بيت / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 222: Terganggu Di Puncak Asmara

مشاركة

Bab 222: Terganggu Di Puncak Asmara

مؤلف: Ibrahiman
last update تاريخ النشر: 2026-07-05 16:59:32

​Desis gerimis subuh di luar ruko kelontong rukun warga semakin menambah syahdu suasana ronde kedua yang sedang berjalan menuju puncaknya. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, memacu seluruh sisa tenaga jantan sejatinya di atas meja kasir demi memberikan kepuasan lahir batin yang murni, adem, dan tulus untuk istri tercinta.

​"Ayo Istriku Mbak Vina, sedikit lagi kita akan mencapai puncak
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 286: Pengakuan di Balik Jeruji Desa

    ​Matahari pagi baru saja memancarkan sinarnya yang hangat ketika pos ronda desa sudah dipadati oleh warga yang penasaran ingin melihat langsung wajah pencuri pakaian dalam wanita yang tertangkap semalam.​Sarah berdiri anggun di samping suaminya, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena rasa penasaran yang besar. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot cahaya pagi.​Madun berdiri tegar dengan wibawa luar biasa, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, menatap tajam ke arah sang maling yang terduduk lemas di sudut pos.​Siska menyusul di belakang mereka, mengenakan daster oranye ketat yang mempertontonkan belahan dada secara vulgar sambil melipat tangan di dadanya. "Coba ngomong sekarang, mau alesan apa lagi kamu? Mau bilang khilaf karena salah ngambil jemuran baju bayi?" lede

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 285: Perangkap Celana Dalam

    ​Matahari baru saja tenggelam sepenuhnya di balik cakrawala desa, meninggalkan kegelapan malam yang pekat di sekitar area ruko kelontong Madun.​Sarah duduk di dekat meja kasir, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun menahan rasa kesal. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang rampingnya dengan sempurna, membuat paha mulus jenjangnya tampak kontras di bawah cahaya lampu teras yang temaram.​Madun berdiri di dekat pintu gudang belakang, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, memancarkan wibawa dingin yang siap menghadapi teror apa pun malam ini.​"Sudah tiga hari berturut-turut jemuran pakaian dalam kita hilang dicuri orang misterius, Mas! Ini sudah keterlaluan dan menjijikkan!" geram Sarah kesal sambil melipat tangan di dadanya yang padat berisi.​Siska berjalan mendekat dari arah dapur sambil membawa secangkir kopi hitam hangat, daster oranye k

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 284: Bayangan di Balik Jendela

    ​Kilatan cahaya kamera ponsel yang mendadak menyambar dari balik jendela kamar tidur belakang langsung membuat rahang tegas Madun mengeras seketika.​Sarah langsung merapatkan tubuh sintalnya ke dada bidang Madun, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena rasa terkejut yang luar biasa. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah temaram lampu kamar.​Madun berdiri tegar memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, memancarkan wibawa dingin yang siap menerkam siapa saja yang berani mengusik privasi rumah tangganya.​"Tetap di sini, Sarah. Biar saya tangkap penyusup yang kurang ajar itu," bisik Madun dengan suara berat bernada rendah penuh penekanan.​Dengan gerakan kilat seorang lelaki perkasa, Madun mendobrak jendela kaca kamar dan melompat keluar menuju halaman samping ruko yang gelap gulita. Namun, penyusup miste

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 283: Tamu Tak Dikenal di Malam Tenang

    ​Bayangan yang mendekat dari tikungan jalan itu akhirnya melangkah masuk ke halaman ruko, memecah ketenangan malam yang baru saja tercipta.​Seorang pria berbadan tegap mengenakan jaket kulit hitam kumal berdiri di hadapan Madun, memperlihatkan raut wajah penuh penyesalan dengan tatapan mata yang menyendu.​Sarah langsung berdiri sigap dari kursi kasirnya, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena waspada. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang rampingnya dengan sempurna, membuat paha mulus jenjangnya tampak kontras di bawah lampu teras.​Madun melangkah maju menempatkan diri di depan istrinya, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya dengan wibawa dingin yang mematikan.​"Maafkan saya, Mas Madun... Mbak Sarah..." ucap pria asing itu terbata-bata sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan mereka.​Siska yang berdiri di samping rak to

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 282: Fajar Baru di Halaman Ruko

    ​Sinar matahari pagi menyapa lembut kaca jendela ruko, membawa kehangatan baru setelah malam panjang yang penuh gairah dan peluh kemesraan.​Sarah merentangkan tangan lentiknya di atas tempat tidur, mengenakan kemeja putih longgar milik Madun yang sengaja dibiarkan terbuka bagian atasnya hingga mengekspos gundukan buah dadanya yang kencang tanpa sehelai benang pun di baliknya. Paha mulus jenjangnya terkelupas indah di bawah selimut putih, memancarkan pesona luar biasa seorang istri yang sangat bahagia.​Madun keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang telanjang bulat yang dipahat sempurna oleh kerja keras dan latihan fisik. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak segar, memancarkan aura maskulin yang membuat siapa pun wanita yang melihatnya pasti akan bertekuk lutut.​"Pagi banget bangunnya, Mas... Badan aku masih berasa lemes gara-gara genjotan ganas kamu semalam," ucap Sarah manja sambil tersenyum menggoda dari

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 281: Warisan Lelaki Sejati

    ​Wanita berambut pirang itu berdiri tegak di hadapan Madun, mengenakan gaun malam merah ketat yang memamerkan lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena kelelahan perjalanan jauh.​Sarah langsung menyipitkan mata tajamnya, memperhatikan setiap gerak-gerik tamu asing tersebut sementara blus krem pas badan dan rok pensil hitamnya membingkai pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna.​Madun berdiri tegar di sisi istrinya, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, memancarkan wibawa jantan yang luar biasa.​"Maaf, tuan rumah... Saya Clara, perwakilan dari lembaga riset bioteknologi kota yang mendengar legenda tentang keperkasaan fisik pria desa ini," ucap wanita pirang itu tanpa basa-basi dengan senyuman menggoda.​Siska yang sedang merapikan piring tasyakuran langsung mendengus keras dari balik daster oranye ketatnya, mempertontonkan belahan dada secara vulgar. "Ih, buset! Ini

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 166: Sentuhan Lembut di Ambang Pintu

    Madun bener-bener cuma mau memastikan kamu masuk ke dalam kamar untuk istirahat fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil membuka grendel pintu pagar anyaman bambu, meresapi kembali getaran asmara suci yang murn

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status