LOGINLestari merasakan sengatan aneh, seperti aliran listrik yang sangat lemah, menjalar dari pergelangan tangan Joko ke seluruh tubuhnya. Jantungnya berdebar kencang hingga terasa sakit. Kepalanya pusing, dan tiba-tiba, yang ia lihat hanyalah Joko.
Dia... dia sangat tampan. Kenapa aku baru menyadari matanya begitu dalam? Pikiran aneh itu muncul begitu saja di benak Lestari, membuatnya merona.
Joko sendiri merasakan sentuhan itu sebagai gangguan yang menjengkelkan. Ia menatap Lestari dengan tatapan yang nyaris mengintimidasi.
"Lepaskan aku, Lestari. Aku tidak suka disentuh," kata Joko, nadanya kini mengandung peringatan.
Lestari tersentak, cepat-cepat ia melepaskan tangannya, terkejut pada dirinya sendiri.
"Maaf, Joko. Maafkan aku," Lestari menunduk, meremas tangannya sendiri. "Aku... aku tidak mengerti kenapa. Tapi aku... aku tidak mau kamu pergi. Setidaknya, jangan sekarang. Aku mohon. Bisakah... bisakah kamu tinggal sehari lagi? Aku mau bicara banyak hal padamu."
Joko menatap Lestari, kemudian melirik Dina dan Susi yang berdiri seperti patung, terdiam oleh interaksi yang sangat tidak masuk akal ini.
"Kamu ingin bicara? Tentang apa? Tentang kasta? Tentang gajiku yang tidak sebanding dengan uang jajanmu?" tanya Joko, sekali lagi, mengulang kata-kata Lestari.
"Bukan! Bukan soal itu! Soal... soal..." Lestari mengangkat kepalanya, matanya dipenuhi kejujuran dan kepanikan. "Soal kita. Soal... mungkin aku salah nilai. Mungkin kamu memang pria yang baik. Aku... aku hanya ingin tahu kenapa kamu tiba-tiba berubah. Kamu... kamu berbeda, Joko."
Joko mendengus. "Kamu yang berubah, Lestari. Dua hari lalu aku adalah 'Sampah', sekarang aku tiba-tiba 'Berbeda'? Aku hanya Joko yang sama, hanya saja aku tidak lagi menganggapmu sebagai 'Langit'. Aku sudah sadar. Dan kesadaran itu lebih penting daripada bicara apa pun denganmu."
Joko kembali meraih cangkulnya.
"Aku harus pergi. Jangan ganggu aku lagi. Kamu dan aku, kita tidak punya apa-apa untuk dibicarakan."
Joko mulai melangkah pergi.
"JOKO! TUNGGU!" teriak Lestari. Ia berlari mengejar dan kini berdiri menghalangi jalan Joko. Air matanya sudah mengalir deras. Ia terlihat benar-benar putus asa.
"Apa lagi, Lestari?!" kesabaran Joko mulai menipis.
"Aku akan membantumu!" seru Lestari. "Aku akan bantu kamu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik! Aku punya kenalan di kota! Aku akan biayai kamu untuk sekolah paket C! Asal... asal kamu tidak pergi!"
Tawaran itu, bagi Joko yang lama, adalah sebuah keajaiban yang tak terbayangkan. Tapi bagi Joko yang sekarang, yang di dalam dadanya bersemayam Keris Semar Mesem yang dingin, tawaran itu terasa seperti... penghinaan lain.
"Kamu mau membantuku? Agar apa? Agar kamu bisa merasa sebagai 'dermawan'?" Tatapan Joko sangat menusuk. "Aku tidak butuh bantuanmu, Lestari. Aku akan mencari jalan hidupku sendiri. Dan kamu tidak ada di dalamnya."
Lestari menggigit bibir bawahnya, air mata bercampur dengan ingus, merusak citra cantiknya.
"Tapi... tapi aku suka kamu, Joko!"
Kata-kata itu terucap, spontan, tanpa kontrol. Lestari sendiri terkejut mendengarnya. Dina dan Susi di belakang mereka, yang dari tadi hanya diam, kini membelalakkan mata lebar-lebar.
Joko terdiam. Ia menatap Lestari, dan sebuah ironi yang begitu pahit menjalar di hatinya.
"Kamu suka aku?" Joko tersenyum, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Dua hari lalu, kamu membakar habis perasaanku. Kamu bilang cintaku tidak bisa membelikanmu skincare dan kuota internet. Sekarang, setelah aku tidak peduli, kamu bilang suka?"
"Aku tidak tahu kenapa!" Lestari berteriak putus asa. "Aku... aku merasakan sesuatu yang aneh sejak kamu muncul. Kamu... kamu seperti punya magnet! Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu! Aku bingung! Aku benci diriku yang tiba-tiba peduli padamu, tapi aku tidak bisa mengendalikan perasaanku!"
Joko menatapnya lama, tanpa ekspresi.
"Lestari," kata Joko, suaranya pelan, namun berat. "Itu bukan cinta. Itu hanya ketidaknyamanan. Kamu tidak terbiasa dengan pria yang tidak memujamu. Kamu tidak terbiasa dengan penolakan. Kamu hanya sedang bingung karena ego-mu terusik."
Joko mengangkat cangkulnya lagi.
"Aku akan pergi ke rumah Pak Rahmat. Aku akan tinggalkan desa ini hari ini juga. Dan jika takdir mempertemukan kita lagi, aku berharap kamu sudah menjadi Lestari yang 'Langit' sejati, yang tidak perlu repot-repot menengok 'Tanah' sepertiku."
Joko melangkah ke samping, melewati Lestari, dan melanjutkan perjalanannya tanpa menoleh sedikit pun.
Lestari tetap berdiri di tengah jalan, terisak, hancur. Bukan oleh penolakan, tapi oleh kebingungan yang mencekik dan perasaan baru yang menembus pertahanan egonya.
Dina dan Susi menghampirinya.
"Tari, kamu gila? Kamu baru saja bilang suka sama Joko si gembel itu?!" tanya Dina, tercengang.
Lestari tidak menjawab. Ia hanya terus menatap punggung Joko yang semakin menjauh. Punggung itu, yang dua hari lalu terlihat kurus dan menyedihkan, kini terasa tegak, kuat, dan... memikat.
"Ada apa dengan Joko?" bisik Susi, menatap Lestari. "Kenapa dia tiba-tiba... seperti orang lain? Aku juga tadi merasa agak takut menatap matanya."
Lestari menoleh ke teman-temannya, matanya yang basah dipenuhi tekad yang tidak masuk akal.
"Aku tidak tahu," jawab Lestari, suaranya serak. "Tapi aku akan cari tahu. Aku akan ke rumahnya. Aku akan minta maaf lagi. Aku... aku tidak bisa membiarkan dia pergi. Ada sesuatu dalam dirinya yang aku butuhkan, dan aku akan mendapatkannya!"
Lestari berbalik, ia mulai berlari kencang, tidak ke saung, tapi ke arah yang berlawanan dari Joko.
"Tari! Mau ke mana?" teriak Dina.
"Ke rumah Joko! Dia tidak akan pergi secepat itu! Aku harus bicara dengannya lagi!" balas Lestari tanpa menoleh, tekadnya kini menggantikan keangkuhan.
Langkah kaki Joko terasa berat, seolah ia sedang menyeret seluruh beban dosa dunia di pundaknya. Napasnya menderu kasar, memecah keheningan malam yang mencekam. Di punggungnya, tubuh kaku Ki Banyu terkulai, lengan-lengan panjang pria itu berayun-ayun tak bernyawa mengikuti irama langkah Joko, sesekali menyentuh semak belukar yang mereka lewati.Joko menghindari jalan raya. Ia menyusup melewati pagar pembatas yang rusak, masuk ke dalam area lahan kosong bekas sengketa yang luas, tempat yang sama di mana ia bertemu bayangan Eyang Giri Sewu dalam visi sebelumnya. Namun kali ini, ini bukan visi. Ini nyata. Darah yang merembes membasahi punggung kemejanya adalah darah asli. Bau amis yang menusuk hidungnya adalah bau kematian yang sesungguhnya.Area itu gelap gulita, hanya diterangi oleh sisa-sisa cahaya bulan yang mengintip dari balik awan mendung. Ilalang setinggi dada manusia tumbuh liar, menyembunyikan pergerakan Joko dari mata dunia luar. Suara serangga malam terdengar nyaring, seolah
Kekuatan pukulan Joko begitu besar hingga dada Ki Banyu amblas ke dalam. Tulang rusuknya patah, menusuk paru-paru dan jantungnya seketika.Hempasan tenaga dalam itu kemudian meledak, melemparkan tubuh Ki Banyu ke belakang seperti layang-layang putus.BUM!Tubuh Ki Banyu terbang melintasi jalan raya, menghantam batang pohon besar di seberang jalan dengan suara gedebuk yang keras, lalu jatuh merosot ke tanah. Ia tidak bergerak lagi. Punggungnya tersandar di pohon, kepalanya terkulai miring dengan sudut yang tidak wajar.Seketika itu juga, kabut putih yang menyelimuti jalanan lenyap.Seperti tirai yang ditarik paksa, ilusi air itu menguap menjadi udara kosong. Pemandangan jalan raya malam hari kembali terlihat jelas. Lampu jalan kembali bersinar kuning. Suara jangkrik kembali terdengar.Joko berdiri mematung di tengah jalan. Tangan kanannya masih terulur ke depan dalam posisi memukul. Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun dengan cepat. Keringat dingin bercampur dengan cipratan darah
Kabut putih itu bukan sekadar uap air. Itu adalah penjara hidup.Joko terbatuk-batuk hebat, tangannya mencengkeram lehernya sendiri. Udara di sekitarnya terasa lengket dan basah, setiap kali ia menarik napas, rasanya seperti menghirup air laut yang asin dan pekat. Paru-parunya terasa terbakar, memohon oksigen yang semakin menipis. Pandangannya benar-benar buta. Putih. Hanya putih sejauh mata memandang, diselingi oleh bayangan-bayangan hitam yang meliuk-liuk seperti belut raksasa di sekelilingnya.“Sia-sia, Nak,” suara Ki Banyu terdengar bergema dari segala arah, memantul-mantul di dalam dinding kabut, membuatnya mustahil untuk dilacak. “Kau mungkin punya tenaga dalam yang besar, kau mungkin punya kulit yang keras, tapi bisakah kau bertarung melawan udara yang kau hirup?”Sreeet!Sebuah sabetan air yang tajam tiba-tiba muncul dari samping kanan. Joko terlambat menghindar. Bahu kirinya tergores, kain kemejanya robek, dan darah segar merembes keluar. Lukanya terasa perih luar biasa, seol
Joko masuk ke dalam mode fokus penuh. Dunia di sekelilingnya melambat. Ia melihat lintasan pukulan api itu. Ia menepis pukulan ke arah wajah dengan telapak tangan, mengelak pukulan ke rusuk dengan memutar pinggang, dan menahan pukulan ke perut dengan lututnya.Tak! Buk! Plak!Suara adu fisik terdengar cepat dan ritmis. Mereka bertukar serangan dengan kecepatan tinggi di tengah jalan yang sunyi. Setiap kali kulit mereka bersentuhan, terjadi letupan kecil antara energi emas dan api merah.Joko mulai merasakan pola serangan Ki Agni. Kuat, eksplosif, tapi… emosional. Terlalu mengandalkan amarah.“Dia petarung kasar,” bisik Khodam. “Dia boros tenaga. Jangan adu kekuatan, bocah. Gunakan kelincahanmu. Matikan apinya dari sumbernya.”‘Sumbernya?’ tanya Joko dalam hati sambil menunduk menghindari sabetan tangan Ki Agni yang nyaris membakar rambutnya.“Pusat napasnya! Ulu hati! Di situlah dia mengumpulkan panasnya!”Joko mengerti.Saat Ki Agni menarik tangannya ke belakang untuk melancarkan puk
Sebuah dinding cahaya transparan berwarna keemasan muncul seketika di depan pagar.BOOM!Bola api itu menghantam dinding cahaya Joko. Ledakan terjadi, namun tertahan. Api merah dan cahaya emas beradu, menciptakan percikan bunga api yang menyilaukan di tengah malam buta. Suara ledakannya cukup keras, namun teredam oleh perisai energi itu.Joko merasakan panas yang luar biasa menyengat telapak tangannya. Kakinya terdorong mundur beberapa senti, menggerus tanah halaman. Serangan ini kuat. Jauh lebih kuat dari serangan preman manapun.Di seberang jalan, Ki Agni tampak terkejut namun juga senang. “Oh? Lumayan juga. Kau bisa menahannya. Tapi sampai kapan?”Ki Agni mengangkat tangan kirinya juga. Bola api kedua mulai terbentuk di udara, kali ini lebih besar, lebih panas.Joko mengertakkan gigi. Ia tidak bisa terus bertahan di sini. Ledakan tadi pasti sudah membangunkan beberapa orang. Jika bola kedua itu dilepaskan, ia tidak yakin bisa menahannya tanpa menimbulkan kerusakan pada bangunan di
Lampu kamar mandi yang remang-remang menjadi satu-satunya penerangan di kamar nomor 13. Joko menarik selimut tipisnya sebatas dada, membiarkan tubuhnya yang remuk redam tenggelam dalam keheningan. Matanya terasa berat, kelopak matanya bergetar pelan, siap untuk menyerah pada dunia mimpi. Ia sudah melakukan segalanya hari ini. Bekerja, bertarung, menyelamatkan orang, bahkan menghadapi godaan ibu kos. Ia pantas mendapatkan istirahat.Namun, tepat saat kesadarannya berada di ambang batas antara terjaga dan terlelap, sebuah sensasi asing menyentaknya.ZING!Bukan suara. Bukan sentuhan. Melainkan sebuah getaran tajam yang menusuk langsung ke dalam ulu hatinya. Rasanya seperti ada jarum es yang ditancapkan ke dadanya, menembus kulit, daging, dan langsung menyentuh pusaka yang tergantung di sana.Joko tersentak hebat. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang gelap. Jantungnya yang tadinya melambat kini kembali memacu cepat.Pusaka Semar Mesem di dadanya bereaksi instan. Benda







