Partager

Zoey pingsan

Auteur: Mae_jer
last update Date de publication: 2026-05-28 11:16:29

Setelah aksinya memukuli laki-laki brengsek yang merampas tempat Zoey, Elang kembali ke Zoey yang masih menatapnya dengan ekspresi kaget. Ia sama sekali tidak menyangka laki-laki itu akan melakukan tindakan tadi. Pria tadi sampai pingsan.

Matanya masih tidak berkedip ketika sang dokter tampan membungkuk di depannya. Wajahnya tepat datar dan aura dinginnya mendominasi. Para tamu lain sudah keluar aula, banyak yang masih syok tapi ada juga yang lebih syok melihat aksi dokter Elang memukuli seorang tamu laki-laki demi membela perempuan.

Dan perempuan itu malah dokter residen yang namanya sudah jelek di rumah sakit ini.

Lutut kiri Elang bertumpu di lantai. Pandangannya lurus ke depan, menatap Zoey.

"Kau bisa berdiri sendiri?"

Zoey belum menjawab. Masih syok dan kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Entahlah.

"Hey,"  Laki-laki di depannya kembali bicara. Zoey bergeming lalu berusaha berdiri sendiri namun tubuhnya hampir limbung. Elang refleks menangkap tubuh perempuan itu.

Lagi-lagi tubuh mereka bersentuhan, bahkan jarak itu adalah jarak yang bisa membuat semua perempuan yang menyukai Elang murka.

Zoey berusaha lepas, tapi dia tidak ada kekuatan lagi. Lututnya lemas sekali. Meski begitu ia berusaha kuat. Harus kuat. Jangan kelihatan dia sengaja terlihat lemah biar dapat perhatian dari laki-laki ini. Apalagi orang-orang suka bergosip kalau dirinya bukan perempuan benar.

"A-aku bisa jalan dok," katanya pelan, mendorong Elang sedikit menjauh.

Dari tempatnya, tangan Audrey terkepal kuat. Perempuan tidak tahu malu. Pasti sengaja dia berlagak menjadi perempuan lemah yang tertindas biar dapat perhatian. Audrey terus menatap Zoey lalu tersenyum miring.

Elang menganggukkan kepala. Ia ingin memeriksa bagian belakang kepala Zoey yang tadi sempat terbentur keras tapi tidak jadi karena menyadari gadis itu tidak ingin terlalu dekat.

"Kepalamu terbentur keras sekali tadi, setelah ini periksalah ke bagian IGD," lanjut Elang singkat.

"Jangan anggap sepele. Kau dokter, jadi kau tahu apa yang harus kau lakukan." kata-kata itu tidak lembut, tapi kalau ada yang dengar, mereka akan menganggap itu adalah bagian dari kepedulian Elang terhadap perempuan itu.

Zoey mengangguk pelan, meski kepalanya masih terasa sedikit berdenyut. Ia berusaha berdiri lebih tegak, menarik napas dalam-dalam agar tidak terlihat lemah di depan banyak orang.

"Iya, dok. Terima kasih," jawabnya lirih.

Elang menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah memastikan perempuan itu benar-benar bisa berdiri tanpa bantuan. Tatapannya turun sekilas ke wajah Zoey yang masih pucat, lalu ke tangan yang sedikit gemetar.

"Kau yakin bisa jalan sendiri?" tanyanya lagi, nada suaranya lebih rendah.

Zoey mengangguk cepat.

"Bisa."

Elang mendengus, lalu tanpa kata berjalan meninggalkan gadis itu. Ia mendekati Dean yang sedang memberikan keterangan pada polisi.

"Pasti mereka menyamar sebagai tamu. Hanya itu cela satu-satunya yang membuat mereka gampang masuk ke sini. Rumah sakit ini keamanannya cukup tinggi. Tapi kali ini pihak kami yang lalai." Elang mendengar apa yang Dean katakan pada polisi.

"Baiklah. Kalau begitu kami akan memeriksa catatan tamu dan rekaman CCTV di seluruh area," lanjut salah satu polisi sambil mencatat.

"Kami juga akan minta daftar staf yang bertugas malam ini." Dean mengangguk serius.

"Saya akan minta bagian keamanan segera mengirimkan semuanya."

Elang berdiri di sampingnya, memasukkan kedua tangan ke saku jas, tatapannya dingin mengamati sekitar aula yang kini porak-poranda. Meja terbalik, gelas pecah, semuanya terlihat kacau. Untung aula khusus ini berada di lantai paling atas, jadi tidak mengganggu dan menakuti para pasien rumah sakit.

"Terimakasih atas kerjasamanya pak." ujar polisi yang berbicara dengan Dean.

Dean mengangguk. Setelah polisi itu pergi, dia baru menghembuskan nafas lega. Lelaki itu menoleh ke Elang.

"Pesta yang indah." katanya sambil tertawa kecut.

Elang ikut tersenyum. Ia dapat melihat dengan jelas kekesalan di mata Dean.

"Mata junior kita jeli sekali. Aku salut dia bisa melihat orang-orang yang membawa pistol itu. Oh ya, mana dia?"

Mata Dean mencari tapi tidak menemukan perempuan yang dia cari. Tentu saja maksudnya adalah Zoey. Elang ikut melihat ke arah tadi dia meninggalkan gadis itu, dan ... Sudah tidak ada. Cepat sekali dia menghilang. Elang menghembuskan nafas kasar. Dean menatapnya.

"Kau kenapa, ada yang membuatmu kesal?"

Tidak ada jawaban. Dean mengangkat bahunya acuh tak acuh. Ia sudah terlalu terbiasa dengan sikap sahabatnya yang

dingin dan suka tidak jelas itu.

"Elang! Kau tidak apa-apa kan?!"

Audrey sudah berdiri di depan keduanya. Wajah paniknya lurus ke Elang. Tangannya terangkat ingin menyentuh lengan Elang namun dengan gerakan cepat Elang menarik lengannya sedikit ke belakang, menghindari sentuhan itu.

"Aku tidak apa-apa," jawabnya singkat.

Audrey sempat terdiam sesaat, tangannya menggantung di udara sebelum akhirnya ia turunkan perlahan. Senyum tipis kembali terpasang, meski jelas ada yang berubah di sorot matanya.

"Syukurlah," katanya pelan.

"Aku khawatir."

Elang tidak tersentuh sama sekali dengan kata-kata wanita itu. Malah terkesan cuek. Ia menatap Dean, wajahnya serius.

"Kau harus perketat rumah sakit ini. Jangan sampai kejadian tadi terulang kembali." katanya.

Dean mengangguk. Itu yang dia pikirkan barusan. Audrey yang berada di dekat mereka merasa tidak di anggap, tapi dia tetap tidak beranjak ke mana-mana. Yang paling penting adalah, orang-orang akan melihat kalau dia memiliki kedekatan dengan dua orang berpengaruh di rumah sakit ini. Dengan begitu, namanya di rumah sakit ini terkenal.

"Arkgk! Ada yang pingsan!"

Teriakan itu menggema dari arah pintu belakang aula yang jarang dilewati orang. Suara panik itu langsung menarik perhatian semua yang masih berada di sana.

Dean dan Elang hampir bersamaan menoleh. Tanpa perlu aba-aba, keduanya langsung bergerak cepat ke arah sumber suara. Begitu sampai, yang pingsan ternyata ...

"Zoey?" Dean menatap Elang.

Tanpa menunggu, Elang langsung menerobos kerumunan dan memeriksa kondisi Zoey. Dia pikir gadis ini sudah pergi, ternyata pingsan di sini. Sialan. Elang mencoba fokus, memperlihatkan sisi profesionalnya sebagai dokter. Wajahnya kembali dingin namun penuh konsentrasi. Tangannya dengan cepat menyentuh pergelangan tangan Zoey, memeriksa denyut nadinya.

Masih ada. Ia lalu mengangkat sedikit kelopak mata Zoey, memeriksa respon pupilnya. Alisnya langsung berkerut.

"Pusing dan benturan di kepala … dia kemungkinan mengalami gegar otak ringan," ucapnya tegas.

Tanpa aba-aba, ia mengangkat tubuh Zoey, menggendong perempuan itu dan berlari keluar aula secepat mungkin. Langkahnya cepat dan mantap, tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang dilewatinya. Zoey dalam gendongannya terlihat semakin lemah, kepalanya bersandar di dada Elang.

Sementara itu, Dean masih berdiri di tempatnya dengan raut wajah bingung.

"Aku tidak salah lihat kan? Sejak kapan dia khawatir pada perempuan?" ucapnya pada dirinya sendiri.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • RAHASIA DOKTER ELANG   Patuh saja, jangan membantah

    Pemeriksaan selesai setelah hampir 40 menit. Elang membantu Zoey duduk tetap dengan wajah datarnya. "T-terimakasih dok." ucap Zoey malu-malu. "Tidak ada masalah dengan kepalamu. Tapi kau harus istirahat total dua hari ke depan. Aku akan mengeluarkan surat keterangan sakit. Istirahatlah di rumah.""Tapi dokter besok aku harus ...""Aku doktermu. Aku lebih tahu kondisimu sekarang. Patuh saja, jangan membantah." ucapan tegas itu malah terdengar protektif sekali hingga Dean masih berdiri di depan pintu tersenyum geli, dan Zoey terdiam. Ia terpaksa mengangguk. "Setelah ini kau boleh pulang. Perlu di antar?""Nggak usah! A-aku bisa sendiri dok." sahut Zoey langsung. "Kalau perlu di antar aku akan menyuruh sopir ambulance mengantarmu."Dean hampir pecah tertawa. Hari ini Elang betul-betul membuatnya heran luar biasa. Ia tidak pernah lihat sahabatnya serandom itu, apalagi saat bicara dengan perempuan. "Aku bisa mengantarmu kalau kau mau, Zoey. Zoey kan?" Dean maju dan bicara dengan nada

  • RAHASIA DOKTER ELANG   Geger otak ringan

    Saat melewati koridor rumah sakit, beberapa perawat yang sedang bertugas langsung terkejut melihat Elang yang sedang berlari dengan membawa seorang perempuan di dalam pelukannya. Mereka segera menyediakan kursi roda dan membuka jalan menuju bagian IGD. "Siapkan ruang pemeriksaan segera! Dia mengalami benturan kepala dan kemungkinan gegar otak ringan," teriak Elang dengan suara yang jelas dan tegas, menunjukkan sisi profesionalnya yang tak tertandingi. Para perawat langsung bergerak cepat, mengikuti setiap instruksi dokter yang terkenal tegas dan profesional tersebut. Begitu sampai di IGD, Elang dengan hati-hati menempatkan Zoey di atas ranjang pemeriksaan. Hati-hati sekali. Tangan-tangan terampilnya mulai memeriksa kondisi gadis itu dengan seksama, mulai dari memeriksa luka di bagian belakang kepala hingga memeriksa fungsi sarafnya. Beberapa perawat membantu mengambil alat-alat yang dibutuhkan, sementara Dean sudah berdiri di pojok ruangan dengan raut wajah yang masih bingung.

  • RAHASIA DOKTER ELANG   Zoey pingsan

    Setelah aksinya memukuli laki-laki brengsek yang merampas tempat Zoey, Elang kembali ke Zoey yang masih menatapnya dengan ekspresi kaget. Ia sama sekali tidak menyangka laki-laki itu akan melakukan tindakan tadi. Pria tadi sampai pingsan. Matanya masih tidak berkedip ketika sang dokter tampan membungkuk di depannya. Wajahnya tepat datar dan aura dinginnya mendominasi. Para tamu lain sudah keluar aula, banyak yang masih syok tapi ada juga yang lebih syok melihat aksi dokter Elang memukuli seorang tamu laki-laki demi membela perempuan. Dan perempuan itu malah dokter residen yang namanya sudah jelek di rumah sakit ini. Lutut kiri Elang bertumpu di lantai. Pandangannya lurus ke depan, menatap Zoey. "Kau bisa berdiri sendiri?"Zoey belum menjawab. Masih syok dan kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Entahlah. "Hey," Laki-laki di depannya kembali bicara. Zoey bergeming lalu berusaha berdiri sendiri namun tubuhnya hampir limbung. Elang refleks menangkap tubuh perempuan itu. Lagi-la

  • RAHASIA DOKTER ELANG   Kemarahan Elang

    Salah satu pria yang tampaknya pemimpin kelompok itu, melangkah maju. Dengan suara lantang dia berteriak, "SEMUANYA TETAP DIAM DI TEMPAT! JIKA ADA YANG MENCOBA BERTINDAK BODOH, KAMI TIDAK SEGAN-SEGAN MENEMBAK!"DOR!Satu tembakan lagi tembak ke langit-langit aula. Orang-orang makin panik. Elang yang kini berada di sudut lain ruangan itu tetap tenang meski ekspresinya serius. Ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini, saat dulu dia ikut sekolah militer. Dia pernah sekolah militer dua tahun, tentu berhadapan dengan pistol dan orang-orang jahat itu bukan hal yang biasa. Matanya kembali melirik ke meja tempat Zoey berada. Dia harus melindungi gadis itu. "KAU! MERUNDUK BRENGSEK!"Orang-orang di depan sana menunjuknya dan berteriak kasar. Ah, sepertinya hanya perampok biasa. Jason hanya mendongak dengan tatapan dingin ketika salah satu perampok itu mengarahkan senjata ke arahnya. Ia sama sekali tidak bergerak panik seperti tamu-tamu lain yang masih bersembunyi di balik meja dan k

  • RAHASIA DOKTER ELANG   Jangan takut

    Pesta terus berlanjut. Ketua rumah sakit, alias ayahnya dokter Dean sedang berpidato di depan. Semua orang menatapnya serius. Zoey memilih berdiri di bagian paling belakang yang tidak terlihat oleh siapa pun. Terakhir kali ia menghadiri pesta seperti ini waktu jaman kuliah. Sesekali pandangannya akan mencuri-curi pandang ke depan, ke tempat dokter Elang berdiri bersama dokter Dean dan Audrey. Si paling populer bahkan saat mereka di kampus. Saat pertama kali Zoey menjadi mahasiswi, ia masih sempat melihat orang-orang itu. Walau waktunya tidak lama karena mereka adalah mahasiswa pascasarjana yang sebentar lagi selesai. Zoey masih ingat dengan jelas bagaimana suasana kampus saat itu. Nama Elang Nugraha, Dean, dan Audrey hampir selalu jadi bahan pembicaraan. Bukan hanya karena mereka pintar, tapi juga karena pengaruh, prestasi, dan … kehidupan mereka yang terlihat begitu sempurna.Sedangkan Zoey?Ia hanya mahasiswi biasa yang lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan daripada di

  • RAHASIA DOKTER ELANG   Aula pesta

    Elite Medical Hospital. Seorang laki-laki tampan dengan kharisma yang membuat banyak perempuan tergila-gila itu masuk ke dalam aula pesta. Ia mengenakan kemeja yang dipadukan dengan jas dokter miliknya. Semua dokter dan staf tidak diijinkan berdandan ala pesta karena setelah itu mereka masih lanjut kerja menghadapi pasien. Paling-paling yang datang dengan dandanan pesta hanyalah para tamu undangan. Meski begitu laki-laki tersebut tampak begitu rapi dan menawan. Ruangan yang ia masuki adalah aula khusus yang di buat untuk penyelenggaraan acara seperti pesta ulang tahun, penyambutan dan lain-lain. Aula tersebut di dirikan dengan ukuran yang terbilang sangat besar, bahkan bisa menampung lima ribu orang di dalamnya. Rumah sakit ini milik keluarga sahabatnya, Dean. Memang rumah sakit mewah yang terbilang sangat lengkap. Fasilitasnya tidak main-main. Tapi tentu saja, menyelamatkan pasien adalah nomor satu. Lampu-lampu kristal bergemerlapan, meja-meja bundar di tata rapi dengan deko

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status