LOGINAkhirnya mobil yang dikendarai Azka telah berhenti di depan sebuah rumah, dengan pagar yang terbuat dari kayu jati. Azka menekan klakson di mobilnya beberapa kali. Lalu, pagar itu dibuka oleh seorang laki-laki yang Dira perkirakan adalah seorang satpam, karena mereka berpakaian serba hitam.
Azka pun melajukan mobilnya untuk memasuki rumahnya. Dira benar-benar dibuat terkesima oleh halaman depan rumah Azka. Indah sekali. Jalan setapak dikelilingi pohon kanan dan kiri. Lalu saat masuk semakin dalam, Dira melihat sebuah taman kecil dengan satu buah gazebo yang dikelilingi kolam. Nyaman sekali pasti jika bisa bersantai di situ.
Mobil yang Dira tumpangi berhenti tepat di depan sebuah pintu yang besar. Mungkin saja itu pintu utamanya. Azka keluar dari mobil diikuti Dira setelahnya. Dan di sana sudah ada sekitar empat orang yang sedang menunggu mereka dengan menundukkan kepalanya.
Azka berhenti di depan mereka kemudian berkata. “Tolong parkirkan mobil saya.” tentu saja perintah Azka langsung dilaksanakan oleh satu dari empat orang tadi.
“Baik, Tuan.”
Setelahnya, Azka langsung berjalan kembali untuk masuk ke dalam rumahnya. Tanpa berniat beramah-tamah kepada empat orang tadi. Dira tidak langsung mengikuti langkah Azka. Gadis itu malah memandang punggung Azka dengan pandangan tidak suka. Arogan sekali.
“Terima kasih, Pak.” Dira berucap sambil menundukkan kepalanya sopan. Lalu segera berlari untuk mengikuti langkah Azka.
Dira berlari kecil memasuki rumah Azka sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Dia begitu terpesona dengan rumah mewah Azka. Sampai-sampai tanpa Dira sadari, Azka sudah berada di depannya yang membuat tubuhnya menabrak tubuh bagian depan Azka.
“Pak Azka kenapa mengagetkan saya?” Dira bertanya dengan kesal. Lalu kembali menolehkan kepalanya memutari isi bagian dalam rumah Azka.
“Kamu kenapa lama sekali?”
“Saya tadi bilang makasih dulu sama bapak-bapak di depan tadi.”
“Kenapa harus bilang terima kasih?” tanya Azka heran.
“Bapak tadi udah nyuruh-nyuruh. Tapi, nggak bilang makasih. Malah main pergi gitu aja.”
“Mereka saya bayar untuk melaksanakan perintah saya.”
Dira melihat Azka dengan pandangan kesal. “Saya kalau punya Bos, kayak Bapak. Udah mengundurkan diri duluan,” gumamnya pelan namun ternyata Azka masih mendengarnya.
“Bilang apa kamu?”
“Nggak bilang apa-apa. Katanya tadi Daffa pengen ketemu sama saya?” tanya Dira mencoba mengalihkan pembicaraan.
Azka menghela napas lelah sebelum berkata. “Ikut saya.” Lalu Azka membalikkan badan dan berjalan ke lantai dua, di mana kamar Daffa berada.
Azka dan Dira telah menaiki tangga terakhir untuk ke lantai dua. Dari sini, mereka berdua sudah mendengar teriakan Daffa yang masih saja menangis.
Azka dan Dira berpandangan sebentar sebelum Azka meraih gagang pintu bercat putih itu, lalu membukanya. Daffa menghentikan tangisnya ketika melihat sang Papa yang berdiri tegak di depan pintu kamarnya.
“Hey boy, you cry again?” tanya Azka tetap berada di posisinya.
Daffa melihat Azka dengan mata sembabnya. Jangan lupakan hidungnya yang memerah. Mengusap kedua matanya dengan punggung tangan gembulnya, sebelum membalas pertanyaan sang Papa.
“You lie Papa, you don’t bling Bunda home,” ucapnya dengan suara seraknya dan bahasa cadelnya yang membuat Azka tersenyum sendiri. (bling = bring)
Sementara Dira yang berdiri di belakang Azka. Merasa takjub dengan cara laki-laki itu mendidik Daffa. Bahkan umur anak kecil itu masih tiga tahun. Namun, sudah bisa berbahasa inggris. Dirinya saja masih harus membuka kamus, jika mendapatkan kata-kata yang cukup sulit.
Melihat Papanya yang malah tersenyum. Membuat Daffa kembali menangis dan berteriak. Azka yang melihat itu tentu saja malah melebarkan senyumnya dan berjalan menghampiri anaknya yang tengah digendong oleh salah satu pengasuhnya itu.
“Daffa, look who is with, Papa.” Azka berucap setelah berada didekat sang anak sambil mengusap kepalanya dengan sayang.
Mendengar ucapan sang Papa, dengan perlahan Daffa menghentikan tangisnya. Walau masih sesenggukan Daffa melihat ke arah Dira yang berdiri di samping Azka. Langsung saja anak itu melompat turun dari gendongan sang pengasuh dan memeluk kaki Dira dengan erat.
Semua yang berada di situ tentu saja kaget dengan tingkah laku Daffa kepada Dira. Tak terkecuali Azka. Daffa benar-benar menyukai Dira. Sementara Dira yang dipeluk seperti itu akhirnya jongkok agar menyamai tingginya dengan Daffa.
“Kok, nangis?” tanya Dira sambil mengusap sisa-sisa air mata di sekitar mata Daffa.
“Papa nakal, Nda,” jawabnya sambil menunjuk ke arah sang Papa yang sedang berdiri tidak jauh darinya.
“Bukannya Daffa yang nakal?” Azka berucap sambil mengikuti posisi Dira yang tengah jongkok di hadapan Daffa.
Jadi, kini mereka berdua dengan jongkok dengan Daffa yang tengah berdiri di antara mereka. Diam-diam pengasuh Daffa yang berada di kamar itu tersenyum. Mereka seperti tengah melihat keluarga kecil yang bahagia di sana. Semoga saja tuan mereka benar-benar bisa menemukan ibu untuk Daffa dan membuka hati yang sudah lama dia tutup rapat.
“Kamu pesankan makanan untuk Daffa seperti biasa di Mc’donald, menunya kamu tambah. Saya sama Dira ikut makan.” Perintah Azka yang langsung diangguki oleh pengasuh Daffa.
Sepeninggal pengasuh Daffa. Kini tinggalah mereka bertiga di kamar itu. Dira merasa canggung. Bagaimana kalau nanti istrinya Azka datang dan melihatnya sekarang?
Memang Dira dan Azka tidak melakukan apa pun. Tapi, tetap saja. Berdua di dalam kamar dengan laki-laki yang sudah bersuami itu tidak diperbolehkan. Meskipun Dira dan Azka tidak benar-benar berdua di sini, masih ada Daffa yang kini sibuk berceloteh menceritakan jenis-jenis mainan yang dia miliki kepada Dira. Lamunan Dira terhenti karena suara panggilan Azka yang cukup keras.
Dira menoleh dengan bingung lalu bertanya. “Kenapa, Pak?”
“Kamu kenapa ngelamun dari tadi?”
“Saya nggak apa-apa, Pak. Maaf sebelumnya, tapi istri Bapak ke mana?”
Azka yang mendengar itu sempat terdiam beberapa saat, sebelum menjawab pertanyaan Dira dengan kembali mengeluarkan pertanyaan.
“Kenapa kamu tanya gitu?”
“Saya takut aja, Pak. Nanti saya di bilang pelakor lagi, karena cuman berduaan sama Bapak di sini,” ucapnya dengan mengelus pelan kepala Daffa yang sedang duduk bersila di depannya.
“Tidak akan ada yang bilang kamu seperti itu. Buang jauh-jauh pikiran itu dari kepalamu.”
Dira yang mendengar itu hanya mengerucutkan bibirnya. Merasa tidak puas dengan jawaban laki-laki itu. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya makanan yang mereka pesan telah tiba.
“Daffa mau makan di mana?” tanya Azka kepada Daffa yang masih asik berceloteh dengan Dira.
“Mau liyat tayo, Papa,” jawabnya sambil melihat ke arah sang Papa.
“Yaudah, sekarang ayo lihat tayo.” Azka berucap sambil menggendong Daffa ke dalam pelukannya.
“Sama Bunda?” tanya Daffa sebelum Azka melangkah keluar kamar.
“Iya dong sama Bunda, ayo ajak Bundanya.”
“Ayo Nda, liyat tayo sama Dapa.” Daffa berucap dengan lucunya yang membuat Dira tersenyum, sebelum berdiri di depan Azka dan mencubit pelan pipi Daffa sebelum berkata. “Ayo lihat tayo,” ucapnya sambil tersenyum.
Azka, Dira dan Daffa kini tengah duduk lesehan di depan televisi yang tengah menayangkan bus yang bisa bicara itu. Di depan mereka sudah ada makanan siap saji yang cukup banyak menurut Dira, jika hanya dimakan untuk dua orang dewasa dan satu anak kecil.
“Daffa biasanya minta dipisahin kulit sama dagingnya sebelum makan. Jadi, tolong kamu pisahin. Saya mau ganti baju dulu,” ucapan Azka hanya diangguki kepala oleh Dira.
“Sini, Kak Dira bantu pisahin.” Dira berucap sambil meraih ayam yang berada di tangan Daffa, lalu setelahnya gadis itu malah menyuapi Daffa yang asik menonton televisi di depannya.
Azka datang dengan pakaian yang lebih santai yang menurut Dira malah terlihat lebih tampan. Kaos polos berwarna hitam yang mencetak dengan jelas dada bidang itu dipadukan dengan celana kain berwarna biru dongker malah menambah kesan sexy yang dimiliki laki-laki itu.
Aroma wangi sampo tercium oleh hidung mungil Dira, malah membuat gadis itu tidak berhenti memandangi Azka yang kini sudah duduk disamping Daffa. Rupanya laki-laki itu juga sudah mandi, pantas saja cukup lama berada di kamarnya.
“Ndaa, Aaaa..” Daffa sampai harus memanggil Dira karena tak kunjung menyuapinya.
Sementara Dira masih terus menatap Azka dengan fokusnya, mungkin akan terasa nyaman berada dipelukan hangat di dada bidang milik Azka. Daffa kembali memanggil Dira dan kini sambil menggoyangkan pelan tangan Dira yang membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.
Dira berdeham pelan untuk mengurangi kegugupannya, karena terpergok memandangi Azka sampai sebegitunya. Lalu Dira kembali menyuapi Daffa seperti tadi. Sementara Azka benar-benar menahan tawanya saat melihat perilaku lucu gadis di depannya ini.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan Dira baru benar-benar lepas dari Daffa. Dirinya tadi sebenarnya akan pulang saat jam tujuh, namun Daffa kembali menangis saat dirinya berpamitan yang membuat Dira mengurungkan niatnya.
Dan kini saat anak itu tertidur, Dira baru bisa mengemasi barangnya dan berencana akan pulang. Sebenarnya dia berniat akan pulang sendiri, namun Azka melarangnya dengan alasan tidak baik perempuan berkeliaran di jalan sendirian apalagi ini sudah malam.
Jadi, di sinilah Dira sekarang, berada satu mobil dengan Azka menuju ke kosannya. Setibanya di depan tempat kosnya, Dira menyerngit heran melihat ada banyak orang di sana, begitu pun dengan Azka.
“Kos-an kamu biasanya memang ramai?” tanya Azka, kini baik Azka ataupun Dira belum ada yang keluar dari dalam mobil.
“Enggak kok, Pak. Saya juga nggak tau kenapa ini ramai gini. Bapak pulang aja, makasih udah mengantar saya pulang dan kasih makan saya tadi.” baru saja Dira akan membuka pintu mobil Azka sebelum perkataan Azka menghentikannya.
“Saya nggak akan pulang sebelum memastikan ada apa.” lalu setelahnya Azka sudah turun terlebih dahulu dan berjalan dengan santai ke arah tempat kos-an Dira yang cukup ramai itu. Dira yang melihat itu melotot kaget dan langsung buru-buru turun mengejar Azka yang sudah sampai di depan kosannya.
“Ada apa ya, Bu?” tanya Dira kepada pemilik kos yang ternyata juga berada di situ.
“Kamu baru pulang nduk?” tanya Pemilik kos kepada Dira dengan pandangan kasihan?
“Iya Bu, ini kenapa?”
“Em... begini nduk, ibu mau minta maaf sebelumnya, kamu telat bayar udah tiga bulan dan Mamanya Mbak ini berani bayar tunai selama satu tahun, jadi berhubung bapak juga lagi butuh, kami-“ terlihat sekali jika wanita paru baya itu susah untuk melanjutkan kalimatnya.
Namun, Dira yang mengerti keadaan yang sedang terjadi pun hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Dira ngerti Bu, sebentar Dira mau ambil barang-barang Dira dulu.” lalu setelahnya Dira masuk ke dalam kamar kosnya, mengambil baju-baju miliknya lalu keluar kamar untuk mengembalikan kunci kepada ibu pemilik kos.
Dira sudah menduga ini akan terjadi, uang untuk membayar kos sudah dia pakai untuk membeli buku dan beberapa keperluan kuliah lainnya. Dira keluar sambil tersenyum ke arah ibu pemilik kos walaupun sebenarnya dirinya tidak tau kemana dia akan beristirahat malam ini, namun dia tidak boleh memperlihatkan itu kepada ibu pemilik kos yang sudah baik kepadanya.
“Ini Bu kunci kamarnya, makasih ya, Bu, udah baik sama Dira selama ini.” Dira berucap sambil memberikan kunci kepada ibu pemilik kos.
“Ibu minta maaf ya, nduk, kalau bukan karena-“ ibu itu tidak sempat melanjutkan perkataannya karena Dira sudah lebih dulu diseret oleh Azka yang ternyata masih berada di situ.
“Pak Azka!” serunya kaget.
“Simpan semua pertanyaan kamu, malam ini kamu tidur di rumah saya.” Azka mengatakan itu sambil mendorong Dira masuk ke dalam mobilnya lalu menutup pintunya. Kemudian Dia berjalan memutari bagian depan mobil dan masuk ke bangku pengemudi lalu menjalankan mobilnya pergi dari sana.
Azka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, bersyukurlah Azka karena jalanan masih cukup sepi, karena memang masih pagi, jika tidak, sudah dipastikan Azka menerima umpatan dari para pengendara di jalanan.Setelah memarkirkan mobilnya dengan asal di depan tempat kos Dira, Azka segera turun dari mobilnya dan berjalan setengah berlari ke arah kamar gadis itu, lalu menggedor pintunya dengan keras.“Ra, buka pintunya, Daffa di rumah sakit!”“Dira! Kamu didalam, kan?”“Ra, buka pintunya! Daffa cariin kamu dari semalam, buka pintunya, Ra!”Mungkin karena kegaduhan yang Azka perbuat, penghuni kamar kos di sebelah kamar Dira mulai membuka pintu kamarnya.“Pak Azka, ya?”Merasa namanya dipanggil, Azka menolehkan kepalanya kepada gadis yang Azka perkirakan usianya sama dengan Dira.“Iya, kenapa?”“Sebentar-” gadis itu kembali masuk ke dalam kamarnya dan tidak berapa lama kemudian, gadis itu keluar dengan membawa kunci.“Ini kunci kamarnya Dira, disuruh kasih ke Pak Azka.” Azka
Sepanjang perjalanan, hanya diam yang mengisi keheningan didalam mobil yang ditumpangi oleh Azka dan Dira. Dira memalingkan wajahnya ke arah jendela disampingnya, enggan melihat ke arah Azka. Sementara Azka sedari tadi ingin mengajak Dira bicara, namun Azka menahannya karena merasa jika suasana saat ini kurang pas.Sesampainya di depan tempat kos Dira, gadis itu baru saja akan keluar dari mobil Azka, namun pria itu menghentikannya.“Kita perlu bicara.”Dira menghela napas sebelum memilih tetap duduk didalam mobil Azka.“Mas sekarang udah bicara,” ucapnya dengan pelan.“Aku minta maaf, Ra, aku tau sikapku akhir-akhir ini sangat kekanak-kanakan, aku nggak bisa bersikap dewasa menghadapi semuanya. Aku, aku salah Ra, aku minta maaf.” raut wajah frustrasi tidak bisa Azka sembunyikan lagi, kentara sekali jika pria itu sedang cemas saat ini.Dira menghadap Azka lalu gadis itu tersenyum seperti biasa.“Aku maafin, Mas.”Seharusnya Azka senang mendengar jawaban yang Dira berikan, namun kenyata
Keadaan Azka tidak jauh berbeda dengan Dira, pria itu menjadi terkena insomnia. Azka terlalu memaksakan tubuhnya untuk bekerja, tidak tidur tepat wakku dan menjadi jarang menemani Daffa bermain, untung saja ada mama dan neneknya yang menemani Daffa.Azka memikirkan hubungannya dengan Dira yang menjadi semakin jauh ini. Sejujurnya Azka tidak menyukai ini, namun, dia juga benar-benar masih bimbang. Azka mengaku jika dirinya bersalah telah membohongi Dira waktu itu, bahkan sampai sekarang.Namun, tidak bisakah Dira memberinya waktu, bukan malah menjauh seperti ini. Azka memang hanya perlu waktu untuk berpikir, tentang Claris dan Dira. Dua perempuan itu berputar-putar di kepalanya hingga membuat kepalanya hampir pecah.*Beberapa jam sebelum pesta, di kantor AzkaBambang masuk ke dalam ruangan Azka tanpa permisi. Laki-laki itu duduk di sofa yang ruangan Azka. “Nanti malam, lo ada undangan ulang tahun perusahaan.”“Gue malas datang, lo aja.”“Kita berdua berangkat, lo perlu datang buat men
Karena memang acara bakti sosial akan dilaksanakan hari sabtu besok, maka, kini Ratu dan Dira sedang berada di pasar untuk membeli perlengkapan yang akan mereka butuhkan di sana nanti.Sedari tadi Ratu tidak berhenti mendumel, gadis itu menyalahkan Dira yang terlalu patuh dengan perintah Dirga. Ratu sudah mengatakan jika mereka lebih baik belanja di supermarket saja, tapi Dira menolak dengan tegas.Dan di sinilah mereka sekarang, setelah hampir dua jam mengelilingi pasar yang membuat kaki Ratu terasa hampir copot. Dira mengajak Ratu minum es cincau di tempat parkir pasar, tidak jauh dari mobil Ratu berada.“Lo gimana sama Pak Azka?” sebenarnya Ratu sudah ingin bertanya ini dari dulu, namun gadis itu mencari momen yang tepat.“Nanti kalau gue cerita sama lo, lo bakal bilang lagi sama anak-anak.” Dira tertawa di akhir kalimatnya.“Itu-kan karena gue keceplosan, soalnya si Dirga mancing-mancing terus.”Dira hanya tersenyum mendengarnya.“Ra, sebenarnya gue pengen tanya sesuatu sama lo. T
Azka pulang ke rumah sekitar pukul delapan malam, di saat semua orang di rumahnya sudah selesai melakukan makan malam. Azka memasuki rumahnya dengan langkah cepat, dia masih belum bisa bertemu dengan Dira.Namun, seruan dari sang ibu dari ruang tamu, membuat Azka menghentikan langkahnya dan berjalan menghampiri ibunya yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Ibunya tidak sendiri, ada Dira dan neneknya, entahlah, tapi Azka merasa sesuatu akan terjadi setelah ini.“Kamu tumben pulang telat?”“Kantor lagi banyak kerjaan Ma, ada apa?” Azka bertanya sambil duduk di sofa tunggal tidak jauh dari ibunya.“Mama udah ke pikiran ini sejak beberapa hari yang lalu sebenarnya, Mama juga udah minta saran sama Papa, dan Papa kamu setuju. Jadi, Mama pikir nggak ada alasan lagi buat kamu menolak keinginan Mama ini.”“Tentang apa, Ma?”“Mama rasa kamu dan Dira harus tinggal di rumah yang berbeda, sebelum pernikahan kalian dilaksanakan.” sontak saja kalimat yang ibunya lontarkan, membuat Azka membulatkan ma
Dira kembali ke rumah Azka sekitar pukul tujuh malam, diantar oleh Oki. Bisa di bilang ini waktu terlama, biasanya gadis itu pulang ke rumah Azka tidak selama ini. Jika memang terlambat, gadis itu pasti akan mengatakannya kepada Azka.Dira memasuki rumah Azka dengan langkah pelan, gadis itu baru saja melangkahkan kakinya ke ruang tamu dan sapaan ketus langsung terdengar di telinga Dira.“Dari mana kamu?!”Dira menolehkan kepalanya ke asal suara tersebut, dan dia menemukan Azka yang tengah berdiri dan menatapnya marah.“Aku dari kampus,” jawab Dira pelan.“Dari kampus dan pulang jam segini?!” Azka tertawa sinis kemudian.“Kamu pikir aku nggak tau kalau jadwal kuliah kamu hari ini siang? Dan kamu berangkat dari pagi sampai pulang malam kayak gini. Kamu nggak mikir gimana Daffa nyari bundanya terus, kamu nggak mikirin gimana mama sama nenek yang repot diamin Daffa? Kamu malah enak-enakkan keluyuran nggak jelas dan pulang diantar laki-laki lain!” Dira menghela napasnya pelan.“Aku nggak







