MasukMobil hitam keluaran terbaru milik keluarga Wirajaya melintasi gerbang rumah peristirahatan mereka. Dari jendela belakang, Dinara menatap ke luar dengan dagu terangkat. Ia baru saja pulang dari pesta sosialita—yang lebih banyak diisinya dengan menyindir dan menjelekkan seseorang.
Sopir keluarga segera membuka pintu mobil cepat agar tak kena imbas kemarahan sang nona besar. Dinara akan marah jika sopirnya lama melakukan tugasnya untuk mengantar atau menjemput dirinya ke manapun. Dinara tak pernah menghargai semua tugas yang dikerjakan pelayan di rumahnya hanya karena dia putri pewaris yang harus dihormati dan diperlakukan layaknya tuan putri kerajaan. Tindakannya tersebut membuat para pelayan tak menyukainya. "Lama sekali sih buka pintunya? Pada ke mana saja kalian ini?" "Maaf Nona Dinara, kami berdua sedang membersihkan kamar nona," ucap salah satu pekerja dari dua pekerja yang melayani Dinara. "Dasar pembantu tak becus. Miskin pula," sahutnya sambil mendengkus kesal. Pintu harus dibukakan, makanan yang disajikan diletakkan dengan rapi atau setiap hari mandi memakai bunga mawar. Itu hanya beberapa kebiasaan Dinara setelah dia tinggal di rumah ini. "Hei ... kamu di mana ayah ibuku?" Dinara tak pernah mau menyebutkan nama pelayan-pelayan di rumahnya. Memerintah sesuka hati. "Ada di lantai atas bersama ibu anda," jawab pelayan bertubuh gemuk. Dinara berlompat kecil dengan gembira, dia langsung menuju ruang istirahat di lantai dua. Dinara bersenandung penuh kesenangan sembari memanggil ayah ibunya. "Kenapa kau begitu gembira, Nak? Apa ada sesuatu?" tanya Vero sang ibu membelai rambut Dinara. "Pasti dia akan menceritakan gosip tadi," sahut Bagas di kursi kerjanya. "Bukanlah, Yah ... Bu. Aku punya kejutan buat kalian," ucapnya antusias. "Kejutan apa? Ayo beritahu ibu." "Yah ... Bu akhirnya aku menemukan pujaan hatiku. Dia sungguh tampan sekali. Aku langsung menyukainya dan ingin menjadi kekasihnya." Dinara tak sengaja bersenggolan dengan seorang pria saat dia hendak ke butik langganan. Dia tak merespon pada seseorang yang memungut tasnya, karena matanya tertuju pada sosok yang berdiri memakai kacamata hitam, tak banyak bicara dan terkesan dingin. "Di mana kau menjumpainya?" tanya Bagas mendengar dengan serius. "Di butik, Yah. Aku ingin berkenalan dengannya, tapi dia keburu pergi." Dinara kecewa. "Siapa namanya? Atau mungkin orang butik tahu siapa pria itu?" Vero ikut menimpali menatap penuh kasih sayang pada Dinara. "Nah itu Bu. Waktu aku mau masuk ke butik malah nyonya Ina bilang kalau butiknya sudah dibooking sama pria tadi itu buat saudarinya. Aku kesel, Bu," rengeknya kesal. "Coba kamu hubungi nyonya Ina, Vero. Mungkin dia tahu. Kasihan Dinara penasaran." Bagas dan Vero terlalu memanjakan Dinara sejak ditemukan. Mereka tak menyadari jika tindakan tersebut mengubah sikap dan karakter Dinara menjadi penuh ambisi dan obsesi berlebihan. Vero segera menelepon Ina sang pemilik butik. Panggilannya diterima, dia pun langsung memberitahu alasan menghubungi Ina karena dia tak mau membuat Dinara kecewa. Begitu tahu nama pria tersebut, senyumnya memudar. "Siapa pria itu, Bu?" Dinara mendesak sang ibu untuk menjawab cepat. "Lebih baik cari yang lain saja ya, Nak. Kan masih banyak pria tampan lainnya," bujuk Vero. "Aku tidak mau. Aku maunya pria itu. Dia harus menjadi milikku!" "Memangnya siapa sih, Vero? Kamu sampai melarang Dinara berkenalan," ucap Bagas yang ikut penasaran. "Mas, pria itu anak dari Sailendra Jayanatra yang bernama Widipa. Kau tahu siapa Jayanatra kan, Mas?" Rahang Bagas mengeras, tangannya terkepal. Tentu saja dia tahu pria itu. Sudah tiga kali bisnisnya dikalahkan oleh Widipa. Bagas tipe orang yang tak mau kalah, dia harus menjadi nomer satu di jajaran negeri ini. "Memangnya siapa dia, Bu?" "Ayahmu tidak setuju, Nak. Biar ibu pilihkan pria yang terbaik ya," bujuk Vero, tetapi Dinara tak terima "Pokoknya aku mau dia! Aku mau dijodohkan sama Widipa!" Dinara merengek layaknya anak yang tantrum. "Aku tidak mau pria lain selain dia!" Suaranya kencang sambil menangis sesenggukan. "Dinara, dengarkan dulu. Keluarga Widipa adalah musuh kita sejak bertahun-tahun lalu. Itu tidak mungkin!" ucap Bagas, menekan nada suaranya lembut agar tidak terpancing emosi. "Sejak bayi aku terpisah dari kalian. Tinggal di panti asuhan. Saat teman sekelasku lain keinginannya dapat dipenuhi karena memiliki orang tua sedangkan aku hanya diam menunggu donatur membelikan tas, sepatu atau makanan enak." "Aku sudah cukup menderita waktu kecil terpisah dari keluarga. Sekarang, satu-satunya orang yang bisa bikin aku bahagia kalian melarang," kata Dinara menangis, tapi bukan tangis yang tulus. "Jangan seperti, Nak. Jangan bilang begitu." Vero buru-buru mendekat lalu memeluk Dinara. "Danastri memiliki semuanya dulu. Dia hidup enak sedangkan aku---" Dinara menangis dalam kepura-puraan. Bagas tak tega, tetapi dia tak bisa berhubungan dengan Widipa. Sejak dulu pria itu enggan bicara soal urusan bisnis dan sulit ditemui. Di satu sisi dia ingin membahagiakan sang putri. "Kalau ayah ibu tidak mau menjodohkan aku dengan Widipa, lebih baik aku pergi dari sini. Biar aku menderita di panti asuhan!" Danari hendak berdiri, tetapi dicegah Vero. "Jangan cari aku bahkan saat aku mati!" "Baik! Baiklah, Ayah akan urus semuanya!" Dinara tahu ancamannya berhasil. Dia tahu kedua orang tuanya lebih menuruti perkataannya daripada kehilangan dirinya lagi. Senyum licik dan kepuasan terpancar di sudut bibir. **** Di kediaman Jayanatra, Sailendra melihat isi surat yang ditulis Bagas untuknya. Dia membaca, tersenyum lucu lalu menggelengkan kepala. Tak menyangka orang sekeras Bagas meminta sesuatu hal padanya. Dan dengan berani meminta Widipa menjadi menantunya. Tentu saja pria yang sudah memasuki usia kepala enam tersebut tahu jika sang anak tak akan sudi menerima perjodohan. "Bagaimana kau setuju jika gadis itu menjadi istrimu?" tanya Sailendra sembari menyerahkan selembar surat padanya. "Bukankah ayah sudah tahu jawabannya?" Widipa tak membaca dan langsung merobeknya. "Kau katakan saja sendiri padanya. Ayah tak suka bertemu dengannya," ucap Sailendra seraya6 menuangkan kopi ke cangkir. "Apa karena kejadian dua puluh lima tahun yang menyebabkan mas Argaru tiada yang membuat ayah membenci Bagas Wirajaya?" "Kejadian itu akan terus membekas, Dipa. Bohong jika ayah mengatakan kalau peristiwa di gedung tersebut bisa ayah atau ibumu lupakan." Sailendra diam sejenak, memandang putranya dengan tatapan sedih. Seharusnya dia memiliki dua putra. Argaru Salim Jayanatra, tetapi ketika usianya sepuluh tahun terjadi kecelakaan dan sopir yang menabrak bukan pelaku aslinya. "Tunggulah waktu yang tepat untuk membalas dendam ayah." "Tapi kau tidak menggunakan gadis di paviliun itu menjadi alat permainanmu, bukan?" Sailendra menebak dan ternyata benar. "Bukankah kita saling menguntungkan, Yah. Dia membalas dendam karena dia diusir dan dibunuh keluarganya sendiri. Aku akan membuat gadis itu mengerti arti balas dendam." "Lalu bagaimana surat dari tuan Daru, apa kau tidak membaca isinya, Nak?" Sailendra bertanya lalu menatap sang putra dengan serius. "Kita harus menunggu ketika Danastri berusia dua puluh lima tahun, Yah. Surat itu sudah aku amankan.""Aku sudah menduga dia pelakunya!"Tepat ketika Widipa berkata, langkah kaki tergesa terdengar dari ujung lorong. Dinara muncul dengan napas tersengal. Wajahnya pucat, rambutnya sedikit berantakan. Di sampingnya ada Julius."Sedang apa kau di sini?" Widipa dipenuhi emosi. Ingin rasanya dia menarik kerah pakaian Dinara lalu menamparnya, tetapi dia harus bisa menahannya."Apa dia baik-baik saja? Apa pelakunya sudah ditangkap?" tanya Dinara terburu-buru."Kenapa kalian memandang kami seperti itu?" Julius mengernyitkan dahi kala dia melihat ekspresi Widipa dan Sagara."Kenapa kau bisa tahu Danastri dirawat di sini?" Sagara pun menaruh kecurigaannya. Dia tak bisa mempercayai ucapan Dinara."Kalian datang tepat waktu ya," sindir Widipa sinis."Tolong katakan yang sebenarnya, Nona. Anda tahu dari mana jika nona Danastri ada di sini?" Arif mewakili Widipa menanyakan keberadaan Dinara."Apa maksud kalian ini? Kalian menuduh Dinara?" Julius mulai paham tatapan tajam mereka.Widipa mengeluarkan
Malam telah beranjak sedari tadi. Lorong rumah sakit terasa sepinya karena jam pengunjung sudah berakhir dan menyisakan para pasien yang masih terjaga, beberapa tertidur.Para perawat telah memeriksa satu persatu pasien yang ada di setiap bangsal untuk memastikan keadaan mereka terutama kondisi Danastri paska operasi.Di dalam ruang perawatan VIP, Danastri terbaring tak sadarkan diri. Perban putih melingkari kepalanya, dadanya naik turun pelan mengikuti irama napas. Efek obat bius masih menahannya di antara sadar dan mimpi.Namun satu hal yang tak mereka sadari, ada seseorang menyamar menjadi perawat dengan pakaian yang sama persis. Tak ada penjagaan di depan kamar membuat dia mudah memasuki rawat inap tersebut."Penjaganya tidak ada. Aku bisa masuk tanpa dicurigai," gumamnya.Seseorang melangkah masuk—berseragam suster, topi menutup rambut dan masker menutupi separuh wajah. Jalannya begitu hati-hati, nyaris tak menimbulkan bunyi. Matanya menyapu ruangan, memastikan tak ada siapa pun.
Ruang tunggu di rumah sakit tampak hening dan sunyi. Ketiga orang menunjukkan ekspresi tegang. Antara rasa takut dan cemas.Sailendra, Arumi dan Widipa saat ini menunggu jalannya operasi Danastri. Sesekali Widipa berdiri lalu melihat pintu ruang operasi tertutup dan lampu merah belum berubah.Sudah dua jam lamanya mereka menunggu dalam ketidakpastian. Tak ada perawat atau dokter yang memberi mereka kabar."Tunggulah beberapa saat lagi, Dipa. Ayah yakin Sagara berhasil mengoperasi Danastr," kata Sailendra menenangkan sang putra."Tuhan akan melindunginya, Nak," ucap Arumi turut memberi ketenangan.Arumi pun merasakan ketakutan meski dia sudah berusaha sembunyikan, tetapi Sailendra mengetahui ekspresi Arumi dan mengenggam jemarinya agar ketakutan itu berkurang."Sudah aku katakan lebih baik dioperasi di Belanda saja, tapi Danastri tak mau," ujar Widipa menyesal menuruti permintaan Danastri."Kau ragu dengan penanganan dari Sagara?" tanya Sailendra tak suka dengan pernyataan Widipa."Per
Dinara Kinanti bukan lagi sang primadona yang menjadi idola di sosial medianya. Kontrak kerjasama sebagai model atau endorse sudah memutuskan hubungan dengannya.Hidup Dinara hanya bergantung pada sisa tabungan dan Julius yang masih peduli padanya. Dinara tak melakukan apapun hanya makan tidur dan melamun.Semua kejadian yang menimpanya membuat dia enggan mengurus dirinya dan dia tak peduli lagi dengan Danastri yang masuk berita televisi karena acara pernikahan.Tak ada lagi iri hati atau cemburu. Hidupnya sudah tak seperti dulu, dia kecewa pada sang ayah yang menipunya selama ini."Jika begini kejadiannya, aku tak akan mengikuti semua perkataan ayah.""Ayahlah yang mengajariku menaruh kebencian pada Danastri. Ayah juga yang mengatur semua hidupku. Ayah tak menyayangiku, dia hanya menjadikan aku alat untuk melancarkan semua aksinya."Dinara menyadari jika dirinya hanya alat bagi Bagas palsu. Pria itu tak benar-benar menyayanginya sebagai anak. Dipisahkan dengan ibu kandung, ditaruh di
Kafe itu tak seramai biasanya. Hanya ada beberapa pengunjung yang sedang fokus pada laptop masing-masing. Dinara terpaksa melangkahkan kakinya menuju ke sana untuk menemui seseorang.Dinara melangkah masuk dengan langkah ragu lalu berhenti ketika melihat sosok pria di sudut ruangan. Bagas pria yang selama ini selalu berpenampilan rapi disegani kini duduk dengan jaket biasa tanpa aura kejayaan. Untuk sesaat, hati Dinara terasa terpelintir. Ada iba yang muncul tanpa izin.Bagas mengangkat wajahnya. Tatapannya tajam saat Dinara ada di hadapannya, tetapi ada kelelahan jelas menggerogoti garis-garis wajahnya."Akhir kau datang," kata Bagas singkat.“Apa lagi yang ayah ingin bicarakan?” Dinara duduk di depannya. Tangannya terlipat di pangkuan dengan rahang yang mengeras."Pulanglah ke rumah ibu Dayu. Jangan tinggal dengan pria tak jelas," ungkit Bagas."Julius bukan pria tak jelas. Dia sahabatku dan selalu ada untukku," sahut Dinara seraya bersidekap."Besok tinggalkan apartemennya. Ayah ak
"Kau masih memerhatikan dia, Dok? Kalau anda masih peduli dengannya bicaralah kalian berdua.""Ya andai saja bisa semudah itu, Dipa. Aku memerhatikannya bukan karena aku peduli dengannya, tapi aku memedulikan anak yang dia kandung. Bayi itu hadir karena kesalahan kami."Sagara dan Widipa berada di apartemen Danastri saat ini. Jika Widipa berada di sana untuk mengambil kardus barang yang tertinggal, tapi Sagara sengaja meminta ijin untuk tinggal di sana sebentar hanya ingin mengawasi Dinara.Sagara cemas jika Dinara melakukan tindakan di luar batas. Dia khawatir Dinara menggugurkan kandungannya tersebut dan dia tak menginginkan hal itu terjadi."Bicaralah dengannya jangan mengawasinya diam-diam. Untuk saat ini mungkin dia butuh seseorang yang bisa menjadi pelindungnya," ungkap Widipa melihat Sagara berdiri di balkon."Tunggu waktu yang tepat," jawabnya seraya berjalan menuju sofa lalu dia duduki dengan pandangannya terarah pada Widipa yang sibuk memilah kardus.Widipa berdiri di tengah







