Short
Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung

Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung

By:  SilasCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Tepat di hari nilai ujian masuk universitas diumumkan, aku dan pacarku sedang berada di kereta cepat yang membawa kami pulang dari liburan kelulusan. Yang ikut bersama kami adalah Sherly, kakakku yang tidak memiliki hubungan darah denganku. Sherly selalu suka duduk di kursi F dekat jendela. Rian pun langsung mengambil kursi di sebelahnya. Dan aku? Aku menjadi satu-satunya orang yang duduk sendirian sepanjang perjalanan. "Alya, aku sama Sherly mau bahas pilihan jurusan dulu, ya." "Nilai prediksimu 'kan nggak terlalu tinggi. Udah, kamu duduk di sana aja, nonton drakor dulu, deh." Sepanjang perjalanan, mereka berdua tertawa dan mengobrol tanpa henti. Sementara aku, tak pernah benar-benar bisa masuk ke dalam percakapan mereka. Inilah perjalanan kelulusan yang telah dijanjikan Rian kepadaku selama tiga tahun. Tepat pukul sepuluh, hasil ujian pun diumumkan. Sherly langsung memeluk Rian, nyaris melompat dari kursinya. "Syukurlah! Dengan nilai kita berdua, semua jurusan di Universitas Nusa Bangsa bisa kita pilih!" Rian tersenyum lebar. "Coba cek grup chat, deh. Orang tua kita semua lagi ngucapin selamat, nih." Aku duduk di belakang mereka, mendengarkan. Tak lama kemudian, suara kedua orang tuaku terdengar. "Sherly dan Rian dapat nilai sebaik ini! Mereka benar-benar kebanggaan kita!" Lalu, disusul suara orang tua pacarku. Aku menunduk. Membuka WhatsApp. Tak ada undangan masuk ke grup mana pun. Tak ada seorang pun yang bertanya bagaimana hasil nilaiku. Sudahlah. Mereka telah memilih Sherly, juga masa depan yang ingin mereka jalani bersama. Sedangkan aku ... akan melangkah menuju masa depan yang benar-benar menjadi milikku sendiri.

View More

Chapter 1

Bab 1

Baru ketika pramugari mendorong troli minuman lewat, Rian tiba-tiba teringat kalau aku ada di sana.

Dengan penuh perhatian, dia memutar tutup botolnya hingga terbuka, lalu meletakkannya di depan Sherly.

Setelah itu, dia menyodorkan sebotol air mineral ke arahku.

"Alya, aku nggak tahu kamu mau minum apa, jadi aku ambilin air putih aja, ya."

Dia ingat Sherly suka jus semangka. Namun, tidak tahu pacarnya sendiri mau minum apa.

Hidungku mendadak perih.

Rasa senang yang tadi sempat membuncah karena nilai ujianku yang di luar dugaan, lenyap begitu saja dalam sekejap.

Aku tidak mengambil botol itu. Cuma memanggil pramugari, lalu membeli sebotol jus semangka untuk diriku sendiri.

Tangan Rian yang masih terulur menyodorkan air itu membeku di udara.

Sebersit ketidaksenangan melintas di wajahnya.

"Alya, bukannya kamu yang ngotot minta liburan kelulusan ini?"

"Aku benaran nggak ngerti, kenapa beberapa hari ini kamu terus-terusan cemberut."

Tiga tahun lalu, supaya aku mau masuk SMA yang sama dengannya, dia berjanji akan membawaku liburan ke Kanawa begitu kami lulus.

Maka selama tiga tahun penuh, aku membayangkan kami berdiri di tepi laut bersama. Mengendarai skuter listrik kecil, mengejar matahari terbit berdua.

Namun, sekarang? Seolah-olah aku yang memaksa ingin datang.

Bahkan, tepat sebelum keberangkatan, aku baru tahu Rian juga mengajak Sherly.

Hari pertama kami tiba di pantai, Rian mengambil buku panduan wisata yang kugambar sendiri dengan tangan.

Sherly langsung mendekat, wajahnya tampak serba salah. "Tempat yang mau dikunjungi banyak banget, deh. Sepatuku nggak cocok buat jalan sejauh itu."

Dan begitu saja, Rian membatalkan seluruh rencana yang sudah kususun.

Buku panduan yang kususun dengan begadang selama beberapa malam, dia lempar begitu saja ke tempat sampah.

"Alya, kalau lagi liburan tuh yang santai aja."

"Nggak usah sekaku itu."

Lalu, kami pergi ke Pantai Pink. Spot paling ikonik di Kanawa.

Sherly bertanya dengan pipi sedikit memerah. "Alya, aku boleh foto bareng Rian, nggak? Kalau sendirian, aku nggak tahu harus pose gimana. Malu banget."

Belum sempat aku menjawab, sebuah kamera polaroid sudah diletakkan ke tanganku oleh Rian.

"Alya, nggak usah pikirin aku. Yang penting Sherly keliatan cantik di fotonya."

Aku tersenyum getir. Aku bahkan sudah tak punya tenaga untuk menolak.

Dulu, aku sampai berlatih memotret berminggu-minggu. Hanya demi satu foto berdua di tepi laut, foto yang akan kuunggah untuk mengumumkan hubungan kami pada dunia.

Namun sekarang, di Pantai Pink ini, kamera di tanganku justru mengabadikan pacarku bersama orang lain.

Suara Sherly membuyarkan lamunanku.

Dengan cekatan, Sherly menyambar botol air itu sebelum sempat menggantung canggung di udara, lalu menepuk lengan Rian dengan nada setengah menegur.

"Rian, Alya pasti lagi bete gara-gara nilainya nggak bagus."

"Kamu 'kan pacarnya. Kenapa nggak bisa lebih pengertian sedikit, sih?"

"Cepetan minta maaf!"

Sherly memang selalu pengertian seperti itu.

Maka, sejak dia tinggal di rumahku waktu SMA, kami berdua seolah selalu jadi bahan perbandingan.

Dia manis, penurut, pandai mengambil hati, disukai semua orang. Sementara aku, di bawah bayangannya, tak lebih dari si pembuat onar yang tak punya satu pun kelebihan.

Padahal, Ayah dan Ibu pernah bilang mereka paling suka sifatku yang bebas dan apa adanya. Karena itulah mereka memberiku nama kecil Alya.

Namun, sejak Sherly datang, kalimat yang paling sering kudengar berubah menjadi.

"Alya, kamu nggak bisa, ya, meniru Sherly sedikit saja?"

Bahkan Rian, yang tumbuh bersamaku sejak kecil, bukan pengecualian.

Dia berdiri, lalu menggaruk belakang kepalanya dengan canggung.

"Maaf ya, Sherly. Aku tadi kelepasan terlalu senang, sampai nggak jaga sikap."

Dia memang minta maaf. Namun, kata-katanya justru ditujukan untuk Sherly.

Untuk sesaat, aku sampai bingung. Sebenarnya, dia minta maaf untuk apa?

Sherly menghampiri, lalu berjongkok di samping kursiku.

"Alya, udah, jangan dengerin dia."

"Paling-paling kamu ngulang setahun. Nanti kami tunggu di Universitas Nusa Bangsa, kok."

Rian langsung menyahut, mendukung kata-katanya.

"Iya, Alya. Meskipun dasarmu emang agak kurang, kalau belajar setahun lagi, pasti bisa masuk Universitas Nusa Bangsa."

"Nanti aku sama Sherly bakal bimbing kamu belajar, kok."

Aku tidak menyahut. Hanya menunduk, menggulir layar ponsel dalam diam.

Nilai ujianku kali ini jauh melampaui perkiraan, 60 poin lebih tinggi dari ujian simulasi terakhir.

Dengan nilai segini, semua jurusan di Universitas Nusa Bangsa pun bisa kupilih.

Namun sekarang, aku tidak ingin lagi bersama mereka.

Aku tidak mau lagi jadi bahan perbandingan itu.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status