تسجيل الدخولSore itu, Jogja kembali diguyur hujan deras. Sejak satu jam terakhir, langit tampak gelap. Air hujan membasahi jalanan, membuat kendaraan yang melintas bergerak lebih lambat dari biasanya.Di dalam klinik, Chandani sedang duduk di ruang tunggu bersama seorang perempuan cantik yang baru saja dikenalnya. Perempuan itu memiliki rambut sebahu yang tertata rapi. Usianya mungkin tidak terpaut terlalu jauh dari Chandani.Mereka sedang membicarakan sesuatu ketika pintu klinik terbuka.Noval masuk dengan kemeja biru tua yang lengannya digulung hingga siku. Rambutnya sedikit berantakan, tetapi penampilannya tetap terlihat rapi. Ia membawa sebuah payung hitam di tangan kirinya.Tatapannya langsung menemukan Chandani. "Sayang."Chandani menoleh. Senyum spontan muncul di wajahnya ketika melihat Noval berdiri tidak jauh dari pintu."Hai, Mas.*Noval berjalan mendekat. "Masih sibuk?”Kemudian, tatapannya beralih kepada perempuan yang duduk bersama Chandani. Ia tersenyum sopan.Perempuan itu membalas
Hujan turun deras sejak pagi. Langit Yogyakarta masih kelabu. Jalanan di depan klinik tampak basah, bahkan beberapa kendaraan harus berjalan pelan karena genangan air.Pagi itu klinik cukup sepi. Beberapa pasien menghubungi nomor klinik, untuk memundurkan jadwal terapi karena hujan tak kunjung reda.Kesempatan itu dimanfaatkan Chandani, Rika, dan Cahya untuk sarapan bersama di ruang istirahat.Di atas meja terdapat sebungkus cakwe hangat lengkap dengan sausnya."Kalau hujan pagi-pagi, kita bisa agak santai. Tapi nanti siang, wah bermunculan itu pasien.” kata Cahya sambil mengambil cakwe kedua.Rika meliriknya. "Iya mbak, kita nyantai dulu lah mumpung bisa santai.”"Kamu sudah sarapan belum, Rik?" tanya Cahya. “Udah mbak.”“Aku juga udah sarapan. Kok lapar lagi.”“Mbak Chandani, buruan makan cakue nya, keburu dihabisin mbak Cahya.”Chandani tertawa kecil mendengar ucapan Rika. Cahya memang punya nafsu makan yang besar."Eh, pasien pertama kita siapa?" tanya Chandani.Rika membuka pons
“You have no idea how much those words mean to me. Thank you for seeing me beyond my past and accepting me for who I am. I never expected someone to understand me this way, but I'm grateful that it's you. And I hope you know that choosing you is something I would never regret.” jawab Noval sambil tersenyum. (Kamu tidak tahu betapa berartinya kata-kata itu bagiku. Terima kasih karena melihat diriku lebih dari sekadar masa laluku dan menerimaku apa adanya. Aku tidak pernah menyangka seseorang akan memahamiku seperti ini, tetapi aku bersyukur orang itu adalah kamu. Dan aku harap kamu tahu bahwa memilihmu adalah sesuatu yang tidak akan pernah kusesali.) “Tapi Sayang, kayaknya jalan kita lebih terjal di banding orang lain. Kamu tidak keberatan?” “Mas mau jalan kita nanti berliku-liku, naik turun, mendaki gunung, lewati lembah, juga aku nggak peduli. Asal aku sama kamu.” jawab Chandani dengan mantap. Noval tidak menyangka jika Chandani yang terlihat kalem, manis akan mengatakan ka
Chandani menundukkan kepala. Sejak tadi, perempuan itu tampak sibuk memainkan jemarinya di atas pangkuan. Ada sesuatu yang ingin disampaikan, tetapi ia seperti kesulitan menemukan kalimat yang tepat.Noval yang duduk di sampingnya tidak terburu-buru bertanya. Ia membiarkan Chandani mengumpulkan keberanian untuk bercerita."Ibu dan Bapak mengundang Duna," ujar Chandani akhirnya."Mereka ingin aku baikan sama Duna. Intinya, mereka berharap aku dan Duna bisa kembali seperti dulu. Mungkin mereka berpikir kalau aku dan Duna kembali bersama, hubunganku dengan Mas Noval juga akan berakhir."Ada sesuatu yang mengganjal di dada Noval mendengar nama itu. Laki-laki yang pernah menjadi bagian dari kehidupan Chandani dan rupanya masih memiliki tempat dalam pertimbangan kedua orang tuanya.Namun, Noval tidak ingin buru-buru bereaksi. Ia tahu, kecemburuan sering kali membuat seseorang mengambil kesimpulan tanpa memahami keadaan sebenarnya. Ia tidak ingin menjadi laki-laki yang membuat Chandani meras
Pagi itu, udara di taman kota masih terasa sejuk. Embun membasahi rerumputan, sementara beberapa orang tampak sibuk melakukan aktivitas olahraga. Ada yang berjalan santai, bersepeda, dan sebagian lainnya berlari mengelilingi jalur pedestrian yang membelah taman.Noval sudah berlari hampir empat puluh menit.Kaos olahraga berwarna hitam yang dikenakannya mulai sedikit basah oleh keringat. Napasnya teratur, langkah kakinya mantap, dan sesekali ia mengusap keringat di pelipisnya.Namun, ada satu hal yang mengganggu konsentrasinya sejak tadi..Noval menghembuskan napas panjang. Sialnya, berlari ternyata tidak cukup ampuh untuk membuatnya berhenti memikirkan Chandani.Justru semakin lama ia berlari, semakin banyak hal yang muncul dalam pikirannya. Terutama sikap Chandani semalam. Noval tahu ada sesuatu yang sedang dipikirkan Chandani.Noval memperlambat langkah, kemudian berhenti di dekat bangku taman. Ia duduk sambil mengatur napas. Tangannya meraih botol air mineral berukuran kecil yang
Malam semakin larut. Jam dinding di kamar Chandani menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Sejak mengakhiri panggilan dengan Noval, perempuan itu belum juga bisa memejamkan mata.Ia berbaring terlentang dengan kedua mata menatap langit-langit kamar. Ponselnya tergeletak di samping bantal, sesekali menyala karena notifikasi yang masuk.Pikirannya masih dipenuhi kejadian di restoran sore tadi.Perkataan ibunya. Sikap ayahnya. Kehadiran Duna. Semuanya berputar-putar di kepalanya.Chandani membalikkan tubuh, kemudian menarik selimut hingga sebatas dada.Ia sebenarnya ingin menghubungi Noval lagi. Ingin mendengar suara laki-laki itu, bercerita tentang hari yang melelahkan, dan membiarkan dirinya mengeluh seperti biasanya.Namun, ada sesuatu yang menahannya. Chandani teringat bagaimana Noval sempat bertanya apakah pertemuannya hanya dihadiri kedua orang tuanya.Chandani lalu menyesal, mengapa ia tadi berbohong?Sejujurnya, Chandani tidak ingin menambah beban pikiran Noval. Belakan







