Share

Jangan takut

Author: Mae_jer
last update publish date: 2026-05-28 11:13:19

Pesta terus berlanjut. Ketua rumah sakit, alias ayahnya dokter Dean sedang berpidato di depan. Semua orang menatapnya serius. Zoey memilih berdiri di bagian paling belakang yang tidak terlihat oleh siapa pun. Terakhir kali ia menghadiri pesta seperti ini waktu jaman kuliah.

Sesekali pandangannya akan mencuri-curi pandang ke depan, ke tempat dokter Elang berdiri bersama dokter Dean dan Audrey.  Si paling populer bahkan saat mereka di kampus. Saat pertama kali Zoey menjadi mahasiswi, ia masih sempat melihat orang-orang itu. Walau waktunya tidak lama karena mereka adalah mahasiswa pascasarjana yang sebentar lagi selesai.

Zoey masih ingat dengan jelas bagaimana suasana kampus saat itu. Nama Elang Nugraha, Dean, dan Audrey hampir selalu jadi bahan pembicaraan. Bukan hanya karena mereka pintar, tapi juga karena pengaruh, prestasi, dan … kehidupan mereka yang terlihat begitu sempurna.

Sedangkan Zoey?

Ia hanya mahasiswi biasa yang lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan daripada di kantin atau acara kampus.

Pandangannya kembali terarah ke depan.

Elang berdiri tegak dengan segelas minuman di tangan, sesekali menanggapi ucapan Dean. Wajahnya tetap datar, dingin, sulit ditebak. Sementara Audrey berdiri di sisi lain, tampak anggun dengan senyum tipis yang tidak pernah lepas dari bibirnya.

Mereka benar-benar terlihat seperti berada di dunia yang berbeda.

Zoey menunduk, jemarinya tanpa sadar saling menggenggam. Ia tidak tahu kenapa dirinya terus saja melihat ke arah itu. Padahal jelas-jelas, tidak ada tempat untuknya di antara mereka.

"Ngapain sih lihat-lihat ke sana terus?"

Suara pelan di sampingnya membuat Zoey sedikit terkejut. Ia menoleh dan mendapati salah satu perawat berdiri tidak jauh darinya. Zoey tersenyum tipis, mencoba bersikap biasa.

"Ng-nggak nga..."

Perawat itu mendengus pelan.

"Jangan berharap terlalu tinggi deh. Dunia mereka sama kita itu beda jauh."

Ucapan itu menusuk, meski disampaikan dengan nada santai.

Zoey tidak menjawab. Ia hanya kembali menatap ke depan, tepat saat tepuk tangan terdengar memenuhi aula, tanda pidato telah selesai.

Semua orang mulai bergerak, suasana kembali ramai. Di saat itulah, tanpa sengaja, mata Zoey kembali bertemu dengan Elang.

Hanya sepersekian detik. Namun cukup untuk membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

Zoey langsung memalingkan wajah, pura-pura sibuk memperbaiki tali sepatunya.

Sementara di depan sana, Elang sedikit mengernyit. Di antara ratusan orang yang ada di aula itu… Hanya perempuan itu yang berhasil mengambil alih perhatiannya. Selalu.

Di tempatnya, Zoey terus menunduk, berpura-pura mengikat tali sepatunya. Saat ia menghadap lurus ke depan, ia tanpa sengaja melihat ada seseorang yang melintas di depan sana mengeluarkan pistol.

Zoey langsung kaku di tempatnya.

I-itu pistol beneran?

Ucapnya dalam hati. Matanya terus ke arah orang itu. Ia tampak ketakutan sekali dan hampir berteriak ketika bahunya di sentuh seseorang. Zoey hendak lari, tapi begitu menyadari siapa sosok yang menyentuh bahunya tadi, dia kembali terdiam.

Dokter Dean. Di belakang pria itu berdiri dokter Elang, sedang menatap dia juga.

"Zoey, ada apa? Kenapa tegang begitu?" Tanya Dean bingung.

Zoey berusaha berdiri tapi kesulitan. Dean membantunya, dan Elang terus menatapnya. Jelas langsung sadar kalau ada yang salah dengan perempuan itu. Kini Zoey berdiri di antara keduanya, Elang dan Dean.

"Ada apa, katakan?" ucap Dean lagi. Kali ini suaranya lebih pelan.

Zoey menatap kedua pria itu bergantian. Jari-jarinya saling bertaut, gemetar. Elang melihatnya.

"Aku ..." Zoey mulai bicara. Getar di suaranya jelas sekali.

"Aku li-lihat ada orang yang bawa pistol."

Dean langsung terdiam. Ekspresi santainya menghilang seketika, berganti dengan sorot mata tajam yang serius. Ia menatap Zoey lekat, memastikan apa yang didengarnya bukan kesalahan.

"Kau yakin?" tanyanya pelan, nyaris berbisik. Zoey mengangguk cepat.

"Di ... sana…" tangannya terangkat sedikit, menunjuk ke arah kerumunan di sisi kanan aula, meski kini orang yang di maksud sudah tidak terlihat jelas.

Elang yang sejak tadi diam, kini bergerak sedikit mendekat. Tatapannya mengikuti arah yang ditunjuk Zoey, menyapu setiap wajah. Saat ia hendak bicara, tiba-tiba bunyi tembakan terdengar keras.

Dor! Dor! Dor!

Semua orang kaget. Zoey juga. Ia tidak berteriak tapi menutup telinganya. Sesaat kemudian ia merasakan tubuhnya tertarik.

Elang segera menarik tubuh Zoey  menunduk dan bersembunyi di bawah meja. Dean merunduk di meja yang satunya. Ternyata yang dibilang Zoey memang benar. Siapa orang-orang itu, perampok?

Yang benar saja, merampok rumah sakit?

Zoey menahan nafas di bawah meja bersama Elang. Elang dapat merasakan tubuh wanita itu yang gemetaran hebat karena tangannya merangkul erat bahunya, bahkan posisi mereka seperti orang pelukan. Zoey yang mungil, dan Elang yang tinggi dan bidang, membuat Zoey nyaris tenggelam dalam lindungannya.

"Jangan takut," bisik Elang rendah di dekat telinganya.

Suara tembakan masih terdengar di kejauhan, di iringi jeritan panik para tamu. Suasana aula yang tadi mewah berubah kacau dalam hitungan detik.

Orang-orang berlarian, beberapa menjatuhkan kursi dan meja.

Zoey memejamkan mata erat-erat. Tangannya tanpa sadar mencengkeram jas Elang, seolah itu satu-satunya hal yang bisa membuatnya tetap tenang.

"Aku takut…" gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Matanya berkaca-kaca.

Elang menahan napas sejenak. Ia bukan orang yang terbiasa menenangkan orang lain, apalagi dalam posisi seperti ini. Namun melihat Zoey seperti itu membuatnya tidak bisa bersikap dingin seperti biasanya. Perempuan ini ketakutan hebat.

Ethan membuatnya menatapnya.

"Hei, lihat aku..." gumamnya pelan. Tangannya menangkup wajah gadis itu. Jarak mereka sangat dekat, Zoey tidak sempat gugup karena saat ini ketakutannya jauh lebih besar.

"Tarik nafas pelan, ikuti aku."

Zoey mencoba mengikuti instruksinya. Napasnya masih tersengal, tapi perlahan mulai teratur seiring hitungan pelan yang Elang bisikkan.

"Satu … dua … tahan, hembuskan…"

Matanya yang semula berkaca-kaca kini mulai fokus menatap Elang. Untuk sesaat, suara tembakan dan kepanikan di luar sana seolah meredup.

"Ya, seperti itu. Bagus," gumam Elang pelan.

"Tetap seperti itu."

Zoey mengangguk kecil, meski tangannya masih mencengkeram jas Elang erat. Di luar, suara langkah kaki terdengar semakin dekat. Disusul bentakan kasar dari seseorang.

"Semua diam! Jangan ada yang bergerak!"

Zoey kembali menegang. Refleks, ia mendekat lebih ke arah Elang. Pria itu langsung merespons, menarik Zoey sedikit ke belakang agar terlindungi sepenuhnya oleh tubuhnya.

"Tetap di sini, jangan ke mana-mana." bisik Elang tegas. Dia tidak boleh diam saja, harus cari cara.

Zoey menelan ludah, tapi tetap mengangguk. Matanya bisa melihat situasi dari celah taplak meja. Ternyata mereka bukan hanya satu. Beberapa pria bersenjata berdiri di tengah aula. Mengawasi sekeliling dengan wajah tertutup masker hitam. Suasana di aula itu berubah jadi tegang sekali.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • RAHASIA DOKTER ELANG   Geger otak ringan

    Saat melewati koridor rumah sakit, beberapa perawat yang sedang bertugas langsung terkejut melihat Elang yang sedang berlari dengan membawa seorang perempuan di dalam pelukannya. Mereka segera menyediakan kursi roda dan membuka jalan menuju bagian IGD. "Siapkan ruang pemeriksaan segera! Dia mengalami benturan kepala dan kemungkinan gegar otak ringan," teriak Elang dengan suara yang jelas dan tegas, menunjukkan sisi profesionalnya yang tak tertandingi. Para perawat langsung bergerak cepat, mengikuti setiap instruksi dokter yang terkenal tegas dan profesional tersebut. Begitu sampai di IGD, Elang dengan hati-hati menempatkan Zoey di atas ranjang pemeriksaan. Hati-hati sekali. Tangan-tangan terampilnya mulai memeriksa kondisi gadis itu dengan seksama, mulai dari memeriksa luka di bagian belakang kepala hingga memeriksa fungsi sarafnya. Beberapa perawat membantu mengambil alat-alat yang dibutuhkan, sementara Dean sudah berdiri di pojok ruangan dengan raut wajah yang masih bingung.

  • RAHASIA DOKTER ELANG   Zoey pingsan

    Setelah aksinya memukuli laki-laki brengsek yang merampas tempat Zoey, Elang kembali ke Zoey yang masih menatapnya dengan ekspresi kaget. Ia sama sekali tidak menyangka laki-laki itu akan melakukan tindakan tadi. Pria tadi sampai pingsan. Matanya masih tidak berkedip ketika sang dokter tampan membungkuk di depannya. Wajahnya tepat datar dan aura dinginnya mendominasi. Para tamu lain sudah keluar aula, banyak yang masih syok tapi ada juga yang lebih syok melihat aksi dokter Elang memukuli seorang tamu laki-laki demi membela perempuan. Dan perempuan itu malah dokter residen yang namanya sudah jelek di rumah sakit ini. Lutut kiri Elang bertumpu di lantai. Pandangannya lurus ke depan, menatap Zoey. "Kau bisa berdiri sendiri?"Zoey belum menjawab. Masih syok dan kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Entahlah. "Hey," Laki-laki di depannya kembali bicara. Zoey bergeming lalu berusaha berdiri sendiri namun tubuhnya hampir limbung. Elang refleks menangkap tubuh perempuan itu. Lagi-la

  • RAHASIA DOKTER ELANG   Kemarahan Elang

    Salah satu pria yang tampaknya pemimpin kelompok itu, melangkah maju. Dengan suara lantang dia berteriak, "SEMUANYA TETAP DIAM DI TEMPAT! JIKA ADA YANG MENCOBA BERTINDAK BODOH, KAMI TIDAK SEGAN-SEGAN MENEMBAK!"DOR!Satu tembakan lagi tembak ke langit-langit aula. Orang-orang makin panik. Elang yang kini berada di sudut lain ruangan itu tetap tenang meski ekspresinya serius. Ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini, saat dulu dia ikut sekolah militer. Dia pernah sekolah militer dua tahun, tentu berhadapan dengan pistol dan orang-orang jahat itu bukan hal yang biasa. Matanya kembali melirik ke meja tempat Zoey berada. Dia harus melindungi gadis itu. "KAU! MERUNDUK BRENGSEK!"Orang-orang di depan sana menunjuknya dan berteriak kasar. Ah, sepertinya hanya perampok biasa. Jason hanya mendongak dengan tatapan dingin ketika salah satu perampok itu mengarahkan senjata ke arahnya. Ia sama sekali tidak bergerak panik seperti tamu-tamu lain yang masih bersembunyi di balik meja dan k

  • RAHASIA DOKTER ELANG   Jangan takut

    Pesta terus berlanjut. Ketua rumah sakit, alias ayahnya dokter Dean sedang berpidato di depan. Semua orang menatapnya serius. Zoey memilih berdiri di bagian paling belakang yang tidak terlihat oleh siapa pun. Terakhir kali ia menghadiri pesta seperti ini waktu jaman kuliah. Sesekali pandangannya akan mencuri-curi pandang ke depan, ke tempat dokter Elang berdiri bersama dokter Dean dan Audrey. Si paling populer bahkan saat mereka di kampus. Saat pertama kali Zoey menjadi mahasiswi, ia masih sempat melihat orang-orang itu. Walau waktunya tidak lama karena mereka adalah mahasiswa pascasarjana yang sebentar lagi selesai. Zoey masih ingat dengan jelas bagaimana suasana kampus saat itu. Nama Elang Nugraha, Dean, dan Audrey hampir selalu jadi bahan pembicaraan. Bukan hanya karena mereka pintar, tapi juga karena pengaruh, prestasi, dan … kehidupan mereka yang terlihat begitu sempurna.Sedangkan Zoey?Ia hanya mahasiswi biasa yang lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan daripada di

  • RAHASIA DOKTER ELANG   Aula pesta

    Elite Medical Hospital. Seorang laki-laki tampan dengan kharisma yang membuat banyak perempuan tergila-gila itu masuk ke dalam aula pesta. Ia mengenakan kemeja yang dipadukan dengan jas dokter miliknya. Semua dokter dan staf tidak diijinkan berdandan ala pesta karena setelah itu mereka masih lanjut kerja menghadapi pasien. Paling-paling yang datang dengan dandanan pesta hanyalah para tamu undangan. Meski begitu laki-laki tersebut tampak begitu rapi dan menawan. Ruangan yang ia masuki adalah aula khusus yang di buat untuk penyelenggaraan acara seperti pesta ulang tahun, penyambutan dan lain-lain. Aula tersebut di dirikan dengan ukuran yang terbilang sangat besar, bahkan bisa menampung lima ribu orang di dalamnya. Rumah sakit ini milik keluarga sahabatnya, Dean. Memang rumah sakit mewah yang terbilang sangat lengkap. Fasilitasnya tidak main-main. Tapi tentu saja, menyelamatkan pasien adalah nomor satu. Lampu-lampu kristal bergemerlapan, meja-meja bundar di tata rapi dengan deko

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status