共有

Bab 5

作者: Rizcaca21
last update 公開日: 2026-06-29 18:28:46

Perjalanan menuju ke rumah Azka hanya diisi keheningan, karena baik Azka mau pun Dira sepertinya tidak berniat untuk membuka suara setelah kejadian tadi. Dira sibuk berpikir setelah malam ini, kemana dia harus pergi sedangkan Azka kembali berpikir ucapan yang keluar dari mulutnya tadi.

Sebenarnya Azka bisa saja membayar tunai melebihi orang yang baru saja mengambil alih kamar kos Dira tadi, namun entah kenapa otaknya berpikir alangkah baiknya membawa Dira untuk ke rumahnya.

Sesampainya di rumah Azka, Dira masih saja asik dengan lamunannya. Azka yang melihatnya menghela napas lelah, kini mobil yang dikendarai oleh Azka telah berhenti di depan pintu masuk rumahnya.

Melihat gadis disampingnya ini membuat rasa iba Azka keluar seketika, gadis ini sedari tadi tidak mengeluarkan reaksi yang sewajarnya saat kehilangan tempat tinggal seperti orang pada umumnya.

Dira tidak menangis ataupun memohon agar tetap diberi izin untuk tinggal, malah gadis itu menerimanya dengan pasrah, dan yang lebih tidak di mengerti oleh Azka gadis itu masih bisa tersenyum kepada orang yang baru saja mengusirnya dari tempat tinggalnya.

“Kamu tidak mau turun?” tanya Azka karena sedari tadi Dira tidak juga menunjukkan kesadarannya malah makin asik dengan lamunannya.

“Eh... udah sampai Pak?” tanya Dira gelagapan sambil menengok kanan kiri.

“Sudah satu menit yang lalu, kamu membuang waktu saya dengan percuma.” Azka berucap sambil membuka pintu bagian kemudi dan keluar meninggalkan Dira sendirian didalam mobil.

Dira hanya melihatnya dengan sebal, sebelum ikut turun dari mobil dan mengikuti langkah Azka yang berjalan masuk ke dalam rumah. Azka berhenti di sebuah pintu yang Dira tebak adalah sebuah kamar.

“Ini kamar kamu, kamu boleh istirahat.” saat Azka akan beranjak dari sana, Dira segera saja meraih ujung kaos yang dipakai oleh Azka, yang membuat laki-laki itu berhenti melangkah.

Menatap tangan Dira yang masih menggenggam ujung kaosnya, lalu kemudian memandang Dira dengan kedua alis ditautkan, Dira yang mengerti langsung saja melepaskan pegangannya dan berkata.

 “Maaf Pak.”

“Lupakan, ada apa?” kini Azka sepenuhnya menatap Dira dengan pandangan matanya yang tajam.

“Saya cuman mau bilang makasih karena udah baik sama saya.” mendengar ucapan itu, Azka hanya memandang Dira dengan datar.

“Lalu?”

“Lalu apa Pak?” tanya Dira heran.

“Kamu cuman mau mengucapkan makasih?” Dira hanya menganggukkan kepalanya.

“Ini nggak gratis.” Azka berucap lalu setelahnya langsung beranjak dari sana menuju ke kamarnya di lantai dua, meninggalkan Dira sendiri dengan kebingungannya.

“Maksudnya tadi nggak gratis, harus bayar gitu?” gumam Dira sendiri lalu meraih kenop pintu dan masuk ke dalam kamar sementaranya.

Malam sudah semakin larut, jarum jam sudah menunjukkan pukul dua pagi, namun mata Dira tak kunjung mau terpejam. Bukan karena kasur di ranjang ini tidak empuk, tapi sedari tadi Dira terus berpikir bagaimana dirinya besok dan besoknya lagi.

Kemana dirinya akan tinggal? Mau sewa kamar kos lagi, uang yang sekarang dia punya hanya cukup untuk makan dan ongkos pergi kuliah. Mau meminjam nanti dia tidak bisa mengembalikan.

Kalau sudah seperti ini, gadis itu selalu teringat dengan ayah dan ibunya, di saat gadis sumurannya bisa bersenang-senang dengan mudah dirinya malah harus memikirkan hari esok.

Di saat semua bisa bermanja-manja dengan ayah mereka, Dira bahkan tidak mempunyai siapa-siapa untuk berkeluh kesah. Di saat semua gadis seusianya biasanya berada dipelukan ibu mereka saat ada masalah, Dira malah sudah tidak bisa lagi merasakan kehangatan pelukan itu.

Tanpa sadar air mata keluar dari kedua matanya, malam ini, izinkan Dira menangis dan meratapi nasib yang baru saja dia terima. Dira menangis tanpa suara, air mata terus keluar tanpa henti dari kedua matanya. Entah kenapa sesuatu didalam sana terasa amat menyesakkan, dia merindukan kedua orang tuanya apalagi ibunya.

Dira terus menangis tanpa henti, Dira meyakinkan dirinya sendiri jika hanya malam ini dia akan menangis. Hanya malam ini, karena esok Dira akan kembali menjadi sosok yang mampu menghadapi kerasnya hidup. Esok Dira akan menjadi Indira yang tak pernah jatuh hanya karena Tuhan sedang mengujinya.

Tanpa Dira sadari, gadis itu sudah menangis cukup lama karena jarum jam sudah bergerak ke arah pukul tiga. Sudah terlanjur, mau tidur pun nanggung, nanti jadinya dia malah bangun kesiangan.

Beranjak dari ranjangnya setelah memastikan jejak air mata tak tertinggal di sana. Membuka pintu kamarnya dengan pelan. Suasana di luar kamar masih gelap, jelas ini masih pukul tiga pagi.

Melangkah pelan berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun, karena tidak ingin membangunkan siapa pun. Langkahnya menuntun Dira sampai di dapur rumah Azka yang begitu besar dengan peralatan memasak yang cukup canggih.

Dira berjalan ke arah kulkas dua pintu milik Azka, melihat apa yang bisa Dira ambil dan akhirnya gadis itu memutuskan untuk mengambil buah jeruk dan air putih dingin lalu menuangkannya dalam gelas.

Dira duduk di kursi meja makan lalu mulai mengupas jeruk yang diambilnya tadi. Namun, baru setengah jeruk yang dia makan, lampu yang dihidupkan membuat Dira berdiam di tempatnya. Kenapa rasanya dia sekarang telah menjadi pencuri yang mengambil makanan orang lain.

Dira menolehkan kepalanya ke belakang dan menemukan Azka yang tengah bersandar di tembok sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, memandang ke arah Dira dengan pandangan matanya yang tajam itu.

Dira yang dipandang itu hanya meringis di tempatnya sebelum berkata, “Pak Azka mau jeruk?” tanyanya sambil mengangkat jeruk yang tinggal separuh itu.

Sejujurnya Azka sempat kaget saat melihat bayangan di meja makan, namun saat menemukan Dira di sana, Azka malah lebih kaget saat gadis itu menolehkan kepala ke arahnya, mata gadis itu sembab. Terlihat sekali jika gadis itu telah menangis dengan waktu yang cukup lama.

Akhirnya Azka memilih untuk mengabaikan pertanyaan Dira dan berjalan ke arah kulkas, mengambil kaleng berisikan cola dan duduk disamping Dira yang masih menatapnya sedari tadi.

“Kenapa kamu tidak menghidupkan lampu?” tanya Azka begitu selesai meminum soft drinknya dan meletakkannya di meja.

“Saya takut ganggu,” jawabnya pelan.

Azka menghela napas pelan lalu kemudian kembali bertanya hal yang tidak penting.

 “Kenapa kamu makan jeruk malam-malam?”

“Saya nggak bisa tidur Pak, jadi saya ke dapur cari apa yang bisa dimakan.”

Setelah itu baik Azka mau pun Dira hanya terdiam di tempatnya masing-masing.

Ehem.

Azka berdeham pelan karena dia akan memulai percakapan yang cukup serius. Setelah memikirkannya tadi, Azka sudah memutuskan suatu hal terhadap Dira. Semoga saja keputusannya ini tidak salah.

“Saya mau menawarkan sesuatu sama kamu, ini juga kalau kamu mau.”

“Penawaran apa Pak?” tanya Dira penasaran.

“Kamu boleh tinggal di sini secara gratis-“ belum sempat Azka melanjutkan perkataannya, Dira sudah terlebih dahulu memberikan reaksi.

“Ha!?”

Azka memandangnya tajam, menginstruksikan agar Dira mengunci mulutnya terlebih dahulu sampai dirinya menyelesaikan perkataannya.

“Syarat kamu cukup mudah untuk tinggal di sini secara gratis, kamu cukup jagain Daffa dan urus semua keperluan saya. Dengan begitu sebagai imbalannya, saya akan membiayai kuliah kamu sampai selesai dan setiap bulannya kamu juga akan menerima uang untuk keperluan kamu sendiri, bagaimana?”

Dira benar-benar melongo setelah mendengar perkataan Azka barusan. Otaknya yang pas-pas-an itu mencoba mencerna ucapan Azka dengan cepat.

“Maksud Bapak, saya jadi pelayan di sini? Boleh tidur gratis di sini? Kuliah saya juga dibiayai sama Bapak? Sampai selesai?” tanya Dira dengan menatap penuh harap kepada Azka.

Sedangkan Azka yang mendengar kata ‘pelayan’ meringis didalam hati, entah mengapa ada sesuatu dalam dirinya yang menunjukkan ketidaksukaannya, saat mendengar gadis didepan ini menyebut dirinya sendiri sebagai pelayan.

“Terserah bagaimana kamu menyimpulkannya,” jawab Azka terdengar ragu.

Tanpa disangka oleh Azka, Dira segera saja meraih telapak tangannya dan menciumnya, seperti seorang anak yang sedang salim kepada ayahnya dan gadis didepannya ini melakukannya beberapa kali sambil menggumamkan kata terima kasih.

Azka langsung meraih tangannya karena dirinya merasa risih dengan pikirannya yang beranggapan seperti ayah yang sedang disalami anak perempuannya, demi apa pun dirinya belum setua itu.

“Jangan salim-salim, saya nggak suka!”

“Iya Pak maaf, tapi sekali lagi terima kasih.” Dira berucap dengan senyum yang tidak pudar dari bibirnya.

Mungkin istilah akan ada pelangi setelah hujan itu seperti ini, baru saja tadi Dira menangis dengan hebatnya, namun sekarang Tuhan dengan begitu baiknya sudah membantu dirinya lewat Azka.

Sementara diam-diam jauh di lubuk hati Azka yang terdalam, seperti ada sesuatu yang mengalirinya, terasa sejuk. Entah kenapa melihat gadis ini tersenyum bahagia Azka juga dapat merasakan hal demikian. Semoga saja langkah awal yang sudah dia ambil ini bukan sebuah kesalahan. Semoga saja ini awal kebaikan untuk dirinya dan Daffa juga gadis didepannya ini.

 

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 40

    Azka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, bersyukurlah Azka karena jalanan masih cukup sepi, karena memang masih pagi, jika tidak, sudah dipastikan Azka menerima umpatan dari para pengendara di jalanan.Setelah memarkirkan mobilnya dengan asal di depan tempat kos Dira, Azka segera turun dari mobilnya dan berjalan setengah berlari ke arah kamar gadis itu, lalu menggedor pintunya dengan keras.“Ra, buka pintunya, Daffa di rumah sakit!”“Dira! Kamu didalam, kan?”“Ra, buka pintunya! Daffa cariin kamu dari semalam, buka pintunya, Ra!”Mungkin karena kegaduhan yang Azka perbuat, penghuni kamar kos di sebelah kamar Dira mulai membuka pintu kamarnya.“Pak Azka, ya?”Merasa namanya dipanggil, Azka menolehkan kepalanya kepada gadis yang Azka perkirakan usianya sama dengan Dira.“Iya, kenapa?”“Sebentar-” gadis itu kembali masuk ke dalam kamarnya dan tidak berapa lama kemudian, gadis itu keluar dengan membawa kunci.“Ini kunci kamarnya Dira, disuruh kasih ke Pak Azka.” Azka

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 39

    Sepanjang perjalanan, hanya diam yang mengisi keheningan didalam mobil yang ditumpangi oleh Azka dan Dira. Dira memalingkan wajahnya ke arah jendela disampingnya, enggan melihat ke arah Azka. Sementara Azka sedari tadi ingin mengajak Dira bicara, namun Azka menahannya karena merasa jika suasana saat ini kurang pas.Sesampainya di depan tempat kos Dira, gadis itu baru saja akan keluar dari mobil Azka, namun pria itu menghentikannya.“Kita perlu bicara.”Dira menghela napas sebelum memilih tetap duduk didalam mobil Azka.“Mas sekarang udah bicara,” ucapnya dengan pelan.“Aku minta maaf, Ra, aku tau sikapku akhir-akhir ini sangat kekanak-kanakan, aku nggak bisa bersikap dewasa menghadapi semuanya. Aku, aku salah Ra, aku minta maaf.” raut wajah frustrasi tidak bisa Azka sembunyikan lagi, kentara sekali jika pria itu sedang cemas saat ini.Dira menghadap Azka lalu gadis itu tersenyum seperti biasa.“Aku maafin, Mas.”Seharusnya Azka senang mendengar jawaban yang Dira berikan, namun kenyata

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 38

    Keadaan Azka tidak jauh berbeda dengan Dira, pria itu menjadi terkena insomnia. Azka terlalu memaksakan tubuhnya untuk bekerja, tidak tidur tepat wakku dan menjadi jarang menemani Daffa bermain, untung saja ada mama dan neneknya yang menemani Daffa.Azka memikirkan hubungannya dengan Dira yang menjadi semakin jauh ini. Sejujurnya Azka tidak menyukai ini, namun, dia juga benar-benar masih bimbang. Azka mengaku jika dirinya bersalah telah membohongi Dira waktu itu, bahkan sampai sekarang.Namun, tidak bisakah Dira memberinya waktu, bukan malah menjauh seperti ini. Azka memang hanya perlu waktu untuk berpikir, tentang Claris dan Dira. Dua perempuan itu berputar-putar di kepalanya hingga membuat kepalanya hampir pecah.*Beberapa jam sebelum pesta, di kantor AzkaBambang masuk ke dalam ruangan Azka tanpa permisi. Laki-laki itu duduk di sofa yang ruangan Azka. “Nanti malam, lo ada undangan ulang tahun perusahaan.”“Gue malas datang, lo aja.”“Kita berdua berangkat, lo perlu datang buat men

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 37

    Karena memang acara bakti sosial akan dilaksanakan hari sabtu besok, maka, kini Ratu dan Dira sedang berada di pasar untuk membeli perlengkapan yang akan mereka butuhkan di sana nanti.Sedari tadi Ratu tidak berhenti mendumel, gadis itu menyalahkan Dira yang terlalu patuh dengan perintah Dirga. Ratu sudah mengatakan jika mereka lebih baik belanja di supermarket saja, tapi Dira menolak dengan tegas.Dan di sinilah mereka sekarang, setelah hampir dua jam mengelilingi pasar yang membuat kaki Ratu terasa hampir copot. Dira mengajak Ratu minum es cincau di tempat parkir pasar, tidak jauh dari mobil Ratu berada.“Lo gimana sama Pak Azka?” sebenarnya Ratu sudah ingin bertanya ini dari dulu, namun gadis itu mencari momen yang tepat.“Nanti kalau gue cerita sama lo, lo bakal bilang lagi sama anak-anak.” Dira tertawa di akhir kalimatnya.“Itu-kan karena gue keceplosan, soalnya si Dirga mancing-mancing terus.”Dira hanya tersenyum mendengarnya.“Ra, sebenarnya gue pengen tanya sesuatu sama lo. T

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 36

    Azka pulang ke rumah sekitar pukul delapan malam, di saat semua orang di rumahnya sudah selesai melakukan makan malam. Azka memasuki rumahnya dengan langkah cepat, dia masih belum bisa bertemu dengan Dira.Namun, seruan dari sang ibu dari ruang tamu, membuat Azka menghentikan langkahnya dan berjalan menghampiri ibunya yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Ibunya tidak sendiri, ada Dira dan neneknya, entahlah, tapi Azka merasa sesuatu akan terjadi setelah ini.“Kamu tumben pulang telat?”“Kantor lagi banyak kerjaan Ma, ada apa?” Azka bertanya sambil duduk di sofa tunggal tidak jauh dari ibunya.“Mama udah ke pikiran ini sejak beberapa hari yang lalu sebenarnya, Mama juga udah minta saran sama Papa, dan Papa kamu setuju. Jadi, Mama pikir nggak ada alasan lagi buat kamu menolak keinginan Mama ini.”“Tentang apa, Ma?”“Mama rasa kamu dan Dira harus tinggal di rumah yang berbeda, sebelum pernikahan kalian dilaksanakan.” sontak saja kalimat yang ibunya lontarkan, membuat Azka membulatkan ma

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 35

    Dira kembali ke rumah Azka sekitar pukul tujuh malam, diantar oleh Oki. Bisa di bilang ini waktu terlama, biasanya gadis itu pulang ke rumah Azka tidak selama ini. Jika memang terlambat, gadis itu pasti akan mengatakannya kepada Azka.Dira memasuki rumah Azka dengan langkah pelan, gadis itu baru saja melangkahkan kakinya ke ruang tamu dan sapaan ketus langsung terdengar di telinga Dira.“Dari mana kamu?!”Dira menolehkan kepalanya ke asal suara tersebut, dan dia menemukan Azka yang tengah berdiri dan menatapnya marah.“Aku dari kampus,” jawab Dira pelan.“Dari kampus dan pulang jam segini?!” Azka tertawa sinis kemudian.“Kamu pikir aku nggak tau kalau jadwal kuliah kamu hari ini siang? Dan kamu berangkat dari pagi sampai pulang malam kayak gini. Kamu nggak mikir gimana Daffa nyari bundanya terus, kamu nggak mikirin gimana mama sama nenek yang repot diamin Daffa? Kamu malah enak-enakkan keluyuran nggak jelas dan pulang diantar laki-laki lain!” Dira menghela napasnya pelan.“Aku nggak

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status