LOGINPerjalanan menuju ke rumah Azka hanya diisi keheningan, karena baik Azka mau pun Dira sepertinya tidak berniat untuk membuka suara setelah kejadian tadi. Dira sibuk berpikir setelah malam ini, kemana dia harus pergi sedangkan Azka kembali berpikir ucapan yang keluar dari mulutnya tadi.
Sebenarnya Azka bisa saja membayar tunai melebihi orang yang baru saja mengambil alih kamar kos Dira tadi, namun entah kenapa otaknya berpikir alangkah baiknya membawa Dira untuk ke rumahnya.
Sesampainya di rumah Azka, Dira masih saja asik dengan lamunannya. Azka yang melihatnya menghela napas lelah, kini mobil yang dikendarai oleh Azka telah berhenti di depan pintu masuk rumahnya.
Melihat gadis disampingnya ini membuat rasa iba Azka keluar seketika, gadis ini sedari tadi tidak mengeluarkan reaksi yang sewajarnya saat kehilangan tempat tinggal seperti orang pada umumnya.
Dira tidak menangis ataupun memohon agar tetap diberi izin untuk tinggal, malah gadis itu menerimanya dengan pasrah, dan yang lebih tidak di mengerti oleh Azka gadis itu masih bisa tersenyum kepada orang yang baru saja mengusirnya dari tempat tinggalnya.
“Kamu tidak mau turun?” tanya Azka karena sedari tadi Dira tidak juga menunjukkan kesadarannya malah makin asik dengan lamunannya.
“Eh... udah sampai Pak?” tanya Dira gelagapan sambil menengok kanan kiri.
“Sudah satu menit yang lalu, kamu membuang waktu saya dengan percuma.” Azka berucap sambil membuka pintu bagian kemudi dan keluar meninggalkan Dira sendirian didalam mobil.
Dira hanya melihatnya dengan sebal, sebelum ikut turun dari mobil dan mengikuti langkah Azka yang berjalan masuk ke dalam rumah. Azka berhenti di sebuah pintu yang Dira tebak adalah sebuah kamar.
“Ini kamar kamu, kamu boleh istirahat.” saat Azka akan beranjak dari sana, Dira segera saja meraih ujung kaos yang dipakai oleh Azka, yang membuat laki-laki itu berhenti melangkah.
Menatap tangan Dira yang masih menggenggam ujung kaosnya, lalu kemudian memandang Dira dengan kedua alis ditautkan, Dira yang mengerti langsung saja melepaskan pegangannya dan berkata.
“Maaf Pak.”
“Lupakan, ada apa?” kini Azka sepenuhnya menatap Dira dengan pandangan matanya yang tajam.
“Saya cuman mau bilang makasih karena udah baik sama saya.” mendengar ucapan itu, Azka hanya memandang Dira dengan datar.
“Lalu?”
“Lalu apa Pak?” tanya Dira heran.
“Kamu cuman mau mengucapkan makasih?” Dira hanya menganggukkan kepalanya.
“Ini nggak gratis.” Azka berucap lalu setelahnya langsung beranjak dari sana menuju ke kamarnya di lantai dua, meninggalkan Dira sendiri dengan kebingungannya.
“Maksudnya tadi nggak gratis, harus bayar gitu?” gumam Dira sendiri lalu meraih kenop pintu dan masuk ke dalam kamar sementaranya.
Malam sudah semakin larut, jarum jam sudah menunjukkan pukul dua pagi, namun mata Dira tak kunjung mau terpejam. Bukan karena kasur di ranjang ini tidak empuk, tapi sedari tadi Dira terus berpikir bagaimana dirinya besok dan besoknya lagi.
Kemana dirinya akan tinggal? Mau sewa kamar kos lagi, uang yang sekarang dia punya hanya cukup untuk makan dan ongkos pergi kuliah. Mau meminjam nanti dia tidak bisa mengembalikan.
Kalau sudah seperti ini, gadis itu selalu teringat dengan ayah dan ibunya, di saat gadis sumurannya bisa bersenang-senang dengan mudah dirinya malah harus memikirkan hari esok.
Di saat semua bisa bermanja-manja dengan ayah mereka, Dira bahkan tidak mempunyai siapa-siapa untuk berkeluh kesah. Di saat semua gadis seusianya biasanya berada dipelukan ibu mereka saat ada masalah, Dira malah sudah tidak bisa lagi merasakan kehangatan pelukan itu.
Tanpa sadar air mata keluar dari kedua matanya, malam ini, izinkan Dira menangis dan meratapi nasib yang baru saja dia terima. Dira menangis tanpa suara, air mata terus keluar tanpa henti dari kedua matanya. Entah kenapa sesuatu didalam sana terasa amat menyesakkan, dia merindukan kedua orang tuanya apalagi ibunya.
Dira terus menangis tanpa henti, Dira meyakinkan dirinya sendiri jika hanya malam ini dia akan menangis. Hanya malam ini, karena esok Dira akan kembali menjadi sosok yang mampu menghadapi kerasnya hidup. Esok Dira akan menjadi Indira yang tak pernah jatuh hanya karena Tuhan sedang mengujinya.
Tanpa Dira sadari, gadis itu sudah menangis cukup lama karena jarum jam sudah bergerak ke arah pukul tiga. Sudah terlanjur, mau tidur pun nanggung, nanti jadinya dia malah bangun kesiangan.
Beranjak dari ranjangnya setelah memastikan jejak air mata tak tertinggal di sana. Membuka pintu kamarnya dengan pelan. Suasana di luar kamar masih gelap, jelas ini masih pukul tiga pagi.
Melangkah pelan berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun, karena tidak ingin membangunkan siapa pun. Langkahnya menuntun Dira sampai di dapur rumah Azka yang begitu besar dengan peralatan memasak yang cukup canggih.
Dira berjalan ke arah kulkas dua pintu milik Azka, melihat apa yang bisa Dira ambil dan akhirnya gadis itu memutuskan untuk mengambil buah jeruk dan air putih dingin lalu menuangkannya dalam gelas.
Dira duduk di kursi meja makan lalu mulai mengupas jeruk yang diambilnya tadi. Namun, baru setengah jeruk yang dia makan, lampu yang dihidupkan membuat Dira berdiam di tempatnya. Kenapa rasanya dia sekarang telah menjadi pencuri yang mengambil makanan orang lain.
Dira menolehkan kepalanya ke belakang dan menemukan Azka yang tengah bersandar di tembok sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, memandang ke arah Dira dengan pandangan matanya yang tajam itu.
Dira yang dipandang itu hanya meringis di tempatnya sebelum berkata, “Pak Azka mau jeruk?” tanyanya sambil mengangkat jeruk yang tinggal separuh itu.
Sejujurnya Azka sempat kaget saat melihat bayangan di meja makan, namun saat menemukan Dira di sana, Azka malah lebih kaget saat gadis itu menolehkan kepala ke arahnya, mata gadis itu sembab. Terlihat sekali jika gadis itu telah menangis dengan waktu yang cukup lama.
Akhirnya Azka memilih untuk mengabaikan pertanyaan Dira dan berjalan ke arah kulkas, mengambil kaleng berisikan cola dan duduk disamping Dira yang masih menatapnya sedari tadi.
“Kenapa kamu tidak menghidupkan lampu?” tanya Azka begitu selesai meminum soft drinknya dan meletakkannya di meja.
“Saya takut ganggu,” jawabnya pelan.
Azka menghela napas pelan lalu kemudian kembali bertanya hal yang tidak penting.
“Kenapa kamu makan jeruk malam-malam?”
“Saya nggak bisa tidur Pak, jadi saya ke dapur cari apa yang bisa dimakan.”
Setelah itu baik Azka mau pun Dira hanya terdiam di tempatnya masing-masing.
Ehem.
Azka berdeham pelan karena dia akan memulai percakapan yang cukup serius. Setelah memikirkannya tadi, Azka sudah memutuskan suatu hal terhadap Dira. Semoga saja keputusannya ini tidak salah.
“Saya mau menawarkan sesuatu sama kamu, ini juga kalau kamu mau.”
“Penawaran apa Pak?” tanya Dira penasaran.
“Kamu boleh tinggal di sini secara gratis-“ belum sempat Azka melanjutkan perkataannya, Dira sudah terlebih dahulu memberikan reaksi.
“Ha!?”
Azka memandangnya tajam, menginstruksikan agar Dira mengunci mulutnya terlebih dahulu sampai dirinya menyelesaikan perkataannya.
“Syarat kamu cukup mudah untuk tinggal di sini secara gratis, kamu cukup jagain Daffa dan urus semua keperluan saya. Dengan begitu sebagai imbalannya, saya akan membiayai kuliah kamu sampai selesai dan setiap bulannya kamu juga akan menerima uang untuk keperluan kamu sendiri, bagaimana?”
Dira benar-benar melongo setelah mendengar perkataan Azka barusan. Otaknya yang pas-pas-an itu mencoba mencerna ucapan Azka dengan cepat.
“Maksud Bapak, saya jadi pelayan di sini? Boleh tidur gratis di sini? Kuliah saya juga dibiayai sama Bapak? Sampai selesai?” tanya Dira dengan menatap penuh harap kepada Azka.
Sedangkan Azka yang mendengar kata ‘pelayan’ meringis didalam hati, entah mengapa ada sesuatu dalam dirinya yang menunjukkan ketidaksukaannya, saat mendengar gadis didepan ini menyebut dirinya sendiri sebagai pelayan.
“Terserah bagaimana kamu menyimpulkannya,” jawab Azka terdengar ragu.
Tanpa disangka oleh Azka, Dira segera saja meraih telapak tangannya dan menciumnya, seperti seorang anak yang sedang salim kepada ayahnya dan gadis didepannya ini melakukannya beberapa kali sambil menggumamkan kata terima kasih.
Azka langsung meraih tangannya karena dirinya merasa risih dengan pikirannya yang beranggapan seperti ayah yang sedang disalami anak perempuannya, demi apa pun dirinya belum setua itu.
“Jangan salim-salim, saya nggak suka!”
“Iya Pak maaf, tapi sekali lagi terima kasih.” Dira berucap dengan senyum yang tidak pudar dari bibirnya.
Mungkin istilah akan ada pelangi setelah hujan itu seperti ini, baru saja tadi Dira menangis dengan hebatnya, namun sekarang Tuhan dengan begitu baiknya sudah membantu dirinya lewat Azka.
Sementara diam-diam jauh di lubuk hati Azka yang terdalam, seperti ada sesuatu yang mengalirinya, terasa sejuk. Entah kenapa melihat gadis ini tersenyum bahagia Azka juga dapat merasakan hal demikian. Semoga saja langkah awal yang sudah dia ambil ini bukan sebuah kesalahan. Semoga saja ini awal kebaikan untuk dirinya dan Daffa juga gadis didepannya ini.
Pagi harinya Dira sudah bangun pagi-pagi sekali atau dengan kata lain gadis itu tidak tidur selama semalaman, sehabis pembicaraan dengan Azka di meja makan, laki-laki itu langsung menyuruh Dira untuk masuk ke dalam kamarnya.Namun, kenyataannya saat sudah berada didalam kamar dan berbaring di kasur empuk, matanya tidak kunjung tertutup juga. Jadi, Dira memutuskan untuk bermain ponsel lalu saat waktunya subuh gadis itu langsung pergi ke kamar mandi, untuk menyelesaikan kewajibannya.Dan setelah semuanya selesai, di sinilah dia sekarang, di dapur bersama asisten rumah tangga Azka. Sebenarnya mereka semua menolak saat Dira akan membantu, mereka takut jika tuan mereka akan marah.Azka tidak pernah membawa pulang perempuan kedalam rumah ini, kecuali ibu dan kakak perempuannya. Namun, dengan tiba-tiba saja Azka langsung membawa pulang Dira bahkan mengizinkan untuk menginap di sini. Gadis itu pasti cukup spesial untuk Azka.Namun, Dira dengan segala kekeras kepalaannya memaksa mereka untuk m
Perjalanan menuju ke rumah Azka hanya diisi keheningan, karena baik Azka mau pun Dira sepertinya tidak berniat untuk membuka suara setelah kejadian tadi. Dira sibuk berpikir setelah malam ini, kemana dia harus pergi sedangkan Azka kembali berpikir ucapan yang keluar dari mulutnya tadi.Sebenarnya Azka bisa saja membayar tunai melebihi orang yang baru saja mengambil alih kamar kos Dira tadi, namun entah kenapa otaknya berpikir alangkah baiknya membawa Dira untuk ke rumahnya.Sesampainya di rumah Azka, Dira masih saja asik dengan lamunannya. Azka yang melihatnya menghela napas lelah, kini mobil yang dikendarai oleh Azka telah berhenti di depan pintu masuk rumahnya.Melihat gadis disampingnya ini membuat rasa iba Azka keluar seketika, gadis ini sedari tadi tidak mengeluarkan reaksi yang sewajarnya saat kehilangan tempat tinggal seperti orang pada umumnya.Dira tidak menangis ataupun memohon agar tetap diberi izin untuk tinggal, malah gadis itu menerimanya dengan pasrah, dan yang lebih ti
Akhirnya mobil yang dikendarai Azka telah berhenti di depan sebuah rumah, dengan pagar yang terbuat dari kayu jati. Azka menekan klakson di mobilnya beberapa kali. Lalu, pagar itu dibuka oleh seorang laki-laki yang Dira perkirakan adalah seorang satpam, karena mereka berpakaian serba hitam.Azka pun melajukan mobilnya untuk memasuki rumahnya. Dira benar-benar dibuat terkesima oleh halaman depan rumah Azka. Indah sekali. Jalan setapak dikelilingi pohon kanan dan kiri. Lalu saat masuk semakin dalam, Dira melihat sebuah taman kecil dengan satu buah gazebo yang dikelilingi kolam. Nyaman sekali pasti jika bisa bersantai di situ.Mobil yang Dira tumpangi berhenti tepat di depan sebuah pintu yang besar. Mungkin saja itu pintu utamanya. Azka keluar dari mobil diikuti Dira setelahnya. Dan di sana sudah ada sekitar empat orang yang sedang menunggu mereka dengan menundukkan kepalanya.Azka berhenti di depan mereka kemudian berkata. “Tolong parkirkan mobil saya.” tentu saja perintah Azka langsung
Azka telah sampai di alamat tempat kerja Dira, yang dia dapat dari hasil pencarian Bambang tadi. Sekarang masih jam lima sore. Tapi, Azka memutuskan untuk pulang kantor terlebih dahulu. Dia harus mencari Dira untuk Daffa. Anaknya itu sudah terlanjur di manja saat masih kecil. Jadi, sampai sekarang pun hal itu tidak bisa dia hindarkan dari Daffa.Toko baju ini lumayan besar. Dan setahu Azka, toko ini cukup terkenal di Malang. Jadi, mana mungkin dia mengelilingi toko tiga lantai ini, hanya untuk mencari keberadaan Dira? Bisa-bisa sampai jam enam nanti, dia baru menemukan keberadaan gadis itu.Azka turun setelah memarkirkan mobilnya di basemant toko ini. Langkahnya menuntun Azka sampai di lantai satu. Dia memperhatikan sekelilingnya dengan saksama. Menurut informasi dari Bambang. Dira bekerja sebagai kasir di bagian kosmetik di lantai satu.Jadi, saat dia telah berdiri di bagian kosmetik, tidak sulit menemukan sosok Dira yang sedang bekerja di tempatnya. Gadis itu cantik. Entah mengapa A
Part 2Kisah Indira “Maaf. Bapak, Papanya Daffa?” tanya Dira sopan.“Iya, saya Papanya Daffa,” jawab pria itu setelah menguasai keterkejutannya.“Tadi Daffa sendirian, jadi saya bantu cari orang tuanya. Maaf bikin Bapak khawatir.”Pria itu menggeleng pelan. “Nggak apa-apa. Saya yang harus terima kasih. Maaf kalau Daffa merepotkan.”“Sama sekali enggak, Pak. Daffa lucu kok.” Dira tersenyum manis.Azka terpaku sejenak menatap senyuman itu. Ia berdeham pelan untuk menguasai diri, lalu mengulurkan tangan.“Saya Azka. Azka Nugraha.”Dira tersontak terkejut. “Pak Azka? Pemilik Nugraha Company yang mau beri sambutan di Fakultas Ekonomi?”Azka terkekeh melihat kepolosan gadis di hadapannya. “Iya, saya Azka. Kamu kenapa?”“Ganteng banget,” ceplos Dira tanpa sadar. Wajahnya seketika memerah padam, membuat Azka kembali tertawa pelan. “Eh, maaf, Pak! Maksud saya— aduh, bingung jelasinnya.”“Santai saja. Kamu belum sebutkan nama kamu,” ucap Azka tenang.“Saya Indira, Pak. Senang bisa ketemu Bapak
Part 1Bunda!Langkah kaki Indira bergema kencang, dengan napasnya terengah-engah, serta peluh dingin yang mulai membasahi pelipis.Tubuhnya terasa begitu berat. Efek dari keputusan impulsifnya semalam—terbangun hingga pukul empat pagi demi mengejar deadline revisi proposal kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).Jika bukan karena tanggung jawabnya sebagai anggota divisi acara, Dira pasti sudah memilih meringkuk di bawah selimut."Indira!"Suara berat seorang pria terdengar memanggil namanya dari arah belakang. Dira mendadak menghentikan langkah, berbalik cepat, dan mendapati sosok yang paling ingin ia hindari pagi ini.Dirga. Ketua BEM bertangan dingin yang terkenal tak kenal kompromi. Pria itu berjalan mendekat dengan aura penuh dominasi seperti biasanya, membawa map tebal di tangan kiri.Dira berusaha mengulas senyum tipis, menutupi rasa lelah yang menggerogoti fisiknya. "Pagi, Kak Dir—""Mana proposalnya? Aman?" potong Dirga cepat, tanpa basa-basi.Dira mengepalkan kedua tangann







