Share

BAB 4

Author: Rosela2505
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-14 18:46:39

#Zona Waktu

Ekspresi ketakutan yang terpancar di wajah Lira saat mendengar nama Jacob masih terus menggangguku, bahkan setelah kami meninggalkan jalan utama dan menuju sebuah bukit kecil di tepi desa.

Sikapnya yang biasanya tenang sekarang menjadi ketakutan justru membuatku semakin yakin bahwa nama itu menyimpan sesuatu yang penting.

Menjelang sore, kami berhenti di sebuah area berbatu yang cukup jauh dari permukiman.

"Apa kita tidak masuk desa?" tanyaku.

Lira menggeleng pelan.

"Kau terlalu lemah."

Aku mendecakkan lidah sambil menahan keinginan untuk membalas. Namun setelah mengingat bagaimana monster kemarin hampir menginjak kepalaku hingga mati, rasanya aku memang tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk membantah perkataannya.

"Itu bukan hinaan," lanjutnya tenang sambil duduk di atas sebuah batu besar. "Itu fakta."

Tatapannya kemudian beralih ke arah saku celanaku.

"Batu inti hitam."

Aku langsung memahami maksudnya. Batu inti monster yang kuambil setelah pertarungan kemarin memang masih tersimpan di sana.

"Aku pikir sebaiknya aku memahami Batu Waktu terlebih dahulu."

"Itu benar," jawab Lira. "Tapi batu inti monster berbeda dengan batu inti manusia."

Aku terdiam dan membiarkannya melanjutkan.

"Batu inti manusia memberimu kekuatan baru. Sedangkan batu inti monster hanya memperkuat tubuhmu."

"Kekuatan seperti apa?"

"Kecepatan, daya tahan, stamina, dan naluri bertarung."

Penjelasan itu membuatku kembali menatap batu hitam di tanganku. Jika yang dikatakannya benar, batu ini tidak akan mengganggu pemahamanku terhadap Batu Waktu. Justru tubuh yang lebih kuat mungkin akan membantuku bertahan hidup lebih lama di dunia yang jelas-jelas ingin membunuhku.

Setelah mempertimbangkannya beberapa saat, aku akhirnya menggenggam batu itu erat.

"Baiklah. Semoga aku tidak berubah menjadi monster."

Lira hanya mengangkat bahu.

"Itu tergantung dirimu."

Jawaban yang sama sekali tidak membantu.

Aku menarik napas panjang sebelum mulai menyerap energinya. Begitu energi hitam itu memasuki tubuhku, rasa panas langsung menjalar ke seluruh tulang dan otot. Sensasinya jauh berbeda dibandingkan saat Batu Waktu memilihku. Jika waktu itu terasa seperti sesuatu yang menyatu dengan jiwaku, maka energi kali ini terasa jauh lebih kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Rasanya seperti ribuan semut sedang merayap di bawah kulit sambil menggigit setiap saraf yang mereka lewati. Aku menggertakkan gigi hingga rahangku terasa nyeri, sementara otot-otot di seluruh tubuh menegang dengan sendirinya. Pembuluh darah di lenganku menonjol jelas sebelum rasa sakit itu perlahan mereda.

Perubahannya langsung terasa.

Tubuhku menjadi jauh lebih ringan, napasku lebih stabil, dan setiap gerakan terasa lebih responsif dibandingkan sebelumnya. Saat aku mencoba berlari, tubuhku melesat ke depan begitu cepat hingga aku sendiri hampir kehilangan keseimbangan.

Aku berhenti beberapa meter dari tempat semula sambil mengangkat alis.

"Boleh juga."

Untuk pertama kalinya sejak tiba di Bonua Toru, aku merasa tubuh muda ini benar-benar mulai menjadi milikku. Namun perasaan itu tidak bertahan lama. Jika para Penguasa Waktu benar-benar sedang memburuku, kekuatan seperti ini masih jauh dari cukup.

Aku menatap Lira.

"Ada cara untuk melatih Batu Waktu?"

"Tentu."

Sayangnya gadis itu hanya diam.

"Aku menunggu."

"Lakukan saja."

Aku menghembuskan napas panjang. Kadang-kadang berbicara dengan Lira terasa lebih sulit daripada menghadapi monster

akhirnya berjalan ke tengah lapangan berbatu dan mulai bereksperimen sendiri. Jentikan pertama menghentikan waktu seperti biasa. Dunia langsung membeku sebelum beberapa detik kemudian kembali bergerak normal. Aku mengulanginya lagi dan lagi, mencoba memahami sensasi yang muncul setiap kali kekuatan itu digunakan.

Waktu berlalu tanpa terasa hingga matahari mulai tenggelam di balik bukit.

Alih-alih membayangkan seluruh dunia berhenti, aku mencoba memusatkan pikiranku pada sebuah lingkaran kecil di depanku. Sebuah area yang hanya mencakup beberapa meter saja.

Batu Waktu di dadaku berdenyut.

Aku menjentikkan jari.

Dan kali ini dunia tidak berhenti.

Hanya area di depanku yang membeku.

Debu yang beterbangan terdiam di udara. Rumput yang tertiup angin mendadak berhenti bergerak. Bahkan batu kecil yang menggelinding di tanah membeku seolah berubah menjadi bagian dari lukisan.

Sementara itu, bagian di luar lingkaran tersebut tetap bergerak normal.

Aku langsung membelalakkan mata.

"Berhasil..."

Dengan hati-hati aku melangkah mendekat dan memperkirakan ukuran area itu. Diameternya sekitar lima meter. Untuk mengujinya, aku mengambil sebuah batu lalu melemparkannya ke dalam area tersebut. Batu itu langsung membeku di udara. Namun saat kudorong keluar dari batas lingkaran, benda itu kembali bergerak normal.

Jantungku berdetak semakin cepat.

Kemampuan ini benar-benar berbeda dari sebelumnya.

Aku tidak perlu lagi menghentikan seluruh dunia hanya untuk menciptakan kesempatan menyerang. Aku bisa memilih area tertentu dan memusatkan kekuatan hanya pada tempat yang kuinginkan. Artinya konsumsi energiku akan jauh lebih kecil, sementara efektivitasnya dalam pertarungan jarak dekat justru meningkat berkali-kali lipat.

Lira akhirnya berdiri dari tempat duduknya.

"Jadi kau berhasil."

Aku tersenyum tipis.

"Sepertinya begitu."

Untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, aku benar-benar merasa lebih kuat dibandingkan hari sebelumnya. Bukan karena keberuntungan atau kebetulan, melainkan karena hasil latihan dan pemahamanku sendiri.

Aku menatap telapak tanganku saat area beku itu perlahan menghilang. Meski efeknya lenyap, sensasi yang ditinggalkannya masih terasa jelas di dalam pikiranku, seolah Batu Waktu baru saja membuka pintu baru yang selama ini tersembunyi.

"Apa kemampuan ini punya nama?" tanyaku.

Lira berpikir beberapa saat sebelum menjawab.

"Zona Waktu."

Aku mengangguk pelan.

Nama yang sederhana, tetapi cukup menggambarkan apa yang baru saja kulakukan.

Namun tepat saat aku mulai menikmati keberhasilan kecil itu, rasa nyeri mendadak menghantam kepalaku. Jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya hingga membuat tubuhku terhuyung.

Bayangan asing kembali muncul.

Seorang pemuda berdiri di tepi tebing dengan rambut hitam yang tertiup angin. Tatapannya tajam, dan di dadanya bersinar Batu Waktu yang sama persis denganku.

Kali ini bayangan itu jauh lebih jelas.

Dan untuk pertama kalinya, pemuda itu menoleh.

Seolah ia bisa melihat keberadaanku.

Bibirnya bergerak perlahan.

"Jacob."

Aku membeku.

Namun sebelum bayangan itu menghilang, satu kalimat lain sempat terdengar.

Kalimat yang membuat darahku terasa dingin.

"Jangan percaya para Penguasa Waktu."

Lalu semuanya lenyap.

Keheningan yang tersisa terasa jauh lebih menyesakkan daripada rasa sakit di kepalaku.

Di sampingku, wajah Lira perlahan memucat.

"Apa kau melihat sesuatu lagi?"

Aku menatapnya beberapa saat sebelum mengangguk.

"Kali ini Jacob berbicara kepadaku."

Untuk pertama kalinya sejak bertemu, aku melihat kecemasan yang benar-benar nyata di mata gadis itu. Dan entah kenapa, perasaanku mengatakan bahwa masalah yang menungguku jauh lebih besar daripada sekadar diburu seluruh Bonua Toru.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 20

    #Jejak NagaMeninggalkan Kota Mati ternyata tidak membuat perjalanan kami menjadi lebih mudah. Justru sebaliknya, semakin jauh kami memasuki wilayah Gurun Abu, semakin aneh keadaan di sekitar kami. Hamparan pasir kelabu yang sebelumnya hanya terlihat tandus kini terasa seperti dunia yang benar-benar telah ditinggalkan kehidupan.Tidak ada lagi kawanan monster kecil yang biasanya berkeliaran mencari mangsa. Tidak ada serangga gurun. Tidak ada suara hewan. Bahkan angin yang bertiup pun terasa enggan melewati wilayah itu, menyisakan keheningan panjang yang membuat setiap langkah kaki terdengar lebih jelas daripada seharusnya.Di kejauhan, tulang naga raksasa yang kami lihat sehari sebelumnya semakin terlihat jelas. Semakin dekat kami mendekatinya, semakin sulit mempercayai bahwa makhluk sebesar itu pernah hidup. Tulang rusuknya menjulang seperti menara batu yang tumbuh dari dalam gurun, sementara sebagian besar rangkanya masih terkubur oleh pasir yang telah menelannya selama entah berapa

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 19

    #Gadis yang Mengenal JacobAku tidak langsung memotong penjelasan Lira. Ada sesuatu dalam cara gadis itu berbicara yang membuatku merasa bahwa kenangan ini sudah terlalu lama ia simpan sendirian. Nyala api unggun memantulkan cahaya kemerahan ke dinding bangunan tua yang kami tempati, sementara angin malam sesekali menyusup melalui celah-celah batu dan membawa hawa dingin khas Gurun Abu."Aku tidak tahu siapa dia saat itu," lanjut Lira sambil memandangi nyala api yang menari pelan di hadapannya. "Yang kulihat hanyalah seorang pria yang hampir mati."Tidak ada yang menyela. Bahkan Damar yang biasanya selalu punya komentar untuk setiap pembicaraan memilih diam dan mendengarkan.Lira melanjutkan bahwa ia menemukan pria itu di dekat sebuah retakan langit, sebuah istilah yang langsung membuat pikiranku kembali waspada. Sejak tiba di Bonua Toru, terlalu banyak kejadian aneh yang tampaknya berhubungan dengan retakan tersebut, seolah semua jalan pada akhirnya akan kembali menuju tempat yang sa

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 18

    #Rahasia LiraMalam turun perlahan menyelimuti Kota Mati yang terkubur sunyi di tengah hamparan Gurun Abu, menyisakan hawa dingin yang mencekam setelah pertarungan sengit melawan pemburu elit yang hampir saja merenggut nyawa kami. Meskipun bangunan batu tua tempat kami berlindung ini cukup kokoh untuk menahan amukan angin gurun, suasana di dalamnya tetap terasa suram dan sarat akan ketegangan yang belum tuntas.Di dekat api unggun kecil yang dinyalakan oleh Sera, Damar tampak masih berbaring tak berdaya dengan wajah sesekali berkerut menahan nyeri. Luka-lukanya memang telah menutup berkat khasiat Batu Penyembuhan, namun tubuhnya jelas belum pulih sepenuhnya. Tidak jauh dari sana, Sera duduk bersandar sambil membolak-balik catatan kuno milik keluarganya, mencoba mencari petunjuk di bawah pendar cahaya api yang memantul pada lembaran kertas tua yang telah menguning oleh usia.Sementara kedua rekanku sibuk dengan urusan masing-masing, pikiranku justru terus tertuju pada Lira. Aku masih m

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 17

    #Pemburu ElitWajah patung itu terlihat terlalu sempurna. Garis-garis halus pada kulit, helai rambut yang jatuh di dahi, bahkan kerutan kecil di sudut mata semuanya tampak begitu nyata hingga lebih menyerupai manusia yang dibekukan daripada pahatan batu.Perasaan tidak nyaman perlahan merayap di dalam dada ketika menyusuri jalan utama kota kuno itu. Semakin lama berada di sana, semakin sulit menganggap tempat tersebut sebagai sekadar reruntuhan yang ditinggalkan waktu. Ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang tidak terlihat, tetapi terasa jelas di setiap langkah.Patung-patung batu berdiri di mana-mana.Sebagian tampak sedang berjalan, sebagian sedang berbicara dengan orang di sampingnya, dan beberapa lainnya terlihat berusaha melarikan diri ke arah gerbang kota. Tidak ada yang tampak seperti karya seni. Mereka lebih menyerupai orang-orang yang sedang menjalani kehidupan biasa sebelum sesuatu menghentikan semuanya dalam satu waktu yang sama.Sera beberapa kali membuka catatan peninggalan

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 16

    #Kota MatiAlih-alih langsung berhasil, percobaan itu pada awalnya tidak menunjukkan perubahan apa pun. Namun beberapa detik kemudian, sensasi hangat mulai menyebar dari Batu Waktu di dadaku ke seluruh tubuh. Detak jantungku meningkat jauh lebih cepat dari biasanya, sementara aliran darah terasa bergerak deras melewati setiap pembuluh, seolah seluruh tubuh sedang dipaksa bekerja melampaui batas normalnya. Bersamaan dengan itu, dunia di sekelilingku perlahan berubah. Angin gurun yang sebelumnya berembus kencang kini terasa bergerak sangat lambat, dan butiran-butiran debu yang beterbangan tampak menggantung di udara seperti lukisan yang dibekukan oleh waktu.Perasaan itu sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bukan karena waktu benar-benar berhenti, melainkan karena tubuhku bergerak jauh lebih cepat dibandingkan segala sesuatu di sekitarku. Ketika kakiku melangkah maju, pasir di bawahnya langsung meledak akibat dorongan yang terlalu kuat. Dalam sekejap, jarak puluhan meter terlampaui tanpa

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 15

    #Gurun Abu dan Percepatan DetikPagi di Kota Sibolis selalu dimulai dengan kebisingan yang khas. Suara para pedagang yang saling bersahutan menawarkan dagangan, roda kereta kayu yang berderit kasar di atas jalan berbatu, hingga teriakan para pemburu yang baru kembali dari perjalanan panjang bercampur menjadi satu, memenuhi setiap sudut kota dengan hiruk-pikuk yang tidak pernah benar-benar berhenti. Namun bagi kami, semua keramaian itu sudah tidak lagi berarti.Sejak wajahku terpampang di layar kristal dan hadiah penangkapanku melonjak menjadi tiga puluh batu inti hitam elit, Sibolis berubah menjadi tempat yang jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya. Kota yang awalnya hanya terlihat seperti pusat perdagangan kini terasa seperti jebakan raksasa yang dipenuhi orang-orang yang sedang menghitung harga kepalaku. Karena itulah kami memutuskan meninggalkan rumah tua tempat persembunyian sebelum matahari benar-benar muncul di ufuk timur.Kabut tipis masih menggantung di jalanan saat kami mel

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status