnya, Madun telah menuntaskan dahaga liarnya dengan menyelinap ke gubuk bambu dan menaklukkan Siska hingga subuh menjelang. Rupanya, pengalaman semalam tidak membuat sang gadis remaja merasa jera atau ketakutan. Sebaliknya, candu yang ditinggalkan oleh sang jagoan desa justru membuat Siska kehilangan akal sehatnya. Ia tidak ingin menikmati keperkasaan Madun seorang diri.Sore ini, sebuah rencana gila telah dirancang matang-matang oleh Siska dan kawan-kawan sepermainannya—sekelompok gadis remaja belasan tahun yang terkenal sebagai primadona di sekolah mereka, namun memiliki sisi liar yang haus akan petualangan terlarang.Di dalam ruko, Madun sedang duduk santai menyeruput kopi hitamnya sambil merapikan tali sepatu botn
Suara deru angin malam perbukitan berembus pelan, membawa kesejukan yang menyelimuti perkampungan kecil di kaki bukit. Di dalam ruko kecil Madun, waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari. Suasana luar biasa sunyi, hanya menyisakan suara jangkrik bersahutan di kejauhan.Di atas ranjang utama, Nabila terlelap sangat pulas. Napasnya teratur, memancarkan kedamaian setelah rentetan pertempuran panjang dan emosi yang menguras tenaga sepanjang hari. Kelelahan fisik membuat gadis berambut ikal itu masuk ke alam mimpi yang dalam, tidak menyadari sama sekali apa yang sedang terjadi di luar batas kesadarannya.Beberapa meter dari ranjang, di sudut ruangan dekat pintu belakang, Madun berdiri tegak dalam kegelapan. Pria berbadan kekar itu tidak mengenakan baju, hanya memakai celana panjang gelap dengan otot-otot lengan bidang yang menegang. Matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik tidur Nabila.Setelah memastikan bahwa sang kekasih benar-benar telah jatuh ke alam mimpi yang lelap, Ma
Matahari sore menyinari atap-atap ruko kecil di sudut desa dengan bias cahaya jingga yang lembut. Suasana di dalam ruangan terasa begitu tenang setelah rentetan malam-malam panjang penuh gairah dan drama overdosis jamu tradisional. Nabila berbaring santai di atas ranjang, memainkan ujung rambut ikalnya sambil menatap langit-langit kamar.Meskipun hubungan antara dirinya dan Madun—sang jagoan desa—telah mencapai tingkat keintiman yang luar biasa dan candu yang mendarah daging, ada satu sisi kecil di dalam pikiran Nabila yang mulai terusik oleh rasa jenuh. Hidup terisolasi di dalam ruko kecil, hanya dikelilingi oleh Madun dan sesekali intervensi konyol dari Jono, membuat naluri mudanya kadang kala menerawang jauh, membayangkan sensasi dunia luar yang belum pernah ia jamah sebelumnya.Di sisi lain ruangan, Madun sedang duduk di kursi kayu sambil merokok santai dan memperbaiki joran pancing miliknya. Sebagai pria alfa yang memiliki insting tajam, Madun tentu saja bisa merasakan ada sed
Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep
"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o







