Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 217: Tamu Tak Diundang Kolong Ranjang

Share

Bab 217: Tamu Tak Diundang Kolong Ranjang

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-07-04 01:19:43

​"Ya ampun Mas Madun suamiku yang tampan, gua kira tadi itu beneran naga penunggu kebun tebu yang mau menguji nyali jantan kamu sebelum menyentuh kesucian tubuh gua!" sahut Vina yang berjalan interaktif mendekat sambil mengelus dadanya yang naik turun karena sempat terkejut. Gadis desa penurut berlesung pipit itu sengaja memajukan langkah gemulainya hingga daster satin warna merah tipis yang membungkus ketat tubuh seksinya nampak meliuk indah, membuat suasana kamar pengantin baru itu kembali
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 226: Puncak Ganas Di Kamar Mandi

    ​Madun menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, meresapi desau gairah pengantin baru yang murni, adem, dan tulus tanpa perlu memedulikan dunia luar kelurahan fajar ini.​"Aduh Suamiku Mas Madun yang paling seksi, tindakan jantan kamu membuang gayung itu bener-bener interaktif and langsung membakar seluruh urat napsu di## Gempuran Ganas Di Sela Basahan Air​Ketukan sapu lidi dari balik dinding tripleks kemarin subuh ternyata cuma khayalan akibat efek suara gesekan dahan pohon mangga kelurahan yang tertiup angin fajar, cyiiinnn! Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, melupakan segala bentuk gangguan luar demi memfokuskan seluruh energi jantan sejatinya untuk melayani serangan napsu susulan dari sang istri tercinta di dalam kamar mandi ruko kelontong rukun warga fajar ini.​"Mumpung sisa air sumur kelurahan masih melimpah and belum ada satu pun rombongan wa

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 225: Basuhan Cinta Di Kamar Mandi

    ​Lubang raksasa dari zaman purba kelurahan kemarin subuh ternyata cuma fiksi belaka akibat efek kantuk berat setelah melayani timbangan beras semalaman, cyiiinnn! Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, menggendong tubuh seksi sang istri menuju kamar mandi ruko kelontong mereka dengan penuh kelembutan seorang lelaki sejati fajar ini.​"Karena pertempuran ronde ketiga tadi membuat tubuh kita penuh peluh kebahagiaan, sekarang saatnya suami jantanmu ini memandikanmu dengan penuh kasih sayang yang murni, adem, dan tulus, Istriku Mbak Vina!" seru Madun lantang sambil menuangkan air sumur kelurahan yang segar ke dalam bak mandi. Langkah tegap Madun yang gagah berani memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siaga menjaga kebersihan and kenyamanan rumah tangga mereka tanpa perlu bertele-tele subuh ini.​"Aduh Mas Madun suamiku yang paling tampan, sentuhan jemari kasar k

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 224: Hasrat Tak Terbendung Di Kamar belakang

    Sekarang saatnya kita tuntaskan ronde yang tertunda ini dengan penuh kedamaian tanpa batas, Istriku Mbak Vina!" seru Madun lantang dengan napas memburu hebat menatap sang istri. Namun, di luar dugaan Madun yang perkasa sekuat kuli pasar tiga ton, Vina justru melompat beringas duluan ke atas tubuh bidangnya tanpa memberikan aba-aba interaktif sedikit pun demi meluapkan rasa ketagihannya yang sudah memuncak mentok sejak tadi subuh. ​Visual Vina yang mendadak berubah menjadi sangat dominan and doyan banget di atas kasur kapuk pagi itu bener-bener menjelma menjadi pemandangan maut yang sanggup merobek paksa seluruh saraf pertahanan mata jantan pembaca laki-laki se-Indonesia. Kain daster satin merah tipis tanpa lengan yang membungkus ketat tubuh seksinya kini sengaja dilepasnya manja hingga melorot beringas ke atas lantai, menonjolkan dengan sangat jelas gundukan sepasang buah dadanya yang luar biasa besar, padat, kencang, and sangat montok nampak membusung naik turun bergoyang liar hebat

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 223: Kejaran Ronde Tiga Di Ruang Tengah

    Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, kembali membakar gelombang gairah malam pengantin yang murni, adem, dan tulus fajar ini.​"Aduh Mas Madun suamiku yang perkasa, ucapan jantan kamu itu langsung membuat seluruh permukaan kulit gua merem melek kepanasan lagi setelah sempat terputus transaksi beras tadi!" sahut Vina yang berjalan interaktif mendekati Madun dengan gerakan tubuh yang sangat sensual. Gadis desa penurut berlesung pipit itu sengaja memajukan langkah gemulainya di sela-sela etalase toko, membuat daster satin warna merah tipis yang membungkus ketat tubuh seksinya nampak meliuk indah bergoyang manja menyambut pelukan hangat sang suami tercinta.​Visual Vina yang langsung naik kembali ke atas meja kasir kayu jati pagi itu bener-bener menjelma menjadi pemandangan maut yang sanggup merobek paksa seluruh saraf pertahanan mata jantan pembaca laki-laki se-Indonesia. Kain d

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 222: Terganggu Di Puncak Asmara

    ​Desis gerimis subuh di luar ruko kelontong rukun warga semakin menambah syahdu suasana ronde kedua yang sedang berjalan menuju puncaknya. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, memacu seluruh sisa tenaga jantan sejatinya di atas meja kasir demi memberikan kepuasan lahir batin yang murni, adem, dan tulus untuk istri tercinta.​"Ayo Istriku Mbak Vina, sedikit lagi kita akan mencapai puncak kebahagiaan rumah tangga kita fajar ini, tahan sebentar ya, cyiiinnn!" seru Madun lantang dengan suara berat yang sangat interaktif membakar semangat. Otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati milik Madun nampak berkilau basah oleh peluh kebahagiaan kuli panggul pasar tiga ton, bergerak harmonis berirama di sela-sela jepitan kedua paha mulus Vina yang sudah terkunci rapat sejak subuh tadi.​Namun, tepat pada detik-detik paling krusial saat kehangatan asmara mereka sudah berada di ujung ta

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 221: Kecanduan Manis Di Balik Kasir

    ​Deru angin fajar yang bertiup kencang di luar ruko kelontong justru membuat suasana di dalam ruangan semakin terasa gerah dan memanas setelah sesi pertama berlalu. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, mencoba menyeka peluh yang mengucur deras di sekitar dada bidang berotot sawo matangnya yang panas membara akibat luapan tenaga jantan sejati.​"Aduh Istriku Mbak Vina, raungan suara mobil sport mewah yang lewat di jalanan depan ruko tadi bener-bener sempat membuat fokus jantan saya sedikit buyar, padahal pasar kelurahan masih sangat sepi, cyiiinnn!" seru Madun lantang sambil meraih handuk kecil di dekat timbangan beras. Langkah tegap Madun yang gagah berani memandangkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang berniat meluruskan sejenak pinggang kekarnya di atas kursi kayu demi menjaga stamina untuk membuka toko sembako rukun warga nanti pagi.​Namun, Vina yang masih duduk bersa

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 47: Cairan Surga Lala

    ​"Mas Madun, jangan dilepas dulu kepalanya! Rasakan ini, selangkangan Lala lagi banjir bandang gara-gara lidah nakal Mas!" teriak Lala sambil menekan pinggulnya lebih keras ke wajah Madun.​Madun yang posisinya masih bersimpuh di lantai hanya bisa pasrah wajahnya dikangkangi oleh mahasiswi cantik i

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 46: Servis Gadis Kampus

    ​"Mas Madun, katanya linggis beton Mas itu sakti mandraguna ya? Tapi kok sekarang malah bengong lihat paha Lala?" goda Lala, mahasiswi baru yang juga tetangga kos Madun. ​Lala memiliki visual yang sangat berani sore itu. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna merah muda yang panjangnya ha

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 39: Madu Gadis Muda

    "Mas Madun! Tolongin Peni dong, rantai sepedanya lepas, tangan Peni kotor semua," teriak Peni dari gerbang pasar. Madun menoleh dan langsung terpaku. Peni, gadis baru lulus SMA, berdiri dengan celana pendek ketat. Pahanya putih mulus, kencang, bening seperti porselen. Visual itu maut. Madun mende

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 32: Goyang Gudang Beras

    "Aduh, Mas Madun! Jangan kencang-kencang peluknya, daster aku bisa robek!" bisik Rini sambil mencubit manja lengan Madun yang berotot keras bak besi cor.Madun terkekeh, napasnya memburu seperti mesin truk pengangkut gabah. Ia menatap Rini yang bersandar di dada bidangnya yang cokelat jantan. Visua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status