INICIAR SESIÓN
Langkah kaki Indira bergema kencang, dengan napasnya terengah-engah, serta peluh dingin yang mulai membasahi pelipis.
Tubuhnya terasa begitu berat. Efek dari keputusan impulsifnya semalam—terbangun hingga pukul empat pagi demi mengejar deadline revisi proposal kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Jika bukan karena tanggung jawabnya sebagai anggota divisi acara, Dira pasti sudah memilih meringkuk di bawah selimut.
"Indira!"
Suara berat seorang pria terdengar memanggil namanya dari arah belakang. Dira mendadak menghentikan langkah, berbalik cepat, dan mendapati sosok yang paling ingin ia hindari pagi ini.
Dirga. Ketua BEM bertangan dingin yang terkenal tak kenal kompromi. Pria itu berjalan mendekat dengan aura penuh dominasi seperti biasanya, membawa map tebal di tangan kiri.
Dira berusaha mengulas senyum tipis, menutupi rasa lelah yang menggerogoti fisiknya. "Pagi, Kak Dir—"
"Mana proposalnya? Aman?" potong Dirga cepat, tanpa basa-basi.
Dira mengepalkan kedua tangannya erat di sisi tubuh. Kata 'proposal' seketika memicu kedutan mengesalkan di pelipisnya. Rasa frustrasi menjalar cepat, tetapi ia berusaha keras menjaga profesionalitasnya.
Dira mengangguk tipis, menguraikan senyum formalis. "Aman, Kak. Nanti aku kirim via—"
"Kita rapat sebentar untuk bahas proposal lo. Gue tunggu di tempat biasa," potong Dirga lagi, sama sekali tidak memberi ruang bagi Dira untuk menyelesaikan kalimatnya.
Jantung Dira rasanya merosot. Pikirannya melayang pada jadwal perkuliahan hari ini. Ia mematung sejenak, menghitung estimasi waktu. Sangat riskan.
"Eh... Maaf, Kak. Tapi aku ada kelas jam sebelas. Bagaimana kalau—"
"Jam sebelas, kan?" sela Dirga untuk ketiga kalinya. Pria itu melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sekarang masih jam sepuluh. Masih sempat."
Tanpa menunggu persetujuan atau tanggapan lebih lanjut, Dirga berbalik arah dan melangkah pergi begitu saja. Pria itu meninggalkannya di tengah koridor tanpa penyesalan.
Dira menghela napas gusar, mengusap wajahnya kasar. Menolak perintah Dirga sama saja dengan mencari masalah besar di organisasi. Dengan langkah berat dan terpaksa, Dira memutar arah, mengekor dari jarak jauh menuju ruang sekretariat BEM tempat mereka biasa berkumpul.
Namun, baru berjalan beberapa meter menyusuri selasar dekat taman fakultas, sebuah tarikan lembut namun tegas menahan ujung kemejanya dari belakang.
"Bunda!"
Dira mendadak menghentikan langkah. Ia berbalik refleks dan menunduk.
Di sana, tepat di belakangnya, berdiri seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar tiga atau empat tahun. Anak itu mengenakan kemeja kotak-kotak mungil dan celana denim. Mata bulatnya yang besar menatap Dira lurus-lurus, bening dan berbinar layaknya mata boneka kayu.
"Siapa?" gumam Dira bingung.
Anak kecil itu mendadak tersenyum sangat lebar hingga memamerkan deretan gigi susunya yang rapi.
"Bunda!" panggilnya sekali lagi, suaranya cempreng namun terdengar begitu yakin.
Dira refleks menoleh ke kanan dan ke kiri. Koridor taman saat itu cukup lengang, hanya ada beberapa mahasiswa yang melintas jauh di sudut lain. Ia memastikan apakah mungkin ada ibu dari anak ini yang berdiri di dekatnya. Namun, tidak ada siapa-siapa. Anak ini sendirian.
Dira mendesah pelan. Ia berlutut, menyejajarkan tingginya dengan bocah tersebut.
"Halo, Sayang. Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Dira seramah mungkin.
Anak kecil itu mendongak anggun, lalu menjawab dengan antusias. "Dapa ikut Papa iting!"
Dira mengerutkan dahi, mencoba mencerna ucapan polos tersebut. "Iting?"
Dapa mengangguk-angguk cepat dengan gemas. Pipi bulatnya yang kemerahan tampak bergetar membalas setiap gerakan kepalanya.
"Iting itu, Papa ketemu sama banyak olang, mejanya besal. Dapa seling diajak Papa."
Dira mengangguk-angguk tipis, meski ada keraguan di benaknya. Ooh... Meeting? batinnya memahami keterbatasan artikulasi anak di hadapannya.
Dira terkekeh pelan, rasa muak dan stres akibat intimidasi 'proposal' dari Dirga seketika terangkat begitu saja saat melihat kelucuan bocah ini.
"Nama kamu Dapa, ya?" tanya Dira lembut.
Anak itu tiba-tiba menggeleng cepat, wajahnya memasang ekspresi tak setuju. "Dapa, Bunda! D - A - P - A!"
Dira kembali terkekeh geli. Kepolosannya sungguh menghibur. "Daffa? Kamu gak bisa ngomong F, ya?"
Melihat bibir mungil Daffa yang memanyun siap melayangkan protes, Dira bergegas berdiri kembali. Ia tidak boleh berlama-lama, anak sekecil ini tidak boleh berkeliaran sendirian di area kampus yang luas. Ia harus mengembalikan bocah ini ke orang tuanya.
Dira memperhatikan sekeliling taman kampus dengan lebih teliti sambil berkata, "Kita harus menemui bundamu, Sayang. Kamu gak boleh sendirian di sini."
Belum sempat Dira melangkah, kedua lengan kecil Daffa mendadak melingkar erat di paha Dira. Bocah itu memeluk kakinya dengan manja, menyandarkan pipinya yang tebal di kain celananya.
"Dapa kan ada Bunda! Kangen Bunda!"
Dira mengerutkan keningnya, kebingungan mulai menjalar di kepalanya. Sejak awal bertemu, anak ini terus saja memanggilnya dengan sebutan 'Bunda'.
Dira mengulurkan tangan, mengelus rambut halus bocah itu dengan lembut. "Aku? Kamu pasti salah mengenali orang. Aku bantu cari bunda kamu, ya."
Daffa menggeleng keras dalam pelukannya. Ia melepaskan pelukan, mendongak, dan menatap Dira. Kali ini, sepasang mata bulat itu mulai digenangi air mata yang siap tumpah.
"Enggak! Enggak! Ini Bunda!" jeritnya serak, menolak tuduhan Dira.
Senyum yang semula mengembang di wajah Dira perlahan memudar, berganti menjadi raut kaku. Pikirannya buntu. Apa? Anak ini benar-benar menganggapku sebagai ibunya?
Dira memegang kepalanya yang mulai terasa pusing. Pacar saja ia tidak punya sejak memasuki jenjang perkuliahan, bagaimana mungkin ia mendadak memiliki anak berusia tiga tahun? Ini sama sekali tidak masuk akal.
Di tengah kepanikan dan kebingungan Dira yang berusaha menenangkan Daffa, dari balik deretan pepohonan taman, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat dengan cepat.
Suara bariton seorang pria dewasa yang dipenuhi nada cemas membuatnya menoleh.
"Daffa?"
Pagi harinya Dira sudah bangun pagi-pagi sekali atau dengan kata lain gadis itu tidak tidur selama semalaman, sehabis pembicaraan dengan Azka di meja makan, laki-laki itu langsung menyuruh Dira untuk masuk ke dalam kamarnya.Namun, kenyataannya saat sudah berada didalam kamar dan berbaring di kasur empuk, matanya tidak kunjung tertutup juga. Jadi, Dira memutuskan untuk bermain ponsel lalu saat waktunya subuh gadis itu langsung pergi ke kamar mandi, untuk menyelesaikan kewajibannya.Dan setelah semuanya selesai, di sinilah dia sekarang, di dapur bersama asisten rumah tangga Azka. Sebenarnya mereka semua menolak saat Dira akan membantu, mereka takut jika tuan mereka akan marah.Azka tidak pernah membawa pulang perempuan kedalam rumah ini, kecuali ibu dan kakak perempuannya. Namun, dengan tiba-tiba saja Azka langsung membawa pulang Dira bahkan mengizinkan untuk menginap di sini. Gadis itu pasti cukup spesial untuk Azka.Namun, Dira dengan segala kekeras kepalaannya memaksa mereka untuk m
Perjalanan menuju ke rumah Azka hanya diisi keheningan, karena baik Azka mau pun Dira sepertinya tidak berniat untuk membuka suara setelah kejadian tadi. Dira sibuk berpikir setelah malam ini, kemana dia harus pergi sedangkan Azka kembali berpikir ucapan yang keluar dari mulutnya tadi.Sebenarnya Azka bisa saja membayar tunai melebihi orang yang baru saja mengambil alih kamar kos Dira tadi, namun entah kenapa otaknya berpikir alangkah baiknya membawa Dira untuk ke rumahnya.Sesampainya di rumah Azka, Dira masih saja asik dengan lamunannya. Azka yang melihatnya menghela napas lelah, kini mobil yang dikendarai oleh Azka telah berhenti di depan pintu masuk rumahnya.Melihat gadis disampingnya ini membuat rasa iba Azka keluar seketika, gadis ini sedari tadi tidak mengeluarkan reaksi yang sewajarnya saat kehilangan tempat tinggal seperti orang pada umumnya.Dira tidak menangis ataupun memohon agar tetap diberi izin untuk tinggal, malah gadis itu menerimanya dengan pasrah, dan yang lebih ti
Akhirnya mobil yang dikendarai Azka telah berhenti di depan sebuah rumah, dengan pagar yang terbuat dari kayu jati. Azka menekan klakson di mobilnya beberapa kali. Lalu, pagar itu dibuka oleh seorang laki-laki yang Dira perkirakan adalah seorang satpam, karena mereka berpakaian serba hitam.Azka pun melajukan mobilnya untuk memasuki rumahnya. Dira benar-benar dibuat terkesima oleh halaman depan rumah Azka. Indah sekali. Jalan setapak dikelilingi pohon kanan dan kiri. Lalu saat masuk semakin dalam, Dira melihat sebuah taman kecil dengan satu buah gazebo yang dikelilingi kolam. Nyaman sekali pasti jika bisa bersantai di situ.Mobil yang Dira tumpangi berhenti tepat di depan sebuah pintu yang besar. Mungkin saja itu pintu utamanya. Azka keluar dari mobil diikuti Dira setelahnya. Dan di sana sudah ada sekitar empat orang yang sedang menunggu mereka dengan menundukkan kepalanya.Azka berhenti di depan mereka kemudian berkata. “Tolong parkirkan mobil saya.” tentu saja perintah Azka langsung
Azka telah sampai di alamat tempat kerja Dira, yang dia dapat dari hasil pencarian Bambang tadi. Sekarang masih jam lima sore. Tapi, Azka memutuskan untuk pulang kantor terlebih dahulu. Dia harus mencari Dira untuk Daffa. Anaknya itu sudah terlanjur di manja saat masih kecil. Jadi, sampai sekarang pun hal itu tidak bisa dia hindarkan dari Daffa.Toko baju ini lumayan besar. Dan setahu Azka, toko ini cukup terkenal di Malang. Jadi, mana mungkin dia mengelilingi toko tiga lantai ini, hanya untuk mencari keberadaan Dira? Bisa-bisa sampai jam enam nanti, dia baru menemukan keberadaan gadis itu.Azka turun setelah memarkirkan mobilnya di basemant toko ini. Langkahnya menuntun Azka sampai di lantai satu. Dia memperhatikan sekelilingnya dengan saksama. Menurut informasi dari Bambang. Dira bekerja sebagai kasir di bagian kosmetik di lantai satu.Jadi, saat dia telah berdiri di bagian kosmetik, tidak sulit menemukan sosok Dira yang sedang bekerja di tempatnya. Gadis itu cantik. Entah mengapa A
Part 2Kisah Indira “Maaf. Bapak, Papanya Daffa?” tanya Dira sopan.“Iya, saya Papanya Daffa,” jawab pria itu setelah menguasai keterkejutannya.“Tadi Daffa sendirian, jadi saya bantu cari orang tuanya. Maaf bikin Bapak khawatir.”Pria itu menggeleng pelan. “Nggak apa-apa. Saya yang harus terima kasih. Maaf kalau Daffa merepotkan.”“Sama sekali enggak, Pak. Daffa lucu kok.” Dira tersenyum manis.Azka terpaku sejenak menatap senyuman itu. Ia berdeham pelan untuk menguasai diri, lalu mengulurkan tangan.“Saya Azka. Azka Nugraha.”Dira tersontak terkejut. “Pak Azka? Pemilik Nugraha Company yang mau beri sambutan di Fakultas Ekonomi?”Azka terkekeh melihat kepolosan gadis di hadapannya. “Iya, saya Azka. Kamu kenapa?”“Ganteng banget,” ceplos Dira tanpa sadar. Wajahnya seketika memerah padam, membuat Azka kembali tertawa pelan. “Eh, maaf, Pak! Maksud saya— aduh, bingung jelasinnya.”“Santai saja. Kamu belum sebutkan nama kamu,” ucap Azka tenang.“Saya Indira, Pak. Senang bisa ketemu Bapak
Part 1Bunda!Langkah kaki Indira bergema kencang, dengan napasnya terengah-engah, serta peluh dingin yang mulai membasahi pelipis.Tubuhnya terasa begitu berat. Efek dari keputusan impulsifnya semalam—terbangun hingga pukul empat pagi demi mengejar deadline revisi proposal kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).Jika bukan karena tanggung jawabnya sebagai anggota divisi acara, Dira pasti sudah memilih meringkuk di bawah selimut."Indira!"Suara berat seorang pria terdengar memanggil namanya dari arah belakang. Dira mendadak menghentikan langkah, berbalik cepat, dan mendapati sosok yang paling ingin ia hindari pagi ini.Dirga. Ketua BEM bertangan dingin yang terkenal tak kenal kompromi. Pria itu berjalan mendekat dengan aura penuh dominasi seperti biasanya, membawa map tebal di tangan kiri.Dira berusaha mengulas senyum tipis, menutupi rasa lelah yang menggerogoti fisiknya. "Pagi, Kak Dir—""Mana proposalnya? Aman?" potong Dirga cepat, tanpa basa-basi.Dira mengepalkan kedua tangann







