로그인#Nama yang Mulai Terdengar
Kalimat terakhir yang bayangan jacob ucapkan bahkan belum sempat kupahami sepenuhnya. Jangan percaya para Penguasa Waktu. Masalahnya, aku bahkan belum pernah bertemu satu pun dari mereka. Setelah berjalan hampir satu jam melewati jalanan retak dan padang tandus yang membentang sejauh mata memandang, sebuah desa mulai terlihat di kejauhan. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Bonua Toru, aku melihat tempat yang benar-benar tampak hidup. Namun sebelum kami sempat memasuki gerbang desa, suara cambuk tiba-tiba menggema dari arah tengah pemukiman. Suara itu segera disusul jeritan tertahan seorang wanita. Aku dan Lira saling berpandangan sesaat sebelum mempercepat langkah menuju pusat desa. Di tengah lapangan berdiri sebuah dinding batu raksasa setinggi hampir sepuluh meter. Permukaannya dipenuhi simbol dan aksara aneh yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tepat di depan dinding itu, seorang wanita dirantai pada sebuah tiang besi besar. Kedua tangannya terikat di atas kepala sementara rantai hitam membelenggu kedua kakinya hingga tertanam ke dalam tanah. Namun bukan pemandangan itu yang membuatku membeku. Melainkan wajah wanita tersebut. Dadaku terasa sesak saat melihatnya. Istriku yang kutinggalkan di bumi. Suara cambuk kembali terdengar. Tubuh wanita itu tersentak ketika cambukan tersebut menghantam punggungnya. Anehnya, luka yang baru saja muncul perlahan menutup beberapa detik kemudian seolah tidak pernah ada. Pria yang berdiri di depannya mendecakkan lidah dengan kesal. "Masih tidak mau bicara?" katanya dingin. "Kalau kau tetap menolak membaca arti aksara itu, aku akan mulai membunuh penduduk desa satu per satu." Wanita itu hanya menunduk tanpa menjawab. Aku refleks melangkah maju. Namun tangan kecil Lira segera menahan lenganku. "Tunggu." "Apa lagi?" gerutuku. "Kita tidak tahu apa yang sedang terjadi." Bertindak tanpa informasi di dunia asing seperti ini sama saja mencari kematian Kami akhirnya memasuki sebuah warung kecil di pinggir desa. Seorang pria tua yang menjaga tempat itu tampak gugup sejak kami datang. Setelah makanan dihidangkan, aku langsung bertanya mengenai wanita yang sedang disiksa di luar. Pria tua itu menatapku lama sebelum berbisik pelan. "Namanya Sera." "Sera?" Ia mengangguk. "Dia keturunan terakhir keluarga penjaga aksara." Aku dan Lira saling bertukar pandang. Pria tua itu kemudian menunjuk ke arah dinding batu raksasa di tengah desa. "Hanya keluarganya yang bisa membaca tulisan di sana." Aku kembali menatap dinding tersebut. "Kalau begitu kenapa dia disiksa?" "Karena Revan ingin mengetahui arti tulisan itu." "Siapa Revan?" "Pria yang sedang menyiksanya." Nada suaranya langsung berubah hati-hati. "Dia pemburu peninggalan kuno yang bekerja untuk para penguasa langit. Salah satu orang terkuat di wilayah ini." Penjelasan itu mulai membuat semuanya masuk akal. "Lalu kenapa Sera tidak kabur?" "Karena jika dia kabur, seluruh desa ini akan dimusnahkan." Namun rupanya masih ada alasan lain. "Sera juga memiliki Batu Penyembuhan," lanjut pria tua itu. "Batu itu diwariskan turun-temurun dalam keluarganya. Luka apa pun yang ia terima akan pulih dengan sendirinya." Pantas saja tubuhnya tidak menunjukkan bekas luka meskipun terus disiksa. Aku menatap ke luar jendela sekali lagi. "Aku akan membebaskannya." Lira menghela napas panjang seolah sudah menduga jawabanku. "Kita bahkan belum tahu apa arti tulisan itu." "Mungkin." "Dan kita belum tahu apakah dia mau ikut dengan kita." "Mungkin juga." Aku menatap Sera yang masih dirantai di tengah desa. "Tapi aku tidak bisa berpura-pura tidak melihat semua ini." Beberapa detik kemudian Lira ikut berdiri. "Kalau begitu jangan mati." Aku tersenyum tipis. "Itu juga rencanaku." Saat aku berjalan menuju alun-alun, seluruh perhatian penduduk desa langsung tertuju kepadaku. Revan menghentikan cambuknya dan menoleh. "Pendatang?" "Aku ingin wanita itu." Keheningan langsung menyelimuti seluruh desa. Kemudian Revan tertawa. "Dan menurutmu siapa dirimu?" Aku mengangkat bahu. "Jujur saja, aku juga belum tahu. Tapi aku cukup yakin aku bukan pengecut yang menyiksa wanita yang sedang dirantai." Senyum di wajah Revan menghilang. Cairan hijau mulai menetes dari tombak panjang yang berada di tangannya. "Kau sedang mencari mati." "Aku sering mendengar kalimat itu sejak datang ke dunia ini." Ledakan asam menghantam tanah tepat di depanku. Aku melompat mundur beberapa meter dan langsung menyadari sesuatu. Orang ini jauh lebih kuat daripada semua lawan yang pernah kuhadapi. Revan bergerak. Dalam sekejap ia sudah berada di hadapanku. Aku segera mengaktifkan Zona Waktu. Udara di sekitar tubuhnya membeku dan gerakannya melambat. Namun hanya sesaat. Retakan muncul di dalam wilayah waktuku sebelum Revan memaksa menerobos keluar. Ini pertama kalinya seseorang mampu melawan efek kemampuan tersebut. "Level satu," ucapnya sambil mendengus. "Dan kau berani menantangku?" Tombaknya nyaris membelah leherku. Tubuhku terpental beberapa meter dan darah langsung mengalir dari sudut bibirku. Perbedaan kekuatan kami terlalu jauh. Saat Revan kembali menyerang, cahaya perak melintas dari samping. Pedang Lira menahan tombaknya tepat waktu. Gadis kecil itu mendorong tubuh Revan mundur beberapa langkah. "Bangun!" teriaknya. "Aku sedang berusaha!" balasku sambil berdiri. Pertarungan pun berubah. Lira menggunakan kemampuannya melihat kemungkinan masa depan untuk membaca pola serangan Revan, sementara aku terus mengganggu gerakannya dengan Zona Waktu. Sedikit demi sedikit ritme pertarungan mulai bergeser. Revan semakin marah. Dan di tengah kemarahannya itu, ia melakukan satu kesalahan. Ia terlalu fokus kepada Lira. Terlalu fokus pada lawan yang berada di depan matanya. Ia tidak menyadari aku sudah bergerak ke belakangnya. Zona Waktu aktif. Hanya sepersekian detik. Namun itu sudah cukup. Aku menghantam belakang lututnya sekuat tenaga. Tubuh Revan kehilangan keseimbangan. Pada saat yang sama, Lira melesat dan menendang dadanya. Tubuh pria itu terpental hingga menghantam dinding batu raksasa. Retakan besar langsung muncul di permukaan dinding tersebut. Keheningan menyelimuti seluruh desa. Revan perlahan bangkit sambil menghapus darah dari sudut bibirnya. Wajahnya dipenuhi amarah. Namun kali ini ia tidak menyerang. "Siapa namamu?" tanyanya. Aku menatap lurus ke arahnya. "Arjon." Revan mengingat nama itu. Kemudian ia berbalik dan pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Kekalahan Revan segera menyebar dari mulut ke mulut. Seorang pemuda bernama Arjon. Pemilik Batu Waktu. Kabar itu bergerak melintasi desa, kota, hingga wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaan para penguasa langit. Dan jauh di atas awan gelap Bonua Toru, berdiri sebuah istana hitam yang melayang di antara retakan langit. Di dalam aula singgasananya, seorang pria berambut hitam duduk dengan tenang sambil mendengarkan laporan yang baru saja disampaikan bawahannya. Pria itu terdiam selama beberapa saat. Kemudian senyum tipis perlahan muncul di wajahnya. Tatapannya terangkat menuju langit yang retak. "Setelah tiga ratus tahun..." Suaranya bergema pelan di seluruh ruangan. "...akhirnya Jacob kembali."PENGKHIANATAN RAGASENYUM DI BALIK KEMENANGANTubuh Raja Herek tergeletak di hadapanku. Makhluk yang sebelumnya begitu angkuh dan merasa dirinya tidak terkalahkan itu kini bahkan kesulitan untuk mengangkat kepalanya. Dua batu kekuatan yang selama ini menjadi sumber kehebatannya telah berhasil kuambil, meninggalkan tubuhnya tanpa perlindungan dan kemampuan untuk mengendalikan tanah maupun kekuatan hewan.Aku berdiri sambil menggenggam kedua batu tersebut. Ada rasa lega karena pertarungan panjang akhirnya berakhir, meskipun tubuhku masih dipenuhi rasa sakit akibat serangan Raja Herek. Beberapa bagian pakaianku robek, sementara napasku belum sepenuhnya kembali teratur. Tinju Waktu memang memberiku kekuatan luar biasa, tetapi menggunakan kemampuan itu berkali-kali dalam pertarungan ternyata menguras tenaga jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.Damar menghampiriku lebih dahulu.“Pertarungan yang luar biasa, Arjon. Aku hampir tidak percay
Kau Tetaplah HewanAku berjongkok di samping tubuh Raja Herek. Makhluk itu sudah tidak mampu berdiri, tetapi kedua matanya masih bergerak mengikuti setiap gerakanku. Ia tampak memahami apa yang akan kulakukan, sehingga ketika tanganku mendekati bagian dadanya, ia langsung berusaha menggerakkan tubuh untuk menghindar."Jangan sentuh batuku!" geramnya.Aku menatapnya sekilas. "Kau sudah tidak punya hak untuk memilikinya."Aku meletakkan tangan di sekitar Batu Lumpur yang tertanam di tubuhnya. Batu itu memancarkan cahaya kecokelatan, sementara energi di sekitarnya masih berdenyut meskipun pemiliknya sudah hampir tidak berdaya. Aku menariknya perlahan, berusaha melepaskan ikatan energi yang membuatnya menyatu dengan tubuh Raja Herek.Makhluk itu langsung menjerit."AAARGH!"Tubuhnya menggeliat, tetapi aku menahan bahunya agar tidak bergerak terlalu banyak. Beberapa detik kemudian, Batu Lumpur akhirnya terlepas dari dada
KEMENANGAN SANG PEMILIK WAKTUTUMBANGNYA SANG RAJARaja Herek masih berdiri di tengah reruntuhan istananya, meskipun tubuhnya sudah dipenuhi luka akibat serangan kami. Napasnya terdengar berat, kedua lututnya sesekali bergetar, dan darah mengalir dari beberapa bagian tubuhnya. Namun, makhluk itu masih berusaha mempertahankan kesombongannya seolah-olah kekalahan merupakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi padanya.Aku berdiri beberapa meter di hadapannya sambil mengepalkan tangan. Batu Kekuatan yang kugenggam memancarkan cahaya redup, tetapi aku masih bisa merasakan energi di dalamnya. Sejak menemukan kemampuan Tinju Waktu, aku mulai memahami bahwa kekuatan ini memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan."Kau sudah kehilangan Batu Asap," kataku. "Sekarang tinggal dua batu lagi. Apa kau masih yakin bisa mengalahkan kami?"Raja Herek mengangkat kepalanya. Gigi-giginya terlihat ketika ia menyeringai, memperlihatkan kemarahan yang bercampur dengan rasa putus a
Pemuda di Balik BayanganKetika aku kembali menoleh ke arah lorong, Raga sudah menghilang. "Siapa yang kau panggil?" tanya Damar. "Raga. Pemuda dari penginapan itu." Damar mengerutkan kening. "Apa yang dia lakukan di sini?" Aku menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi dia mengambil Batu Asap." Wajah Damar berubah serius. Ia sempat melihat ke arah lorong sebelum kembali memasang kuda-kuda menghadapi Raja Herek. "Kalau begitu, kita harus menyelesaikan pertarungan ini secepat mungkin." Aku mengangguk, meskipun pikiranku masih tertuju pada pemuda yang baru saja menghilang. Raga seharusnya berada di tempat aman, jauh dari pertarungan ini. Namun, ia justru muncul di tengah istana dan mengambil batu yang menjadi rebutan kami. Aku berusaha menyingkirkan kecurigaan itu. Mungkin ia hanya ingin membantu kami menyimpan bat
Batu yang TerlepasAku berjalan mendekatinya dengan tangan terkepal."Kau sudah kalah, Herek."Ia mengangkat kepala perlahan. Tatapannya tidak lagi dipenuhi keyakinan seperti sebelumnya, tetapi kebencian yang terpancar dari matanya justru semakin pekat."Aku ... tidak mungkin kalah dari manusia sepertimu.""Kau sudah mengatakan itu berkali-kali."Aku mengangkat tinju, bersiap memberikan serangan terakhir. Namun, Raja Herek tiba-tiba menyentakkan tangannya ke tanah. Lumpur hitam menyembur ke arahku, memaksaku melompat mundur untuk menghindari jebakan yang muncul di bawah kaki.Kesempatan itu digunakannya untuk bangkit dengan susah payah.Ia tidak lagi berusaha menyerangku. Sebaliknya, tangannya bergerak cepat ke arah dadanya, tepat pada tempat Batu Asap tertanam. Wajahnya berubah ketika ia merasakan sesuatu yang tidak beres pada tubuhnya sendiri.Akibat rentetan Tinju Waktu yang kuterimakan sebelum
Kekuatan dalam Sepersekian DetikKedua kakiku masih terperangkap di dalam lumpur yang mengeras seperti batu. Raja Herek berdiri di hadapanku dengan napas berat, tetapi seringai di wajahnya menunjukkan bahwa ia belum menganggap pertarungan ini selesai. Tiga batu kekuatan yang tertanam di tubuhnya membuatnya menjadi lawan yang jauh lebih berbahaya daripada makhluk mana pun yang pernah kuhadapi.Sementara itu, Batu Lumpur terus bergerak mengikuti kehendaknya, membuat permukaan tanah di sekeliling kami bergelombang seperti lautan yang sedang mengamuk."Bagaimana, manusia?" ejeknya sambil mengangkat dagu. "Kau masih ingin melawanku dengan satu batu saja? Lihat dirimu! Bahkan untuk membebaskan kaki sendiri pun kau tidak mampu!"Aku menunduk, memperhatikan lumpur yang membungkus kedua kakiku, lalu mengangkat pandangan ke arahnya."Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang sudah mulai kehabisan napas."Senyumnya menghilang.Raja Herek menggeram dan mengayunkan tangannya. Tanah di belakan







