ANMELDENSaat Sagara hendak menyentuh, Liora refleks menghindarinya.Liora menatap mayat di tanah. Lalu menatap Sagara.“Papa… barusan bunuh orang?” Suaranya bergetar, berusaha menyembunyikan ketakutan dan meredam keterkejutan. Sagara tidak menjawab dan semua orang tidak ada yang berani bicara. Bahkan Edward diam seribu bahasa.Melihat Sagara hanya diam, Liora menebak bahwa dugaannya benar. Bibir Liora bergetar. ‘Jadi, inikah wajah asli Papa? Tapi, kenapa? Kenapa Papa bunuh orang? Apa Papa nggak takut dilaporin polisi?’Hati Liora yang semula mengkhawatirkan papanya, tetapi pada detik berikutnya langsung berubah. ‘Bukannya hukum di negeri ini tajam ke bawah dan tumpul ke atas? Dengan kekayaan dan kekuasaan keluarga Kivandra, Papa pasti bakalan lolos dari jerat hukum.’Senyum sinis muncul di bibir Liora. Benar!Untuk apa mengkhawatirkan papanya? Orang dewasa yang cerdas dan licik pasti memiliki banyak akal untuk keluar dari jerat hukum. Edward memainkan matanya, mencari-cari keberadaan du
“Nona, HP kamu sudah selesai diperbaiki.”Sore hari, Nuna datang bersama Deyan ke kamar Liora sambil membawa ponselnya. Mereka melihat Liora sedang duduk di bawah jendela, memperhatikan suasana villa yang indah. “Udah selesai?”Nuna mengangguk lalu menyerahkan ponsel itu.“Layar depan udah diganti. Semua data di dalamnya aman.”Liora langsung menyalakan ponselnya. Beberapa detik kemudian layar utama muncul. Dia memeriksanya. Semua aplikasi, chat, dan file masih utuh.Liora tersenyum tipis. “Syukurlah. Data-data di dalamnya aman. Thank you, Bu Nuna.”“Sama-sama, Nona.”Tanpa diketahui Liora, sebelum ponsel itu dikembalikan, Akbar sudah memasang alat pelacak di dalamnya atas perintah Sagara.Liora meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu, menatap Nuna dan Deyan bergantian. “Bu Nuna, Pak Deyan, sebenarnya siapa yang nyerang kita? Apa Papa punya banyak musuh?”Nuna dan Deyan terdiam. Bahkan mereka menghindari tatapan Liora. Liora melanjutkan. “Siapa yang nyerang aku? Mereka menargetkan
Di kamar Liora. Ketika hari hampir siang, Liora menunjukkan tanda-tanda bangun. “Ahhhh, kepalaku…”Bulu mata Liora bergetar dua kali sebelum matanya terbuka. Dia menatap langit-langit kamarnya. Liora memegangi kepalanya. Terdapat kasa kecil yang direkatkan dengan medical tape menutupi luka di dahi Liora.“Lio kesayangan Mama. Kamu sudah bangun, Nak?”Itu suara Aluna. Liora menoleh ke kanannya. Dia melihat Aluna duduk di tepi ranjang, menatapnya dengan penuh harapan. Di sisi Aluna, Sagara dan Edward berdiri. Dan, di belakang mereka, berdiri orang-orang kepercayaan orang tuanya. Wajah-wajah lelah mereka membuat hati Liora terenyuh. Dia langsung teringat kejadian semalam. Aluna memegangi tangan Liora. “Gimana perasaan kamu? Apa udah enakan?”“Mama, Papa, Kak Edward…”Suara Liora pelan. Dia mencoba duduk dengan bantuan Aluna. Edward mengacungkan jempol pada Liora. “Nah, pinter. Itu baru bener panggil gue ‘Kak Edward’. Punya Adek cuma satu, tapi kok gengsi banget panggil Kakak!”Edw
Edward tersenyum. “Lio, lagi tidur aja, lo tetap cantik banget.”Edward mengeluarkan kotak kecil dari dalam saku celana. Lalu, membukanya. “Lio, ini kapsul racikan Bu Nuna supaya demam lo reda dan nggak mimpi buruk lagi.”Kapsul di tangan Edward berfungsi untuk menurunkan demam, menenangkan saraf, dan menstabilkan kondisi tubuh setelah shock berat.Efek sampingnya membuat tubuh lebih rileks dan tidur lebih nyenyak. Kapsul itu juga mampu menekan mimpi buruk.“Kapsul ini cuma ada satu. Awalnya, Bu Nuna sengaja racik kapsul ini khusus buat gue. Tapi kayaknya, lo lebih butuh daripada gue.”Edward memasukkan kapsul itu ke mulut Liora. Setelah memastikan Liora menelannya, dia menuangkan sedikit air dan membantu Liora minum pelan-pelan.Kapsul itu bukan obat biasa. Nuna meraciknya sendiri dengan metode pengobatan kuno turun temurun dari keluarganya. Jika Dokter Rowan adalah ahli bedah terbaik di negara Valoria, maka Nuna adalah ahli dalam ilmu medis kuno. Sagara mempercayakan urusan obat-o
“Sekarang, kamu tau kesalahanmu?” Di ruang bawah tanah villa utama keluarga Kivandra, Sagara masih terus memberikan Edward pelajaran. Hatinya masih belum puas mendidik anak laki-lakinya itu. “Saya tau, Pa. Saya gagal menjaga Liora,” sahut Edward. Edward tidak marah dengan perlakuan Sagara padanya. Dia juga tidak dendam. Semua itu karena sejak kecil, didikan Sagara memang keras dan Edward menerimanya. Aluna datang dengan wajah dingin, menatap Edward yang sedang berlutut dengan pandangan tertunduk. “Bagus kalo kamu tau diri. Bangunlah,” kata Aluna. Aluna membantu Edward berdiri. Aluna yang biasanya hangat dan keibuan, sekarang ikut-ikutan Sagara bersikap dingin pada Edward. Edward mengernyit, menatap kedua orang tuanya. ‘Kalian tau, ini bukan salah gue. Tapi, kenapa kalian melimpahkan semua kesalahan ke gue? Kenapa kalian tutup mata? Dan kenapa…’ Edward melirik Quden dan Akbar yang berdiri di sisi kedua orang tuanya. Dia mendengus dingin. ‘Dan kenapa mereka juga tutup m
“Baik, Tuan.”David mengulurkan tangan, berniat mengambil alih Liora dari gendongan Edward. Namun, pelukan Edward pada Liora justru semakin erat. Meskipun Edward sudah mendengar perintah papanya, dia tetap tidak tega menyerahkan Liora pada David. Edward malah mundur setengah langkah sambil menatap Sagara. “Nggak,” tolak Edward dingin. “Saya sendiri yang akan bawa Lio ke kamarnya.”Akbar mendekati Edward dan berbisik, “Tuan Muda, jangan mancing amarah papamu. Kamu nggak mau dikirim ke luar negeri, kan?”Lagi-lagi, ancaman ke luar negeri!Sebagai asisten pribadi papanya, semua perkataan Akbar tentu saja bisa dipercaya. Lagipula, tidak ada untungnya menipu Edward, kan?Edward menunduk, menatap Liora yang berwajah pucat. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya terlihat keras. “Dia ketakutan,” kata Edward, pelan. Jantung Liora berdebar mendengarnya. Dia bisa merasakan tubuh Edward menegang.Ruangan mendadak sunyi.Liora yang berada di dalam gendongan Edward, perlahan mengangkat kepa
“Kalo gue tau bakalan begini, gue nggak mau nyusulin Papa. Nyebelin banget lihat Papa lebih peduli si Putri Palsu daripada Putri Kandungnya sendiri.”Erlita gregetan. Dia menggenggam tangan sampai buku-buku jarinya memutih dan kukunya menancap di telapak tangannya. Dia tidak peduli dengan darah ya
Raissa tersenyum sinis dan Vivian menatap Andre lalu tersenyum tipis.Vivian berujar, “Kalo lo mau interogasi orang, tunggu jadi polisi dulu. Lagian, emang lo siapanya Lio? Kenapa dia harus jelasin semua hal ke lo?”Raissa langsung mengangguk setuju. “Betul. Lio bukan tahanan. Inget, kalian itu cum
Kelas terakhir Liora hari ini adalah Desain Teknologi. Selain matematika, mata pelajaran itulah yang paling dia sukai.Jika matematika memberinya kepuasan karena logika yang sempurna, maka Desain Teknologi memberinya kebebasan untuk mengubah ide menjadi sesuatu yang nyata.Hari ini, Liora tidak bel
Wajah Erlita berubah pucat karena rasa sakit yang datang tiba-tiba. “Sial! Kenapa jadi begini?”Liora menoleh dengan ekspresi polos. “Eh?”Dia menunduk. “Lita, sori ya. Gue kira kayu, ternyata kaki lo yang di tengah jalan, halangin gue.”Beberapa murid langsung menutup mulut. Bahu mereka bergetar m







