LOGIN"Akhirnya saya injakkan kaki lagi di tanah kelahiran ini, bebas dari kepungan bule gila!" bisik Madun sambil melompat turun dari pintu bus malam yang baru saja berhenti di tepi jalan desa. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, menghirup dalam-dalam udara kampung yang bersih, jauh dari drama asmara rumit lintas kelurahan yang membuatnya kabur seorang diri tanpa ada satu orang pun yang tahu."Heh Madun! Pulang-pulang kok malah melamun di pinggir jalan, tidak takut ditabrak gerobak sapi apa?" sapa sebuah suara renyah dari arah warung kopi bambu, membuat Madun menoleh dengan cepat. Ternyata di sana sudah berdiri Ningrum, janda kembang paling montok se-kecamatan yang sedang menyapu halaman warungnya dengan gerakan pinggul yang sangat interaktif dan sengaja dibuat meliuk-liuk manja.Visual Ningrum di bawah temaram lampu warung subuh itu bener-bener menjelma menjadi pemandangan mau
"Kurang ajar, kenapa bayangan paha mulus Miss Catherine masih saja menempel ketat di otak jantan saya, padahal bus malam ini sudah melaju kencang meninggalkan pelabuhan!" gerutu Madun sambil memukulkan tangan kekarnya ke sandaran kursi bus yang bergetar. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, mencoba mengusir bayangan gadis bule yang ditinggalkannya tidur sendirian di bungalow fajar tadi demi mencari ketenangan batin seorang diri."Hei Mas Tampan, kalau melamun terus sambil meremas kursi begitu, nanti sandaran besi bus ini bisa patah berantakan karena tenaga kuli kamu yang terlalu beringas itu!" celetuk seorang gadis penumpang di sebelahnya secara interaktif membuat Madun kaget setengah mati. Gadis lokal bertubuh sintal itu nampak sengaja menggeser posisi duduknya hingga buah dadanya yang padat berisi menyenggol lengan berotot Madun.Visual gadis penumpang bus malam di sebela
Seorang diri menuju terminal bus malam tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" bisik Madun dengan suara sangat lirih sambil mengendap-endap keluar dari pintu belakang penginapan, meresapi kembali getaran asmara jantannya yang mulai jenuh and butuh ketenangan batin murni setelah berbulan-bulan dikepung rupa-rupa drama asmara lintas kelurahan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi memulai misi pelarian rahasianya kembali ke kampung halaman sebatang kara.Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk melompati pagar tanaman pembatas jalan, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang malam ini memilih mundur demi kesehatan mental masa depan. Sambil membenahi letak ransel kanvas lusuhnya secara i
Madun menenangkan suasana sambil meluruskan posisi duduknya di atas jok kulit, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kendaraan roda empat yang mereka tumpangi mulai melaju kencang meninggalkan area bungalow subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi memberikan rasa aman sepanjang jalur bypass. Madun langsung memajukan langkah jantannya dengan mengatur sandaran kursi agar lebih santai, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi benteng pelindung bidadari barat. Sambil melipat kedua tangan kekarnya secara interaktif di depan dada, Madun menatap lembut ke arah kekasih bulenya yang duduk bersandar manja. "Nah, kalau laju mobilnya sudah stabil and AC di dalam kabin sudah sejuk
Madun memecah keheningan pagi sambil menyampirkan tas ranselnya ke pundak, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah urusan tiket kapal feri menuju Lombok beres tanpa kendala subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi memimpin perjalanan romantis mereka menuju Pelabuhan Padangbai.Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk membuka pintu depan mobil sewaan, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi benteng pelindung bidadari barat. Sambil melipat kedua tangan kekarnya secara interaktif di depan dada, Madun menatap lembut ke arah kekasih bulenya yang melangkah anggun di sampingnya. "Nah, kalau koper-koper sudah tertata rapi di dalam bagasi belakang begini kan hati jantan Ma
Madun menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi memastikan jadwal keberangkatan kapal menuju Lombok tetap aman teratur. Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk mengetik rincian data paspor, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi benteng pelindung bidadari barat. Sambil melipat kedua tangan kekarnya secara interaktif di depan dada, Madun menatap lembut ke arah kekasih bulenya yang nampak mengintip layar ponsel. "Nah, kalau proses pembayaran tiket kapalnya sudah berhasil and kode booking sudah muncul begini kan hati jantan Mas Madun bisa fokus memikirkan tabungan modal ruko kelontong kita nanti, tanpa perlu tegang ketakutan digerebek satpol pp akibat hasrat lubang rahim menantang maut siang ini!" Tiba-tiba, Catherine yang merasa gembira karena impian ngidamnya segera terwujud langsu
"Wah, gila! Ternyata sosok pemuda tampan berkulit sawo matang yang dari tadi duduk kalem mengunyah tetelan bebek itu adalah Juragan Madun, kuli panggul legendaris tiga ton yang tempo hari sendirian membantai habis puluhan preman akamsi ruko kelurahan sampai lemas ambyar bertekuk lutut memohon ampu
"Aduh, puji syukur ke hadirat alam semesta... lupakan saja seluruh bayangan awan hitam berbentuk wajah raksasa separuh dewa purba kelurahan yang sangat mengada-ada dan merusak pemandangan fajar ini, sekarang suasana di depan warung bebek betutu ini bener-bener sudah bersih total dari kepungan prema
"Heh, berani-beraninya lu bertiga mengganggu kenyamanan makan bebek betutu gua, apalagi mata kotor lu sengaja melotot napsu melihat gundukan harta karun kesayangan milik Madun, dasar preman ruko murahan tahu gak!" pekik Catherine melengking manja dengan mata biru yang melotot seksi penuh kobaran a
"Aduh, napas kuli pasar saya hampir putus senar... setelah jebakan jaring kawat titanium ruko remang-remang di bawah tadi mendadak ambyar hancur jadi kerikil batako akibat terhantam energi suci kesucian jalur pendakian, sekarang kita malah berlanjut mendaki jalur terjal Gunung Agung yang sangat sa







