登入Malam semakin larut, dan perjalanan menuju ruko masih tersisa beberapa kilometer lagi. Madun dan Nabila, yang kini masih berbalut karung beras Cap Lele yang mulai mengering namun meninggalkan aroma apek yang menusuk hidung, berjalan tertatih-tatih di bawah sinar bulan yang tertutup awan mendung.Kemenangan mutlak atas Ki Jaka Galing dan pasukan semut rangrang sakti tadi sore sempat membuat ego Madun melambung tinggi. Namun, realitas fisik mulai memberikan tagihan yang tidak bisa dihindari. Kelelahan luar biasa, rasa lapar yang menusuk, dan gesekan konstan antara karung plastik kasar dengan kulit tubuh mulai mencapai titik nadirnya."Om... jujur ya, aku udah nggak sanggup lagi," keluh Nabila. Suaranya serak, matanya sayu. Ia berhenti melangkah, napasnya tersengal. "Kaki aku udah mati rasa. Dan karung beras ini... duh, rasanya kayak kulit aku bener-bener mau rontok semua."Madun berhenti, berbalik menatap kekasihnya. Ia ingin memasang wajah tangguh seperti biasanya, namun otot-otot
Semburat senja berwarna jingga keemasan perlahan-lahan meredup di balik rimbunnya rumpun pohon bambu di tepi sungai. Udara sore yang dingin langsung menusuk tulang setelah basah kuyup akibat aksi terjun bebas dari jembatan bambu untuk menghindari amukan Pak Karto.Madun dan Nabila terbaring lemas di atas rumput basah. Karung beras Cap Lele yang melekat erat di tubuh mereka kini berubah fungsi menjadi semacam "selimut basah" yang kaku dan berat.Mengingat betapa konyolnya perjalanan hidup mereka dalam dua hari terakhir—mulai dari kabur dari teror Wewe Gombel, mengenakan pakaian kulit kayu yang bikin gatal setengah mati, disangka orang gila dan diteriaki Tarzan jadi-jadian, hingga berujung mengenakan karung beras dan melompat ke sungai—pertahanan kewarasan mereka akhirnya benar-benar jebol.Nabila yang awalnya berusaha menahan diri tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu meledakkan tawa yang begitu kencang hingga suaranya melengking tinggi."Hahahahaha! Aduh, perut aku
Siang bolong di bawah teriknya matahari lereng bukit semakin menyiksa dua buronan amatir yang bersembunyi di balik tumpukan jerami. Madun dan Nabila masih terengah-engah, berusaha mengatur napas setelah aksi pelarian konyol yang membuat mereka dicap sebagai orang gila oleh warga kampung sebelah.Kondisi mereka saat ini benar-benar jauh dari kata terhormat. Madun dengan cawat kulit kayu kayunya yang sudah compang-camping dan dipenuhi remah-remah jerami, sementara Nabila duduk meringkuk dengan gaun serat pohon yang compang-camping, menggaruk-garuk lengannya yang gatal akibat alergi getah kayu."Duh, Om... Perut aku keroncongan banget. Udah badan gatal-gatal, dikejar warga, sekarang rasanya mau pingsan kelaparan," keluh Nabila memelas, menyandarkan kepalanya di bahu bidang Madun.Madun menoleh, menatap sekeliling dengan mata tajam seorang jagoan desa yang sedang memutar otak di tengah situasi darurat. "Tenang, Ratu. Selama Madun masih hidup, kamu nggak bakal kelaparan. Tunggu sebenta
Kabut tipis sisa pagi tadi masih menyelimuti dahan-dahan pohon besar di pinggiran hutan lindung kaki Gunung Rinjani. Suasana yang tadinya sunyi mendadak terusik oleh suara langkah kaki tergesa-gesa yang menginjak ranting-ranting kering. Di balik semak-semak belukar yang lebat, muncullah sosok Madun—sang jagoan desa—bersama Nabila, kekasih setianya.Namun, penampilan mereka saat ini sungguh jauh dari kata normal. Akibat insiden pelarian maut dari teror Wewe Gombel sehari sebelumnya, seluruh pakaian utama mereka robek hancur berkeping-keping dan tersangkut di duri-duri semak belukar. Demi menutupi rasa malu dan menjaga aurat di alam terbuka, Madun terpaksa menggunakan keahlian bertahan hidup tingkat tinggi ala manusia purba.Dengan menggunakan pisau lipat kecil di saku celananya, Madun dengan telaten menguliti kulit kayu pohon, lalu merangkainya sedemikian rupa menjadi pakaian darurat. Nabila dibuatkan sebuah terusan pendek dari serat kulit pohon yang lemas, sementara Madun sendiri m
Sinar mentari pagi yang tadinya hangat perlahan-lahan tertutup oleh kabut tebal yang turun dengan cepat dari puncak bukit. Suasana di sekitar tepi Danau Rinjani yang semalam menjadi saksi bisu kemping romantis Madun dan Nabila mendadak berubah menjadi mencekam. Angin pegunungan berhembus kencang, membawa aroma bunga kantil busuk dan kemenyan tua yang menusuk hidung.Di dalam tenda dome yang hangat, Madun dan Nabila masih terlelap dalam pelukan erat setelah semalaman penuh merayakan cinta. Namun, ketenangan itu sekadar ilusi sesaat.Kriek... Bruk!Suara ranting patah yang sangat keras terdengar tepat di luar tenda. Disusul oleh suara napas berat, serak, dan lolongan tawa melengking yang mengerikan."Hihihi... Hihihi... Pengen... Aku pengen ikutan genjotan juga..." suara perempuan tua melengking terdengar menggema di udara, membuat bulu kuduk berdiri seketika.Nabila terbangun dengan mata terbelalak kaget. Ia langsung merinding hebat mendengar suara itu. "O-Om! Suara apa itu?! Ser
Semburat senja berwarna jingga keemasan perlahan-lahan turun di balik barisan pohon pinus yang mengelilingi tepian Danau Rinjani. Udara sore di pegunungan terasa begitu sejuk, membawa aroma basah dedaunan dan tanah khas alam liar yang menenangkan. Di dekat bibir air yang tenang, sebuah tenda dome berukuran sedang telah berdiri kokoh dengan lampu-lampu kecil bergaya aesthetic yang menghiasi bagian depannya.Madun—sang jagoan desa—tampak sibuk merakit dua buah joran pancing di atas kursi lipat portabel. Di sampingnya, Nabila duduk di atas tikar piknik berbalut jaket tebal rajut berwarna krem, memeluk kedua lututnya sambil menikmati pemandangan air danau yang memantulkan langit petang yang mulai temaram.Perjalanan panjang mendaki bukit menggunakan motor trail sore tadi akhirnya terbayar lunas. Ini adalah rencana liburan spesial yang disusun Madun khusus untuk merayakan hubungan mereka jauh dari kebisingan desa dan ruko kecil yang sempit."Udah siap belum, Ratu?" panggil Madun dengan
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep
"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj
"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o







