LOGINPaginya di rumah Elang, "Pa, ma, aku berangkat kerja dulu." kata Elang buka suara. Ia sudah menunda beberapa jam untuk pergi ke sebuah desa dalam rangka pengobatan gratis. Beberapa hari ke depan d mereka memang ada program pengobatan gratis di desa-desa. Sudah ada beberapa desa yang mereka kunjungi. Harusnya hari ini mereka pergi pagi-pagi sekali. Tapi karena dia ada urusan keluarga mendadak semalan, ia harus menunda waktu. Sekarang ia menyusul tim-nya yang telah pergi lebih dulu ke desa. Ada Dean yang memimpin tim, jadi Elang tidak perlu khawatir. "Kak Elang baru mau berangkat kerja jam segini? Wahh, mujizat! Biasanya perginya pagi-pagi sekali, nggak pernah terlambat." Adiknya berseru dari sebelah mamanya. Elang tersenyum lebar ke sang adik, namun hanya dalam sepersekian detik, senyuman itu berganti dengan wajah sebalnya. "Terimakasih pada seseorang yang menghilang tanpa kabar semalaman dan membuat semua orang pa
Dua hari berlalu dengan cepat. Zoey akhirnya bisa masuk kerja lagi. Jujur, lebih baik dia kerja dan menghabiskan waktunya di rumah sakit, daripada harus diam di rumah. Karena di rumah dia tidak tenang. Orangtuanya sudah meninggal, sekarang dia hanya tinggal dengan tante dan sepupunya yang sifat mereka tidak baik. Meski begitu, dua hari belakangan ini Zoey merasa senang. Meski bingung, tapi dokter Elang, dokter yang diam-diam dia kagumi itu terus menanyakan kondisinya. Siapa perempuan yang tidak senang coba, saat laki-laki populer di rumah sakit tiba-tiba peduli tentang kondisi kita? Meski Zoey tahu tindakan dokter Elang itu hanya sebatas dokter ke pasiennya, tapi dia tetap senang. Ia melangkah masuk ke dalam rumah sakit besar itu dengan langkah pasti. Anehnya, entah kenapa ia merasa para staf, perawat dan beberapa dokter yang ia lewati terus memperhatikannya dengan ekspresi yang tidak senang. "Lihat, kemaren dia berakting lemah sampai-sampai dokter Elang gendong dia. Sekarang,
Pemeriksaan selesai setelah hampir 40 menit. Elang membantu Zoey duduk tetap dengan wajah datarnya. "T-terimakasih dok." ucap Zoey malu-malu. "Tidak ada masalah dengan kepalamu. Tapi kau harus istirahat total dua hari ke depan. Aku akan mengeluarkan surat keterangan sakit. Istirahatlah di rumah.""Tapi dokter besok aku harus ...""Aku doktermu. Aku lebih tahu kondisimu sekarang. Patuh saja, jangan membantah." ucapan tegas itu malah terdengar protektif sekali hingga Dean masih berdiri di depan pintu tersenyum geli, dan Zoey terdiam. Ia terpaksa mengangguk. "Setelah ini kau boleh pulang. Perlu di antar?""Nggak usah! A-aku bisa sendiri dok." sahut Zoey langsung. "Kalau perlu di antar aku akan menyuruh sopir ambulance mengantarmu."Dean hampir pecah tertawa. Hari ini Elang betul-betul membuatnya heran luar biasa. Ia tidak pernah lihat sahabatnya serandom itu, apalagi saat bicara dengan perempuan. "Aku bisa mengantarmu kalau kau mau, Zoey. Zoey kan?" Dean maju dan bicara dengan nada
Saat melewati koridor rumah sakit, beberapa perawat yang sedang bertugas langsung terkejut melihat Elang yang sedang berlari dengan membawa seorang perempuan di dalam pelukannya. Mereka segera menyediakan kursi roda dan membuka jalan menuju bagian IGD. "Siapkan ruang pemeriksaan segera! Dia mengalami benturan kepala dan kemungkinan gegar otak ringan," teriak Elang dengan suara yang jelas dan tegas, menunjukkan sisi profesionalnya yang tak tertandingi. Para perawat langsung bergerak cepat, mengikuti setiap instruksi dokter yang terkenal tegas dan profesional tersebut. Begitu sampai di IGD, Elang dengan hati-hati menempatkan Zoey di atas ranjang pemeriksaan. Hati-hati sekali. Tangan-tangan terampilnya mulai memeriksa kondisi gadis itu dengan seksama, mulai dari memeriksa luka di bagian belakang kepala hingga memeriksa fungsi sarafnya. Beberapa perawat membantu mengambil alat-alat yang dibutuhkan, sementara Dean sudah berdiri di pojok ruangan dengan raut wajah yang masih bingung.
Setelah aksinya memukuli laki-laki brengsek yang merampas tempat Zoey, Elang kembali ke Zoey yang masih menatapnya dengan ekspresi kaget. Ia sama sekali tidak menyangka laki-laki itu akan melakukan tindakan tadi. Pria tadi sampai pingsan. Matanya masih tidak berkedip ketika sang dokter tampan membungkuk di depannya. Wajahnya tepat datar dan aura dinginnya mendominasi. Para tamu lain sudah keluar aula, banyak yang masih syok tapi ada juga yang lebih syok melihat aksi dokter Elang memukuli seorang tamu laki-laki demi membela perempuan. Dan perempuan itu malah dokter residen yang namanya sudah jelek di rumah sakit ini. Lutut kiri Elang bertumpu di lantai. Pandangannya lurus ke depan, menatap Zoey. "Kau bisa berdiri sendiri?"Zoey belum menjawab. Masih syok dan kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Entahlah. "Hey," Laki-laki di depannya kembali bicara. Zoey bergeming lalu berusaha berdiri sendiri namun tubuhnya hampir limbung. Elang refleks menangkap tubuh perempuan itu. Lagi-la
Salah satu pria yang tampaknya pemimpin kelompok itu, melangkah maju. Dengan suara lantang dia berteriak, "SEMUANYA TETAP DIAM DI TEMPAT! JIKA ADA YANG MENCOBA BERTINDAK BODOH, KAMI TIDAK SEGAN-SEGAN MENEMBAK!"DOR!Satu tembakan lagi tembak ke langit-langit aula. Orang-orang makin panik. Elang yang kini berada di sudut lain ruangan itu tetap tenang meski ekspresinya serius. Ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini, saat dulu dia ikut sekolah militer. Dia pernah sekolah militer dua tahun, tentu berhadapan dengan pistol dan orang-orang jahat itu bukan hal yang biasa. Matanya kembali melirik ke meja tempat Zoey berada. Dia harus melindungi gadis itu. "KAU! MERUNDUK BRENGSEK!"Orang-orang di depan sana menunjuknya dan berteriak kasar. Ah, sepertinya hanya perampok biasa. Jason hanya mendongak dengan tatapan dingin ketika salah satu perampok itu mengarahkan senjata ke arahnya. Ia sama sekali tidak bergerak panik seperti tamu-tamu lain yang masih bersembunyi di balik meja dan k







