Compartir

Bab 2

Autor: Rizcaca21
last update Fecha de publicación: 2026-06-29 18:26:57

Part 2

Kisah Indira

 “Maaf. Bapak, Papanya Daffa?” tanya Dira sopan.

“Iya, saya Papanya Daffa,” jawab pria itu setelah menguasai keterkejutannya.

“Tadi Daffa sendirian, jadi saya bantu cari orang tuanya. Maaf bikin Bapak khawatir.”

Pria itu menggeleng pelan. “Nggak apa-apa. Saya yang harus terima kasih. Maaf kalau Daffa merepotkan.”

“Sama sekali enggak, Pak. Daffa lucu kok.” Dira tersenyum manis.

Azka terpaku sejenak menatap senyuman itu. Ia berdeham pelan untuk menguasai diri, lalu mengulurkan tangan.

“Saya Azka. Azka Nugraha.”

Dira tersontak terkejut. “Pak Azka? Pemilik Nugraha Company yang mau beri sambutan di Fakultas Ekonomi?”

Azka terkekeh melihat kepolosan gadis di hadapannya. “Iya, saya Azka. Kamu kenapa?”

“Ganteng banget,” ceplos Dira tanpa sadar. Wajahnya seketika memerah padam, membuat Azka kembali tertawa pelan. “Eh, maaf, Pak! Maksud saya— aduh, bingung jelasinnya.”

“Santai saja. Kamu belum sebutkan nama kamu,” ucap Azka tenang.

“Saya Indira, Pak. Senang bisa ketemu Bapak.” Dira menahan malu, lalu bergegas pamit. “Saya permisi dulu ya, Pak. Kebetulan ada kelas sebentar lagi.”

“Nda, mau ke mana?” tanya Daffa polos.

Dira berlutut menyejajarkan tinggi mereka. “Kak Dira mau sekolah dulu, Daffa sayang.”

“Dapa ikut, ya?” pinta Daffa dengan mata berbinar.

Azka langsung ikut berlutut memberi pengertian. “Daffa sayang, Kak Dira mau sekolah, bukan main. Nanti Kak Dira dimarahi Bu Guru kalau bawa Daffa.”

“Bu gulu jahat?”

“Bu Guru baik kalau Daffa nggak nakal,” jawab Azka sambil menjawil hidung anaknya.

“Dapa nggak nakal!”

“Kalau gitu, nggak boleh ikut Kak Dira sekolah, ya?”

Daffa akhirnya mengangguk mengalah. “Peyuk!” ujarnya sambil merentangkan tangan.

Dira memeluk dan mencium pipi gembul Daffa. “Nggak boleh nakal ya sama Papa.”

Daffa mengangguk lalu balik mencium pipi Dira.

Azka hanya bergeming memperhatikan interaksi itu. Daffa tampak sangat menyukai Dira dan merindukan sosok ibu. Setelah Dira pamit dan melangkah pergi, Azka menyadari satu hal, Dira sama sekali berbeda dari mantan istrinya, meski sepintas ada kemiripan pada raut wajah mereka.

“Nanti Dapa ketemu Bunda lagi, kan?” rengek Daffa sambil menarik jas ayahnya.

“Daffa mau ketemu lagi?” tanya Azka. Begitu Daffa mengangguk antusias, Azka menyahut datar, “Ya udah, nanti kita ketemu lagi.” Azka mengira anaknya akan cepat lupa. Namun, dugaannya meleset.

Sore harinya di kediaman Nugraha, Daffa terus menangis dan merengek menolak makan sebelum bertemu Dira. Pengasuhnya yang kewalahan akhirnya menghubungi Azka di kantor.

Azka meminta pengasuh melakukan video call. Di layar ponsel, tampak Daffa duduk di tempat tidur dengan mata dan hidung yang memerah akibat terlalu lama menangis.

“Daffa, lihat Papa,” panggil Azka tegas. “Daffa masih ingat kata Bunda tadi? Nggak boleh apa?”

“Nggak boleh nangis... nggak boleh nakal,” sahut Daffa serak.

“Terus kenapa menangis dan nggak nurut sama Mbak?”

“Dapa mau ketemu Bunda, Papa!” teriak Daffa menuntut.

Azka menghela napas berat, memijit pelipisnya. Sifat keras kepala anaknya benar-benar meniru dirinya.

“Daffa sudah makan?”

“Nggak mau makan kalau nggak ada Bunda!”

Azka terpaksa mengalah. “Papa nanti pulang membawa Bunda. Tapi Daffa harus makan dulu sekarang. Papa janji.”

“Oke, Bos!” Daffa seketika mengusap air matanya dan bersemangat kembali.

Setelah panggilan berakhir, Azka langsung menekan tombol interkom di mejanya. “Masuk ke ruangan saya sekarang.”

Tak lama, Bambang, sekretaris sekaligus sahabatnya, masuk ke ruangan.

“Tolong cari alamat Indira. Dia mahasiswi Universitas A, jurusan Ekonomi.”

Bambang melotot kaget. “Astaga, Bos! Lo mainnya sama anak kuliahan sekarang?”

“Muka lo biasa aja sebelum gue lempar berkas,” potong Azka datar. “Cari sekarang. Gue mau alamatnya sebelum jam pulang kantor.”

“Siap, laksanakan!” jawab Bambang tegas lalu bergegas keluar.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 6

    Pagi harinya Dira sudah bangun pagi-pagi sekali atau dengan kata lain gadis itu tidak tidur selama semalaman, sehabis pembicaraan dengan Azka di meja makan, laki-laki itu langsung menyuruh Dira untuk masuk ke dalam kamarnya.Namun, kenyataannya saat sudah berada didalam kamar dan berbaring di kasur empuk, matanya tidak kunjung tertutup juga. Jadi, Dira memutuskan untuk bermain ponsel lalu saat waktunya subuh gadis itu langsung pergi ke kamar mandi, untuk menyelesaikan kewajibannya.Dan setelah semuanya selesai, di sinilah dia sekarang, di dapur bersama asisten rumah tangga Azka. Sebenarnya mereka semua menolak saat Dira akan membantu, mereka takut jika tuan mereka akan marah.Azka tidak pernah membawa pulang perempuan kedalam rumah ini, kecuali ibu dan kakak perempuannya. Namun, dengan tiba-tiba saja Azka langsung membawa pulang Dira bahkan mengizinkan untuk menginap di sini. Gadis itu pasti cukup spesial untuk Azka.Namun, Dira dengan segala kekeras kepalaannya memaksa mereka untuk m

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 5

    Perjalanan menuju ke rumah Azka hanya diisi keheningan, karena baik Azka mau pun Dira sepertinya tidak berniat untuk membuka suara setelah kejadian tadi. Dira sibuk berpikir setelah malam ini, kemana dia harus pergi sedangkan Azka kembali berpikir ucapan yang keluar dari mulutnya tadi.Sebenarnya Azka bisa saja membayar tunai melebihi orang yang baru saja mengambil alih kamar kos Dira tadi, namun entah kenapa otaknya berpikir alangkah baiknya membawa Dira untuk ke rumahnya.Sesampainya di rumah Azka, Dira masih saja asik dengan lamunannya. Azka yang melihatnya menghela napas lelah, kini mobil yang dikendarai oleh Azka telah berhenti di depan pintu masuk rumahnya.Melihat gadis disampingnya ini membuat rasa iba Azka keluar seketika, gadis ini sedari tadi tidak mengeluarkan reaksi yang sewajarnya saat kehilangan tempat tinggal seperti orang pada umumnya.Dira tidak menangis ataupun memohon agar tetap diberi izin untuk tinggal, malah gadis itu menerimanya dengan pasrah, dan yang lebih ti

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 4

    Akhirnya mobil yang dikendarai Azka telah berhenti di depan sebuah rumah, dengan pagar yang terbuat dari kayu jati. Azka menekan klakson di mobilnya beberapa kali. Lalu, pagar itu dibuka oleh seorang laki-laki yang Dira perkirakan adalah seorang satpam, karena mereka berpakaian serba hitam.Azka pun melajukan mobilnya untuk memasuki rumahnya. Dira benar-benar dibuat terkesima oleh halaman depan rumah Azka. Indah sekali. Jalan setapak dikelilingi pohon kanan dan kiri. Lalu saat masuk semakin dalam, Dira melihat sebuah taman kecil dengan satu buah gazebo yang dikelilingi kolam. Nyaman sekali pasti jika bisa bersantai di situ.Mobil yang Dira tumpangi berhenti tepat di depan sebuah pintu yang besar. Mungkin saja itu pintu utamanya. Azka keluar dari mobil diikuti Dira setelahnya. Dan di sana sudah ada sekitar empat orang yang sedang menunggu mereka dengan menundukkan kepalanya.Azka berhenti di depan mereka kemudian berkata. “Tolong parkirkan mobil saya.” tentu saja perintah Azka langsung

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 3

    Azka telah sampai di alamat tempat kerja Dira, yang dia dapat dari hasil pencarian Bambang tadi. Sekarang masih jam lima sore. Tapi, Azka memutuskan untuk pulang kantor terlebih dahulu. Dia harus mencari Dira untuk Daffa. Anaknya itu sudah terlanjur di manja saat masih kecil. Jadi, sampai sekarang pun hal itu tidak bisa dia hindarkan dari Daffa.Toko baju ini lumayan besar. Dan setahu Azka, toko ini cukup terkenal di Malang. Jadi, mana mungkin dia mengelilingi toko tiga lantai ini, hanya untuk mencari keberadaan Dira? Bisa-bisa sampai jam enam nanti, dia baru menemukan keberadaan gadis itu.Azka turun setelah memarkirkan mobilnya di basemant toko ini. Langkahnya menuntun Azka sampai di lantai satu. Dia memperhatikan sekelilingnya dengan saksama. Menurut informasi dari Bambang. Dira bekerja sebagai kasir di bagian kosmetik di lantai satu.Jadi, saat dia telah berdiri di bagian kosmetik, tidak sulit menemukan sosok Dira yang sedang bekerja di tempatnya. Gadis itu cantik. Entah mengapa A

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 2

    Part 2Kisah Indira “Maaf. Bapak, Papanya Daffa?” tanya Dira sopan.“Iya, saya Papanya Daffa,” jawab pria itu setelah menguasai keterkejutannya.“Tadi Daffa sendirian, jadi saya bantu cari orang tuanya. Maaf bikin Bapak khawatir.”Pria itu menggeleng pelan. “Nggak apa-apa. Saya yang harus terima kasih. Maaf kalau Daffa merepotkan.”“Sama sekali enggak, Pak. Daffa lucu kok.” Dira tersenyum manis.Azka terpaku sejenak menatap senyuman itu. Ia berdeham pelan untuk menguasai diri, lalu mengulurkan tangan.“Saya Azka. Azka Nugraha.”Dira tersontak terkejut. “Pak Azka? Pemilik Nugraha Company yang mau beri sambutan di Fakultas Ekonomi?”Azka terkekeh melihat kepolosan gadis di hadapannya. “Iya, saya Azka. Kamu kenapa?”“Ganteng banget,” ceplos Dira tanpa sadar. Wajahnya seketika memerah padam, membuat Azka kembali tertawa pelan. “Eh, maaf, Pak! Maksud saya— aduh, bingung jelasinnya.”“Santai saja. Kamu belum sebutkan nama kamu,” ucap Azka tenang.“Saya Indira, Pak. Senang bisa ketemu Bapak

  • Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?   Bab 1

    Part 1Bunda!Langkah kaki Indira bergema kencang, dengan napasnya terengah-engah, serta peluh dingin yang mulai membasahi pelipis.Tubuhnya terasa begitu berat. Efek dari keputusan impulsifnya semalam—terbangun hingga pukul empat pagi demi mengejar deadline revisi proposal kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).Jika bukan karena tanggung jawabnya sebagai anggota divisi acara, Dira pasti sudah memilih meringkuk di bawah selimut."Indira!"Suara berat seorang pria terdengar memanggil namanya dari arah belakang. Dira mendadak menghentikan langkah, berbalik cepat, dan mendapati sosok yang paling ingin ia hindari pagi ini.Dirga. Ketua BEM bertangan dingin yang terkenal tak kenal kompromi. Pria itu berjalan mendekat dengan aura penuh dominasi seperti biasanya, membawa map tebal di tangan kiri.Dira berusaha mengulas senyum tipis, menutupi rasa lelah yang menggerogoti fisiknya. "Pagi, Kak Dir—""Mana proposalnya? Aman?" potong Dirga cepat, tanpa basa-basi.Dira mengepalkan kedua tangann

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status