Compartir

Bab 4

Autor: Rizcaca21
last update Fecha de publicación: 2026-06-29 18:28:11

Akhirnya mobil yang dikendarai Azka telah berhenti di depan sebuah rumah, dengan pagar yang terbuat dari kayu jati. Azka menekan klakson di mobilnya beberapa kali. Lalu, pagar itu dibuka oleh seorang laki-laki yang Dira perkirakan adalah seorang satpam, karena mereka berpakaian serba hitam.

Azka pun melajukan mobilnya untuk memasuki rumahnya. Dira benar-benar dibuat terkesima oleh halaman depan rumah Azka. Indah sekali. Jalan setapak dikelilingi pohon kanan dan kiri. Lalu saat masuk semakin dalam, Dira melihat sebuah taman kecil dengan satu buah gazebo yang dikelilingi kolam. Nyaman sekali pasti jika bisa bersantai di situ.

Mobil yang Dira tumpangi berhenti tepat di depan sebuah pintu yang besar. Mungkin saja itu pintu utamanya. Azka keluar dari mobil diikuti Dira setelahnya. Dan di sana sudah ada sekitar empat orang yang sedang menunggu mereka dengan menundukkan kepalanya.

Azka berhenti di depan mereka kemudian berkata. “Tolong parkirkan mobil saya.” tentu saja perintah Azka langsung dilaksanakan oleh satu dari empat orang tadi.

“Baik, Tuan.”

Setelahnya, Azka langsung berjalan kembali untuk masuk ke dalam rumahnya. Tanpa berniat beramah-tamah kepada empat orang tadi. Dira tidak langsung mengikuti langkah Azka. Gadis itu malah memandang punggung Azka dengan pandangan tidak suka. Arogan sekali.

“Terima kasih, Pak.” Dira berucap sambil menundukkan kepalanya sopan. Lalu segera berlari untuk mengikuti langkah Azka.

Dira berlari kecil memasuki rumah Azka sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Dia begitu terpesona dengan rumah mewah Azka. Sampai-sampai tanpa Dira sadari, Azka sudah berada di depannya yang membuat tubuhnya menabrak tubuh bagian depan Azka.

“Pak Azka kenapa mengagetkan saya?” Dira bertanya dengan kesal. Lalu kembali menolehkan kepalanya memutari isi bagian dalam rumah Azka.

“Kamu kenapa lama sekali?”

“Saya tadi bilang makasih dulu sama bapak-bapak di depan tadi.”

“Kenapa harus bilang terima kasih?” tanya Azka heran.

“Bapak tadi udah nyuruh-nyuruh. Tapi, nggak bilang makasih. Malah main pergi gitu aja.”

“Mereka saya bayar untuk melaksanakan perintah saya.”

Dira melihat Azka dengan pandangan kesal. “Saya kalau punya Bos, kayak Bapak. Udah mengundurkan diri duluan,” gumamnya pelan namun ternyata Azka masih mendengarnya.

“Bilang apa kamu?”

“Nggak bilang apa-apa. Katanya tadi Daffa pengen ketemu sama saya?” tanya Dira mencoba mengalihkan pembicaraan.

Azka menghela napas lelah sebelum berkata. “Ikut saya.” Lalu Azka membalikkan badan dan berjalan ke lantai dua, di mana kamar Daffa berada.

Azka dan Dira telah menaiki tangga terakhir untuk ke lantai dua. Dari sini, mereka berdua sudah mendengar teriakan Daffa yang masih saja menangis.

Azka dan Dira berpandangan sebentar sebelum Azka meraih gagang pintu bercat putih itu, lalu membukanya. Daffa menghentikan tangisnya ketika melihat sang Papa yang berdiri tegak di depan pintu kamarnya.

Hey boy, you cry again?” tanya Azka tetap berada di posisinya.

Daffa melihat Azka dengan mata sembabnya. Jangan lupakan hidungnya yang memerah. Mengusap kedua matanya dengan punggung tangan gembulnya, sebelum membalas pertanyaan sang Papa.

You lie Papa, you don’t bling Bunda home,” ucapnya dengan suara seraknya dan bahasa cadelnya yang membuat Azka tersenyum sendiri. (bling = bring)

Sementara Dira yang berdiri di belakang Azka. Merasa takjub dengan cara laki-laki itu mendidik Daffa. Bahkan umur anak kecil itu masih tiga tahun. Namun, sudah bisa berbahasa inggris. Dirinya saja masih harus membuka kamus, jika mendapatkan kata-kata yang cukup sulit.

Melihat Papanya yang malah tersenyum. Membuat Daffa kembali menangis dan berteriak. Azka yang melihat itu tentu saja malah melebarkan senyumnya dan berjalan menghampiri anaknya yang tengah digendong oleh salah satu pengasuhnya itu.

Daffa, look who is with, Papa.” Azka berucap setelah berada didekat sang anak sambil mengusap kepalanya dengan sayang.

Mendengar ucapan sang Papa, dengan perlahan Daffa menghentikan tangisnya. Walau masih sesenggukan Daffa melihat ke arah Dira yang berdiri di samping Azka. Langsung saja anak itu melompat turun dari gendongan sang pengasuh dan memeluk kaki Dira dengan erat.

Semua yang berada di situ tentu saja kaget dengan tingkah laku Daffa kepada Dira. Tak terkecuali Azka. Daffa benar-benar menyukai Dira. Sementara Dira yang dipeluk seperti itu akhirnya jongkok agar menyamai tingginya dengan Daffa.

“Kok, nangis?” tanya Dira sambil mengusap sisa-sisa air mata di sekitar mata Daffa.

“Papa nakal, Nda,” jawabnya sambil menunjuk ke arah sang Papa yang sedang berdiri tidak jauh darinya.

“Bukannya Daffa yang nakal?” Azka berucap sambil mengikuti posisi Dira yang tengah jongkok di hadapan Daffa.

Jadi, kini mereka berdua dengan jongkok dengan Daffa yang tengah berdiri di antara mereka. Diam-diam pengasuh Daffa yang berada di kamar itu tersenyum. Mereka seperti tengah melihat keluarga kecil yang bahagia di sana. Semoga saja tuan mereka benar-benar bisa menemukan ibu untuk Daffa dan membuka hati yang sudah lama dia tutup rapat.

“Kamu pesankan makanan untuk Daffa seperti biasa di Mc’donald, menunya kamu tambah. Saya sama Dira ikut makan.” Perintah Azka yang langsung diangguki oleh pengasuh Daffa.

Sepeninggal pengasuh Daffa. Kini tinggalah mereka bertiga di kamar itu. Dira merasa canggung. Bagaimana kalau nanti istrinya Azka datang dan melihatnya sekarang?

Memang Dira dan Azka tidak melakukan apa pun. Tapi, tetap saja. Berdua di dalam kamar dengan laki-laki yang sudah bersuami itu tidak diperbolehkan. Meskipun Dira dan Azka tidak benar-benar berdua di sini, masih ada Daffa yang kini sibuk berceloteh menceritakan jenis-jenis mainan yang dia miliki kepada Dira. Lamunan Dira terhenti karena suara panggilan Azka yang cukup keras.

Dira menoleh dengan bingung lalu bertanya. “Kenapa, Pak?”

“Kamu kenapa ngelamun dari tadi?”

“Saya nggak apa-apa, Pak. Maaf sebelumnya, tapi istri Bapak ke mana?”

Azka yang mendengar itu sempat terdiam beberapa saat, sebelum menjawab pertanyaan Dira dengan kembali mengeluarkan pertanyaan.

“Kenapa kamu tanya gitu?”

“Saya takut aja, Pak. Nanti saya di bilang pelakor lagi, karena cuman berduaan sama Bapak di sini,” ucapnya dengan mengelus pelan kepala Daffa yang sedang duduk bersila di depannya.

“Tidak akan ada yang bilang kamu seperti itu. Buang jauh-jauh pikiran itu dari kepalamu.”

Dira yang mendengar itu hanya mengerucutkan bibirnya. Merasa tidak puas dengan jawaban laki-laki itu. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya makanan yang mereka pesan telah tiba.

“Daffa mau makan di mana?” tanya Azka kepada Daffa yang masih asik berceloteh dengan Dira.

“Mau liyat tayo, Papa,” jawabnya sambil melihat ke arah sang Papa.

“Yaudah, sekarang ayo lihat tayo.” Azka berucap sambil menggendong Daffa ke dalam pelukannya.

“Sama Bunda?” tanya Daffa sebelum Azka melangkah keluar kamar.

“Iya dong sama Bunda, ayo ajak Bundanya.”

“Ayo Nda, liyat tayo sama Dapa.” Daffa berucap dengan lucunya yang membuat Dira tersenyum, sebelum berdiri di depan Azka dan mencubit pelan pipi Daffa sebelum berkata. “Ayo lihat tayo,” ucapnya sambil tersenyum.

Azka, Dira dan Daffa kini tengah duduk lesehan di depan televisi yang tengah menayangkan bus yang bisa bicara itu. Di depan mereka sudah ada makanan siap saji yang cukup banyak menurut Dira, jika hanya dimakan untuk dua orang dewasa dan satu anak kecil.

“Daffa biasanya minta dipisahin kulit sama dagingnya sebelum makan. Jadi, tolong kamu pisahin. Saya mau ganti baju dulu,” ucapan Azka hanya diangguki kepala oleh Dira.

“Sini, Kak Dira bantu pisahin.” Dira berucap sambil meraih ayam yang berada di tangan Daffa, lalu setelahnya gadis itu malah menyuapi Daffa yang asik menonton televisi di depannya.

Azka datang dengan pakaian yang lebih santai yang menurut Dira malah terlihat lebih tampan. Kaos polos berwarna hitam yang mencetak dengan jelas dada bidang itu dipadukan dengan celana kain berwarna biru dongker malah menambah kesan sexy yang dimiliki laki-laki itu.

Aroma wangi sampo tercium oleh hidung mungil Dira, malah membuat gadis itu tidak berhenti memandangi Azka yang kini sudah duduk disamping Daffa. Rupanya laki-laki itu juga sudah mandi, pantas saja cukup lama berada di kamarnya.

“Ndaa, Aaaa..” Daffa sampai harus memanggil Dira karena tak kunjung menyuapinya.

Sementara Dira masih terus menatap Azka dengan fokusnya, mungkin akan terasa nyaman berada dipelukan hangat di dada bidang milik Azka. Daffa kembali memanggil Dira dan kini sambil menggoyangkan pelan tangan Dira yang membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.

Dira berdeham pelan untuk mengurangi kegugupannya, karena terpergok memandangi Azka sampai sebegitunya. Lalu Dira kembali menyuapi Daffa seperti tadi. Sementara Azka benar-benar menahan tawanya saat melihat perilaku lucu gadis di depannya ini.

Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan Dira baru benar-benar lepas dari Daffa. Dirinya tadi sebenarnya akan pulang saat jam tujuh, namun Daffa kembali menangis saat dirinya berpamitan yang membuat Dira mengurungkan niatnya.

Dan kini saat anak itu tertidur, Dira baru bisa mengemasi barangnya dan berencana akan pulang. Sebenarnya dia berniat akan pulang sendiri, namun Azka melarangnya dengan alasan tidak baik perempuan berkeliaran di jalan sendirian apalagi ini sudah malam.

Jadi, di sinilah Dira sekarang, berada satu mobil dengan Azka menuju ke kosannya. Setibanya di depan tempat kosnya, Dira menyerngit heran melihat ada banyak orang di sana, begitu pun dengan Azka.

“Kos-an kamu biasanya memang ramai?” tanya Azka, kini baik Azka ataupun Dira belum ada yang keluar dari dalam mobil.

“Enggak kok, Pak. Saya juga nggak tau kenapa ini ramai gini. Bapak pulang aja, makasih udah mengantar saya pulang dan kasih makan saya tadi.” baru saja Dira akan membuka pintu mobil Azka sebelum perkataan Azka menghentikannya.

“Saya nggak akan pulang sebelum memastikan ada apa.” lalu setelahnya Azka sudah turun terlebih dahulu dan berjalan dengan santai ke arah tempat kos-an Dira yang cukup ramai itu. Dira yang melihat itu melotot kaget dan langsung buru-buru turun mengejar Azka yang sudah sampai di depan kosannya.

“Ada apa ya, Bu?” tanya Dira kepada pemilik kos yang ternyata juga berada di situ.

“Kamu baru pulang nduk?” tanya Pemilik kos kepada Dira dengan pandangan kasihan?

“Iya Bu, ini kenapa?”

“Em... begini nduk, ibu mau minta maaf sebelumnya, kamu telat bayar udah tiga bulan dan Mamanya Mbak ini berani bayar tunai selama satu tahun, jadi berhubung bapak juga lagi butuh, kami-“ terlihat sekali jika wanita paru baya itu susah untuk melanjutkan kalimatnya.

Namun, Dira yang mengerti keadaan yang sedang terjadi pun hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

“Dira ngerti Bu, sebentar Dira mau ambil barang-barang Dira dulu.” lalu setelahnya Dira masuk ke dalam kamar kosnya, mengambil baju-baju miliknya lalu keluar kamar untuk mengembalikan kunci kepada ibu pemilik kos.

Dira sudah menduga ini akan terjadi, uang untuk membayar kos sudah dia pakai untuk membeli buku dan beberapa keperluan kuliah lainnya. Dira keluar sambil tersenyum ke arah ibu pemilik kos walaupun sebenarnya dirinya tidak tau kemana dia akan beristirahat malam ini, namun dia tidak boleh memperlihatkan itu kepada ibu pemilik kos yang sudah baik kepadanya.

“Ini Bu kunci kamarnya, makasih ya, Bu, udah baik sama Dira selama ini.” Dira berucap sambil memberikan kunci kepada ibu pemilik kos.

“Ibu minta maaf ya, nduk, kalau bukan karena-“ ibu itu tidak sempat melanjutkan perkataannya karena Dira sudah lebih dulu diseret oleh Azka yang ternyata masih berada di situ.

“Pak Azka!” serunya kaget.

“Simpan semua pertanyaan kamu, malam ini kamu tidur di rumah saya.” Azka mengatakan itu sambil mendorong Dira masuk ke dalam mobilnya lalu menutup pintunya. Kemudian Dia berjalan memutari bagian depan mobil dan masuk ke bangku pengemudi lalu menjalankan mobilnya pergi dari sana.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 6

    Pagi harinya Dira sudah bangun pagi-pagi sekali atau dengan kata lain gadis itu tidak tidur selama semalaman, sehabis pembicaraan dengan Azka di meja makan, laki-laki itu langsung menyuruh Dira untuk masuk ke dalam kamarnya.Namun, kenyataannya saat sudah berada didalam kamar dan berbaring di kasur empuk, matanya tidak kunjung tertutup juga. Jadi, Dira memutuskan untuk bermain ponsel lalu saat waktunya subuh gadis itu langsung pergi ke kamar mandi, untuk menyelesaikan kewajibannya.Dan setelah semuanya selesai, di sinilah dia sekarang, di dapur bersama asisten rumah tangga Azka. Sebenarnya mereka semua menolak saat Dira akan membantu, mereka takut jika tuan mereka akan marah.Azka tidak pernah membawa pulang perempuan kedalam rumah ini, kecuali ibu dan kakak perempuannya. Namun, dengan tiba-tiba saja Azka langsung membawa pulang Dira bahkan mengizinkan untuk menginap di sini. Gadis itu pasti cukup spesial untuk Azka.Namun, Dira dengan segala kekeras kepalaannya memaksa mereka untuk m

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 5

    Perjalanan menuju ke rumah Azka hanya diisi keheningan, karena baik Azka mau pun Dira sepertinya tidak berniat untuk membuka suara setelah kejadian tadi. Dira sibuk berpikir setelah malam ini, kemana dia harus pergi sedangkan Azka kembali berpikir ucapan yang keluar dari mulutnya tadi.Sebenarnya Azka bisa saja membayar tunai melebihi orang yang baru saja mengambil alih kamar kos Dira tadi, namun entah kenapa otaknya berpikir alangkah baiknya membawa Dira untuk ke rumahnya.Sesampainya di rumah Azka, Dira masih saja asik dengan lamunannya. Azka yang melihatnya menghela napas lelah, kini mobil yang dikendarai oleh Azka telah berhenti di depan pintu masuk rumahnya.Melihat gadis disampingnya ini membuat rasa iba Azka keluar seketika, gadis ini sedari tadi tidak mengeluarkan reaksi yang sewajarnya saat kehilangan tempat tinggal seperti orang pada umumnya.Dira tidak menangis ataupun memohon agar tetap diberi izin untuk tinggal, malah gadis itu menerimanya dengan pasrah, dan yang lebih ti

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 4

    Akhirnya mobil yang dikendarai Azka telah berhenti di depan sebuah rumah, dengan pagar yang terbuat dari kayu jati. Azka menekan klakson di mobilnya beberapa kali. Lalu, pagar itu dibuka oleh seorang laki-laki yang Dira perkirakan adalah seorang satpam, karena mereka berpakaian serba hitam.Azka pun melajukan mobilnya untuk memasuki rumahnya. Dira benar-benar dibuat terkesima oleh halaman depan rumah Azka. Indah sekali. Jalan setapak dikelilingi pohon kanan dan kiri. Lalu saat masuk semakin dalam, Dira melihat sebuah taman kecil dengan satu buah gazebo yang dikelilingi kolam. Nyaman sekali pasti jika bisa bersantai di situ.Mobil yang Dira tumpangi berhenti tepat di depan sebuah pintu yang besar. Mungkin saja itu pintu utamanya. Azka keluar dari mobil diikuti Dira setelahnya. Dan di sana sudah ada sekitar empat orang yang sedang menunggu mereka dengan menundukkan kepalanya.Azka berhenti di depan mereka kemudian berkata. “Tolong parkirkan mobil saya.” tentu saja perintah Azka langsung

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 3

    Azka telah sampai di alamat tempat kerja Dira, yang dia dapat dari hasil pencarian Bambang tadi. Sekarang masih jam lima sore. Tapi, Azka memutuskan untuk pulang kantor terlebih dahulu. Dia harus mencari Dira untuk Daffa. Anaknya itu sudah terlanjur di manja saat masih kecil. Jadi, sampai sekarang pun hal itu tidak bisa dia hindarkan dari Daffa.Toko baju ini lumayan besar. Dan setahu Azka, toko ini cukup terkenal di Malang. Jadi, mana mungkin dia mengelilingi toko tiga lantai ini, hanya untuk mencari keberadaan Dira? Bisa-bisa sampai jam enam nanti, dia baru menemukan keberadaan gadis itu.Azka turun setelah memarkirkan mobilnya di basemant toko ini. Langkahnya menuntun Azka sampai di lantai satu. Dia memperhatikan sekelilingnya dengan saksama. Menurut informasi dari Bambang. Dira bekerja sebagai kasir di bagian kosmetik di lantai satu.Jadi, saat dia telah berdiri di bagian kosmetik, tidak sulit menemukan sosok Dira yang sedang bekerja di tempatnya. Gadis itu cantik. Entah mengapa A

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 2

    Part 2Kisah Indira “Maaf. Bapak, Papanya Daffa?” tanya Dira sopan.“Iya, saya Papanya Daffa,” jawab pria itu setelah menguasai keterkejutannya.“Tadi Daffa sendirian, jadi saya bantu cari orang tuanya. Maaf bikin Bapak khawatir.”Pria itu menggeleng pelan. “Nggak apa-apa. Saya yang harus terima kasih. Maaf kalau Daffa merepotkan.”“Sama sekali enggak, Pak. Daffa lucu kok.” Dira tersenyum manis.Azka terpaku sejenak menatap senyuman itu. Ia berdeham pelan untuk menguasai diri, lalu mengulurkan tangan.“Saya Azka. Azka Nugraha.”Dira tersontak terkejut. “Pak Azka? Pemilik Nugraha Company yang mau beri sambutan di Fakultas Ekonomi?”Azka terkekeh melihat kepolosan gadis di hadapannya. “Iya, saya Azka. Kamu kenapa?”“Ganteng banget,” ceplos Dira tanpa sadar. Wajahnya seketika memerah padam, membuat Azka kembali tertawa pelan. “Eh, maaf, Pak! Maksud saya— aduh, bingung jelasinnya.”“Santai saja. Kamu belum sebutkan nama kamu,” ucap Azka tenang.“Saya Indira, Pak. Senang bisa ketemu Bapak

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 1

    Part 1Bunda!Langkah kaki Indira bergema kencang, dengan napasnya terengah-engah, serta peluh dingin yang mulai membasahi pelipis.Tubuhnya terasa begitu berat. Efek dari keputusan impulsifnya semalam—terbangun hingga pukul empat pagi demi mengejar deadline revisi proposal kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).Jika bukan karena tanggung jawabnya sebagai anggota divisi acara, Dira pasti sudah memilih meringkuk di bawah selimut."Indira!"Suara berat seorang pria terdengar memanggil namanya dari arah belakang. Dira mendadak menghentikan langkah, berbalik cepat, dan mendapati sosok yang paling ingin ia hindari pagi ini.Dirga. Ketua BEM bertangan dingin yang terkenal tak kenal kompromi. Pria itu berjalan mendekat dengan aura penuh dominasi seperti biasanya, membawa map tebal di tangan kiri.Dira berusaha mengulas senyum tipis, menutupi rasa lelah yang menggerogoti fisiknya. "Pagi, Kak Dir—""Mana proposalnya? Aman?" potong Dirga cepat, tanpa basa-basi.Dira mengepalkan kedua tangann

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status