تسجيل الدخولPesta terus berlanjut. Ketua rumah sakit, alias ayahnya dokter Dean sedang berpidato di depan. Semua orang menatapnya serius. Zoey memilih berdiri di bagian paling belakang yang tidak terlihat oleh siapa pun. Terakhir kali ia menghadiri pesta seperti ini waktu jaman kuliah.
Sesekali pandangannya akan mencuri-curi pandang ke depan, ke tempat dokter Elang berdiri bersama dokter Dean dan Audrey. Si paling populer bahkan saat mereka di kampus. Saat pertama kali Zoey menjadi mahasiswi, ia masih sempat melihat orang-orang itu. Walau waktunya tidak lama karena mereka adalah mahasiswa pascasarjana yang sebentar lagi selesai. Zoey masih ingat dengan jelas bagaimana suasana kampus saat itu. Nama Elang Nugraha, Dean, dan Audrey hampir selalu jadi bahan pembicaraan. Bukan hanya karena mereka pintar, tapi juga karena pengaruh, prestasi, dan … kehidupan mereka yang terlihat begitu sempurna. Sedangkan Zoey? Ia hanya mahasiswi biasa yang lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan daripada di kantin atau acara kampus. Pandangannya kembali terarah ke depan. Elang berdiri tegak dengan segelas minuman di tangan, sesekali menanggapi ucapan Dean. Wajahnya tetap datar, dingin, sulit ditebak. Sementara Audrey berdiri di sisi lain, tampak anggun dengan senyum tipis yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Mereka benar-benar terlihat seperti berada di dunia yang berbeda. Zoey menunduk, jemarinya tanpa sadar saling menggenggam. Ia tidak tahu kenapa dirinya terus saja melihat ke arah itu. Padahal jelas-jelas, tidak ada tempat untuknya di antara mereka. "Ngapain sih lihat-lihat ke sana terus?" Suara pelan di sampingnya membuat Zoey sedikit terkejut. Ia menoleh dan mendapati salah satu perawat berdiri tidak jauh darinya. Zoey tersenyum tipis, mencoba bersikap biasa. "Ng-nggak nga..." Perawat itu mendengus pelan. "Jangan berharap terlalu tinggi deh. Dunia mereka sama kita itu beda jauh." Ucapan itu menusuk, meski disampaikan dengan nada santai. Zoey tidak menjawab. Ia hanya kembali menatap ke depan, tepat saat tepuk tangan terdengar memenuhi aula, tanda pidato telah selesai. Semua orang mulai bergerak, suasana kembali ramai. Di saat itulah, tanpa sengaja, mata Zoey kembali bertemu dengan Elang. Hanya sepersekian detik. Namun cukup untuk membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Zoey langsung memalingkan wajah, pura-pura sibuk memperbaiki tali sepatunya. Sementara di depan sana, Elang sedikit mengernyit. Di antara ratusan orang yang ada di aula itu… Hanya perempuan itu yang berhasil mengambil alih perhatiannya. Selalu. Di tempatnya, Zoey terus menunduk, berpura-pura mengikat tali sepatunya. Saat ia menghadap lurus ke depan, ia tanpa sengaja melihat ada seseorang yang melintas di depan sana mengeluarkan pistol. Zoey langsung kaku di tempatnya. I-itu pistol beneran? Ucapnya dalam hati. Matanya terus ke arah orang itu. Ia tampak ketakutan sekali dan hampir berteriak ketika bahunya di sentuh seseorang. Zoey hendak lari, tapi begitu menyadari siapa sosok yang menyentuh bahunya tadi, dia kembali terdiam. Dokter Dean. Di belakang pria itu berdiri dokter Elang, sedang menatap dia juga. "Zoey, ada apa? Kenapa tegang begitu?" Tanya Dean bingung. Zoey berusaha berdiri tapi kesulitan. Dean membantunya, dan Elang terus menatapnya. Jelas langsung sadar kalau ada yang salah dengan perempuan itu. Kini Zoey berdiri di antara keduanya, Elang dan Dean. "Ada apa, katakan?" ucap Dean lagi. Kali ini suaranya lebih pelan. Zoey menatap kedua pria itu bergantian. Jari-jarinya saling bertaut, gemetar. Elang melihatnya. "Aku ..." Zoey mulai bicara. Getar di suaranya jelas sekali. "Aku li-lihat ada orang yang bawa pistol." Dean langsung terdiam. Ekspresi santainya menghilang seketika, berganti dengan sorot mata tajam yang serius. Ia menatap Zoey lekat, memastikan apa yang didengarnya bukan kesalahan. "Kau yakin?" tanyanya pelan, nyaris berbisik. Zoey mengangguk cepat. "Di ... sana…" tangannya terangkat sedikit, menunjuk ke arah kerumunan di sisi kanan aula, meski kini orang yang di maksud sudah tidak terlihat jelas. Elang yang sejak tadi diam, kini bergerak sedikit mendekat. Tatapannya mengikuti arah yang ditunjuk Zoey, menyapu setiap wajah. Saat ia hendak bicara, tiba-tiba bunyi tembakan terdengar keras. Dor! Dor! Dor! Semua orang kaget. Zoey juga. Ia tidak berteriak tapi menutup telinganya. Sesaat kemudian ia merasakan tubuhnya tertarik. Elang segera menarik tubuh Zoey menunduk dan bersembunyi di bawah meja. Dean merunduk di meja yang satunya. Ternyata yang dibilang Zoey memang benar. Siapa orang-orang itu, perampok? Yang benar saja, merampok rumah sakit? Zoey menahan nafas di bawah meja bersama Elang. Elang dapat merasakan tubuh wanita itu yang gemetaran hebat karena tangannya merangkul erat bahunya, bahkan posisi mereka seperti orang pelukan. Zoey yang mungil, dan Elang yang tinggi dan bidang, membuat Zoey nyaris tenggelam dalam lindungannya. "Jangan takut," bisik Elang rendah di dekat telinganya. Suara tembakan masih terdengar di kejauhan, di iringi jeritan panik para tamu. Suasana aula yang tadi mewah berubah kacau dalam hitungan detik. Orang-orang berlarian, beberapa menjatuhkan kursi dan meja. Zoey memejamkan mata erat-erat. Tangannya tanpa sadar mencengkeram jas Elang, seolah itu satu-satunya hal yang bisa membuatnya tetap tenang. "Aku takut…" gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Matanya berkaca-kaca. Elang menahan napas sejenak. Ia bukan orang yang terbiasa menenangkan orang lain, apalagi dalam posisi seperti ini. Namun melihat Zoey seperti itu membuatnya tidak bisa bersikap dingin seperti biasanya. Perempuan ini ketakutan hebat. Ethan membuatnya menatapnya. "Hei, lihat aku..." gumamnya pelan. Tangannya menangkup wajah gadis itu. Jarak mereka sangat dekat, Zoey tidak sempat gugup karena saat ini ketakutannya jauh lebih besar. "Tarik nafas pelan, ikuti aku." Zoey mencoba mengikuti instruksinya. Napasnya masih tersengal, tapi perlahan mulai teratur seiring hitungan pelan yang Elang bisikkan. "Satu … dua … tahan, hembuskan…" Matanya yang semula berkaca-kaca kini mulai fokus menatap Elang. Untuk sesaat, suara tembakan dan kepanikan di luar sana seolah meredup. "Ya, seperti itu. Bagus," gumam Elang pelan. "Tetap seperti itu." Zoey mengangguk kecil, meski tangannya masih mencengkeram jas Elang erat. Di luar, suara langkah kaki terdengar semakin dekat. Disusul bentakan kasar dari seseorang. "Semua diam! Jangan ada yang bergerak!" Zoey kembali menegang. Refleks, ia mendekat lebih ke arah Elang. Pria itu langsung merespons, menarik Zoey sedikit ke belakang agar terlindungi sepenuhnya oleh tubuhnya. "Tetap di sini, jangan ke mana-mana." bisik Elang tegas. Dia tidak boleh diam saja, harus cari cara. Zoey menelan ludah, tapi tetap mengangguk. Matanya bisa melihat situasi dari celah taplak meja. Ternyata mereka bukan hanya satu. Beberapa pria bersenjata berdiri di tengah aula. Mengawasi sekeliling dengan wajah tertutup masker hitam. Suasana di aula itu berubah jadi tegang sekali.Elang menganggukkan kepala mengerti, matanya tak lepas dari wajah Zoey yang masih tampak salah tingkah. Rona merah di pipi gadis itu belum juga memudar, dan Elang, seperti biasa, menikmati tiap detik keheningan yang dipenuhi kecanggungan manis itu. Baginya, melihat Zoey kehilangan kontrol seperti ini adalah hiburan tersendiri."Dan kau memilih untuk memastikannya sendiri? Tanpa ditemani siapa pun?" Elang bertanya dengan nada yang sedikit serius.Zoey mengangguk pelan."Aku hanya ingin memastikan."Elang menghela napas. "Ini kamar mayat. Memangnya kau tidak takut ada salah satu dari mereka yang tiba-tiba bangun?" Lagi. Elang lagi-lagi bercanda. Semenjak mereka mulai sering bertemu, dia paling senang menggoda Zoey dengan cara yang dia suka.Dan yang paling lucu adalah, Zoey merespon dengan apa yang Elang ingin lihat. Ia bisa lihat gadis itu merinding seolah percaya pada apa yang dia katakan. Seolah yang dia katakan barusan adalah
Elang dengan sigap menangkap tubuh Zoey yang melompat padanya. Kaki kedua gadis itu melingkar di pinggangnya, kedua tangannya memeluk punggung Elang dengan kepala yang menempel kuat di dada bidang pria itu. Sepertinya ia belum sadar kalau lelaki yang di hadapannya sekarang ini adalah Elang.Zoey sedang fokus mencari jenasah seseorang tadi, tapi pas dia berbalik tiba-tiba ada sosok yang berdiri di belakangnya, dia jelas kaget dan ketakutan setengah mati. Siapa juga yang tidak ketakutan kalau mengalami kejadian seperti ini. Masalahnya hanya dia orang hidup yang ada dalam kamar mayat ini. Jika tiba-tiba ada orang lain kan dia kaget.Dan Elang, lelaki itu sempat kaget saat Zoey melompat ke tubuhnya. Tapi posisi seperti ini, adalah posisi yang intim. Kalau di lakukan oleh sesama orang dewasa berbeda kelamin, tentu saja akan membuat orang yang melihat salah paham. Dan Elang suka posisi ini, karena itu pasti akan membuat Zoey merasa canggung dan malu. Salah satu hal yang
Hari ini begitu melelahkan buat Zoey. Bukan hari ini saja, tapi dari kemarin. Belum lagi dia harus menghadapi sikap dokter Elang yang makin membingungkan. Selesai kerja, dia langsung pulang. Meski di rumah juga tidak akan membuatnya tenang, tapi lebih baik pulang dulu untuk menghindari dokter Elang. Setelah hari itu, Zoey jarang bertemu dengan dokter Elang lagi, karena pria itu sedang keluar kota ikut pelatihan khusus dokter spesialis. Zoey bisa bernafas lega karena mereka tidak harus bertemu terus. Dengar-dengar sih hari ini sang dokter idaman seluruh wanita di rumah sakit ini akan kembali. Entah kenapa Zoey juga sedikit merindukannya. Setidaknya melihat lelaki itu diam-diam dari kejauhan saja sudah membuatnya merasa puas. Sementara itu, Elang baru saja sampai dari pelatihan tiga hari penuhnya. Saat kini dia dan Dean berjalan bersamaan menyusuri koridor menuju ruangan mereka.Elang menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku jas putihnya sambil tersenyum tipis
Elang mempersilakan Zoey duduk di atas tempat tidur periksa, lalu ia sendiri mengambil perlengkapan medis dari lemari obat di sudut ruangan. Gerakannya tenang dan terlatih, namun matanya tak lepas sesaat pun dari tangan kanan Zoey yang masih terlihat bengkak dan membiru di bagian punggung serta jari-jarinya. Ia menutup pintu ruangan rapat-rapat, memastikan tak ada siapa pun yang bisa mengganggu privasi mereka berdua. "Duduk yang tenang," ucapnya tegas sambil menarik kursi hingga berada tepat di depan gadis itu. Ia membasuh luka dengan cairan antiseptik, mengusapnya perlahan sekali seolah takut sedikit saja menambah rasa sakit yang sudah dirasakan Zoey. Setiap kali kapas itu menyentuh kulit yang lecet, ia akan berhenti sejenak, menatap wajah Zoey dan bertanya pelan, "Sakit?"Zoey menggeleng. Sentuhan yang begitu halus di tangannya membuat jantung Zoey berdegup kencang tak beraturan. Ia menundukkan wajah sedalam-dalamnya, menyembunyikan rona mera
Mata Elang menatap tajam ke arah Marla, tak ada sedikit pun belas kasihan yang terpancar dari sana. Wajahnya kaku, dingin, dan penuh ketegasan yang membuat siapa saja yang melihatnya merinding ketakutan."Tidak sengaja?" suaranya rendah namun berat, menggema di sepanjang lorong yang sepi itu. "Kau menginjak tangannya dua kali dengan tekanan yang sengaja diperkeras, menghinanya dengan kata-kata yang menyakitkan, dan tertawa lepas melihat dia meringis kesakitan di lantai. Dan kau berani bilang itu tidak sengaja?"Elang menepis kasar tangan Marla yang mencengkeram ujung jasnya, membuat perawat itu tersungkur ke lantai. "Rumah sakit ini adalah tempat menyelamatkan nyawa, bukan tempat untuk melampiaskan kebencian dan merendahkan martabat orang lain. Divisi bedah syaraf tidak membutuhkan orang yang berhati busuk sepertimu. Keputusanku sudah bulat, tidak ada tawar-menawar sedikit pun."Ia tidak menatap lagi wajah yang penuh air mata itu, lalu perlahan berbalik badan menatap Audrey dan Din
Setelah memastikan mobil Elang benar-benar sudah menghilang, Zoey keluar daru supermarket. Ia melangkah cepat ke rumah sakit yang jaraknya mungkin sekitar dua ratus meter jalan kaki. Hatinya mengatakan, dia harus menjauhi dokter Elang. Maksudnya menjaga jarak, demi kebaikan dokter Elang sendiri. "Zoey!"Baru saja dia mencapai lantai divisi bedah syaraf, tiba-tiba ada yang menyenggol tubuhnya dengan kuat sampai-sampai berkas pasien yang dia bawa dari lantai bawah terjatuh berhamburan ke lantai. Zoey menatap sosok yang menabraknya itu, dua orang perawat, di belakang mereka ada dokter Audrey dan dokter Dini, sama-sama divisi bedah syaraf juga. Bedanya mereka sudah dokter tetap di sini, senior seperti dokter Elang meski dokter Elang posisinya jauh lebih tinggi dari mereka. Ke empat perempuan itu menatapnya dengan tatapan tidak suka, jelas kali. Zoey segera memungut berkas-berkas pasien yang berhamburan di lantai, namun ketika tangannya menyentuh lantai, tiba
Saat melewati koridor rumah sakit, beberapa perawat yang sedang bertugas langsung terkejut melihat Elang yang sedang berlari dengan membawa seorang perempuan di dalam pelukannya. Mereka segera menyediakan kursi roda dan membuka jalan menuju bagian IGD. "Siapkan ruang pemeriksaan segera! Dia meng
Setelah aksinya memukuli laki-laki brengsek yang merampas tempat Zoey, Elang kembali ke Zoey yang masih menatapnya dengan ekspresi kaget. Ia sama sekali tidak menyangka laki-laki itu akan melakukan tindakan tadi. Pria tadi sampai pingsan. Matanya masih tidak berkedip ketika sang dokter tampan memb
Salah satu pria yang tampaknya pemimpin kelompok itu, melangkah maju. Dengan suara lantang dia berteriak, "SEMUANYA TETAP DIAM DI TEMPAT! JIKA ADA YANG MENCOBA BERTINDAK BODOH, KAMI TIDAK SEGAN-SEGAN MENEMBAK!"DOR!Satu tembakan lagi tembak ke langit-langit aula. Orang-orang makin panik. Elang y
Elite Medical Hospital. Seorang laki-laki tampan dengan kharisma yang membuat banyak perempuan tergila-gila itu masuk ke dalam aula pesta. Ia mengenakan kemeja yang dipadukan dengan jas dokter miliknya. Semua dokter dan staf tidak diijinkan berdandan ala pesta karena setelah itu mereka masih l







