LOGINElang mempersilakan Zoey duduk di atas tempat tidur periksa, lalu ia sendiri mengambil perlengkapan medis dari lemari obat di sudut ruangan. Gerakannya tenang dan terlatih, namun matanya tak lepas sesaat pun dari tangan kanan Zoey yang masih terlihat bengkak dan membiru di bagian punggung serta jari-jarinya. Ia menutup pintu ruangan rapat-rapat, memastikan tak ada siapa pun yang bisa mengganggu privasi mereka berdua. "Duduk yang tenang," ucapnya tegas sambil menarik kursi hingga berada tepat di depan gadis itu. Ia membasuh luka dengan cairan antiseptik, mengusapnya perlahan sekali seolah takut sedikit saja menambah rasa sakit yang sudah dirasakan Zoey. Setiap kali kapas itu menyentuh kulit yang lecet, ia akan berhenti sejenak, menatap wajah Zoey dan bertanya pelan, "Sakit?"Zoey menggeleng. Sentuhan yang begitu halus di tangannya membuat jantung Zoey berdegup kencang tak beraturan. Ia menundukkan wajah sedalam-dalamnya, menyembunyikan rona mera
Mata Elang menatap tajam ke arah Marla, tak ada sedikit pun belas kasihan yang terpancar dari sana. Wajahnya kaku, dingin, dan penuh ketegasan yang membuat siapa saja yang melihatnya merinding ketakutan."Tidak sengaja?" suaranya rendah namun berat, menggema di sepanjang lorong yang sepi itu. "Kau menginjak tangannya dua kali dengan tekanan yang sengaja diperkeras, menghinanya dengan kata-kata yang menyakitkan, dan tertawa lepas melihat dia meringis kesakitan di lantai. Dan kau berani bilang itu tidak sengaja?"Elang menepis kasar tangan Marla yang mencengkeram ujung jasnya, membuat perawat itu tersungkur ke lantai. "Rumah sakit ini adalah tempat menyelamatkan nyawa, bukan tempat untuk melampiaskan kebencian dan merendahkan martabat orang lain. Divisi bedah syaraf tidak membutuhkan orang yang berhati busuk sepertimu. Keputusanku sudah bulat, tidak ada tawar-menawar sedikit pun."Ia tidak menatap lagi wajah yang penuh air mata itu, lalu perlahan berbalik badan menatap Audrey dan Din
Setelah memastikan mobil Elang benar-benar sudah menghilang, Zoey keluar daru supermarket. Ia melangkah cepat ke rumah sakit yang jaraknya mungkin sekitar dua ratus meter jalan kaki. Hatinya mengatakan, dia harus menjauhi dokter Elang. Maksudnya menjaga jarak, demi kebaikan dokter Elang sendiri. "Zoey!"Baru saja dia mencapai lantai divisi bedah syaraf, tiba-tiba ada yang menyenggol tubuhnya dengan kuat sampai-sampai berkas pasien yang dia bawa dari lantai bawah terjatuh berhamburan ke lantai. Zoey menatap sosok yang menabraknya itu, dua orang perawat, di belakang mereka ada dokter Audrey dan dokter Dini, sama-sama divisi bedah syaraf juga. Bedanya mereka sudah dokter tetap di sini, senior seperti dokter Elang meski dokter Elang posisinya jauh lebih tinggi dari mereka. Ke empat perempuan itu menatapnya dengan tatapan tidak suka, jelas kali. Zoey segera memungut berkas-berkas pasien yang berhamburan di lantai, namun ketika tangannya menyentuh lantai, tiba
"Jadi, sudah berapa lama kalian pacaran?"Uhuk! Uhuk! Zoey langsung terbatuk-batuk keras mendengar pertanyaan tiba-tiba dari mamanya dokter Elang. Pagi ini dia sedang berada di meja makan, ikut sarapan dengan kedua orangtua pria itu. Elang dengan cepat mengambil air minum dan menyodorkan ke mulut Zoey. "Minum dulu." katanya. Zoey yang masih malu-malu pun meminumnya. Masih ada sisa-sisa batuknya sedikit. Sementara itu Elang menatap sang mama tajam. "Ma, jangan nanya yang aneh-aneh." katanya. "Loh, aneh-aneh gimana? Orang kamu yang tiba-tiba bawa perempuan ke sini terus tidur bareng di kamar kamu lagi. Berarti kalian memang pacaran kan?"Zoey langsung menunduk. Bukan hanya malu pada orangtua Elang, dia juga merasa tidak enak pada pria itu. Pasti Elang malu di kira berpacaran dengannya. Dia kan cuma dokter residen yang punya nama buruk di rumah sakit. Kalau tiba-tiba ada gosip dia dekat dengan dokter Elang, pasti nama pria ith akan Ikut-ikutan jelek. "Ka-kami nggak pacaran tante," k
"Ahhh... Lebih keras sayang.. Uchh... Ya, enak... Enak sekali...""Ohhh..""Ahhh!'Sialan. Elang terus mengutuk dalam hati. Suara itu berasal. Dari kamar sebelah. Kamar Nancy dan suaminya. Ya, adiknya memang sudah menikah. Ia masih tidak percaya adiknya akan melakukan itu dengan suaminya di saat ada wanita lain dalam kamarnya. Zoey tidur di kamarnya malam ini. Astaga. Pandangannya berpindah ke Zoey yang duduk mematung di atas ranjang besar miliknya. Wanita itu tampak menunduk. Tentu saja Elang tahu ia sedang menahan malu. Suara desahan iparnya karena kenakalan yang di buat oleh Nancy betul-betul membuat Elang dan Sura menjadi canggung. Kamar rasanya jadi panas padahal AC-nya cukup dingin. Tapi diam-diam Elang senang melihat Zoey yang salah tingkah. Sebagai seorang laki-laki normal, bisa saja dia ikut terpancing dan menyerang kembali wanita yang duduk di kasurnya itu, seperti yang dia lakukan tadi di dalam
Elang buru-buru berlari cepat ke arah Nancy dan menutupi mulut perempuan itu. Adiknya ini benar-benar bikin jantungnya mau copot saja, ya ampun. "Diam Nancy, diam!" katanya dengan suara pelan namun tegas. Tangannya membekap mulut Nancy, membuat sang adik kesulitan berbicara bahkan bernafas. Zoey yang berdiri di ujung ruangan, mukanya sudah memerah seperti tomat. Dia berkali-kali lipat lebih gugup dari Elang, rasanya ingin menghilang saja dari rumah ini. Apalagi beberapa saat setelah itu, ada yang muncul entah dari mana. Mungkin ada ruangan lain di yang tersembunyi di ruangan tengah ini, karena tiba-tiba saja sudah ada yang muncul. Begitu melihat mereka, Zoey langsung mengenalinya. Kalau tidak salah ingat mereka adalah pasangan suami istri, alias orangtua dari dokter Elang dan Nancy. Zoey pernah melihat gambar mereka di majalah dan beberapa surat kabar. Orang tua Elang dan Nancy adalah salah satu pebisnis terkenal di negara ini. Keberadaan mere
Saat melewati koridor rumah sakit, beberapa perawat yang sedang bertugas langsung terkejut melihat Elang yang sedang berlari dengan membawa seorang perempuan di dalam pelukannya. Mereka segera menyediakan kursi roda dan membuka jalan menuju bagian IGD. "Siapkan ruang pemeriksaan segera! Dia meng
Setelah aksinya memukuli laki-laki brengsek yang merampas tempat Zoey, Elang kembali ke Zoey yang masih menatapnya dengan ekspresi kaget. Ia sama sekali tidak menyangka laki-laki itu akan melakukan tindakan tadi. Pria tadi sampai pingsan. Matanya masih tidak berkedip ketika sang dokter tampan memb
Salah satu pria yang tampaknya pemimpin kelompok itu, melangkah maju. Dengan suara lantang dia berteriak, "SEMUANYA TETAP DIAM DI TEMPAT! JIKA ADA YANG MENCOBA BERTINDAK BODOH, KAMI TIDAK SEGAN-SEGAN MENEMBAK!"DOR!Satu tembakan lagi tembak ke langit-langit aula. Orang-orang makin panik. Elang y
Pesta terus berlanjut. Ketua rumah sakit, alias ayahnya dokter Dean sedang berpidato di depan. Semua orang menatapnya serius. Zoey memilih berdiri di bagian paling belakang yang tidak terlihat oleh siapa pun. Terakhir kali ia menghadiri pesta seperti ini waktu jaman kuliah. Sesekali pandangannya a







