Share

BAB 3

Author: Rosela2505
last update publish date: 2026-06-14 18:46:14

#Jejak Pemilik Sebelumnya

Dadaku terasa berat.

Aku baru tiba di dunia ini, tetapi rasanya seperti seluruh Bonua Toru sudah mengetahui keberadaanku.

aku hanya berdiri diam menatap retakan langit yang membentang di atas kepala. Retakan itu terlihat semakin besar dibanding saat pertama kali aku terbangun. Kadang aku merasa ada sesuatu yang mengintip dari balik sana, sesuatu yang terlalu besar untuk dipahami oleh akal manusia.

Sulit dipercaya bahwa beberapa jam lalu aku masih berada di ranjang rumah sakit, menunggu ajal datang sambil mendengarkan tangisan anak bungsuku.

Sekarang aku berada di dunia asing, memiliki tubuh pemuda yang bukan milikku, dan menjadi target para Penguasa Waktu yang bahkan belum pernah kulihat wajahnya.

Aku mengusap wajah sambil menghela napas panjang.

"Apa semua pemilik Batu Waktu berakhir seperti ini?"

Lira yang berjalan beberapa langkah di depanku tidak langsung menjawab.

Entah kenapa, melihat punggungnya membuatku merasa tenang sekaligus waspada.

Dia memang terlihat seperti anak kecil.

Tetapi setelah apa yang kulihat sebelumnya, aku tahu ada sesuatu yang jauh lebih tua bersembunyi di balik tubuh mungil itu.

Saat suasana mulai hening, suara aneh tiba-tiba terdengar.

Perutku berbunyi cukup keras.

Lira menoleh.

"Kau lapar?"

"Tentu saja aku lapar."

Aku mengusap perut sambil menggerutu

"Aku mati, hidup lagi, diserang gladiator gila, hampir diinjak monster raksasa, lalu diberitahu bahwa seluruh dunia ingin memburuku."

Aku menunjuk perutku sendiri.

"Setelah semua itu, ternyata masalah terbesarku sekarang justru lapar."

lira tersenyum, Bukan senyuman penuh.

Namun cukup membuatnya terlihat seperti anak kecil normal.

"Di depan ada desa."

Aku langsung menoleh.

"Masih ada manusia di dunia ini?"

"Tentu."

Jawaban singkat itu membuatku sedikit lega.

Setidaknya dunia ini tidak sepenuhnya dipenuhi monster dan orang-orang gila yang melempar bola api tanpa alasan.

Kami melanjutkan perjalanan.

Semakin jauh berjalan, semakin banyak reruntuhan yang kulihat. Ada bangunan tinggi yang setengah roboh, kendaraan berkarat yang tertimbun tanaman liar, dan jalanan retak yang dipenuhi akar pohon hitam.

Dunia ini terasa seperti dunia yang pernah mengalami kiamat.

Tanpa sadar tanganku menyentuh saku celana.

Dua batu inti masih berada di sana.

Batu merah milik gladiator.

Dan batu hitam milik monster yang baru saja kami kalahkan.

Aku bisa merasakan energi samar dari keduanya, seolah mereka sedang memanggilku untuk digunakan.

Namun aku tidak tertarik.

Setidaknya untuk sekarang.

Aku bahkan belum memahami Batu Waktu yang ada di tubuhku.

Jika aku mulai menyerap terlalu banyak kekuatan tanpa memahami cara kerjanya, kemungkinan besar aku akan mati lebih cepat.

Aku sudah cukup tua untuk memahami satu hal.

Kekuatan yang tidak dipahami sering kali lebih berbahaya daripada musuh itu sendiri.

"Lira."

"Hm?"

"Kau bilang aku bisa pulang."

Langkahnya melambat.

Meski hanya sesaat, aku sempat melihat perubahan kecil di matanya.

"Bisa."

Aku langsung berhenti berjalan.

Jawaban itu membuat jantungku berdetak lebih cepat.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, aku mendengar sesuatu yang benar-benar ingin kudengar.

"Bagaimana caranya?"

Lira berbalik.

Tatapannya mengarah kepadaku beberapa detik sebelum akhirnya menjawab.

"Lima belas tahun lalu ada seseorang yang berhasil mengumpulkan pecahan Batu Waktu."

"Seseorang sebelum aku?"

Ia mengangguk.

"Pemilik Batu Waktu sebelumnya."

Aku terdiam.

Selama ini aku mengira kekuatan ini baru memilihku.

Ternyata aku hanyalah penerus dari seseorang yang pernah berjalan di jalur yang sama.

"Siapa dia?"

"Aku tidak tahu."

"Kau tidak tahu?"

"Aku bisa melihat banyak kemungkinan masa depan."

Lira menatap langit.

"Tapi masa lalu jauh lebih sulit."

Aku menghela napas.

Jawaban yang menyebalkan.

Namun sebelum aku sempat mengeluh, Lira melanjutkan.

"Aku tahu satu hal."

"Apa?"

"Dia pernah bertemu Dewa Bonua Toru."

Langkahku terhenti lagi.

Dewa.

Kata itu terdengar terlalu besar.

Terlalu mustahil.

Namun setelah melihat waktu berhenti, monster raksasa turun dari langit, dan seorang anak kecil berbicara dengan suara wanita tua, aku mulai menyadari bahwa kata mustahil sudah tidak memiliki tempat di dunia ini.

"Kalau begitu aku harus bertemu dewa itu."

"Itulah satu-satunya cara."

Aku mengangguk pelan.

"Bagaimana caranya?"

"Kumpulkan sepuluh pecahan Batu Waktu."

Aku berkedip.

"Sepuluh?"

"Itu adalah inti yang terpecah saat Pengendali Waktu terakhir menghilang."

Tentu saja tidak akan semudah berjalan ke rumah tetangga dan mengetuk pintu.

"Dengan kata lain aku harus menjelajahi seluruh Bonua Toru."

"Ya."

"Dan selama itu para Penguasa Waktu akan memburuku."

"Ya."

"Hidup keduaku ternyata jauh lebih merepotkan daripada hidup pertama."

Kali ini Lira tidak menjawab.

Tatapannya mengarah ke kejauhan.

Sebuah desa mulai terlihat.

Asap tipis naik dari beberapa rumah kayu.

Ada pagar sederhana.

Ladang kecil.

Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, aku melihat tanda kehidupan yang nyata.

Namun tepat ketika harapan itu muncul, kepalaku mendadak berdenyut hebat.

Aku terhuyung.

Rasa sakit itu datang begitu tiba-tiba hingga membuat lututku hampir menyentuh tanah.

Bayangan-bayangan asing muncul di dalam pikiranku.

Bukan ingatanku.

Seorang pemuda berdiri di tengah hujan deras.

Tubuhnya penuh luka.

Darah mengalir dari dahinya.

Namun yang paling menarik perhatianku adalah batu perak di tangannya.

Batu itu sama persis dengan Batu Waktu milikku.

Pemuda itu perlahan mengangkat wajah.

Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.

Seolah ada sesuatu yang sengaja menghalangi pandanganku.

Lalu suara samar terdengar dari kejauhan.

"...Jacob..."

Nama itu terdengar jelas.

Jacob.

Entah kenapa nama itu membuat dadaku terasa sesak.

Seolah aku pernah mengenalnya.

Padahal aku yakin belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.

Bayangan tersebut menghilang secepat kemunculannya.

Aku terengah-engah sambil menatap tanah.

Lira sudah berdiri di sampingku.

"Ada apa?"

Baru kali ini aku melihat sesuatu seperti itu.

"Itu aneh."

"Apa yang kau lihat?"

Aku mengangkat kepala perlahan.

"Seorang pria."

Lira langsung diam.

"Dan aku mendengar sebuah nama."

Ekspresi gadis kecil itu berubah.

Perubahan yang sangat kecil.

Tetapi cukup untuk membuatku menyadarinya.

"Nama apa?"

Aku menatapnya.

"Jacob."

Tubuh Lira langsung membeku.

Wajahnya yang biasanya tenang perlahan memucat.

Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, aku melihat sesuatu yang tidak pernah kutemukan di matanya.

Ketakutan.

"Kau mengenalnya?"

Tatapannya justru mengarah ke batu perak di dadaku.

Lalu kembali ke wajahku.

Dan saat akhirnya ia membuka mulut, suaranya terdengar jauh lebih pelan dari biasanya.

"Kalau kau mulai melihat Jacob..."

Ia berhenti sejenak.

"...berarti para Penguasa Waktu mungkin sudah menemukan jejak kita."

Entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak tiba di Bonua Toru, aku merasa bahwa musuh sebenarnya belum menunjukkan wajahnya.

Dan nama Jacob...

Mungkin adalah awal dari semua masalah yang akan datang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 80

    TIGA NYAWA RAJA HEREK Lira menatapnya dengan serius. "Dan kau berhasil melemahkannya?"Sera tersenyum. "Sedikit."Damar kemudian memandang pisau yang tergeletak di atas meja. "Bagaimana dengan tiga batu itu?""Masih berada di tubuhnya.""Berarti besok kita harus memisahkannya satu per satu."Aku mengangguk sambil menatap seluruh anggota tim. Besok tidak akan ada lagi penyamaran, tidak ada lagi pengintaian, dan tidak ada lagi menunggu kesempatan. Kami akan masuk ke istana Raja Herek dan menghadapi makhluk yang selama bertahun-tahun telah membuat seluruh Desa Tarutung hidup dalam ketakutan.Namun, ada satu hal yang terus terngiang di kepalaku. Raja Herek sudah mengetahui keberadaan kami. Jika itu benar, kemungkinan besar dia juga sudah menyiapkan sesuatu untuk menyambut kedatangan kami.Aku mengepalkan tangan."Besok kita akhiri semuanya."Tidak seorang pun menjawab, tetapi dari tatapan mer

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 79

    TIGA NYAWA RAJA HEREK Selama ini aku mengira Raja Herek hanyalah seekor kera yang memperoleh kecerdasan luar biasa. Namun, ternyata perubahan yang terjadi jauh lebih besar daripada itu. Batu Hewan bukan hanya memberinya kecerdasan, tetapi juga telah mengubah seekor hewan menjadi makhluk yang mampu memimpin, memerintah, dan menguasai manusia. "Jadi semua cerita itu memang benar." Sera mengangguk. "Raja Herek memang bukan manusia." Tidak seorang pun membantah. Kami semua sudah melihat wujud aslinya dengan mata kepala sendiri. Namun, mendengar kepastian tersebut tetap terasa aneh, karena itu berarti lawan yang akan kami hadapi bukan sekadar seorang tiran. Kami sedang berhadapan dengan seekor hewan yang memperoleh kekuatan luar biasa dan menggunakan kekuatan itu untuk menguasai manusia. "Lalu batu ketiga?" Kali ini Sera terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya menjawab.

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 78

    RAHASIA 3 BATU part 2Namun kenyataannya, ia kini berdiri tepat di hadapan kami dengan ekspresi santai seolah baru kembali dari jalan-jalan sore.Dan entah kenapa, melihat senyum kecil di wajahnya membuatku sadar bahwa kemungkinan besar wanita itu membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar dirinya sendiri. Ia membawa informasi. Rahasia yang mungkin dapat menjadi kunci untuk menjatuhkan Raja Herek.Selama beberapa saat setelah Sera memasuki kamar, tidak ada seorang pun yang mengucapkan sepatah kata. Aku masih memandangi wajahnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan, berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa perempuan yang berdiri di hadapanku benar-benar Sera dan bukan ilusi, penyamaran, atau jebakan yang dikirim oleh Raja Herek untuk menguji kami.Namun semakin lama aku memperhatikannya, semakin yakin pula aku bahwa orang itu memang Sera. Tatapan tajamnya yang khas, ekspresi kesal yang selalu muncu

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 77

    RAHASIA 3 BATUMalam di Desa Tarutung semakin larut, tetapi rasa kantuk sama sekali tidak datang menghampiriku. Sejak Sera dibawa ke Istana Raja Herek siang tadi, pikiranku terus dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak ingin kubayangkan. Dari jendela penginapan, cahaya obor yang menyala di puncak bukit masih terlihat jelas, menerangi siluet istana yang berdiri kokoh di tengah kegelapan seperti seekor monster yang sedang mengawasi seluruh desa dari kejauhan.Semakin lama aku memandang ke arah sana, semakin sulit bagiku untuk duduk diam.Sudah berjam-jam berlalu tanpa kabar apa pun.Tidak ada sinyal.Tidak ada pesan.Tidak ada petunjuk mengenai keadaan Sera.Perasaan tidak tenang yang sejak sore menggangguku akhirnya mencapai batasnya hingga aku bangkit dari kursi dan mengambil senjata yang kusandarkan di dekat dinding."Aku akan pergi."Kalimat itu langsung menarik perhatian semua orang d

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 76

    RENCANA SERASera segera menyimpan informasi itu dalam ingatannya. Mungkin batu itu berkaitan dengan kecepatan, mungkin berhubungan dengan kekuatan fisik, atau mungkin memiliki fungsi lain yang belum ia pahami. Apa pun jawabannya, informasi sekecil apa pun bisa menjadi pembeda antara kemenangan dan kematian."Kau sedang memikirkan sesuatu."Suara Raja Herek membuatnya kembali fokus.Sera segera menggeleng pelan."Tidak."Raja Herek kembali tertawa."Kau bukan pembohong yang baik."Kalimat itu membuat nalurinya langsung waspada. Untuk sesaat, ia bertanya-tanya apakah penyamarannya telah terbongkar. Namun, setelah memperhatikan ekspresi Raja Herek, ia menyadari bahwa monster itu tampaknya hanya sedang bermain-main. Tidak ada tanda-tanda bahwa identitasnya diketahui.Setidaknya untuk saat ini.Sebelum percakapan mereka berlanjut, suara ketukan terdengar dari luar ruangan.Pintu terbuka dan seorang pengawal masuk dengan langkah tergesa."Yang Mulia."Raja Herek menoleh dengan ekspresi tid

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 75

    PEMBURU DI KANDANG MANGSA part 2Ruangan pribadi Raja Herek berada jauh di bagian terdalam istana.Pintu kayu hitam yang menjulang tinggi dijaga oleh beberapa pengawal bersenjata, sementara simbol-simbol aneh terukir di permukaannya seperti penanda bahwa tidak sembarang orang diizinkan masuk.Ketika pintu akhirnya dibuka, aroma yang tidak biasa langsung menyambut Sera.Ada bau dupa yang menyengat.Ada aroma darah yang samar.Dan ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, sesuatu yang membuat nalurinya langsung waspada.Di tengah ruangan, Raja Herek sedang duduk di atas kursi besar yang menyerupai singgasana.Mata kuning keemasannya langsung tertuju pada Sera begitu ia masuk.Tatapan itu terasa seperti tangan tak kasat mata yang sedang berusaha membedah isi pikirannya."Itu pilihan yang cerdas."Suara Raja Herek terdengar berat dan kasar."Kebanyakan manusia menangis sebelum

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status