Share

Bab 388: Cukur Bulu

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-10-10 10:15:37

​Pukul 08.15 pagi, Jumat, 9 Oktober 2026. Suasana di dalam istana RM Jagoan Rasa perlahan-lahan mulai kembali kondusif setelah badai kepanikan akibat blunder nasi goreng petai berlumur ekstrak Jamu Rawa Lele generasi keempat berhasil diredam. Madun, sang penguasa Menteng, kini duduk tegap di sebuah kursi kayu kokoh di tengah ruang belakang, mengenakan cangcut baja pusaka yang berdetak konstan mengeluarkan getaran ultrasonik rendah guna menahan mahakarya raksasanya agar tidak kembali mengamuk.

​
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 388: Cukur Bulu

    ​Pukul 08.15 pagi, Jumat, 9 Oktober 2026. Suasana di dalam istana RM Jagoan Rasa perlahan-lahan mulai kembali kondusif setelah badai kepanikan akibat blunder nasi goreng petai berlumur ekstrak Jamu Rawa Lele generasi keempat berhasil diredam. Madun, sang penguasa Menteng, kini duduk tegap di sebuah kursi kayu kokoh di tengah ruang belakang, mengenakan cangcut baja pusaka yang berdetak konstan mengeluarkan getaran ultrasonik rendah guna menahan mahakarya raksasanya agar tidak kembali mengamuk.​Namun, ada satu masalah baru yang langsung disadari oleh Vanesha begitu ia mendekati suaminya dengan membawa peralatan cukur lengkap berupa gunting tajam stenlis, pisau cukur lipat tradisional, dan sebaskom air hangat bercampur sabun mandi harum lavender.​Akibat ledakan mutasi jamu maut yang terjadi beberapa menit lalu, pertumbuhan folikel rambut dan bulu di sekujur tubuh Madun—terutama di sekitar kawasan strategis bawah—mengalami percepatan abnormal hingga ribuan persen dalam hitungan detik. H

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 387: Penyelamatan Mahakarya

    ​Pukul 07.30 pagi, Jumat, 9 Oktober 2026. Situasi di dalam dapur istana RM Jagoan Rasa telah berubah menjadi zona merah darurat biologis. Akibat blunder fatal Vanesha yang tidak sengaja menuangkan satu botol penuh Jamu Spesial Ki Rawa Lele generasi keempat ke dalam wajan nasi goreng petai, Madun kini berdiri terhuyung-huyung dengan transformasi fisik yang benar-benar di luar nalar manusia.​Otot-otot sekujur tubuhnya mengembang masif, merobek sisa-sisa kain kaos putih hingga berserakan di lantai. Namun, krisis utama bukan terletak pada lengan atau dadanya, melainkan pada senjata rahasia sang jagoan Menteng yang berada di balik celana training hitamnya.​Karena dosis tinggi jamu pekat tersebut tertelan tanpa sisa dalam satu porsi penuh, mahakarya legendaris itu melesat membesar secara eksplosif. Ukurannya kini telah menembus rekor mutasi tertinggi: panjangnya hampir menyamai tinggi lutut orang dewasa, dengan lingkar luar biasa selebar paha manusia normal. Denyutan energinya bergemuruh

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 386: Jamu Rawa Lele yang Tertukar Botol Kecap

    ​Pukul 07.15 pagi, Jumat, 9 Oktober 2026. Matahari pagi bulan Oktober bersinar cerah menyinari kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Suasana di dalam istana RM Jagoan Rasa seharusnya dimulai dengan rutinitas pagi yang tenang, damai, dan penuh kehangatan domestik seperti hari-hari sebelumnya. Namun, sebuah kecerobohan kecil yang tak disangka-sangka seketika mengubah jalan cerita pagi ini menjadi sebuah kekacauan lucu nan menegangkan.​Pagi itu, Vanesha bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan spesial berupa nasi goreng petai kesukaan suaminya. Dengan mengenakan daster rumahan bercorak bunga kuning, ia bergerak lincah di dapur utama. Di meja kayu dekat kompor, berjejer rapi berbagai botol bumbu cair: botol kecap manis, botol saus tiram, botol minyak wijen, dan—ini dia sumber masalahnya—sebuah botol kaca bening sisa Jamu Spesial Ki Rawa Lele generasi keempat yang pekat, berwarna hitam kecokelatan, yang kemarin malam lupa disingkirkan ke dalam lemari khusus.​Karena warnanya yang sama-sama hi

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 385: Hangatnya Sambal Terasi

    ​Pukul 19.30 malam, Kamis, 8 Oktober 2026. Lampu-lampu gantung antik di ruang makan utama istana RM Jagoan Rasa memancarkan cahaya kuning temaram yang menciptakan atmosfer hangat di dalam ruangan. Di luar, hiruk-pikuk lalu lintas kawasan Menteng perlahan mereda, digantikan oleh keheningan malam yang menenangkan.​Di dapur utama, Vanesha mengenakan apron katun berwarna cokelat muda, sibuk menyelesaikan masakan makan malam istimewa mereka. Di atas piring saji keramik putih, tersaji nasi hangat, potongan ayam goreng rempah kecoklatan, lalapan mentimun segar, kemangi hijau, serta semangkuk kecil sambal terasi ulek buatan tangan yang memancarkan aroma harum terasi bakar dan cabai rawit merah yang menggugah selera.​Madun berdiri di belakang istrinya, melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang Vanesha dari belakang, lalu meletakkan dagunya di atas bahu sang permaisuri.​"Hmm... harum banget sambal terasi buatan Ratu Menteng malam ini," bisik Madun dengan suara baritonnya yang berat, dal

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 384: Riuh Rendah Cinta di Antara Karung Bumbu

    ​Pukul 14.15 siang, Kamis, 8 Oktober 2026. Terik matahari ibu kota membakar aspal kawasan Menteng dengan cukup menyengat, namun suasana di dalam pasar tradisional utama tempat Madun dan Vanesha biasa berbelanja justru terasa sangat hidup, riuh, dan dipenuhi warna-warni kehidupan rakyat kecil.​Setelah jam operasional makan siang di RM Jagoan Rasa selesai dan seluruh pelanggan berangsur-angsur meninggalkan kedai, pasangan suami istri ini menepati janji mereka. Ditemani oleh Pak Udin, seorang tukang becak langganan setia yang mengenakan topi oranye pudar, Madun dan Vanesha berjalan berdampingan memasuki lorong-lorong pasar yang padat.​Vanesha mengenakan baju kaos lengan panjang berwarna biru muda dipadu celana kain longgar dan payung kecil untuk melindungi kepalanya dari terik matahari. Di sampingnya, Madun berjalan dengan gagah perkasa, mengenakan kemeja flanel kotak-kotak yang lengannya digulung sampai siku, memancarkan aura preman pasar malam yang sangat disegani namun kini bertrans

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 383: Lembaran Baru yang Damai dan Penuh Berkah

    ​Pukul 06.30 pagi, Kamis, 8 Oktober 2026. Udara pagi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, terasa sangat sejuk dan menyegarkan. Sinar matahari pagi bulan Oktober menembus sela-sela dedaunan pohon mangga di halaman depan RM Jagoan Rasa, menciptakan bayangan keemasan yang menari-nari di atas lantai teras yang bersih.​Suasana di dalam kamar utama istana kuliner tersebut sangat tenang dan damai. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya yang sering diwarnai oleh gejolak gempuran beringas dan formula mutasi jamu rawa lele, malam tadi benar-benar dilewati oleh Madun dan Vanesha dalam istirahat total yang berkualitas. Tidak ada derit ranjang, tidak ada erangan kenikmatan; yang ada hanyalah pelukan hangat dan napas teratur dua insan yang saling mencintai.​Vanesha terbangun lebih dulu. Ia membuka matanya perlahan, menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang lembut. Kepalanya masih bersandar nyaman di atas dada bidang suaminya. Ia mendongak, menatap wajah Madun yang tampak sangat tenang dan berwibawa

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status