LOGINSetelah aksinya memukuli laki-laki brengsek yang merampas tempat Zoey, Elang kembali ke Zoey yang masih menatapnya dengan ekspresi kaget. Ia sama sekali tidak menyangka laki-laki itu akan melakukan tindakan tadi. Pria tadi sampai pingsan.
Matanya masih tidak berkedip ketika sang dokter tampan membungkuk di depannya. Wajahnya tepat datar dan aura dinginnya mendominasi. Para tamu lain sudah keluar aula, banyak yang masih syok tapi ada juga yang lebih syok melihat aksi dokter Elang memukuli seorang tamu laki-laki demi membela perempuan. Dan perempuan itu malah dokter residen yang namanya sudah jelek di rumah sakit ini. Lutut kiri Elang bertumpu di lantai. Pandangannya lurus ke depan, menatap Zoey. "Kau bisa berdiri sendiri?" Zoey belum menjawab. Masih syok dan kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Entahlah. "Hey," Laki-laki di depannya kembali bicara. Zoey bergeming lalu berusaha berdiri sendiri namun tubuhnya hampir limbung. Elang refleks menangkap tubuh perempuan itu. Lagi-lagi tubuh mereka bersentuhan, bahkan jarak itu adalah jarak yang bisa membuat semua perempuan yang menyukai Elang murka. Zoey berusaha lepas, tapi dia tidak ada kekuatan lagi. Lututnya lemas sekali. Meski begitu ia berusaha kuat. Harus kuat. Jangan kelihatan dia sengaja terlihat lemah biar dapat perhatian dari laki-laki ini. Apalagi orang-orang suka bergosip kalau dirinya bukan perempuan benar. "A-aku bisa jalan dok," katanya pelan, mendorong Elang sedikit menjauh. Dari tempatnya, tangan Audrey terkepal kuat. Perempuan tidak tahu malu. Pasti sengaja dia berlagak menjadi perempuan lemah yang tertindas biar dapat perhatian. Audrey terus menatap Zoey lalu tersenyum miring. Elang menganggukkan kepala. Ia ingin memeriksa bagian belakang kepala Zoey yang tadi sempat terbentur keras tapi tidak jadi karena menyadari gadis itu tidak ingin terlalu dekat. "Kepalamu terbentur keras sekali tadi, setelah ini periksalah ke bagian IGD," lanjut Elang singkat. "Jangan anggap sepele. Kau dokter, jadi kau tahu apa yang harus kau lakukan." kata-kata itu tidak lembut, tapi kalau ada yang dengar, mereka akan menganggap itu adalah bagian dari kepedulian Elang terhadap perempuan itu. Zoey mengangguk pelan, meski kepalanya masih terasa sedikit berdenyut. Ia berusaha berdiri lebih tegak, menarik napas dalam-dalam agar tidak terlihat lemah di depan banyak orang. "Iya, dok. Terima kasih," jawabnya lirih. Elang menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah memastikan perempuan itu benar-benar bisa berdiri tanpa bantuan. Tatapannya turun sekilas ke wajah Zoey yang masih pucat, lalu ke tangan yang sedikit gemetar. "Kau yakin bisa jalan sendiri?" tanyanya lagi, nada suaranya lebih rendah. Zoey mengangguk cepat. "Bisa." Elang mendengus, lalu tanpa kata berjalan meninggalkan gadis itu. Ia mendekati Dean yang sedang memberikan keterangan pada polisi. "Pasti mereka menyamar sebagai tamu. Hanya itu cela satu-satunya yang membuat mereka gampang masuk ke sini. Rumah sakit ini keamanannya cukup tinggi. Tapi kali ini pihak kami yang lalai." Elang mendengar apa yang Dean katakan pada polisi. "Baiklah. Kalau begitu kami akan memeriksa catatan tamu dan rekaman CCTV di seluruh area," lanjut salah satu polisi sambil mencatat. "Kami juga akan minta daftar staf yang bertugas malam ini." Dean mengangguk serius. "Saya akan minta bagian keamanan segera mengirimkan semuanya." Elang berdiri di sampingnya, memasukkan kedua tangan ke saku jas, tatapannya dingin mengamati sekitar aula yang kini porak-poranda. Meja terbalik, gelas pecah, semuanya terlihat kacau. Untung aula khusus ini berada di lantai paling atas, jadi tidak mengganggu dan menakuti para pasien rumah sakit. "Terimakasih atas kerjasamanya pak." ujar polisi yang berbicara dengan Dean. Dean mengangguk. Setelah polisi itu pergi, dia baru menghembuskan nafas lega. Lelaki itu menoleh ke Elang. "Pesta yang indah." katanya sambil tertawa kecut. Elang ikut tersenyum. Ia dapat melihat dengan jelas kekesalan di mata Dean. "Mata junior kita jeli sekali. Aku salut dia bisa melihat orang-orang yang membawa pistol itu. Oh ya, mana dia?" Mata Dean mencari tapi tidak menemukan perempuan yang dia cari. Tentu saja maksudnya adalah Zoey. Elang ikut melihat ke arah tadi dia meninggalkan gadis itu, dan ... Sudah tidak ada. Cepat sekali dia menghilang. Elang menghembuskan nafas kasar. Dean menatapnya. "Kau kenapa, ada yang membuatmu kesal?" Tidak ada jawaban. Dean mengangkat bahunya acuh tak acuh. Ia sudah terlalu terbiasa dengan sikap sahabatnya yang dingin dan suka tidak jelas itu. "Elang! Kau tidak apa-apa kan?!" Audrey sudah berdiri di depan keduanya. Wajah paniknya lurus ke Elang. Tangannya terangkat ingin menyentuh lengan Elang namun dengan gerakan cepat Elang menarik lengannya sedikit ke belakang, menghindari sentuhan itu. "Aku tidak apa-apa," jawabnya singkat. Audrey sempat terdiam sesaat, tangannya menggantung di udara sebelum akhirnya ia turunkan perlahan. Senyum tipis kembali terpasang, meski jelas ada yang berubah di sorot matanya. "Syukurlah," katanya pelan. "Aku khawatir." Elang tidak tersentuh sama sekali dengan kata-kata wanita itu. Malah terkesan cuek. Ia menatap Dean, wajahnya serius. "Kau harus perketat rumah sakit ini. Jangan sampai kejadian tadi terulang kembali." katanya. Dean mengangguk. Itu yang dia pikirkan barusan. Audrey yang berada di dekat mereka merasa tidak di anggap, tapi dia tetap tidak beranjak ke mana-mana. Yang paling penting adalah, orang-orang akan melihat kalau dia memiliki kedekatan dengan dua orang berpengaruh di rumah sakit ini. Dengan begitu, namanya di rumah sakit ini terkenal. "Arkgk! Ada yang pingsan!" Teriakan itu menggema dari arah pintu belakang aula yang jarang dilewati orang. Suara panik itu langsung menarik perhatian semua yang masih berada di sana. Dean dan Elang hampir bersamaan menoleh. Tanpa perlu aba-aba, keduanya langsung bergerak cepat ke arah sumber suara. Begitu sampai, yang pingsan ternyata ... "Zoey?" Dean menatap Elang. Tanpa menunggu, Elang langsung menerobos kerumunan dan memeriksa kondisi Zoey. Dia pikir gadis ini sudah pergi, ternyata pingsan di sini. Sialan. Elang mencoba fokus, memperlihatkan sisi profesionalnya sebagai dokter. Wajahnya kembali dingin namun penuh konsentrasi. Tangannya dengan cepat menyentuh pergelangan tangan Zoey, memeriksa denyut nadinya. Masih ada. Ia lalu mengangkat sedikit kelopak mata Zoey, memeriksa respon pupilnya. Alisnya langsung berkerut. "Pusing dan benturan di kepala … dia kemungkinan mengalami gegar otak ringan," ucapnya tegas. Tanpa aba-aba, ia mengangkat tubuh Zoey, menggendong perempuan itu dan berlari keluar aula secepat mungkin. Langkahnya cepat dan mantap, tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang dilewatinya. Zoey dalam gendongannya terlihat semakin lemah, kepalanya bersandar di dada Elang. Sementara itu, Dean masih berdiri di tempatnya dengan raut wajah bingung. "Aku tidak salah lihat kan? Sejak kapan dia khawatir pada perempuan?" ucapnya pada dirinya sendiri.Elang menggendong Zoey dengan hati-hati, melangkah cepat namun tetap stabil menuju ruang istirahat dokter yang paling dekat. Ia bisa merasakan tubuh gadis itu menggigil halus di pelukannya, seperti seseorang yang baru saja keluar dari badai emosional yang mengguncang. Nafas Zoey terengah, matanya terpejam, dan sesekali ia mengerang pelan, bukan karena luka fisik, tapi karena luka kenangan yang kembali ia ingat di picu oleh kejadian tadi.Begitu sampai di ruang istirahat dokter, seorang dokter yang sedang duduk bersama Audrey langsung berdiri. Audrey hanya menatap dengan perasaan yang panas, tidak suka melihat Elang menggendong Zoey. Kemarin saja hampir seluruh staf di rumah sakit ini heboh mendengar Elang yang bersikeras ingin Zoey mendampinginya di ruang operasi. Padahal Zoey belum pernah ada pengalaman apa pun. Dia hanya dokter residen yang terkenal sebagai suruhan dokter-dokter senior di rumah sakit ini, bahkan memiliki nama buruk. Dan pagi ini, wanita itu lagi-lagi memb
Elang melangkah lebih dulu, mendekati deretan laci logam berwarna perak yang berjajar rapi di sepanjang dinding ruangan. Suhu dingin menusuk tulang, tapi Elang tetap terlihat tenang. Di sisi lain, Zoey menelan ludah untuk kesekian kali, mencoba menahan rasa mual dan gugup yang bergantian menyerang. Dia memang dokter, tapi kalau melihat kumpulan jenasah sebanyak ini rasanya cukup ... Sulit di jelaskan.Dean membuka map yang dibawanya. Ia menunjuk ke satu laci di baris tengah."Kita mulai dari sini dulu. Ini salah satu dari dua jenazah pria. Usianya kira-kira tiga puluh tahunan, tinggi sekitar 175 cm. Ditemukan di lokasi kedua."Elang dan Zody berdiri sedikit mundur saat Dean membuka laci perlahan. Bau khas formalin dan kematian langsung menyergap hidung. Zoey memalingkan wajah sejenak, menutup mulut dan hidungnya dengan tangan. Tapi saat Elang menyentuh lengannya dengan lembut, ia berusaha menahan diri."Tenang. Kalau kau tidak kuat, keluar saja,"
Elang menganggukkan kepala mengerti, matanya tak lepas dari wajah Zoey yang masih tampak salah tingkah. Rona merah di pipi gadis itu belum juga memudar, dan Elang, seperti biasa, menikmati tiap detik keheningan yang dipenuhi kecanggungan manis itu. Baginya, melihat Zoey kehilangan kontrol seperti ini adalah hiburan tersendiri."Dan kau memilih untuk memastikannya sendiri? Tanpa ditemani siapa pun?" Elang bertanya dengan nada yang sedikit serius.Zoey mengangguk pelan."Aku hanya ingin memastikan."Elang menghela napas. "Ini kamar mayat. Memangnya kau tidak takut ada salah satu dari mereka yang tiba-tiba bangun?" Lagi. Elang lagi-lagi bercanda. Semenjak mereka mulai sering bertemu, dia paling senang menggoda Zoey dengan cara yang dia suka.Dan yang paling lucu adalah, Zoey merespon dengan apa yang Elang ingin lihat. Ia bisa lihat gadis itu merinding seolah percaya pada apa yang dia katakan. Seolah yang dia katakan barusan adalah
Elang dengan sigap menangkap tubuh Zoey yang melompat padanya. Kaki kedua gadis itu melingkar di pinggangnya, kedua tangannya memeluk punggung Elang dengan kepala yang menempel kuat di dada bidang pria itu. Sepertinya ia belum sadar kalau lelaki yang di hadapannya sekarang ini adalah Elang.Zoey sedang fokus mencari jenasah seseorang tadi, tapi pas dia berbalik tiba-tiba ada sosok yang berdiri di belakangnya, dia jelas kaget dan ketakutan setengah mati. Siapa juga yang tidak ketakutan kalau mengalami kejadian seperti ini. Masalahnya hanya dia orang hidup yang ada dalam kamar mayat ini. Jika tiba-tiba ada orang lain kan dia kaget.Dan Elang, lelaki itu sempat kaget saat Zoey melompat ke tubuhnya. Tapi posisi seperti ini, adalah posisi yang intim. Kalau di lakukan oleh sesama orang dewasa berbeda kelamin, tentu saja akan membuat orang yang melihat salah paham. Dan Elang suka posisi ini, karena itu pasti akan membuat Zoey merasa canggung dan malu. Salah satu hal yang
Hari ini begitu melelahkan buat Zoey. Bukan hari ini saja, tapi dari kemarin. Belum lagi dia harus menghadapi sikap dokter Elang yang makin membingungkan. Selesai kerja, dia langsung pulang. Meski di rumah juga tidak akan membuatnya tenang, tapi lebih baik pulang dulu untuk menghindari dokter Elang. Setelah hari itu, Zoey jarang bertemu dengan dokter Elang lagi, karena pria itu sedang keluar kota ikut pelatihan khusus dokter spesialis. Zoey bisa bernafas lega karena mereka tidak harus bertemu terus. Dengar-dengar sih hari ini sang dokter idaman seluruh wanita di rumah sakit ini akan kembali. Entah kenapa Zoey juga sedikit merindukannya. Setidaknya melihat lelaki itu diam-diam dari kejauhan saja sudah membuatnya merasa puas. Sementara itu, Elang baru saja sampai dari pelatihan tiga hari penuhnya. Saat kini dia dan Dean berjalan bersamaan menyusuri koridor menuju ruangan mereka.Elang menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku jas putihnya sambil tersenyum tipis
Elang mempersilakan Zoey duduk di atas tempat tidur periksa, lalu ia sendiri mengambil perlengkapan medis dari lemari obat di sudut ruangan. Gerakannya tenang dan terlatih, namun matanya tak lepas sesaat pun dari tangan kanan Zoey yang masih terlihat bengkak dan membiru di bagian punggung serta jari-jarinya. Ia menutup pintu ruangan rapat-rapat, memastikan tak ada siapa pun yang bisa mengganggu privasi mereka berdua. "Duduk yang tenang," ucapnya tegas sambil menarik kursi hingga berada tepat di depan gadis itu. Ia membasuh luka dengan cairan antiseptik, mengusapnya perlahan sekali seolah takut sedikit saja menambah rasa sakit yang sudah dirasakan Zoey. Setiap kali kapas itu menyentuh kulit yang lecet, ia akan berhenti sejenak, menatap wajah Zoey dan bertanya pelan, "Sakit?"Zoey menggeleng. Sentuhan yang begitu halus di tangannya membuat jantung Zoey berdegup kencang tak beraturan. Ia menundukkan wajah sedalam-dalamnya, menyembunyikan rona mera
Saat melewati koridor rumah sakit, beberapa perawat yang sedang bertugas langsung terkejut melihat Elang yang sedang berlari dengan membawa seorang perempuan di dalam pelukannya. Mereka segera menyediakan kursi roda dan membuka jalan menuju bagian IGD. "Siapkan ruang pemeriksaan segera! Dia meng
Salah satu pria yang tampaknya pemimpin kelompok itu, melangkah maju. Dengan suara lantang dia berteriak, "SEMUANYA TETAP DIAM DI TEMPAT! JIKA ADA YANG MENCOBA BERTINDAK BODOH, KAMI TIDAK SEGAN-SEGAN MENEMBAK!"DOR!Satu tembakan lagi tembak ke langit-langit aula. Orang-orang makin panik. Elang y
Pesta terus berlanjut. Ketua rumah sakit, alias ayahnya dokter Dean sedang berpidato di depan. Semua orang menatapnya serius. Zoey memilih berdiri di bagian paling belakang yang tidak terlihat oleh siapa pun. Terakhir kali ia menghadiri pesta seperti ini waktu jaman kuliah. Sesekali pandangannya a
Elite Medical Hospital. Seorang laki-laki tampan dengan kharisma yang membuat banyak perempuan tergila-gila itu masuk ke dalam aula pesta. Ia mengenakan kemeja yang dipadukan dengan jas dokter miliknya. Semua dokter dan staf tidak diijinkan berdandan ala pesta karena setelah itu mereka masih l







