Accueil / Romansa / RAHASIA DOKTER ELANG / Geger otak ringan

Partager

Geger otak ringan

Auteur: Mae_jer
last update Date de publication: 2026-05-28 11:17:19

Saat melewati koridor rumah sakit, beberapa perawat yang sedang bertugas langsung terkejut melihat Elang yang sedang berlari dengan membawa seorang perempuan di dalam pelukannya. Mereka segera menyediakan kursi roda dan membuka jalan menuju bagian IGD.

"Siapkan ruang pemeriksaan segera! Dia mengalami benturan kepala dan kemungkinan gegar otak ringan," teriak Elang dengan suara yang jelas dan tegas, menunjukkan sisi profesionalnya yang tak tertandingi. Para perawat langsung bergerak cepat, mengikuti setiap instruksi dokter yang terkenal tegas dan profesional tersebut.

Begitu sampai di IGD, Elang dengan hati-hati menempatkan Zoey di atas ranjang pemeriksaan. Hati-hati sekali. Tangan-tangan terampilnya mulai memeriksa kondisi gadis itu dengan seksama, mulai dari memeriksa luka di bagian belakang kepala hingga memeriksa fungsi sarafnya. Beberapa perawat membantu mengambil alat-alat yang dibutuhkan, sementara Dean sudah berdiri di pojok ruangan dengan raut wajah yang masih bingung.

"Tekanan darahnya sedikit rendah, denyut nadi agak cepat dok," lapor salah satu perawat yang membantu memeriksa vital tanda Zoey.

Elang mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Zoey yang masih matanya masih. Ia mengambil alat refleks untuk memeriksa respon otak gadis itu. Setelah beberapa tes sederhana, dia menghela napas lega namun tetap waspada.

"Gegar otak ringan memang ada, tapi tidak terlalu parah. Tapi kita perlu melakukan CT Scan untuk memastikan tidak ada perdarahan di dalam kepala," ucap Elang.

Dean sudah mendekat ke sisi ranjang.

"Aku akan mengatur jadwal CT Scan. Apa kau akan menangani sendiri?" ucap Dean lalu bertanya.

"Ya," jawab Elang singkat. Ia masih fokus pada Zoey, mengatur posisi kepala gadis itu agar tidak membebani bagian yang terluka. Ketika ia menyentuh dahi Zoey yang sedikit berkeringat, tangannya secara refleks diam lebih lama dari yang seharusnya. Dean terus menatapnya dengan tatapan penuh arti.

"Aku baru lihat kau yang seperti ini." bisiknya pelan. Nada suaranya setengah menggoda dan ia tersenyum penuh arti pada sahabatnya itu.

"Dia memang pasien." balas Elang langsung seolah tidak peduli sama sekali. Sayangnya seorang Dean yang sudah bersamanya bertahun-tahun tidak akan percaya begitu saja. Jelas Dean sangat amat mengenalinya.

"Pasien istimewa maksudmu?" bisik Dean lagi. Kali ini Elang memilih cuek.

Sementara itu, berita tentang apa yang terjadi di aula dan Zoey yang pingsan sudah mulai menyebar ke seluruh rumah sakit. Beberapa dokter dan perawat berkumpul di luar ruangan IGD, berbisik-bisik tentang kejadian yang luar biasa itu. Banyak yang tidak menyangka bahwa Elang akan begitu memperhatikan seorang dokter residen yang sering menjadi bahan omongan tersebut.

Audrey juga sampai di depan ruangan IGD, namun dia memilih tidak masuk. Dia hanya bisa melihat dari celah pintu bagaimana Elang dengan penuh perhatian merawat Zoey. Rasa cemburu dan iri langsung timbul dalam hatinya membuatnya hampir tidak bisa bernapas.

Ia mengingat bagaimana Zoey selalu dianggap sebagai orang yang tidak mampu, bahkan pernah terdengar kabar bahwa dia menerima uang dari pasien untuk mendapatkan perawatan lebih baik, sebuah tuduhan yang belum pernah terbukti namun sudah membuat nama Zoey menjadi jelek di seluruh rumah sakit ini, sekarang menjadi bahan omongan lagi akibat tindakan perhatian dari dokter sepopuler Elang.

"Tidak mungkin," bisik Audrey dengan suara yang hampir tak terdengar. Rasanya tidak rela sekali melihat Elang sangat memperhatikan gadis itu.

"Mengapa dia memperhatikan perempuan seperti itu? Dia seorang dokter, itu memang pekerjaannya. Wanita itu terlalu rendahan. Elang tidak akan menyukai wanita seperti itu."

ucapnya pada dirinya sendiri namun pandangannya terus menatap ke dalam dengan wajah penuh perhitungan dan rasa iri yang besar sekali. Harusnya Elang memperhatikan dia yang jauh diatas segala-galanya dari perempuan itu.

Beberapa menit kemudian, Zoey perlahan membuka mata. Kepalanya terasa sangat berat dan berdenyut kuat. Ketika ia melihat wajah Elang yang berada tepat di depannya, dia kaget. Ia mencoba berdiri namun tubuhnya masih terlalu lemah. Elang cepat-cepat menahannya.

"Jangan bergerak sembarangan," ucap Elang agak dingin. Atau lebih ke, galak?

"Kau mengalami gegar otak ringan. Perlu pemeriksaan lanjutan." tambahnya.

Zoey mencoba mengingat-ngingat apa yang telah terjadi lalu menatap dokter tampan itu dengan perasaan tidak enak.

"Maaf dok ... aku tidak sengaja membuat masalah," bisik Zoey, suaranya lemah. Ia agak malu juga pada pria itu.

Elang menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak.

"Jangan salahkan dirimu sendiri." katanya. Zoey terdiam.

"Kita akan segera melakukan CT Scan," ucap Elang lagi dengan suara yang profesional.

"Setelah itu kita akan tahu kondisi pasti kepalamu."

Tanpa menunggu jawaban, Elang membantu Zoey turun dari tempat tidur untuk membawanya ke ruangan CT Scan. Ia sendiri yang akan mengantarnya langsung karena tidak ingin ada kesalahan sedikit pun dalam perawatan gadis itu.

Saat Zoey dibawa keluar dari ruangan itu, Audrey yang masih berdiri di luar mengepalkan tangannya kuat-kuat. Para perawat di ruang IGD juga langsung berkumpul dan bergosip heboh. Seakan klimaks dari semua yang terjadi hari ini bukanlah perampok masuk dan berbuat kacau di sini, tapi dokter Elang yang tampan menggendong dokter residen yang terkenal karena nama buruknya.

Koridor menuju ruang CT Scan terasa lebih panjang dari biasanya. Langkah Elang cepat namun tetap terkontrol, satu tangannya menopang bahu Zoey, sementara tangan lainnya menahan kepala gadis itu agar tetap stabil. Zoey tidak banyak bicara. Ia hanya menggigit bibir bawahnya pelan, mencoba menahan pusing yang datang berulang-ulang, dan canggung bersamaan pada dokter Elang.

Beberapa staf yang berpapasan langsung menyingkir memberi jalan. Tatapan mereka tidak bisa disembunyikan, penuh rasa penasaran, bisik-bisik yang tertahan, dan spekulasi liar yang mulai berkembang.

"Pelan-pelan … kita sudah sampai," ucap Elang saat pintu ruang CT Scan terbuka.

Zoey dibaringkan dengan hati-hati di atas meja pemeriksaan. Teknisi radiologi segera bersiap, sementara Elang masih berdiri di sisi kepala Zoey, memastikan posisinya benar.

"Kau akan masuk ke dalam mesin. Jangan bergerak, apa pun yang kau rasakan, paham?" jelasnya dengan suara rendah namun tegas.

Zoey mengangguk pelan. Matanya sempat menatap Elang, seakan mencari sesuatu, entah apa.

Mesin mulai bergerak. Suara dengung halus memenuhi ruangan. Dari balik kaca, Elang berdiri dengan tangan terlipat di dada, matanya tidak lepas dari monitor… dan dari Zoey.

Dean baru saja sampai, berdiri di sampingnya.

"Kalau orang lain, kau biasanya sudah serahkan ke dokter jaga," gumam Dean tanpa menoleh.

Elang tidak langsung menjawab.

"Ini kasus kepala. Aku hanya memastikan," balasnya datar.

Dean menoleh padanya cukup lama, lalu tersenyum tipis.

"Ah, hanya memastikan?" ucapnya kemudian sambil mengangguk-ngangguk. Tentu saja dia tidak percaya begitu saja.

"Junior kita memang cantik sekali, wajar kalau seorang Elang peduli. Biar bagaimana pun juga, kau tetap laki-laki normal." sindirnya sengaja.

Elang langsung memberinya tatapan tajam. Dean langsung menutup mulutnya rapat-rapat namun senyum itu tetap terpampang di wajahnya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • RAHASIA DOKTER ELANG   Patuh saja, jangan membantah

    Pemeriksaan selesai setelah hampir 40 menit. Elang membantu Zoey duduk tetap dengan wajah datarnya. "T-terimakasih dok." ucap Zoey malu-malu. "Tidak ada masalah dengan kepalamu. Tapi kau harus istirahat total dua hari ke depan. Aku akan mengeluarkan surat keterangan sakit. Istirahatlah di rumah.""Tapi dokter besok aku harus ...""Aku doktermu. Aku lebih tahu kondisimu sekarang. Patuh saja, jangan membantah." ucapan tegas itu malah terdengar protektif sekali hingga Dean masih berdiri di depan pintu tersenyum geli, dan Zoey terdiam. Ia terpaksa mengangguk. "Setelah ini kau boleh pulang. Perlu di antar?""Nggak usah! A-aku bisa sendiri dok." sahut Zoey langsung. "Kalau perlu di antar aku akan menyuruh sopir ambulance mengantarmu."Dean hampir pecah tertawa. Hari ini Elang betul-betul membuatnya heran luar biasa. Ia tidak pernah lihat sahabatnya serandom itu, apalagi saat bicara dengan perempuan. "Aku bisa mengantarmu kalau kau mau, Zoey. Zoey kan?" Dean maju dan bicara dengan nada

  • RAHASIA DOKTER ELANG   Geger otak ringan

    Saat melewati koridor rumah sakit, beberapa perawat yang sedang bertugas langsung terkejut melihat Elang yang sedang berlari dengan membawa seorang perempuan di dalam pelukannya. Mereka segera menyediakan kursi roda dan membuka jalan menuju bagian IGD. "Siapkan ruang pemeriksaan segera! Dia mengalami benturan kepala dan kemungkinan gegar otak ringan," teriak Elang dengan suara yang jelas dan tegas, menunjukkan sisi profesionalnya yang tak tertandingi. Para perawat langsung bergerak cepat, mengikuti setiap instruksi dokter yang terkenal tegas dan profesional tersebut. Begitu sampai di IGD, Elang dengan hati-hati menempatkan Zoey di atas ranjang pemeriksaan. Hati-hati sekali. Tangan-tangan terampilnya mulai memeriksa kondisi gadis itu dengan seksama, mulai dari memeriksa luka di bagian belakang kepala hingga memeriksa fungsi sarafnya. Beberapa perawat membantu mengambil alat-alat yang dibutuhkan, sementara Dean sudah berdiri di pojok ruangan dengan raut wajah yang masih bingung.

  • RAHASIA DOKTER ELANG   Zoey pingsan

    Setelah aksinya memukuli laki-laki brengsek yang merampas tempat Zoey, Elang kembali ke Zoey yang masih menatapnya dengan ekspresi kaget. Ia sama sekali tidak menyangka laki-laki itu akan melakukan tindakan tadi. Pria tadi sampai pingsan. Matanya masih tidak berkedip ketika sang dokter tampan membungkuk di depannya. Wajahnya tepat datar dan aura dinginnya mendominasi. Para tamu lain sudah keluar aula, banyak yang masih syok tapi ada juga yang lebih syok melihat aksi dokter Elang memukuli seorang tamu laki-laki demi membela perempuan. Dan perempuan itu malah dokter residen yang namanya sudah jelek di rumah sakit ini. Lutut kiri Elang bertumpu di lantai. Pandangannya lurus ke depan, menatap Zoey. "Kau bisa berdiri sendiri?"Zoey belum menjawab. Masih syok dan kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Entahlah. "Hey," Laki-laki di depannya kembali bicara. Zoey bergeming lalu berusaha berdiri sendiri namun tubuhnya hampir limbung. Elang refleks menangkap tubuh perempuan itu. Lagi-la

  • RAHASIA DOKTER ELANG   Kemarahan Elang

    Salah satu pria yang tampaknya pemimpin kelompok itu, melangkah maju. Dengan suara lantang dia berteriak, "SEMUANYA TETAP DIAM DI TEMPAT! JIKA ADA YANG MENCOBA BERTINDAK BODOH, KAMI TIDAK SEGAN-SEGAN MENEMBAK!"DOR!Satu tembakan lagi tembak ke langit-langit aula. Orang-orang makin panik. Elang yang kini berada di sudut lain ruangan itu tetap tenang meski ekspresinya serius. Ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini, saat dulu dia ikut sekolah militer. Dia pernah sekolah militer dua tahun, tentu berhadapan dengan pistol dan orang-orang jahat itu bukan hal yang biasa. Matanya kembali melirik ke meja tempat Zoey berada. Dia harus melindungi gadis itu. "KAU! MERUNDUK BRENGSEK!"Orang-orang di depan sana menunjuknya dan berteriak kasar. Ah, sepertinya hanya perampok biasa. Jason hanya mendongak dengan tatapan dingin ketika salah satu perampok itu mengarahkan senjata ke arahnya. Ia sama sekali tidak bergerak panik seperti tamu-tamu lain yang masih bersembunyi di balik meja dan k

  • RAHASIA DOKTER ELANG   Jangan takut

    Pesta terus berlanjut. Ketua rumah sakit, alias ayahnya dokter Dean sedang berpidato di depan. Semua orang menatapnya serius. Zoey memilih berdiri di bagian paling belakang yang tidak terlihat oleh siapa pun. Terakhir kali ia menghadiri pesta seperti ini waktu jaman kuliah. Sesekali pandangannya akan mencuri-curi pandang ke depan, ke tempat dokter Elang berdiri bersama dokter Dean dan Audrey. Si paling populer bahkan saat mereka di kampus. Saat pertama kali Zoey menjadi mahasiswi, ia masih sempat melihat orang-orang itu. Walau waktunya tidak lama karena mereka adalah mahasiswa pascasarjana yang sebentar lagi selesai. Zoey masih ingat dengan jelas bagaimana suasana kampus saat itu. Nama Elang Nugraha, Dean, dan Audrey hampir selalu jadi bahan pembicaraan. Bukan hanya karena mereka pintar, tapi juga karena pengaruh, prestasi, dan … kehidupan mereka yang terlihat begitu sempurna.Sedangkan Zoey?Ia hanya mahasiswi biasa yang lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan daripada di

  • RAHASIA DOKTER ELANG   Aula pesta

    Elite Medical Hospital. Seorang laki-laki tampan dengan kharisma yang membuat banyak perempuan tergila-gila itu masuk ke dalam aula pesta. Ia mengenakan kemeja yang dipadukan dengan jas dokter miliknya. Semua dokter dan staf tidak diijinkan berdandan ala pesta karena setelah itu mereka masih lanjut kerja menghadapi pasien. Paling-paling yang datang dengan dandanan pesta hanyalah para tamu undangan. Meski begitu laki-laki tersebut tampak begitu rapi dan menawan. Ruangan yang ia masuki adalah aula khusus yang di buat untuk penyelenggaraan acara seperti pesta ulang tahun, penyambutan dan lain-lain. Aula tersebut di dirikan dengan ukuran yang terbilang sangat besar, bahkan bisa menampung lima ribu orang di dalamnya. Rumah sakit ini milik keluarga sahabatnya, Dean. Memang rumah sakit mewah yang terbilang sangat lengkap. Fasilitasnya tidak main-main. Tapi tentu saja, menyelamatkan pasien adalah nomor satu. Lampu-lampu kristal bergemerlapan, meja-meja bundar di tata rapi dengan deko

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status