Share

Bab 3

Author: Rizcaca21
last update publish date: 2026-06-29 18:27:32

Azka telah sampai di alamat tempat kerja Dira, yang dia dapat dari hasil pencarian Bambang tadi. Sekarang masih jam lima sore. Tapi, Azka memutuskan untuk pulang kantor terlebih dahulu. Dia harus mencari Dira untuk Daffa. Anaknya itu sudah terlanjur di manja saat masih kecil. Jadi, sampai sekarang pun hal itu tidak bisa dia hindarkan dari Daffa.

Toko baju ini lumayan besar. Dan setahu Azka, toko ini cukup terkenal di Malang. Jadi, mana mungkin dia mengelilingi toko tiga lantai ini, hanya untuk mencari keberadaan Dira? Bisa-bisa sampai jam enam nanti, dia baru menemukan keberadaan gadis itu.

Azka turun setelah memarkirkan mobilnya di basemant toko ini. Langkahnya menuntun Azka sampai di lantai satu. Dia memperhatikan sekelilingnya dengan saksama. Menurut informasi dari Bambang. Dira bekerja sebagai kasir di bagian kosmetik di lantai satu.

Jadi, saat dia telah berdiri di bagian kosmetik, tidak sulit menemukan sosok Dira yang sedang bekerja di tempatnya. Gadis itu cantik. Entah mengapa Azka merasa enggan untuk berpaling, jika sudah melihat wajah gadis itu meski mereka baru saja bertemu pagi tadi. Azka berjalan ke arah Dira yang kebetulan sedang tidak melayani pelanggan.

 “Indira,” panggil Azka yang langsung membuat Dira menoleh ke arah suara yang memanggilnya tadi.

Matanya membulat sempurna melihat siapa yang barusan memanggilnya itu.

“Pak Azka!” serunya dengan kagetnya dan langsung menghampiri Azka yang berdiri tidak jauh dari dirinya.

“Bapak ngapain di sini? Eh, maksud saya, Pak Azka lagi belanja sama istrinya?”

Azka yang mendengar itu terdiam di tempatnya. Dia memandang heran gadis di depannya ini. Apakah gadis itu tidak mengetahui jika dirinya sudah tidak memiliki istri?

“Bukan. Saya ke sini ada perlu sama kamu.”

“Kenapa, Pak?” tanya Dira cepat.

“Daffa cari kamu terus. Dia sampai nggak mau makan dan terus nangis karena nggak ketemu sama kamu.” Jelas Azka jujur.

“Terus, Pak?” tanya Dira bingung.

Jika memang Daffa menangis, harusnya Azka dan istrinya yang membujuk. Ini kenapa Azka malah menghampiri dirinya?

“Saya minta kamu untuk ke rumah saya. Bertemu dengan Daffa.”

Kini Indira benar-benar dibuat terbengong di tempatnya. Yang benar saja. Bukannya dia tidak mau menolong Azka dan bertemu anak imut seperti Daffa. Tapi, dia masih harus bekerja setelah ini.

“Maaf, Pak. Bukannya saya menolak, tapi setelah ini, saya masih harus kerja sampai malam,” jawab Dira.

“Sebentar saja, hanya agar Daffa mau makan dan berhenti menangis.” Azka bahkan lupa kapan terakhir kali dirinya memohon seperti ini. Mungkin saja sekitar tiga tahun yang lalu, saat mantan istrinya meminta untuk berpisah.

“Tapi, Pak, saya masih ada jam kerja sampai jam enam nanti. Kalau pun saya bisa menolong Pak Azka, itu pun waktu saya nggak banyak, Pak.”

“Tidak apa-apa. Yang penting Daffa bisa melihat kamu.”

Dira terlihat berpikir lebih dulu. Menimang baik buruknya jika dirinya menyanggupi permintaan Azka.

“Ya sudah Pak, saya mau. Tapi, kalau Pak Azka nggak keberatan, saya harus menyelesaikan pekerjaan saya dulu.”

“Saya tunggu. Sekarang sudah jam setengah enam. Waktu kerja kamu tinggal tiga puluh menit lagi, kan?” tanya Azka memastikan yang hanya dijawab anggukkan kepala oleh Dira.

“Supaya lebih gampang untuk berkomunikasi, kamu bisa tuliskan nomor kamu di ponsel saya.” Azka berucap sambil memberikan ponsel canggih miliknya.

Dira menerima itu dengan tangan yang cukup berkeringat. Dirinya belum pernah menyentuh ponsel mahal seperti ini. Bahkan ponselnya saja hanya bisa dibuat untuk berkirim SMS dan telepone.

Selama ini, Dira tidak mementingkan hal-hal semacam itu. Dari pada membeli ponsel baru yang lebih canggih, lebih baik tabungannya dia belikan notebook bekas yang lebih dibutuhkan dari sekadar ponsel.

Selama beberapa detik, Dira hanya memandangi benda persegi panjang di tangannya ini. Dia mencari menu telepone untuk memasukkan nomornya. Tapi, dia tidak tahu di mana letaknya menu itu di ponsel canggih ini.

“Dira,” panggil Azka karena melihat Dira tak kunjung mengisikan nomor ponselnya. Malah kini Dira memandangi ponsel miliknya sampai seperti itu.

“Iya, Pak?”

“Kamu lupa nomor ponselmu?” tanya Azka.

“Enggak kok, Pak,” jawab Dira sambil menggelengkan kepalanya.

“Terus kenapa?”

“Saya nggak tau di mana harus menulis nomor ponsel saya,” jawabnya pelan dengan kepala menunduk malu.

Sementara Azka terbengong di tempatnya. Di zaman yang seperti ini, apakah benar masih ada gadis seperti Dira? Lalu, selama ini untuk berkomunikasi. Gadis itu memakai ponsel seperti apa?

“Coba sini ponsel saya.”

Dira pun menyerahkan kembali ponsel Azka dan Azka segera saja mencari menu telepon, lalu memberikan kembali kepada Dira.

Dira menerimanya dengan senyum mengembang di wajahnya. Mengetikkan nomor ponselnya di sana, sebelum mengembalikan ponsel canggih itu kepada Azka.

“Ya sudah, kamu lanjut kerja. Nanti saya kabari kamu lagi.”

Dira menganggukkan kepalanya dan berjalan kembali ke arah kasir tempat dia bekerja.

Azka pun juga berjalan ke arah pintu keluar. Menyeberangi jalan untuk minum kopi di sebuah kedai kopi di depan toko baju ini.

Setelah menunggu selama kurang lebih setengah jam. Akhirnya Azka mengirim pesan kepada Dira, jika dirinya sudah menunggu di kedai kopi depan toko baju tempat Dira bekerja.

Tidak beberapa lama setelah itu. Azka melihat sosok Dira yang keluar dari toko baju dan sedang menyeberang jalan ke arah kedai kopi ini. Gadis itu tampak cantik di mata Azka. Hari ini Dira mengenakan celana jeans berwarna biru dan kaos polos berwarna putih.

Sederhana memang. Namun, entah kenapa kesederhanaan itu yang tidak pernah Azka dapatkan dari perempuan yang selama ini di sekelilingnya.

Dira masuk kedalam kedai, lalu saat melihat sosok Azka yang duduk di samping jendela. Dira melangkahkan kakinya ke meja tempat Azka duduk.

“Pesan minum dulu aja. Saya traktir.” Azka berucap ketika Dira baru saja mendudukkan pantatnya di kursi di depan Azka.

“Terima kasih, Pak. Tapi, saya nggak haus.” Dira menolak secara halus dengan senyuman sopannya.

“Saya tahu kamu haus. Bekerja selama lima jam sambil berdiri terus, pasti capek. Pesan! Ini perintah bukan permintaan,” ucap Azka sedikit memaksa.

“Kamu pesan dibawa pulang aja. Saya mau ambil mobil dulu. Ini uangnya.” Azka kembali berucap. Namun, kali ini dengan menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan di depan Dira.

Sebelum Dira menjawab, Azka sudah terlebih dahulu beranjak dari duduknya untuk mengambil mobilnya, yang tadi dia parkir di basemant toko baju itu.

Dira yang melihat itu mendengus kesal. “Dasar orang kaya! Nggak jauh dari kata pemaksa,” gumamnya sendiri sebelum memesan minuman untuknya.

Lagi pula, ini kan gratis. Dira tidak bisa membeli minuman di sini sesering mungkin, karena harganya yang cukup mahal untuknya. Harga satu gelas minuman di sini bisa setara dengan satu kali uang makan Dira beserta minumnya. Setelah selesai dengan pesanannya, Dira pun berjalan ke arah pintu keluar karena Azka sudah berada di sana dengan mobil mewahnya.

“Masuk, Ra,” suruh Azka pada Dira yang langsung diangguki oleh gadis itu.

“Rumah Bapak jauh?” tanya Dira pada Azka, setelah beberapa saat hanya hening yang tercipta di dalam mobil itu.

“Lumayan kalau dari tempat kerja kamu. Kamu udah lama kerja di sana?”

“Lumayan, Pak. Udah hampir setahun kalau nggak salah,” jawab Dira sambil meminum minumannya.

“Enak banget.” Dira berucap tanpa sadar setelah cairan itu tertelan tenggorokannya. Dira memandang minuman yang dia pegang dengan kagum.

Sementara Azka yang melihat itu diam-diam tersenyum kecil. Itu kan hanya sebuah minuman. Tapi, reaksi gadis itu sungguh membuat Azka gemas. Benar-benar seperti anak kecil.

“Eh, maaf, Pak. Mulut saya emang nggak bisa dikontrol kalau ketemu minuman atau makanan enak.”

“Tidak apa-apa. Daffa juga sering bereaksi seperti kamu,” jawab Azka singkat sambil tetap fokus menyetir dan menghadap ke arah jalanan di depan.

Sementara Dira yang mendengar itu melongo di tempatnya. Dia disamakan dengan anak kecil seusia Daffa? Yang benar saja. Untung saja Azka yang membelikannya minum. Jadi, Dira tidak jadi marah. Seolah teringat sesuatu, Dira langsung saja mengeluarkan uang dari dalam tas yang berada di pangkuannya,

“Ini Pak, kembaliannya.”

“Buat kamu aja.”

“HA? Serius ini, Pak? Ini masih ada separuhnya loh.”

“Iya, buat kamu aja,” jawab Azka setelah menatap gadis di sampingnya itu dengan pandangan geli.

“Karena Bapak bilang gitu, ya sudah saya terima. Makasih ya, Pak.” Dira berucap sambil tersenyum.

“Oh iya, ini, Bapak mau?” tanya Dira sambil mengarahkan minumannya ke arah bibir Azka. Azka yang diperlakukan seperti itu termenung di tempatnya.

Belum pernah ada yang menawarinya minum satu gelas seperti itu. Tapi, Dira menawarkan minum seolah-olah dia ini teman akrab gadis itu.

“Ayo Pak cobain. Ini enak, kok. Bapak kan yang beliin saya, jadi harus cobain juga.” Dira tetap pada pendiriannya. Malah sekarang gadis itu menggoyang-goyangkan minuman di tangannya.

“Tidak usah, saya-“ Azka belum menyelesaikan ucapannya. Tapi, gadis itu malah memasukkan sedotan ke dalam mulut Azka, yang membuat laki-laki itu melotot kaget dan langsung menoleh ke arah samping.

“Minum, Pak.” Dira berucap sambil menolehkan kembali wajah Azka ke arah depan. Bisa bahaya kalau sampai tabrakan.

Dengan ragu, akhirnya Azka meminum minuman yang sama dengan Dira. Satu sedotan yang sama.

“Enak kan, Pak?” tanya Dira sambil tersenyum dan kembali meminum minuman itu lewat sedotan yang sama.

Azka yang melihat itu benar-benar termenung di tempatnya. Dia meminum minuman satu sedotan dengan orang lain? Yang benar saja. Jika Bambang tahu, bisa habis dirinya diejek karena perilakunya yang seperti anak ABG.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 40

    Azka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, bersyukurlah Azka karena jalanan masih cukup sepi, karena memang masih pagi, jika tidak, sudah dipastikan Azka menerima umpatan dari para pengendara di jalanan.Setelah memarkirkan mobilnya dengan asal di depan tempat kos Dira, Azka segera turun dari mobilnya dan berjalan setengah berlari ke arah kamar gadis itu, lalu menggedor pintunya dengan keras.“Ra, buka pintunya, Daffa di rumah sakit!”“Dira! Kamu didalam, kan?”“Ra, buka pintunya! Daffa cariin kamu dari semalam, buka pintunya, Ra!”Mungkin karena kegaduhan yang Azka perbuat, penghuni kamar kos di sebelah kamar Dira mulai membuka pintu kamarnya.“Pak Azka, ya?”Merasa namanya dipanggil, Azka menolehkan kepalanya kepada gadis yang Azka perkirakan usianya sama dengan Dira.“Iya, kenapa?”“Sebentar-” gadis itu kembali masuk ke dalam kamarnya dan tidak berapa lama kemudian, gadis itu keluar dengan membawa kunci.“Ini kunci kamarnya Dira, disuruh kasih ke Pak Azka.” Azka

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 39

    Sepanjang perjalanan, hanya diam yang mengisi keheningan didalam mobil yang ditumpangi oleh Azka dan Dira. Dira memalingkan wajahnya ke arah jendela disampingnya, enggan melihat ke arah Azka. Sementara Azka sedari tadi ingin mengajak Dira bicara, namun Azka menahannya karena merasa jika suasana saat ini kurang pas.Sesampainya di depan tempat kos Dira, gadis itu baru saja akan keluar dari mobil Azka, namun pria itu menghentikannya.“Kita perlu bicara.”Dira menghela napas sebelum memilih tetap duduk didalam mobil Azka.“Mas sekarang udah bicara,” ucapnya dengan pelan.“Aku minta maaf, Ra, aku tau sikapku akhir-akhir ini sangat kekanak-kanakan, aku nggak bisa bersikap dewasa menghadapi semuanya. Aku, aku salah Ra, aku minta maaf.” raut wajah frustrasi tidak bisa Azka sembunyikan lagi, kentara sekali jika pria itu sedang cemas saat ini.Dira menghadap Azka lalu gadis itu tersenyum seperti biasa.“Aku maafin, Mas.”Seharusnya Azka senang mendengar jawaban yang Dira berikan, namun kenyata

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 38

    Keadaan Azka tidak jauh berbeda dengan Dira, pria itu menjadi terkena insomnia. Azka terlalu memaksakan tubuhnya untuk bekerja, tidak tidur tepat wakku dan menjadi jarang menemani Daffa bermain, untung saja ada mama dan neneknya yang menemani Daffa.Azka memikirkan hubungannya dengan Dira yang menjadi semakin jauh ini. Sejujurnya Azka tidak menyukai ini, namun, dia juga benar-benar masih bimbang. Azka mengaku jika dirinya bersalah telah membohongi Dira waktu itu, bahkan sampai sekarang.Namun, tidak bisakah Dira memberinya waktu, bukan malah menjauh seperti ini. Azka memang hanya perlu waktu untuk berpikir, tentang Claris dan Dira. Dua perempuan itu berputar-putar di kepalanya hingga membuat kepalanya hampir pecah.*Beberapa jam sebelum pesta, di kantor AzkaBambang masuk ke dalam ruangan Azka tanpa permisi. Laki-laki itu duduk di sofa yang ruangan Azka. “Nanti malam, lo ada undangan ulang tahun perusahaan.”“Gue malas datang, lo aja.”“Kita berdua berangkat, lo perlu datang buat men

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 37

    Karena memang acara bakti sosial akan dilaksanakan hari sabtu besok, maka, kini Ratu dan Dira sedang berada di pasar untuk membeli perlengkapan yang akan mereka butuhkan di sana nanti.Sedari tadi Ratu tidak berhenti mendumel, gadis itu menyalahkan Dira yang terlalu patuh dengan perintah Dirga. Ratu sudah mengatakan jika mereka lebih baik belanja di supermarket saja, tapi Dira menolak dengan tegas.Dan di sinilah mereka sekarang, setelah hampir dua jam mengelilingi pasar yang membuat kaki Ratu terasa hampir copot. Dira mengajak Ratu minum es cincau di tempat parkir pasar, tidak jauh dari mobil Ratu berada.“Lo gimana sama Pak Azka?” sebenarnya Ratu sudah ingin bertanya ini dari dulu, namun gadis itu mencari momen yang tepat.“Nanti kalau gue cerita sama lo, lo bakal bilang lagi sama anak-anak.” Dira tertawa di akhir kalimatnya.“Itu-kan karena gue keceplosan, soalnya si Dirga mancing-mancing terus.”Dira hanya tersenyum mendengarnya.“Ra, sebenarnya gue pengen tanya sesuatu sama lo. T

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 36

    Azka pulang ke rumah sekitar pukul delapan malam, di saat semua orang di rumahnya sudah selesai melakukan makan malam. Azka memasuki rumahnya dengan langkah cepat, dia masih belum bisa bertemu dengan Dira.Namun, seruan dari sang ibu dari ruang tamu, membuat Azka menghentikan langkahnya dan berjalan menghampiri ibunya yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Ibunya tidak sendiri, ada Dira dan neneknya, entahlah, tapi Azka merasa sesuatu akan terjadi setelah ini.“Kamu tumben pulang telat?”“Kantor lagi banyak kerjaan Ma, ada apa?” Azka bertanya sambil duduk di sofa tunggal tidak jauh dari ibunya.“Mama udah ke pikiran ini sejak beberapa hari yang lalu sebenarnya, Mama juga udah minta saran sama Papa, dan Papa kamu setuju. Jadi, Mama pikir nggak ada alasan lagi buat kamu menolak keinginan Mama ini.”“Tentang apa, Ma?”“Mama rasa kamu dan Dira harus tinggal di rumah yang berbeda, sebelum pernikahan kalian dilaksanakan.” sontak saja kalimat yang ibunya lontarkan, membuat Azka membulatkan ma

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 35

    Dira kembali ke rumah Azka sekitar pukul tujuh malam, diantar oleh Oki. Bisa di bilang ini waktu terlama, biasanya gadis itu pulang ke rumah Azka tidak selama ini. Jika memang terlambat, gadis itu pasti akan mengatakannya kepada Azka.Dira memasuki rumah Azka dengan langkah pelan, gadis itu baru saja melangkahkan kakinya ke ruang tamu dan sapaan ketus langsung terdengar di telinga Dira.“Dari mana kamu?!”Dira menolehkan kepalanya ke asal suara tersebut, dan dia menemukan Azka yang tengah berdiri dan menatapnya marah.“Aku dari kampus,” jawab Dira pelan.“Dari kampus dan pulang jam segini?!” Azka tertawa sinis kemudian.“Kamu pikir aku nggak tau kalau jadwal kuliah kamu hari ini siang? Dan kamu berangkat dari pagi sampai pulang malam kayak gini. Kamu nggak mikir gimana Daffa nyari bundanya terus, kamu nggak mikirin gimana mama sama nenek yang repot diamin Daffa? Kamu malah enak-enakkan keluyuran nggak jelas dan pulang diantar laki-laki lain!” Dira menghela napasnya pelan.“Aku nggak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status