LOGINSejak pagi, klinik griya physio sudah dipenuhi pasien. Suara pintu yang terbuka dan tertutup, percakapan antara fisioterapis dan pasien, serta bunyi alat-alat fisioterapi membuat suasana klinik jauh lebih ramai daripada biasanya. Chandani bahkan nyaris belum istirahat sempat duduk sejak datang pukul setengah sembilan pagi.Pagi itu, ia menangani seorang pasien dengan spinal cord injury, yang mengalami kelemahan pada kedua tungkai. Setelah melakukan pemeriksaan awal, Chandani duduk di samping pasien sambil membuka catatan perkembangan terapinya.“Bagaimana kondisi mas Lukman hari ini?” tanya Chandani.“Masih terasa berat, mbak. Kaki saya belum banyak berubah. Kalau digerakkan juga rasanya sulit sekali.”Chandani mengangguk. “Mas maaf sebelumnya sudah diberitahu, mengenai tingkat cedera spinal cord-nya?”“Katanya Frankel C. Tapi saya belum begitu paham maksudnya. Waktu pikiran saya kacau mbak, jadinya ya, nggak terlalu memperhatikan.”“Baik, saya jelaskan pelan-pelan ya mas Lukman.” Cha
Malam di apartemen Chandani terasa begitu tenang. Hanya detik jam dinding yang terdengar. Lampu di apartemen hanya menyisakan cahaya redup dari lampu tidur di sudut ruangan. Di atas ranjang, Noval masih terbaring dengan mata terpejam. Demam yang sejak kemarin malam, membuat tubuhnya lemas, perlahan mulai mereda.Chandani duduk di sisi ranjang sambil memperhatikan wajah Noval. Beberapa kali perempuan itu mengarahkan termometer inframerah ke dahi Noval.*Bip.*Chandani melihat angka di layar kecil alat tersebut. “Sudah turun lagi demamnya.” gumamnya lega.Chandani meletakkan termometer di nakas samping ranjang, kemudian kembali menatap wajah Noval yang sedang tertidur. Noval bergerak sedikit dalam tidurnya. Wajahnya tampak jauh lebih tenang dibanding beberapa jam sebelumnya. Chandani tersenyum kecil. Dia sangat lega melihat kondisi Noval sudah membaik.“Semoga, besok sudah sembuh.” ucap Chandani pelan.Sepanjang malam, Chandani beberapa kali terbangun untuk memastikan keadaan Noval. Di
Malam masih belum terlalu larut ketika Chandani dan Noval duduk berdua di ruang tengah apartemen.Lampu utama sengaja dimatikan. Hanya lampu kecil berwarna kuning di sudut ruangan yang menyala, menciptakan cahaya hangat di antara mereka. Dari balik jendela besar, lampu-lampu kota terlihat seperti bintang yang jatuh ke bumi. Berkelap-kelip dengan indah. Tidak ada televisi yang menyala.Tidak ada musik.Hanya suara pendingin ruangan dan sesekali suara kendaraan dari kejauhan yang terdengar. Mereka berdua masih terdiam. Larut dalam perasaan masing-masing.Chandani memeluk kedua lututnya di atas sofa. Sementara Noval duduk di sampingnya dengan secangkir teh yang sudah mulai dingin.Malam itu terasa berbeda."Mas Noval.""Hmmm.” jawab Noval sambil menatap Chandani. Mengalihkan tubuhnya menghadap ke arah kanan - ke arah Chandani."Menurut kamu, kenapa orang bisa takut jatuh cinta lagi?"Noval terdiam. Dia menatap cangkir di tangannya sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Karena dia tahu rasan
Tidak ada percakapan yang terjadi. Noval hanya menatap Chandani tanpa berani mengajak bicara. Wajah gadis itu terlihat sedih. Noval tahu sekali, dia sudah membuat kesalahan. Chandani masih sibuk menyuapi Noval bubur sumsum. Setelah ini, dia berniat untuk segera pulang. Dia tidak ingin berlama-lama bersama Noval. Chandani tahu, inilah risiko menjalin hubungan dengan orang yang sudah pernah menikah. “Chan..”Chandani meletakkan mangkuk di nakas. Dia tidak menjawab panggilan dari Noval. “Chan…” Noval memegang tangan Chandani. Memanggil gadis itu lagi.“Iya mas Noval.” mata Chandani tertuju pada mangkuk yang ada di meja. “Aku harus pulang sekarang. Aku ada janji sama Cahya.”Bohong. Chandani tidak ada janji dengan siapapun. Chandani hanya ingin pulang dan menghindar dari Noval. “Aku pulang sekarang ya mas. Cepat sembuh.”“Chan. Kamu marah?”“Marah untuk apa?” Chandani menampilkan wajah sebiasa mungkin. Dia memaksa bibirnya untuk tersenyum.“Aku pulang dulu ya mas Noval. Jangan lupa m
Mobil Chandani telah sampai di halaman rumah Noval. Bude Yahmi tengah menyiram bunga di halaman depan. “Sore bude Yahmi.” sapa Chandani sambil tersenyum. “Sore mbak, Chandani. Main tetapi Nadel ya?”“Tidak bude. Saya mau menjenguk mas Noval.”“Oh, silahkan masuk mbak.” bude Yahmi tampak bersemangat setelah tahu Chandani akan menjenguk Noval. Chandani berjalan di belakang bude Yahmi. Ia melihat ke sekeliling ruangan. Ini bukan pertama kalinya Chandani ke rumah Noval. Tapi rumah ini masih terasa asing. Hiasan macrame di dinding, lukisan abstrak yang terlihat menarik. Chandani bisa menebak jika itu pilihan mendiang istri Noval. Apa Chandani cemburu? Tidak. Mending Sheena akan tetap punya tempat di hati Noval. Chandani tahu sekali. Menjalin hubungan dengan seorang duda, berarti harus siap menerima masa lalunya. Termasuk kenangan tentang istrinya. “Pak Noval di kamar mbak. Di kamar lantai dua.”Chandani merasa ragu, haruskah ia naik ke lantai dua? “Naik saja mbak.” bude Yahmi sepert
Sesampainya di klinik, Chandani langsung menghampiri Cahya dan Rika yang sedang merebahkan tubuhnya di ruang gym. Saat melihat Chandani mendekat, Cahya langsung mengalihkan matanya - enggan melihat. “Cahya….” Chandani mendekati Cahya. Dan duduk di sampingnya. “Kamu masih marah?”“Pikir sendiri!”Rika tampak terkejut. Dua manusia yang seperti perangko, kini sedang marah? Padahal yang Rika ketahui selama dua tahun ini, Cahya selalu menyayangi Chandani.Cahya selalu bisa menjadi manusia super ketika itu menyangkut Chandani. Siapapun yang berani menyakiti Chandani, Cahya akan membalasnya.Saking dekatnya mereka, ada orang yang beranggapan mereka tidak normal. Jelas saja mereka manusia normal. Cahya memiliki pacar bernama Miguel. Dan Chandani, yang masih patah hati, kini dekat dengan Noval.“Ayaa….” Chandani menggoyang-goyangkan lengan Cahya dengan pelan. “Maafin aku ya?”Ketika Chandani sudah memanggil Cahya dengan Aya, Cahya tidak bisa menahan amarahnya lebih lama lagi. Aya adalah pang







