Share

Bab 4

Penulis: Yedhika Tonago
last update Terakhir Diperbarui: 2022-12-05 22:38:24

Bab 4

Bu Ratmi melepaskan pelukannya, lalu menghapus airmata di pipi ini.

" Sudah! Jangan menangis, kamu pasti lelah! Dimana cucu ibu tadi? Rendi adiknya dibawa ke sini," panggilnya pada anak laki-laki tadi.

Entah kemana dia menggendong Aruna, yang pasti sudah tak terdengar lagi tangisannya.

Tak lama, suara bayi yang sedang tertawa semakin terdengar.

" Apa ya, Dik? Ibu ini panggil-panggil, kita kan lagi asyik mainan."

Wajah lucu itu membuat Aruna tertawa lagi.

Anak itu segera menyerahkan Aruna kepada Ibu.

" Ini ya, cucu Nenek yang cantik? Apa sayang? Kamu pasti kedinginan ya, jalan-jalan ke sini."

Ibu seakan bisa berbicara dengan Aruna sehingga bayi berumur sembilan bulan itu tergelak.

" Lucunya cucu Nenek. Siapa namanya Mel?" Ibu menoleh kepadaku.

" Namanya Aruna, Bu."

Belum sempat aku menjawab, sudah di dahului anak yang tadi.

" Kamu sendiri namanya siapa? Dari tadi Mbak tanya kok nggak dijawab?"

Aku berdiri lalu duduk di sampingnya.

" Namanya Rendi, Nduk. Baru setahun tinggal di sini," kata Ibu menjelaskan. Tangannya menggenggam jari jemari Aruna.

Ada yang hangat di sini, di dalam hati.

Ibu Ratmi yang bukan siapa-siapa, bisa dengan mudah jatuh cinta pada anakku.

Sedangkan neneknya kandungnya sendiri, menanyakan saja tidak pernah, apalagi menggendong.

Dimatanya, aku dan Aruna tidak lebih hanya pembawa sial.

Entah apa yang salah pada diri kami sehingga ibu sangat membenci cucu dan menantunya ini.

" Cucu Nenek haus ya, mau minum?"

" Iya, Nek. Aku haus nih!"

Rendi berpura-pura menjadi Aruna.

Mereka tertawa menggoda bayi yang nampaknya haus itu.

Begitu dekat, begitu akrab.

Wajahku kembali memanas, sebelum cairan itu keluar lagi, aku memilih untuk menahannya.

" Ih, Kak Rendi haus juga?" selorohku.

Seketika kami tertawa melihat Rendi menggaruk kepalanya.

" Diberi minum dulu, Nduk!" Ibu menyerahkan Aruna yang sudah menangis.

Dua anak perempuan yang tadinya sudah tidur jadi bangun karena tangisan Aruna.

Keduanya menatap kami bingung, seperti bertanya ada apa?

Bu Ratmi memandang mereka bergantian.

"Rima, Lisa, mulai sekarang Mbak Melati dan adik bayi Aruna akan tinggal bersama kita, ya!"

Mata mereka yang semula mengantuk, terang seketika.

" Mbak Melati tinggal di sini lagi?" tanya Rima, gadis kecil yang selalu menguntitku kemana-mana dulu.

Aku hanya tersenyum.

Salah satu anak yang berambut kriwil itu bertanya. "Beneran, Bu? Wah asyik dong kita jadi ada temennya ya, Lis!"

Dia menoleh pada anak di sampingnya.

"Iya, mbak sama adek mau tinggal di sini lagi? Boleh nggak, Mbak Lisa, Mbak Rima?"

Aku menyebut nama mereka satu persatu.

" Boleh dong, kan malah jadi ramai. Adek bayinya cantik."

Rima menjawil gemas pipi Aruna yang sedang menyusu.

" Sama aku juga dong," sahut Rendi tak mau kalah.

Kami tertawa melihat tingkahnya.

" Sudah-sudah kalian pergi tidur lagi! Biar Mbak Melati juga bisa istirahat. Ibu siapkan makan ya, Nduk! Kamu pasti laper." Bu Ratmi berdiri dan melangkah ke dapur yang terletak di belakang.

" Biar Rendi bantuin, Bu!"

Keduanya berlalu dari pandanganku, sementara Lisa dan Rima sudah tidur lagi.

Kubaringkan Aruna di kasur, tempat tidurku dulu.

Tempat tidur yang biasa kubagi dengan Lastri, sahabat kecilku di panti ini. Entah bagaimana kabarnya sekarang? Setelah menikah, Mas Agung benar-benar memutus hubunganku dengan dunia luar.

Tubuh kecil itu menggeliat, mungkin lelah karena terlalu lama digendong.

Kupandangi lagi wajah mungil itu, lalu meninggalkan beberapa kecupan di sana.

" Anak bunda, tumbuhlah jadi wanita kuat! Dunia boleh kejam, tapi kita tidak boleh lemah." 

Kubisikkan kalimat itu di telinganya.

" Dia akan sekuat kamu! Percaya kata ibu!" Bu Ratmi mengelus pelan bahuku.

Aku mengangguk lalu menuntun wanita paruh baya itu ke dapur yang menyatu dengan ruang makan.

Nampak hidangan lezat tertata rapi di atas meja. Ada tahu tempe goreng sayur sop dan sambal.

Seketika terbit air liurku.

Cacing di perut sudah menari entah dari kapan.

Seingatku, belum ada yang memberi mereka makan dari tadi pagi.

Ibu Sri tidak akan membiarkan menantunya ini untuk beristirahat walau hanya sekedar mengisi perut.

Padahal ibu menyusui seperti aku gampang sekali merasa lapar.

Rendi sudah duduk dengan tenang, nampak dihadapannya satu piring nasi lengkap dengan lauk.

" Ayo, makan dulu, Nduk!"

Bu Ratmi menyedokkan nasi ke piring setelah aku duduk.

Tangannya cekatan mengisi piring dengan sayur, disusul tempe dan ayam goreng yang hanya sepotong.

Ibu pasti menyisihkannya untukku. Aku tahu betul, ayam goreng adalah lauk mewah di sini.

Hanya di waktu-waktu tertentu kami dapat menikmatinya.

Maklum saja, Ibu hanya mengandalkan bantuan dari donatur setiap bulan.

Kadang banyak, kadang tidak ada sama sekali.

Untuk mencukupi kebutuhan kami, Bu Ratmi juga menerima pesanan kue dan beragam masakan.

Kue-kue itu juga yang aku dan Lastri bawa untuk dijajakan di sekolah.

Tidak ada kata malu dalam hidup kami, karena kami memang tidak pernah diinginkan.

" Makan yang banyak!

Kamu kan sedang menyusui, ada anak yang ikut makan juga lewat air susu."

Kata-kata Ibu membuat kerongkonganku tersekat.

Susah payah kutelan nasi dalam mulutku.

Perhatian itu harusnya kudapat di rumah itu, rumah yang Mas Agung janjikan membawa kebahagiaan untukku. Nyatanya tak lebih dari neraka.

Wajahku kembali memanas.

" Dibilangin kok, malah nangis? Makan dulu!"

Disodorkannya gelas berisi air putih.

Aku menenggaknya sampai habis, berharap sesak itu ikut hilang.

" Mbak Melati malah nangis. Kalau nggak dimakan, ayamnya buat aku,lho!" canda Rendi kemudian.

Mau tidak mau aku tersenyum, airmataku luruh begitu saja diiringi tawa.

" Ren, piring kotornya dicuci sekalian, ya! Punya Mbakmu juga, dia kan baru datang, masih capek."

" Lah Bu, aku juga capek. Baru dateng sudah suruh cuciin piring, gimana nanti kalau sudah tinggal di sini?" gerutu Rendi sambil mengemas sisa nasi dan lauk.

" Ya nanti sekalian cuci baju sama momong Dek Aruna juga, Ren!" timpalku.

Seketika bocah berkulit sawo matang itu nyengir kuda.

Dibawanya piring kotor itu, tak lama terdengar gemericik air.

" Rendi, anaknya baik, ya? Memang kenapa dia bisa tinggal di sini, Bu?"

Aku menyeret kursi untuk lebih mendekat pada Bu Ratmi.

" Iya. Jadi setahun yang lalu pas Ibu ke pasar, dia sedang kedapatan mencuri. Warga sudah sangat marah pada waktu itu dan hampir saja menghakimi Rendi dengan kejam. Beruntung ibu mengetahuinya. Ibu bilang saja kalau dia anak ibu dan ibu minta maaf karena dia sudah mencuri. Ibu berjanji akan mendidiknya lebih baik lagi."

Ibu menoleh ke arah dapur memastikan Rendi tidak mendengarnya.

Aku ikut menoleh.

"Kasihan Rendi," gumamku pelan.

Ibu melanjutkan ceritanya lagi.

"Jadi Ibu terpaksa berbohong supaya Rendi tidak diamuk masa. Setelahnya ibu mengajak dia pulang ke rumah ini, karena ternyata dia gelandangan yang mencuri sepotong roti untuk mengganjal perut."

"Ya Allah."

Aku membekap mulut. Tidak menyangka perjalanan hidup anak sekecil itu sudah sangat tragis.

Setidaknya aku lebih beruntung tidak perlu tinggal di jalanan.

Kalau tidak ke sini, kemana lagi aku akan membawa Aruna?

Kami berpura tidak membicarakan sesuatu saat Rendi kembali.

" Sudah selesai, Bu," lapornya dengan tersenyum.

" Ya sudah, sana tidur!" perintahku.

Dia menggeleng dan malah duduk di samping Ibu.

" Mau dengerin cerita mbak aja."

Aku pura-pura melotot ke arahnya.

"Anak kecil ini!"

"  Jadi bagaimana kabar Agung, Nduk?" tanya Ibu kemudian.

Dadaku bergemuruh kembali mendengar nama itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Putrimu Membalaskan Dendamku   Bab 23

    bab 23 Pov MelatiAku meraih paket itu dengan penasaran."Paket apa ini? Seingatku, aku tidak pernah memesan barang apapun," Kugoncang-goncangkan kardus itu sedikit keras.Aneh....Tidak ada suara apapun, tapi paket itu terasa berat."Paket dari siapa, Bu? Wah, ibu habis belanja, ya?" Eni menghampiriku yang masih terdiam.Aku hanya mengedikkan bahu."Nggak tahu, En! Seingatku, aku tidak membeli apa-apa!""Tapi paket ini ada nama ibu dan juga alamat toko kita, Bu!" Eni membolak-balikkan paket itu.Daripada kami semakin penasaran, gegas kuambil gunting, lalu membukanya hati-hati.Takut isinya barang penting.Aku meletakkan kardus itu di meja lalu membukanya.Eni yang duduk di sampingku, nampak tidak sabar juga.Begitu kubuka kardus itu...."Astagfirullah...." pekik kami bersamaan.Eni bahkan sampai meloncat dan menjauh.Karyawan yang lain ikut mengerumuni kami, sambil mencari tahu."Ada apa, sih?" tanya Seli."Iya...iya....kenapa?" bisik yang lain."Apaan tu? Paket ya? Jangan-jangan isin

  • Putrimu Membalaskan Dendamku   Bab 22

    bab 22 Pov Liana"Ah....Kurang ajar!" Umpatku dalam hati.Lalu menghempaskan bobot tubuh ini di kursi ruang tamu dengan sedikit keras.Berharap laki-laki di sebelahku akan memperhatikan, tapi nihil dia menoleh pun, tidak.Mas Agung malah seperti orang melamun.Sedari perjalanan pulang, mukanya tertekuk, dengan tangan memijit pelipis sesekali."Benar-benar si Melati!" Bu Sri angkat suara begitu kami tiba di rumah."Bagaimana bisa dia merayumu, Gung? Wanita tidak tahu malu! Setelah perbuatannya, masih berani dia mendekatimu? Cckkk...."Calon mertuaku itu berdecih."Gung....Agung!" Dengan nada tinggi, dia menegur Mas Agung, yang masih melamun saja."Sudahlah, Bu! Melati tidak menggodaku! Aku hanya mengucapkan salam perpisahan pada Aruna tadi!" kilah laki-laki itu tanpa menatap ibunya."Yang benar saja, kau! Jelas-jelas tadi ibu lihat dia berusaha memelukmu. Tidak tahu malu!" sembur tante Sri lagi.Napasnya naik turun menahan emosi.Gegas Mbak Eka memberikan segelas air putih padanya."Mu

  • Putrimu Membalaskan Dendamku   Bab 21

    "Ada apalagi?"Melati membalikkan badan, menatap malas orang-orang di depannya."Yang sopan kalau bicara sama sua-" Sahut Sri cepat, tapi ia buru-buru menutup mulutnya lagi.Wanita itu mengernyitkan dahi ketika Sri menghentikan ucapannya."Apa ibu lupa? Kalau aku bukan istri Mas Agung lagi?"Agung berusaha meraih tangan mantan istrinya itu, tapi wanita di sampingnya buru-buru mencegahnya.Liana mengapit erat lengan Agung, seakan takut laki-laki itu berubah pikiran."Kamu tidak perlu takut begitu!" Melati menatap tajam pada Agung dan Liana yang nampak slah tingkah."Siapa juga yang takut? Jelas-jelas Mas Agung sudah menentukan pilihannya!" Ujar Liana sambil mengibaskan rambut."Dan dia memilihku! Paham kamu?"Walaupun sesak di dadanya kian menyeruak, tapi Melati berusaha tegar.Bersedih, hanya akan membuatnya lemah."Silahkan saja! Kalau dia memang benar memilihmu! Tidak ada lagi urusannya denganku!"Melihat Melati mendekat, gadis itu mundur selangkah, tangannya kian erat merangkul len

  • Putrimu Membalaskan Dendamku   Bab 20

    bab 20 Pov MelatiAruna menarik-narik baju yang kupakai. Tingkah bocah yang berumur hampir dua tahun itu begitu menggemaskan.Hari ini, rencananya aku akan mengajak Aruna menghadiri sidang ke pengadilan.Beberapa hari setelah Ibu dan perempuan itu hampir mempermalukanku di toko.Seorang pegawai berseragam hijau mengantarkan sepucuk surat.Mas Agung benar-benar menepati perkataannya.Putri kecilku sudah kudandani dengan rapi.Rambutnya yang mulai tumbuh, kukuncir dua. Lucu sekali, jika ia berlari maka kuncir itu akam ikut bergerak."Nah, anak ibu sudah cantik. Tunggu di sini dulu, ya!" Aku memintanya duduk di tempat tidur sementara aku bersiap-siap."Alan-alan," bocah itu bertepuk tangan dengan semangat.Aku tersenyum dibuatnya. Aruna mengira kami akan pergi jalan-jalan.Andai Aruna besar nanti, apa dia akan mengerti perpisahan ini?Sebuah dres berwarna biru dengan potongan di bawah lutut, kupakai untuk menghadapi hari yang berat ini.Tak perlu dandan berlebih, aku hanya memoles bedak t

  • Putrimu Membalaskan Dendamku   Bab 19

    Sri berdiri lalu mengapit lengan Liana yang masih terheran-heran."Kenapa ibu malah mengajakku kesini?" batinnya."Selamat malam, ada yang bisa kami bantu?" seorang pegawai mendatangi pengunjung yang baru saja memasuki toko itu.Sri mengedarkan pandangannya seperti mencari seseorang."Sore. Saya mau beli kue. Apa kue yang paling mahal di sini?" Wanita yang berdiri bersama Liana itu sengaja mengeraskan suaranya.Pengunjung toko yang sedang ramai sampai menoleh ke arah mereka.Liana menjadi sedikit sungkan."Besar juga toko ini! Tidak mungkin kalau Melati pemiliknya!" batin Sri."Mari, Bu! Silahkan! Kami mempunyai red velvet cake yang sedang menjadi favorit!" Eni-pegawai toko itu menunjukkan beberapa cake yang nampak menggoda.Sri sebenarnya tidak terlalu menyukai kudapan manis itu.Dia datang hanya untuk membuktikan perkataan Agung tempo hari."Ya, sudah Mbak. Kami pesan itu saja 2 ya!"Liana yang menjawab pertanyaan itu.Mereka lalu duduk di kursi yang sudah pegawai itu tunjukkan.Lia

  • Putrimu Membalaskan Dendamku   Bab 18

    "Kenapa perempuan itu masih saja berkeliaran di sekitar Agung? Apa dia tidak kapok bermain-main denganku?"Aku mencengkeram gagang telepon dalam genggaman. Otakku terus berpikir bagaimana caranya mempercepat perceraian mereka?Dulu, aku sudah menentang saat Agung akan menikahinya.Namun, anak laki-lakiku itu memang keras kepala.Bahkan dia mengancam akan pergi kalau tidak merestuinya.Terpaksa pernikahan itu terjadi juga, gagal sudah rencanaku untuk menjodohkan Agung dengan Liana, putri sahabat baikku dulu.Sekarang, aku tidak akan membiarkan wanita itu merusak rencanaku lagi."Halo, Liana. Apa kabar, Nak?" sapaku pada seseorang di ujung telepon."Halo, Bu! Alhamdulillah, Liana baik. Ibu apa kabar? Mbak Eka?" suara itu terdengar ramah."Baik, semua baik. Kamu tidak menanyakan kabar Agung?" aku terkekeh membayangkan wajahnya yang pasti sudah memerah."Ah iya, Bu. Mas Agung dan istrinya." Telingaku bisa mendengar helaan napasnya."Bagaimana kabar mereka? Aku dengar mereka baru saja dik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status