MasukSalah satu pria yang tampaknya pemimpin kelompok itu, melangkah maju. Dengan suara lantang dia berteriak,
"SEMUANYA TETAP DIAM DI TEMPAT! JIKA ADA YANG MENCOBA BERTINDAK BODOH, KAMI TIDAK SEGAN-SEGAN MENEMBAK!" DOR! Satu tembakan lagi tembak ke langit-langit aula. Orang-orang makin panik. Elang yang kini berada di sudut lain ruangan itu tetap tenang meski ekspresinya serius. Ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini, saat dulu dia ikut sekolah militer. Dia pernah sekolah militer dua tahun, tentu berhadapan dengan pistol dan orang-orang jahat itu bukan hal yang biasa. Matanya kembali melirik ke meja tempat Zoey berada. Dia harus melindungi gadis itu. "KAU! MERUNDUK BRENGSEK!" Orang-orang di depan sana menunjuknya dan berteriak kasar. Ah, sepertinya hanya perampok biasa. Jason hanya mendongak dengan tatapan dingin ketika salah satu perampok itu mengarahkan senjata ke arahnya. Ia sama sekali tidak bergerak panik seperti tamu-tamu lain yang masih bersembunyi di balik meja dan kursi. Justru, ia menyilangkan tangan di dada, tampak santai seolah sedang menghadapi sekelompok anak kecil yang berusaha menakutinya. Menakuti seorang Elang? Bahkan pria itu sudah pernah berhadapan dengan puluhan orang yang mau menyerangnya bersamaan. Medan perang sudah biasa baginya. Justru akan aneh kalau dia takut pada sekelompok perampok bersenjata yang bahkan tak sampai sepuluh orang. "Turun, sekarang!" bentak perampok itu lagi. Elang tetap tak bergerak. Bibirnya bahkan melengkung tipis, senyum mencemooh. "Kau pikir aku akan takut dengan jumlah kalian yang tidak seberapa itu?" katanya pelan, tapi cukup jelas untuk terdengar di tengah suasana yang mencekam. Semua orang yang sudah menunduk di dalam aula tersebut sesekali mendongakkan kepala mereka melirik ke Elang. Mereka takjub dengan sosok dokter itu. Ternyata tidak menjual tampang dan kemampuan bedah di meja operasi saja. Keberaniannya patut di puji. Perampok yang memegang senjata tampak kesal. Ia melangkah cepat, berniat menarik kerah Jason, tetapi sebelum tangannya menyentuh jas pria itu, tiba-tiba terdengar suara keras Dor! Sebuah tembakan mengenai lantai di samping kaki perampok itu. Perampok itu tersentak mundur dengan wajah kaget. Begitu juga para tamu yang kembali menjerit ketakutan. Zoey yang bersembunyi di bawah meja membelalakkan mata. Itu tadi … suara pistol tapi bukan dari para perampok. Ia melihat ke depan, ternyata Dean. "Idiot," gumam Dean pelan. "Kalian merampok tempat yang salah." tambahnya. Di belakangnya ada para pengawal yang mengawal ayahnya, pemilik rumah sakit ini. Ada lebih dari sepuluh. Semuanya membawa senjata tajam. Pemimpin perampok tampak mulai menyadari kalau ada orang-orang di belakang yang melindungi Dean. Pria itu menoleh ke anak buahnya yang lain, memberi isyarat agar mereka segera bertindak. Namun, sebelum mereka sempat melakukan apa pun, suara tembakan lain kembali terdengar. Kali ini, dari arah lain ruangan. Salah satu perampok tiba-tiba terjatuh dengan pekikan tertahan. Bahunya berdarah. Tembakan itu datang dari orang lain, anak buah ayah Dean yang berada di posisi tersembunyi. Semua orang terdiam dalam ketegangan. Perampok-perampok itu mulai menyadari kalau mereka bukan sedang berhadapan dengan orang biasa. Salah satu dari mereka berbisik panik ke pemimpinnya, "Bos, kita harus pergi! Anak buah pria itu mungkin lebih banyak dari jumlah kita." Namun, sebelum mereka sempat bergerak, Elang sudah lebih dulu mengambil langkah. Ia berlari cepat, dalam sekejap melumpuhkan dua perampok terdekat dengan pukulan keras. Satu orang jatuh menghantam meja, sementara yang lain terdorong ke belakang hingga menabrak tamu lain. Di tengah kekacauan itu, Audrey tampak pucat. Ia tidak pernah menduga akan berada dalam situasi seperti ini. Namun, matanya tidak bisa lepas dari Elang yang tampak gagah di depan sana. Dia bangga. Di sisi lain, Zoey masih setia bersembunyi di bawah kolong meja, tapi tiba-tiba seorang tamu laki-laki menariknya keluar untuk merampas tempatnya yang punya posisi sempurna untuk bersembunyi itu. Zoey kaget. "Keluar, sialan! Ini tempatku!" Kata pria itu. "Tapi ..." Pria itu mendorong Zoey kencang hingga gadis itu menabrak salah satu dari penjahat. "Ja-lang sialan! Plakkk!" Laki-laki itu emosi lalu mendorong Zoey dengan kuat hingga gadis itu termundur jauh dan tubuhnya menabrak dinding dengan kuat. Sakit? Tentu saja sakit. Semua orang menatap ke arah mereka, termasuk Elang. Ia melihat dengan jelas bagaimana Zoey diperlakukan dengan kasar. Brengsek. Dengan emosi yang memuncak Elang berlari secepat kilat dan meninju laki-laki yang menyakiti Zoey. Elang menghantam perampok itu dengan pukulan keras ke rahangnya, membuat pria itu terhuyung ke belakang sebelum terjatuh tak sadarkan diri. Nafas Elang memburu, matanya gelap dipenuhi amarah. Dia menoleh ke arah Zoey yang masih terduduk di lantai, tubuh mungilnya bergetar menahan sakit akibat benturan keras tadi. Melihat gadis itu kesakitan seperti itu membuat darah Elang mendidih. Ia kembali menatap laki-laki tadi dengan tatapan membunuh. Sementara itu, pemimpin perampok mulai kehilangan kendali atas situasi. "Brengsek! Habisi mereka semua!" teriaknya, membuat anak buahnya yang tersisa bersiap menembak. Namun, sebelum mereka sempat menarik pelatuk, suara lain tiba-tiba menggema di dalam ruangan. "Turunkan senjata kalian, kami polisi!" Puluhan petugas keamanan dan polisi bersenjata lengkap menyerbu masuk. Dean telah berhasil menghubungi pihak berwenang tadi, saat ada kesempatan. Para perampok panik, beberapa mencoba melarikan diri, tetapi mereka langsung dikepung dan dipaksa menyerah. Di tengah keributan itu, Elang kembali fokus pada Zoey. Ia berjalan mendekat, lalu berjongkok di depannya. "Bisa berdiri?" tanyanya dengan nada yang sangat lembut. Zoey meringis, tetapi tetap mencoba berdiri. Pandangannya sibuk melihat ke arah orang-orang yang masih syok. Elang menatapnya lama, lalu tanpa peringatan, ia menyampirkan jasnya di bahu gadis itu lalu menatap ke arah meja tempat Zoey bersembunyi tadi. "Tunggu di sini sebentar," ucapnya, kemudian berjalan ke arah laki-laki yang tadi merampas tempat Zoey. Laki-laki itu menatap Elang sombong. Dia adalah salah satu tamu ayahnya Dean, bukan staf atau pun dokter di rumah ini. "Kenapa melihatku seperti itu, brengsek. Kau tidak tahu siapa aku?" Elang tidak bicara sepatah katapun, namun tangannya tiba-tiba sudah melayang ke wajah laki-laki itu, kuat sekali, hingga laki-laki itu langsung pingsan hanya dalam sekali tonjok. Zoey dan orang-orang yang melihat kaget. Terutama Audrey. Wanita itu merasa kesal karena ia tahu apa alasan Elang memukuli pria itu. Terutama saat melihat pria yang dia sukai itu bersikap peduli pada si dokter residen. Berbeda dengan Dean yang tertawa di tempatnya berdiri. Ini pertama kalinya dia melihat Elang lepas kendali.Elang menganggukkan kepala mengerti, matanya tak lepas dari wajah Zoey yang masih tampak salah tingkah. Rona merah di pipi gadis itu belum juga memudar, dan Elang, seperti biasa, menikmati tiap detik keheningan yang dipenuhi kecanggungan manis itu. Baginya, melihat Zoey kehilangan kontrol seperti ini adalah hiburan tersendiri."Dan kau memilih untuk memastikannya sendiri? Tanpa ditemani siapa pun?" Elang bertanya dengan nada yang sedikit serius.Zoey mengangguk pelan."Aku hanya ingin memastikan."Elang menghela napas. "Ini kamar mayat. Memangnya kau tidak takut ada salah satu dari mereka yang tiba-tiba bangun?" Lagi. Elang lagi-lagi bercanda. Semenjak mereka mulai sering bertemu, dia paling senang menggoda Zoey dengan cara yang dia suka.Dan yang paling lucu adalah, Zoey merespon dengan apa yang Elang ingin lihat. Ia bisa lihat gadis itu merinding seolah percaya pada apa yang dia katakan. Seolah yang dia katakan barusan adalah
Elang dengan sigap menangkap tubuh Zoey yang melompat padanya. Kaki kedua gadis itu melingkar di pinggangnya, kedua tangannya memeluk punggung Elang dengan kepala yang menempel kuat di dada bidang pria itu. Sepertinya ia belum sadar kalau lelaki yang di hadapannya sekarang ini adalah Elang.Zoey sedang fokus mencari jenasah seseorang tadi, tapi pas dia berbalik tiba-tiba ada sosok yang berdiri di belakangnya, dia jelas kaget dan ketakutan setengah mati. Siapa juga yang tidak ketakutan kalau mengalami kejadian seperti ini. Masalahnya hanya dia orang hidup yang ada dalam kamar mayat ini. Jika tiba-tiba ada orang lain kan dia kaget.Dan Elang, lelaki itu sempat kaget saat Zoey melompat ke tubuhnya. Tapi posisi seperti ini, adalah posisi yang intim. Kalau di lakukan oleh sesama orang dewasa berbeda kelamin, tentu saja akan membuat orang yang melihat salah paham. Dan Elang suka posisi ini, karena itu pasti akan membuat Zoey merasa canggung dan malu. Salah satu hal yang
Hari ini begitu melelahkan buat Zoey. Bukan hari ini saja, tapi dari kemarin. Belum lagi dia harus menghadapi sikap dokter Elang yang makin membingungkan. Selesai kerja, dia langsung pulang. Meski di rumah juga tidak akan membuatnya tenang, tapi lebih baik pulang dulu untuk menghindari dokter Elang. Setelah hari itu, Zoey jarang bertemu dengan dokter Elang lagi, karena pria itu sedang keluar kota ikut pelatihan khusus dokter spesialis. Zoey bisa bernafas lega karena mereka tidak harus bertemu terus. Dengar-dengar sih hari ini sang dokter idaman seluruh wanita di rumah sakit ini akan kembali. Entah kenapa Zoey juga sedikit merindukannya. Setidaknya melihat lelaki itu diam-diam dari kejauhan saja sudah membuatnya merasa puas. Sementara itu, Elang baru saja sampai dari pelatihan tiga hari penuhnya. Saat kini dia dan Dean berjalan bersamaan menyusuri koridor menuju ruangan mereka.Elang menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku jas putihnya sambil tersenyum tipis
Elang mempersilakan Zoey duduk di atas tempat tidur periksa, lalu ia sendiri mengambil perlengkapan medis dari lemari obat di sudut ruangan. Gerakannya tenang dan terlatih, namun matanya tak lepas sesaat pun dari tangan kanan Zoey yang masih terlihat bengkak dan membiru di bagian punggung serta jari-jarinya. Ia menutup pintu ruangan rapat-rapat, memastikan tak ada siapa pun yang bisa mengganggu privasi mereka berdua. "Duduk yang tenang," ucapnya tegas sambil menarik kursi hingga berada tepat di depan gadis itu. Ia membasuh luka dengan cairan antiseptik, mengusapnya perlahan sekali seolah takut sedikit saja menambah rasa sakit yang sudah dirasakan Zoey. Setiap kali kapas itu menyentuh kulit yang lecet, ia akan berhenti sejenak, menatap wajah Zoey dan bertanya pelan, "Sakit?"Zoey menggeleng. Sentuhan yang begitu halus di tangannya membuat jantung Zoey berdegup kencang tak beraturan. Ia menundukkan wajah sedalam-dalamnya, menyembunyikan rona mera
Mata Elang menatap tajam ke arah Marla, tak ada sedikit pun belas kasihan yang terpancar dari sana. Wajahnya kaku, dingin, dan penuh ketegasan yang membuat siapa saja yang melihatnya merinding ketakutan."Tidak sengaja?" suaranya rendah namun berat, menggema di sepanjang lorong yang sepi itu. "Kau menginjak tangannya dua kali dengan tekanan yang sengaja diperkeras, menghinanya dengan kata-kata yang menyakitkan, dan tertawa lepas melihat dia meringis kesakitan di lantai. Dan kau berani bilang itu tidak sengaja?"Elang menepis kasar tangan Marla yang mencengkeram ujung jasnya, membuat perawat itu tersungkur ke lantai. "Rumah sakit ini adalah tempat menyelamatkan nyawa, bukan tempat untuk melampiaskan kebencian dan merendahkan martabat orang lain. Divisi bedah syaraf tidak membutuhkan orang yang berhati busuk sepertimu. Keputusanku sudah bulat, tidak ada tawar-menawar sedikit pun."Ia tidak menatap lagi wajah yang penuh air mata itu, lalu perlahan berbalik badan menatap Audrey dan Din
Setelah memastikan mobil Elang benar-benar sudah menghilang, Zoey keluar daru supermarket. Ia melangkah cepat ke rumah sakit yang jaraknya mungkin sekitar dua ratus meter jalan kaki. Hatinya mengatakan, dia harus menjauhi dokter Elang. Maksudnya menjaga jarak, demi kebaikan dokter Elang sendiri. "Zoey!"Baru saja dia mencapai lantai divisi bedah syaraf, tiba-tiba ada yang menyenggol tubuhnya dengan kuat sampai-sampai berkas pasien yang dia bawa dari lantai bawah terjatuh berhamburan ke lantai. Zoey menatap sosok yang menabraknya itu, dua orang perawat, di belakang mereka ada dokter Audrey dan dokter Dini, sama-sama divisi bedah syaraf juga. Bedanya mereka sudah dokter tetap di sini, senior seperti dokter Elang meski dokter Elang posisinya jauh lebih tinggi dari mereka. Ke empat perempuan itu menatapnya dengan tatapan tidak suka, jelas kali. Zoey segera memungut berkas-berkas pasien yang berhamburan di lantai, namun ketika tangannya menyentuh lantai, tiba
Saat melewati koridor rumah sakit, beberapa perawat yang sedang bertugas langsung terkejut melihat Elang yang sedang berlari dengan membawa seorang perempuan di dalam pelukannya. Mereka segera menyediakan kursi roda dan membuka jalan menuju bagian IGD. "Siapkan ruang pemeriksaan segera! Dia meng
Setelah aksinya memukuli laki-laki brengsek yang merampas tempat Zoey, Elang kembali ke Zoey yang masih menatapnya dengan ekspresi kaget. Ia sama sekali tidak menyangka laki-laki itu akan melakukan tindakan tadi. Pria tadi sampai pingsan. Matanya masih tidak berkedip ketika sang dokter tampan memb
Pesta terus berlanjut. Ketua rumah sakit, alias ayahnya dokter Dean sedang berpidato di depan. Semua orang menatapnya serius. Zoey memilih berdiri di bagian paling belakang yang tidak terlihat oleh siapa pun. Terakhir kali ia menghadiri pesta seperti ini waktu jaman kuliah. Sesekali pandangannya a
Elite Medical Hospital. Seorang laki-laki tampan dengan kharisma yang membuat banyak perempuan tergila-gila itu masuk ke dalam aula pesta. Ia mengenakan kemeja yang dipadukan dengan jas dokter miliknya. Semua dokter dan staf tidak diijinkan berdandan ala pesta karena setelah itu mereka masih l







