LOGIN
Elite Medical Hospital.
Seorang laki-laki tampan dengan kharisma yang membuat banyak perempuan tergila-gila itu masuk ke dalam aula pesta. Ia mengenakan kemeja yang dipadukan dengan jas dokter miliknya. Semua dokter dan staf tidak diijinkan berdandan ala pesta karena setelah itu mereka masih lanjut kerja menghadapi pasien. Paling-paling yang datang dengan dandanan pesta hanyalah para tamu undangan. Meski begitu laki-laki tersebut tampak begitu rapi dan menawan. Ruangan yang ia masuki adalah aula khusus yang di buat untuk penyelenggaraan acara seperti pesta ulang tahun, penyambutan dan lain-lain. Aula tersebut di dirikan dengan ukuran yang terbilang sangat besar, bahkan bisa menampung lima ribu orang di dalamnya. Rumah sakit ini milik keluarga sahabatnya, Dean. Memang rumah sakit mewah yang terbilang sangat lengkap. Fasilitasnya tidak main-main. Tapi tentu saja, menyelamatkan pasien adalah nomor satu. Lampu-lampu kristal bergemerlapan, meja-meja bundar di tata rapi dengan dekorasi bunga segar, dan pelayan mondar-mandir membawa nampan berisi jenis-jenis minuman. Kemunculannya membuat beberapa staf rumah sakit melirik ke arahnya. Para dokter dan perawat wanita tampak berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arah pria bernama lengkap Elang Nugraha itu. Siapa yang tidak tahu nama Nugraha? Salah satu keluarga konglomerat yang sangat berpengaruh. "Lihat-lihat, dokter Elang astaga tampan sekali. Kenapa bisa ada laki-laki setampan itu ya?" Seorang perawat perempuan yang berdiri bersama teman-temannya angkat suara. Elang berjalan santai ke arah meja utama tanpa mempedulikan orang-orang yang sedang menatapnya. Namun belum mencapai tujuannya, seorang anak kecil yang entah muncul dari mana berlari melewatinya sambil tertawa kencang, di ikuti dengan seorang wanita berpakaian dokter yang tidak sengaja menginjak sesuatu di lantai hingga badannya oleng dan ... Bukkk! Wanita itu hampir saja jatuh ke lantai kalau Jason tidak cepat-cepat menangkap tubuhnya. Posisi mereka sangat dekat, tangan Elang memeluk pinggang ramping wanita itu. Tatapan mereka bertemu, dan Elang langsung mengenalinya. Zoey Green, dokter residen di rumah sakit ini. Baru bekerja setahun. Elang dapat melihat jelas wajah kaget dan malu dari wajah cantik itu. Ya, bagi Ethan dia cantik. Dan lugu. Para perempuan yang berada di aula pesta iri sekali melihat pemandangan itu. "Dari sekian banyak perempuan, kenapa harus dokter residen itu sih? Jangan-jangan dia memang sengaja lagi." "Pasti sengaja. Dia memang terkenal gonta-ganti laki-laki dan sering keluar masuk club kan?" "Wajahnya polos, sayang sekali hatinya tidak begitu. Suara itu tidak sampai di telinga dokter Elang dan Zoey. Tapi Zoey tahu mereka pasti sedang membicarakan dia. Ia berusaha lepas dari laki-laki yang masih memeluk Erat pinggangnya dan terus menatapnya. Malu sekali rasanya menjadi bahan perhatian begini. "Do-dokter, bisa di lepas?" suara Zoey bergetar pelan, hampir seperti bisikan yang tertelan di keramaian aula. Elang sedikit tersadar. Tangannya yang masih melingkar di pinggang Zoey perlahan mengendur, namun tatapannya belum juga lepas dari wajah wanita itu. Seolah ada sesuatu yang membuatnya enggan berpaling. Sesaat kemudian, ia kembali memasang tampang datarnya. "Kau terlalu ceroboh." kata itu keluar pelan dari Elang. Zoey buru-buru berdiri tegak, merapikan jas dokternya yang sedikit kusut. Wajahnya masih memerah, entah karena hampir jatuh atau karena puluhan pasang mata yang masih memperhatikan mereka. "La-lantainya terlalu licin." ucap Zoey malu-malu. Elang hendak bicara lagi, namun seseorang memanggil namanya. "Elang," Seorang wanita dan pria yang mengenakan jas yang sama dengan mereka. Dean dan Audrey. Temannya sejak dia kuliah. Dia hanya dekat dengan Dean, tapi Audrey selalu muncul seakan akrab dengan mereka juga. "Kau baru datang tapi sudah membuat drama dengan ..." Dean menertawai Elang sambil matanya menatap ke Zoey yang menundukkan wajahnya. "Zoey?" Zoey mengangkat wajahnya menatap Dean, lalu memaksakan senyum. Dalam hati dia merutuk dirinya sendiri yang bisa-bisanya ceroboh sampai harus berhadapan dengan orang-orang populer kampus ini. Pertama, Elang Nugraha. Siapa yang tidak kenal? Putra tunggal dari konglomerat ternama. Keluarganya memiliki perusahaan besar yang bergerak di bidang farmasi. Sekarang dia menjabat sebagai dokter bedah terbaik. Usianya masih terbilang muda. Namun namanya sering di sebut oleh para dokter senior. Kedua, Dean. Direktur rumah sakit ini sekaligus sahabat dekat Elang dari SD. Rumah sakit ini milik keluarga Dean, dan orangtua Elang adalah investor utama. Ketiga, Audrey. Dokter spesialis yang dikenal tidak hanya karena kecerdasannya, tetapi juga karena pesonanya yang sulit diabaikan. Banyak yang mengatakan, jika ada perempuan yang pantas berdiri di sisi Elang, maka Audrey adalah orangnya. Zoey merasa seperti orang kecil berada di antara mereka. Ia bahkan bisa merasakan keberadaannya di dekat mereka sama sekali tidak di sukai. Terutama oleh dokter Audrey. "Kau, bukankah aku menyuruhmu menjaga pasien? Kenapa malah ada di sini?" Audrey angkat suara menatap Zoey tajam. Dia makin tidak suka karena tadi melihat betapa dekatnya posisi perempuan itu dengan Elang yang diam-diam dia suka. Ia bahkan tidak pernah sedekat itu dengan Elang. Zoey menunduk. "Maaf dok, anak tadi ..." "Jangan cari-cari alasan! Kau selalu seperti itu. Kerja tidak becus. Kau pikir aku tidak tahu semua orang di bangsal lantai 2 sering membicarakanmu? Kalau tidak mau serius jadi dokter, jangan kerja di sini!" Zoey tertunduk malu. Audrey memang bukan atasan langsungnya. Tapi posisi perempuan itu jauh di atasnya. Dia mau suruh-suruh apa, tidak mungkin Zoey menolak bukan? Apalagi dia memang sangat membutuhkan pekerjaan ini. "Audrey, jangan terlalu galak. Lihat, dia ketakutan." Dean angkat suara. Elang juga tampak tidak suka dengan sikap kasar Audrey. Apalagi mereka sedang di depan umum. "Tapi dia memang selalu membuat kesalahan. Kalau aku tidak menegurnya sekarang dia ..." "Menegur boleh, tapi kau harus pastikan dia memang bersalah atau tidak. Dan itu bukan di lakukan di depan umum." Elang ikut bicara. Dingin, tanpa menatap Audrey. Audrey terdiam. Berbeda dengan Zoey yang sedikit kaget karena laki-laki sedingin Elang secara tidak langsung sedikit membelanya. "Sudah-sudah. Jangan merusak pesta ulang tahun rumah sakit ini. Apalagi Zoey ini termasuk junior kita. Aku sudah membaca data-datamu. Ternyata kau juga lulusan Apex Medical University." Zoey mengangguk. "Bagaimana rasanya bekerja di rumah sakit ini?" Tanya Dean lagi. Elang diam-diam menatap dari ujung matanya. "Mm, baik dok." Dean tersenyum. "Jangan kaku begitu. Jangan pikirkan pekerjaan dulu, tetaplah di sini. Nikmati saja pestanya. "Tapi Dean, dia ..." Audrey angkat suara keberatan. "Aku direktur rumah sakit Audrey. Jangan mengaturku." Audrey terdiam lagi. Dalam hatinya dia kesal sekali.Elang mempersilakan Zoey duduk di atas tempat tidur periksa, lalu ia sendiri mengambil perlengkapan medis dari lemari obat di sudut ruangan. Gerakannya tenang dan terlatih, namun matanya tak lepas sesaat pun dari tangan kanan Zoey yang masih terlihat bengkak dan membiru di bagian punggung serta jari-jarinya. Ia menutup pintu ruangan rapat-rapat, memastikan tak ada siapa pun yang bisa mengganggu privasi mereka berdua. "Duduk yang tenang," ucapnya tegas sambil menarik kursi hingga berada tepat di depan gadis itu. Ia membasuh luka dengan cairan antiseptik, mengusapnya perlahan sekali seolah takut sedikit saja menambah rasa sakit yang sudah dirasakan Zoey. Setiap kali kapas itu menyentuh kulit yang lecet, ia akan berhenti sejenak, menatap wajah Zoey dan bertanya pelan, "Sakit?"Zoey menggeleng. Sentuhan yang begitu halus di tangannya membuat jantung Zoey berdegup kencang tak beraturan. Ia menundukkan wajah sedalam-dalamnya, menyembunyikan rona mera
Mata Elang menatap tajam ke arah Marla, tak ada sedikit pun belas kasihan yang terpancar dari sana. Wajahnya kaku, dingin, dan penuh ketegasan yang membuat siapa saja yang melihatnya merinding ketakutan."Tidak sengaja?" suaranya rendah namun berat, menggema di sepanjang lorong yang sepi itu. "Kau menginjak tangannya dua kali dengan tekanan yang sengaja diperkeras, menghinanya dengan kata-kata yang menyakitkan, dan tertawa lepas melihat dia meringis kesakitan di lantai. Dan kau berani bilang itu tidak sengaja?"Elang menepis kasar tangan Marla yang mencengkeram ujung jasnya, membuat perawat itu tersungkur ke lantai. "Rumah sakit ini adalah tempat menyelamatkan nyawa, bukan tempat untuk melampiaskan kebencian dan merendahkan martabat orang lain. Divisi bedah syaraf tidak membutuhkan orang yang berhati busuk sepertimu. Keputusanku sudah bulat, tidak ada tawar-menawar sedikit pun."Ia tidak menatap lagi wajah yang penuh air mata itu, lalu perlahan berbalik badan menatap Audrey dan Din
Setelah memastikan mobil Elang benar-benar sudah menghilang, Zoey keluar daru supermarket. Ia melangkah cepat ke rumah sakit yang jaraknya mungkin sekitar dua ratus meter jalan kaki. Hatinya mengatakan, dia harus menjauhi dokter Elang. Maksudnya menjaga jarak, demi kebaikan dokter Elang sendiri. "Zoey!"Baru saja dia mencapai lantai divisi bedah syaraf, tiba-tiba ada yang menyenggol tubuhnya dengan kuat sampai-sampai berkas pasien yang dia bawa dari lantai bawah terjatuh berhamburan ke lantai. Zoey menatap sosok yang menabraknya itu, dua orang perawat, di belakang mereka ada dokter Audrey dan dokter Dini, sama-sama divisi bedah syaraf juga. Bedanya mereka sudah dokter tetap di sini, senior seperti dokter Elang meski dokter Elang posisinya jauh lebih tinggi dari mereka. Ke empat perempuan itu menatapnya dengan tatapan tidak suka, jelas kali. Zoey segera memungut berkas-berkas pasien yang berhamburan di lantai, namun ketika tangannya menyentuh lantai, tiba
"Jadi, sudah berapa lama kalian pacaran?"Uhuk! Uhuk! Zoey langsung terbatuk-batuk keras mendengar pertanyaan tiba-tiba dari mamanya dokter Elang. Pagi ini dia sedang berada di meja makan, ikut sarapan dengan kedua orangtua pria itu. Elang dengan cepat mengambil air minum dan menyodorkan ke mulut Zoey. "Minum dulu." katanya. Zoey yang masih malu-malu pun meminumnya. Masih ada sisa-sisa batuknya sedikit. Sementara itu Elang menatap sang mama tajam. "Ma, jangan nanya yang aneh-aneh." katanya. "Loh, aneh-aneh gimana? Orang kamu yang tiba-tiba bawa perempuan ke sini terus tidur bareng di kamar kamu lagi. Berarti kalian memang pacaran kan?"Zoey langsung menunduk. Bukan hanya malu pada orangtua Elang, dia juga merasa tidak enak pada pria itu. Pasti Elang malu di kira berpacaran dengannya. Dia kan cuma dokter residen yang punya nama buruk di rumah sakit. Kalau tiba-tiba ada gosip dia dekat dengan dokter Elang, pasti nama pria ith akan Ikut-ikutan jelek. "Ka-kami nggak pacaran tante," k
"Ahhh... Lebih keras sayang.. Uchh... Ya, enak... Enak sekali...""Ohhh..""Ahhh!'Sialan. Elang terus mengutuk dalam hati. Suara itu berasal. Dari kamar sebelah. Kamar Nancy dan suaminya. Ya, adiknya memang sudah menikah. Ia masih tidak percaya adiknya akan melakukan itu dengan suaminya di saat ada wanita lain dalam kamarnya. Zoey tidur di kamarnya malam ini. Astaga. Pandangannya berpindah ke Zoey yang duduk mematung di atas ranjang besar miliknya. Wanita itu tampak menunduk. Tentu saja Elang tahu ia sedang menahan malu. Suara desahan iparnya karena kenakalan yang di buat oleh Nancy betul-betul membuat Elang dan Sura menjadi canggung. Kamar rasanya jadi panas padahal AC-nya cukup dingin. Tapi diam-diam Elang senang melihat Zoey yang salah tingkah. Sebagai seorang laki-laki normal, bisa saja dia ikut terpancing dan menyerang kembali wanita yang duduk di kasurnya itu, seperti yang dia lakukan tadi di dalam
Elang buru-buru berlari cepat ke arah Nancy dan menutupi mulut perempuan itu. Adiknya ini benar-benar bikin jantungnya mau copot saja, ya ampun. "Diam Nancy, diam!" katanya dengan suara pelan namun tegas. Tangannya membekap mulut Nancy, membuat sang adik kesulitan berbicara bahkan bernafas. Zoey yang berdiri di ujung ruangan, mukanya sudah memerah seperti tomat. Dia berkali-kali lipat lebih gugup dari Elang, rasanya ingin menghilang saja dari rumah ini. Apalagi beberapa saat setelah itu, ada yang muncul entah dari mana. Mungkin ada ruangan lain di yang tersembunyi di ruangan tengah ini, karena tiba-tiba saja sudah ada yang muncul. Begitu melihat mereka, Zoey langsung mengenalinya. Kalau tidak salah ingat mereka adalah pasangan suami istri, alias orangtua dari dokter Elang dan Nancy. Zoey pernah melihat gambar mereka di majalah dan beberapa surat kabar. Orang tua Elang dan Nancy adalah salah satu pebisnis terkenal di negara ini. Keberadaan mere
Dua hari berlalu dengan cepat. Zoey akhirnya bisa masuk kerja lagi. Jujur, lebih baik dia kerja dan menghabiskan waktunya di rumah sakit, daripada harus diam di rumah. Karena di rumah dia tidak tenang. Orangtuanya sudah meninggal, sekarang dia hanya tinggal dengan tante dan sepupunya yang sifat mer
Saat melewati koridor rumah sakit, beberapa perawat yang sedang bertugas langsung terkejut melihat Elang yang sedang berlari dengan membawa seorang perempuan di dalam pelukannya. Mereka segera menyediakan kursi roda dan membuka jalan menuju bagian IGD. "Siapkan ruang pemeriksaan segera! Dia meng
Setelah aksinya memukuli laki-laki brengsek yang merampas tempat Zoey, Elang kembali ke Zoey yang masih menatapnya dengan ekspresi kaget. Ia sama sekali tidak menyangka laki-laki itu akan melakukan tindakan tadi. Pria tadi sampai pingsan. Matanya masih tidak berkedip ketika sang dokter tampan memb
Pesta terus berlanjut. Ketua rumah sakit, alias ayahnya dokter Dean sedang berpidato di depan. Semua orang menatapnya serius. Zoey memilih berdiri di bagian paling belakang yang tidak terlihat oleh siapa pun. Terakhir kali ia menghadiri pesta seperti ini waktu jaman kuliah. Sesekali pandangannya a







