Share

BAB 2

Penulis: Inspirasi Kopi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-03 00:12:10

Bayangan pemakaman kemarin diingat Joko. Aroma tanah basah, isak tangis Joko yang tertahan, dan tatapan kasihan para tetangga berkelebat seperti mimpi buruk. Kini yang tersisa hanyalah hening yang memekakkan.

Joko terus melangkah dengan cangkul di bahunya. Setiap sapaan ramah dan anggukan hormat yang diterimanya dari warga desa membuatnya semakin paranoid. Ia berjalan menunduk, pandangannya terkunci pada sandal jepitnya yang usang, berharap bisa mencapai rumah Pak Rahmat secepatnya tanpa harus berinteraksi dengan siapa pun.

Saat ia membelok di tikungan menuju jalan utama, ia harus melewati saung bambu yang sialan itu. Saung yang dua hari lalu menjadi saksi bisu kehancuran harga dirinya. Jantungnya mencelos, detak itu kembali terasa seperti gendang perang yang panik. Ia mempercepat langkah, ingin melintas secepat kilat.

Namun, takdir punya rencana lain.

Tepat di saung itu, Lestari, ditemani Dina dan Susi, sedang asyik berbincang sambil menikmati es teh. Lestari, seperti biasa, tampak memukau dengan pakaian modisnya yang kontras dengan suasana desa.

Joko mencoba berjalan seolah ia adalah bayangan, berharap tatapan mata Lestari akan selamanya buta terhadap keberadaannya. Tapi kali ini, ia salah.

"Hei! Berhenti!"

Suara itu. Suara nyaring yang menusuk telinga dan hati Joko, suara yang dua hari lalu ia dengar meledak dalam tawa sinis. Joko mengeras, cangkul di bahunya terasa membeku. Ia tidak mau menoleh. Ia hanya ingin pergi.

"Joko! Aku bilang berhenti!" Suara Lestari kini lebih tegas, ada nada aneh yang terselip di dalamnya—bukan lagi nada merendahkan, melainkan... kebingungan?

Joko menarik napas, perlahan, ia menghentikan langkahnya yang hampir mencapai batas aman. Ia menolehkan kepalanya sedikit, cukup untuk melihat Lestari.

Lestari, Susi, dan Dina menatapnya. Raut wajah Dina dan Susi masih sama: sinis, siap mengejek. Tapi Lestari? Mata gadis itu... membelalak sedikit. Ada kerutan samar di keningnya yang mulus, seolah ia sedang melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada.

"Mau apa?" tanya Joko, suaranya datar, tanpa emosi, sebuah lapisan es tipis menyelimuti suaranya yang biasanya parau.

Lestari bangkit dari duduknya, langkahnya maju beberapa kali. Ia mendekat, matanya tidak lepas dari Joko.

"Kamu... mau ke mana?" tanya Lestari, suaranya sedikit bergetar.

Joko menatapnya lekat. Ia merasakan gelombang kebencian dan rasa sakit yang mencoba bangkit dari perutnya, tapi anehnya, perasaan itu terasa jauh, seolah ada dinding transparan yang memisahkannya dari emosi-emosi tersebut.

"Bukan urusanmu," jawab Joko, lebih singkat dan lebih tajam dari yang ia duga.

Lestari tersentak. Dina dan Susi saling pandang, terkejut.

"Joko, kok kamu ngomong begitu?" sela Dina, setengah mencibir, setengah bingung. "Mestinya kamu senang Lestari menyapamu!"

Joko menggeser pandangannya dari Lestari ke Dina, tatapannya kosong, namun entah mengapa terasa mematikan.

"Memangnya kenapa kalau dia menyapaku? Apa ada undang-undang yang mengharuskan aku merasa senang hanya karena seorang 'Langit' menyapa 'Tanah' sepertiku?" tanya Joko, mengulang kata-kata yang Lestari ucapkan dua hari lalu dengan intonasi yang persis sama, namun tanpa sedikit pun emosi. Itu terdengar seperti pernyataan fakta yang dingin, bukan sindiran.

Wajah Lestari seketika memerah, bukan karena marah, tapi karena malu yang datang tiba-tiba.

"Joko, tunggu! Dengarkan aku!" seru Lestari, mengambil langkah lain mendekat. Ia kini berdiri hanya berjarak satu meter di depannya.

Joko meletakkan cangkulnya ke tanah, berdecak. "Ada apa? Aku sedang terburu-buru. Aku harus mengambil upahku dari Pak Rahmat, dan aku tidak punya waktu untuk drama konyolmu ini."

Ucapan itu membuat Lestari semakin bingung. Ia menatap wajah Joko, dan di sana, ia menemukan sesuatu yang asing dan menarik perhatiannya secara paksa. Mata Joko yang biasanya memancarkan kerendahan diri, kini memancarkan ketenangan yang aneh, seperti danau yang sangat dalam dan gelap. Ada semacam aura yang membungkusnya, tipis, tak terlihat, namun terasa menekan. Itu adalah perasaan yang membuat Lestari, yang selalu merasa unggul, tiba-tiba merasa... kecil.

Kenapa... kenapa dia terlihat... berbeda sekali? batin Lestari, jantungnya mulai berdebar kencang tanpa alasan jelas.

"Joko... aku..." Lestari berusaha mencari kata-kata, tapi suaranya tercekat. "Aku cuma mau bertanya... mau ke mana kamu bawa cangkul sepagi ini?"

Joko mengangkat satu alisnya, ekspresi yang tidak pernah Lestari lihat di wajahnya. Itu adalah ekspresi meremehkan yang halus.

"Sungguh? Kamu menghentikan langkahku hanya untuk menanyakan hal se-'penting' itu?" tanya Joko. Ia membungkuk, meraih gagang cangkulnya. "Sudah kubilang, ke rumah Pak Rahmat. Untuk mengambil upah kerjaanku yang sudah selesai."

"Upah?" tanya Lestari, nada suaranya berubah menjadi khawatir. "Kenapa kamu harus capek-capek mencangkul? Bukannya kamu... kamu bisa cari kerja yang lebih baik?"

"Lebih baik?" Joko tertawa hambar, bukan tawa mengejek, tapi tawa kepahitan. "Menurutmu pekerjaan apa yang 'lebih baik' untuk lulusan SMP tanpa koneksi, tanpa modal, dan tinggal di gubuk reot bersama Kakek yang..." Ia berhenti sejenak, menelan gumpalan pahit di tenggorokannya. "...yang kini sudah tiada?"

Raut wajah Lestari berubah menjadi iba yang tulus. "Kakekmu... meninggal?"

"Ya," jawab Joko singkat, dingin. "Dua hari lalu. Tepat setelah kamu dan teman-temanmu selesai membuang sampah lisanmu di hadapanku."

Pernyataan itu telak menghantam Lestari. Wajahnya pucat pasi. Ia menoleh sekilas ke Dina dan Susi yang kini menunduk, tidak berani angkat bicara.

"Joko, a-aku minta maaf..." ucap Lestari, suaranya benar-benar terbata dan tulus. "Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu soal Kakekmu."

"Tidak perlu," potong Joko. "Permintaan maafmu tidak akan mengembalikan harga diriku yang kamu injak-injak, atau mengembalikan Kakekku. Sejak kapan 'Langit' merasa perlu meminta maaf pada 'Tanah'?"

"Tolong, jangan ulangi kata-kata itu..." pinta Lestari, matanya berkaca-kaca. "Aku... aku sangat menyesal. Aku minta maaf soal perkataanku kemarin. Itu... itu semua omong kosong. Aku tidak bermaksud serius."

"Tidak bermaksud serius?" Joko mencondongkan tubuhnya sedikit, tatapan matanya semakin intens, seolah-olah ia menelanjangi jiwa Lestari. "Tapi perkataanmu dua hari yang lalu sangat serius bagiku. Begitu serius sampai membuatku sadar bahwa kasta yang kamu sebutkan itu memang ada. Dan aku, 'Tanah', tidak berhak berada di dekat 'Langit' sepertimu."

Lestari kini meneteskan air mata. Ia tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Biasanya, ia akan marah jika ada yang menolaknya, apalagi Joko. Tapi melihat mata dingin dan ketenangan yang mematikan itu, ia hanya merasakan sakit di dada dan keinginan yang sangat kuat untuk mengembalikan Joko yang lama—Joko yang memujanya, yang menganggapnya sebagai ratu.

"Joko, kumohon! Jangan bicara seperti itu! Aku benar-benar menyesal. Apa yang harus kulakukan agar kamu memaafkanku?" Lestari melangkah maju lagi, tanpa sadar tangannya terulur hendak menyentuh lengan Joko.

Joko mundur selangkah, menghindar dari sentuhan Lestari.

"Tidak ada," ujar Joko, suaranya kembali datar. "Aku tidak butuh maafmu. Aku hanya butuh ruang. Ruang untuk menjauh dari desa ini, dari kenangan buruk, dan terutama, darimu."

"Pergi?" Lestari terkejut. "Kamu mau pergi ke mana?"

"Aku tidak tahu. Jauh. Jakarta, mungkin. Atau ke mana pun yang tidak mengenal nama 'Joko, si Bunga Kuburan'," jawab Joko, senyum tipis, namun mematikan, terukir di bibirnya.

Lestari semakin panik. Rasa panik itu diselingi oleh kebingungan yang membuncah setiap kali ia menatap mata Joko. Ada daya tarik aneh, magnet tak kasat mata yang tiba-tiba muncul dari diri pemuda ini.

"Tunggu dulu! Jangan pergi!" Lestari mencekal pergelangan tangan Joko, kali ini ia tidak membiarkan Joko menghindar. Sentuhan itu terasa mengejutkan bagi keduanya.

Saat tangan Lestari menyentuh kulit Joko, gelombang energi halus Keris Semar Mesem yang tertanam di bawah lapisan kesadaran Joko seolah berdenyut. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pembalasan Sang Dokter Jenius   BAB 204

    Langkah kaki Joko terasa berat, seolah ia sedang menyeret seluruh beban dosa dunia di pundaknya. Napasnya menderu kasar, memecah keheningan malam yang mencekam. Di punggungnya, tubuh kaku Ki Banyu terkulai, lengan-lengan panjang pria itu berayun-ayun tak bernyawa mengikuti irama langkah Joko, sesekali menyentuh semak belukar yang mereka lewati.Joko menghindari jalan raya. Ia menyusup melewati pagar pembatas yang rusak, masuk ke dalam area lahan kosong bekas sengketa yang luas, tempat yang sama di mana ia bertemu bayangan Eyang Giri Sewu dalam visi sebelumnya. Namun kali ini, ini bukan visi. Ini nyata. Darah yang merembes membasahi punggung kemejanya adalah darah asli. Bau amis yang menusuk hidungnya adalah bau kematian yang sesungguhnya.Area itu gelap gulita, hanya diterangi oleh sisa-sisa cahaya bulan yang mengintip dari balik awan mendung. Ilalang setinggi dada manusia tumbuh liar, menyembunyikan pergerakan Joko dari mata dunia luar. Suara serangga malam terdengar nyaring, seolah

  • Pembalasan Sang Dokter Jenius   Bab 203

    Kekuatan pukulan Joko begitu besar hingga dada Ki Banyu amblas ke dalam. Tulang rusuknya patah, menusuk paru-paru dan jantungnya seketika.Hempasan tenaga dalam itu kemudian meledak, melemparkan tubuh Ki Banyu ke belakang seperti layang-layang putus.BUM!Tubuh Ki Banyu terbang melintasi jalan raya, menghantam batang pohon besar di seberang jalan dengan suara gedebuk yang keras, lalu jatuh merosot ke tanah. Ia tidak bergerak lagi. Punggungnya tersandar di pohon, kepalanya terkulai miring dengan sudut yang tidak wajar.Seketika itu juga, kabut putih yang menyelimuti jalanan lenyap.Seperti tirai yang ditarik paksa, ilusi air itu menguap menjadi udara kosong. Pemandangan jalan raya malam hari kembali terlihat jelas. Lampu jalan kembali bersinar kuning. Suara jangkrik kembali terdengar.Joko berdiri mematung di tengah jalan. Tangan kanannya masih terulur ke depan dalam posisi memukul. Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun dengan cepat. Keringat dingin bercampur dengan cipratan darah

  • Pembalasan Sang Dokter Jenius   BAB 202

    Kabut putih itu bukan sekadar uap air. Itu adalah penjara hidup.Joko terbatuk-batuk hebat, tangannya mencengkeram lehernya sendiri. Udara di sekitarnya terasa lengket dan basah, setiap kali ia menarik napas, rasanya seperti menghirup air laut yang asin dan pekat. Paru-parunya terasa terbakar, memohon oksigen yang semakin menipis. Pandangannya benar-benar buta. Putih. Hanya putih sejauh mata memandang, diselingi oleh bayangan-bayangan hitam yang meliuk-liuk seperti belut raksasa di sekelilingnya.“Sia-sia, Nak,” suara Ki Banyu terdengar bergema dari segala arah, memantul-mantul di dalam dinding kabut, membuatnya mustahil untuk dilacak. “Kau mungkin punya tenaga dalam yang besar, kau mungkin punya kulit yang keras, tapi bisakah kau bertarung melawan udara yang kau hirup?”Sreeet!Sebuah sabetan air yang tajam tiba-tiba muncul dari samping kanan. Joko terlambat menghindar. Bahu kirinya tergores, kain kemejanya robek, dan darah segar merembes keluar. Lukanya terasa perih luar biasa, seol

  • Pembalasan Sang Dokter Jenius   BAB 201

    Joko masuk ke dalam mode fokus penuh. Dunia di sekelilingnya melambat. Ia melihat lintasan pukulan api itu. Ia menepis pukulan ke arah wajah dengan telapak tangan, mengelak pukulan ke rusuk dengan memutar pinggang, dan menahan pukulan ke perut dengan lututnya.Tak! Buk! Plak!Suara adu fisik terdengar cepat dan ritmis. Mereka bertukar serangan dengan kecepatan tinggi di tengah jalan yang sunyi. Setiap kali kulit mereka bersentuhan, terjadi letupan kecil antara energi emas dan api merah.Joko mulai merasakan pola serangan Ki Agni. Kuat, eksplosif, tapi… emosional. Terlalu mengandalkan amarah.“Dia petarung kasar,” bisik Khodam. “Dia boros tenaga. Jangan adu kekuatan, bocah. Gunakan kelincahanmu. Matikan apinya dari sumbernya.”‘Sumbernya?’ tanya Joko dalam hati sambil menunduk menghindari sabetan tangan Ki Agni yang nyaris membakar rambutnya.“Pusat napasnya! Ulu hati! Di situlah dia mengumpulkan panasnya!”Joko mengerti.Saat Ki Agni menarik tangannya ke belakang untuk melancarkan puk

  • Pembalasan Sang Dokter Jenius   BAB 200

    Sebuah dinding cahaya transparan berwarna keemasan muncul seketika di depan pagar.BOOM!Bola api itu menghantam dinding cahaya Joko. Ledakan terjadi, namun tertahan. Api merah dan cahaya emas beradu, menciptakan percikan bunga api yang menyilaukan di tengah malam buta. Suara ledakannya cukup keras, namun teredam oleh perisai energi itu.Joko merasakan panas yang luar biasa menyengat telapak tangannya. Kakinya terdorong mundur beberapa senti, menggerus tanah halaman. Serangan ini kuat. Jauh lebih kuat dari serangan preman manapun.Di seberang jalan, Ki Agni tampak terkejut namun juga senang. “Oh? Lumayan juga. Kau bisa menahannya. Tapi sampai kapan?”Ki Agni mengangkat tangan kirinya juga. Bola api kedua mulai terbentuk di udara, kali ini lebih besar, lebih panas.Joko mengertakkan gigi. Ia tidak bisa terus bertahan di sini. Ledakan tadi pasti sudah membangunkan beberapa orang. Jika bola kedua itu dilepaskan, ia tidak yakin bisa menahannya tanpa menimbulkan kerusakan pada bangunan di

  • Pembalasan Sang Dokter Jenius   BAB 199

    Lampu kamar mandi yang remang-remang menjadi satu-satunya penerangan di kamar nomor 13. Joko menarik selimut tipisnya sebatas dada, membiarkan tubuhnya yang remuk redam tenggelam dalam keheningan. Matanya terasa berat, kelopak matanya bergetar pelan, siap untuk menyerah pada dunia mimpi. Ia sudah melakukan segalanya hari ini. Bekerja, bertarung, menyelamatkan orang, bahkan menghadapi godaan ibu kos. Ia pantas mendapatkan istirahat.Namun, tepat saat kesadarannya berada di ambang batas antara terjaga dan terlelap, sebuah sensasi asing menyentaknya.ZING!Bukan suara. Bukan sentuhan. Melainkan sebuah getaran tajam yang menusuk langsung ke dalam ulu hatinya. Rasanya seperti ada jarum es yang ditancapkan ke dadanya, menembus kulit, daging, dan langsung menyentuh pusaka yang tergantung di sana.Joko tersentak hebat. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang gelap. Jantungnya yang tadinya melambat kini kembali memacu cepat.Pusaka Semar Mesem di dadanya bereaksi instan. Benda

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status