Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 146: Membakar Semangat di Lereng Gunung Agung

Share

Bab 146: Membakar Semangat di Lereng Gunung Agung

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-06-12 17:41:23

​"Aduh, napas kuli pasar saya hampir putus senar... setelah jebakan jaring kawat titanium ruko remang-remang di bawah tadi mendadak ambyar hancur jadi kerikil batako akibat terhantam energi suci kesucian jalur pendakian, sekarang kita malah berlanjut mendaki jalur terjal Gunung Agung yang sangat sakral ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" gumam Madun menghela napas berat sedalam-dalamnya sambil menyeka keringat jantan di pelipisnya, mencoba meresapi getaran
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 370: Pulang

    Riuh rendah alunan musik dangdut koplo, suara teriakan anak-anak kecil di arena permainan, dan bisingnya kerumunan warga di lapangan terbuka kecamatan Menteng perlahan-lahan mulai meredup. Deretan lampu bohlam warna-warni di pasar malam satu persatu mulai dipadamkan, menandakan bahwa rangkaian hiburan rakyat malam itu telah sampai pada penghujung waktunya.​Madun dan Vanesha berjalan berdampingan melintasi jalanan aspal yang diterangi temaram lampu kota. Di tangan kiri Madun, boneka beruang cokelat raksasa hadiah dari stan lempar gelang ditenteng dengan santai, sementara tangan kanannya merangkul erat pinggang ramping sang istri. Vanesha melangkah dengan riang, sesekali menyandarkan kepalanya ke bahu bidang suaminya, menikmati semilir angin malam Menteng yang menyejukkan.​Perjalanan singkat dari lapangan pasar malam menuju gerbang istana RM Jagoan Rasa terasa begitu hangat dan penuh ketenangan. Sepanjang perjalanan, tidak banyak kata yang terucap di antara keduanya, namun bahasa tubu

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 369: Misteri Rumah Hantu Pasar Malam

    ​Pukul 20.30 malam. Riuh rendah suara tawa pengunjung, alunan musik dangdut koplo dari panggung utama, dan aroma sedap makanan kaki lima masih memenuhi udara di area lapangan terbuka pusat kecamatan Menteng. Setelah sukses memborong boneka beruang raksasa dari stan lempar gelang, Madun dan Vanesha terus melangkah berdampingan menikmati suasana pasar malam yang semakin malam semakin padat.​Di sudut paling gelap dari area lapangan, berdirilah sebuah wahana permainan yang paling mencolok dan mengundang rasa penasaran: Rumah Hantu Pasar Malam.​Bangunan sementara itu terbuat dari papan triplek tua yang dicat hitam legam, dihiasi gambar-gambar seram seperti sundel bolong, pocong bermata merah, dan kelelawar raksasa. Dari dalam bangunan beratap terpal kain itu terdengar samar-samar suara jeritan histeris pengunjung, suara rintihan gaib dari pelantang suara berkarat, serta embusan angin buatan yang berbau debu dan kemenyan.​Vanesha, yang sedari tadi asyik menenteng boneka beruang hadiah su

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 368: Pesta Malam di Alun-Alun

    .Mentari telah sepenuhnya tenggelam di balik cakrawala barat, digantikan oleh langit malam bertabur bintang yang membentang luas di atas kawasan Menteng. Udara malam berembus sepoi-sepoi, membawa kesejukan yang sangat kontras dengan teriknya panas matahari sehari sebelumnya.​Di dalam kamar utama istana RM Jagoan Rasa, Vanesha terbangun dari tidur pulasnya. Setelah semalam suntuk beristirahat total dan menikmati suapan nasi goreng gerobak bersama sang suami, sekujur tubuhnya kini terasa jauh lebih segar. Rasa pegal akibat gempuran ekstrem di berbagai posisi—mulai dari tiarap, nungging, hingga membal—sudah berangsur-angsur hilang, berganti dengan energi yang kembali terisi penuh.​Madun, sang penguasa Menteng, sudah lebih dulu terjaga. Ia mengenakan kemeja flanel gelap dipadu celana jeans panjang dan jaket kulit andalannya, memancarkan kharisma kakek sakti yang tetap terlihat gagah dan beringas.​"Sudah segar badannya, Vanesha?" sapa Madun dengan suara baritonnya yang berat dan berwiba

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 367: Malam yang Panjang

    ​Pukul 20.00 malam. Suasana di dalam kamar utama istana RM Jagoan Rasa terasa begitu hangat, intim, dan jauh dari hiruk-pikuk dunia luar. Cahaya temaram kuning keemasan dari lampu tidur memantul lembut di dinding kayu jati tua, menciptakan atmosfer yang sangat menenangkan setelah seharian penuh dilebur dalam badai gempuran fisik yang beringas.​Vanesha duduk bersandar di kepala ranjang dengan selimut satin hitam menutupi sebagian tubuhnya yang masih terasa lemas. Di hadapannya, bungkusan daun pisang berisi nasi goreng gerobak arang pesanan khusus dari ujung perempatan jalan masih mengepulkan uap panas. Aroma gurih kecap manis, bawang putih yang terpanggang sempurna, serta wangi khas telur bebek menyebar ke seluruh penjuru ruangan, mengalahkan sisa-sisa aroma jamu rawa lele yang sempat pekat sebelumnya.​Madun, sang penguasa Menteng yang disegani, duduk bersila dengan santai di tepi ranjang. Jaket kulit hitamnya telah dilepas dan disampirkan di kursi. Dengan telaten dan penuh perhatian

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 366: Aroma Nasi Goreng Jalanan

    ​Pukul 19.15 malam. Suasana di dalam kamar utama istana RM Jagoan Rasa kini telah sepenuhnya dikuasai oleh ketenangan malam yang damai. Lampu tidur berwarna kuning keemasan memancarkan cahaya lembut, menerangi seprai satin hitam yang kini sudah rapi. Vanesha berbaring santai dengan kepala bersandar nyaman di atas dada bidang Madun, menikmati sisa-sisa kehangatan setelah badai pertempuran panjang yang melelahkan seharian penuh.​Meskipun tubuh mereka berdua baru saja melewati rangkaian gempuran ekstrem dari pagi hingga petang, energi yang terkuras habis mendadak memicu respons biologis lain yang sangat manusiawi: rasa lapar yang luar biasa dahsyat. Perut Vanesha tiba-tiba mengeluarkan bunyi keroncongan kecil yang cukup jelas terdengar di tengah keheningan kamar.​Krrrr-krrruuuk...​Vanesha langsung tersipu malu, pipinya merona merah di dalam temaram lampu kamar. Ia buru-buru menyembunyikan wajahnya di balik dada suaminya, merasa tertangkap basah oleh lambungnya sendiri.​Madun yang mer

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 365: Senja yang Tenang

    ​Pukul 18.30 malam. Langit di atas kawasan Menteng telah berubah menjadi gelap gulita, dihiasi oleh kerlip bintang-bintang yang bertaburan di udara malam yang sejuk. Setelah badai pertempuran yang begitu panjang, melelahkan, dan membakar sekujur raga sepanjang hari, suasana di dalam kamar utama istana RM Jagoan Rasa kini berangsur-angsur menjadi jauh lebih tenang, damai, dan penuh kehangatan.​Vanesha dan Madun terbaring berdampingan di atas seprai satin hitam yang basah dan berantakan. Tidak ada lagi teriakan histeris, tidak ada lagi desahan panjang yang memecah keheningan, dan tidak ada lagi gerakan beringas dari mahakarya mutasi rawa lele yang tadinya merajai sekujur ruangan. Senjata masif sepanjang empat puluh sentimeter itu akhirnya beristirahat dengan tenang di samping tubuh sang kakek sakti, kembali ke ukuran normalnya setelah melalui hari yang luar biasa melelahkan.​Vanesha merebahkan kepalanya di atas dada bidang Madun, mendengarkan detak jantung suaminya yang perlahan-lahan

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status