مشاركة

BAB 6

مؤلف: Rosela2505
last update تاريخ النشر: 2026-06-17 00:03:02

#Pengorbanan Dua Puluh Tahun

Kepergian Revan meninggalkan keheningan yang aneh di seluruh desa.

Penduduk yang sebelumnya bersembunyi perlahan mulai keluar dari rumah masing-masing. Namun tidak ada sorak sorai kemenangan. Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada pula wajah bahagia karena terbebas dari seseorang yang selama bertahun-tahun menebar ketakutan.

Mereka hanya berdiri diam.

Menatap Sera dan Menatapku.

Lalu kembali masuk ke rumah mereka masing-masing.

Seolah tidak ada apa pun yang terjadi.

Aku mengernyit.

Perasaan tidak nyaman mulai muncul di dadaku.

Sera masih duduk di dekat tiang tempat ia dirantai selama bertahun-tahun. Bekas rantai masih membekas pada pergelangan tangan dan kakinya meskipun luka-lukanya sudah sembuh karena Batu Penyembuhan.

Aku berjalan mendekatinya.

"Kau bebas sekarang."

Sera tersenyum tipis.

Namun senyum itu terasa sangat sedih.

"Aku belum tentu bebas."

Aku mengernyit.

"Maksudmu?"

Namun sebelum ia melanjutkan, seorang pria dari kerumunan tiba-tiba melangkah maju.

"Dan sekarang semuanya hancur karena kalian!" teriaknya sambil menunjuk ke arahku dan Lira.

Warga lain mulai ikut bersuara.

"Benar!"

"Kalian mengusir Revan!"

"Bagaimana kalau pemburu waktu lain datang?!"

"Bagaimana kalau mereka lebih kejam?!"

"Kalian akan pergi, tapi kami yang akan menerima akibatnya!"

Suasana desa mendadak menjadi kacau.

Aku mengepalkan tangan.

Amarah yang sejak tadi kutahan mulai mendidih.

"Luar biasa..." gumamku.

Semua orang menoleh.

Aku menatap satu per satu wajah penduduk desa itu.

"Kalian benar-benar membuatku muak."

Tak seorang pun berani menyela.

"Selama bertahun-tahun seorang gadis menanggung penderitaan demi kalian semua."

Aku menunjuk ke arah Sera.

"Dia kehilangan kebebasannya."

"Dia kehilangan hidupnya."

Suaraku semakin dingin.

"Dan yang kalian pikirkan sekarang hanya keselamatan diri kalian sendiri."

Beberapa warga langsung menundukkan kepala.

Namun aku belum selesai.

"Kalau kalian benar-benar peduli padanya, kalian pasti sudah melawan sejak lama."

"Meski kalah."

"Setidaknya kalian mencoba."

Tatapanku menyapu seluruh kerumunan.

"Tapi kalian tidak melakukan apa pun."

Aura Batu Waktu mulai berdenyut di dadaku.

"Aku bahkan mulai berpikir kalau Revan tidak menghukum desa ini cukup keras"

"Arjon."

Suara Sera memotong kalimatku.

Aku menoleh.

Wanita itu menggeleng pelan.

Matanya berkaca-kaca.

"Sudah cukup."

"Aku lahir di desa ini."

Suaranya terdengar tenang.

Terlalu tenang.

Seolah semua rasa sakit itu sudah lama berubah menjadi bagian dari dirinya.

"Ayahku adalah penjaga aksara terakhir."

"Ibuku memiliki Batu Penyembuhan sebelum diwariskan kepadaku."

Aku mendengarkan tanpa menyela.

"Ketika usiaku lima tahun..."

Tatapannya kosong.

"...Revan datang."

Angin yang berembus di desa itu mendadak terasa dingin.

"Awalnya dia meminta keluargaku membaca tulisan di dinding batu."

"Lalu?"

"Kakekku menolak."

Sera tersenyum pahit.

"Karena isi tulisan itu bukan sesuatu yang boleh diketahui sembarang orang."

Aku mulai bisa menebak kelanjutannya.

Namun kenyataannya jauh lebih buruk.

"Revan membunuh kakekku."

Sera berkata seolah sedang membicarakan cuaca.

"Di depan ayahku."

Ia menarik napas.

"Lalu dia membunuh ayahku."

Mataku perlahan menyipit.

"Di depan ibuku."

Sera mengangguk.

"Dan setelah itu dia membunuh ibuku."

Keheningan menyelimuti kami.

Suara burung bahkan tidak terdengar.

Yang tersisa hanya suara angin yang melewati reruntuhan rumah-rumah tua.

"Separuh desa hancur hari itu."

Tatapan Sera tetap kosong.

"Puluhan orang mati."

"Tapi keluargaku tetap tidak mau membaca aksara itu."

Aku mengepalkan tangan.

Sementara Sera melanjutkan ceritanya.

"Setelah semua keluargaku mati..."

Suaranya mulai bergetar.

"...aku yang menjadi pewaris terakhir."

Air mata perlahan muncul di sudut matanya.

"Dan sejak umur lima tahun..."

Ia menunduk.

"...aku mulai dirantai."

Dadaku terasa sesak.

Bahkan aku yang pernah kehilangan segalanya masih sulit membayangkan bagaimana seorang anak berusia lima tahun harus mengalami hal seperti itu.

"Bertahun-tahun?" tanyaku pelan.

Sera mengangguk.

"Dua puluh tahun."

Aku membeku.

Dua puluh tahun hidup dalam rantai, disiksa dan hidup sendirian.

Namun kalimat berikutnya membuat kemarahanku benar-benar meledak.

"Tapi tidak apa-apa."

Aku menatapnya.

Sera tersenyum kecil.

"Sebab selama aku tetap di sini, penduduk desa aman."

Aku tidak langsung menjawab.

Lalu aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena terlalu marah.

"Kenapa kau tersenyum?" tanya Sera bingung.

Aku menatap rumah-rumah di sekitar desa.

Rumah-rumah yang selama bertahun-tahun berlindung di balik pengorbanannya.

"Kau benar-benar berpikir penderitaanmu berarti bagi mereka?"

Sera terdiam.

"Mereka selamat karena aku..."

"Tidak."

Suaraku memotong kalimatnya.

Lebih keras dari yang kuinginkan.

"Mereka selamat karena kau membiarkan dirimu dihancurkan."

Sera membeku.

Air mata mulai mengalir di pipinya.

Bukan karena kesedihan.

Melainkan karena selama bertahun-tahun tidak ada seorang pun yang pernah mengatakan hal itu kepadanya.

Tidak ada seorang pun yang pernah marah untuknya.

Tidak ada seorang pun yang pernah menganggap penderitaannya tidak adil.

Hanya aku.

Seorang pria asing yang baru dikenalnya hari ini.

Sera menunduk sambil menghapus air matanya.

"Arjon..."

"Kau tidak harus terus menanggung semuanya sendirian."

Lalu perlahan Sera berdiri.

Tatapannya beralih ke dinding batu raksasa yang dipenuhi aksara kuno.

"sebagai ucapan terimakasih aku akan memberitahumu isi tulisan itu."

Aku dan Lira langsung menoleh.

Untuk pertama kalinya sejak bertemu, ekspresi Sera terlihat serius.

Ia melangkah mendekati dinding batu.

Kemudian mengangkat tangannya.

"Aksara ini menggunakan bahasa kuno Batak."

Jarinya menyentuh ukiran yang telah berusia ratusan tahun.

Lalu ia mulai membacanya.

Suara Sera menggema pelan.

ᯀᯘᯀ ᯔᯒᯘᯪᯀᯐᯒ ᯂᯬ ᯖᯮ ᯘᯀᯑᯮᯞᯮ ᯉᯀᯁ ᯉᯪ ᯅᯀᯉᯮᯀ ᯖᯬᯒᯮ."

"ᯔᯮᯞᯀᯤ ᯔ ᯘᯪᯀᯉ ᯉᯀᯁ ᯀᯇᯪ."

"ᯔᯮᯞᯂᯮ ᯘᯞᯮᯂᯮᯖᯉ ᯑᯮᯀ ᯐᯮᯔᯇᯀᯉ..."

ᯘᯀᯑᯮᯞᯮ ᯉᯀᯁ ᯉᯪ ᯅᯀᯉᯮᯀ ᯖᯬᯒᯮ."

Aku mengernyit.

"Tolong terjemahkan."

Sera menatapku.

Lalu perlahan berkata,

"Carilah sepuluh naga Bonua Toru."

"Mulailah dari Naga Api."

"Jika seluruhnya berhasil ditemukan..."

"Rahasia dunia bawah akan terungkap."

Ia berhenti sesaat.

Kemudian melanjutkan.

"Dan Tombak Waktu akan diberikan kepada Pengendali Waktu."

Aku membeku.

Lira juga terlihat terkejut.

"Tombak Waktu?" tanyaku.

Sera mengangguk.

"Itulah hadiah yang menunggu pemilik Batu Waktu."

Aku terdiam cukup lama.

Sepuluh naga.

Rahasia dunia bawah.

Dan sebuah senjata yang bahkan disebutkan dalam peninggalan kuno.

Perjalanan yang awalnya hanya ingin membawaku pulang kini terasa semakin besar.

Namun sebelum aku sempat berpikir lebih jauh, suara langkah kaki terdengar dari belakang.

Seorang pemuda desa berlari tergesa-gesa menuju kami.

Wajahnya pucat.

"Nona Sera!"

"Ada apa?"

Pemuda itu terengah-engah.

"Berita dari kota perbatasan!"

Semua orang menoleh.

Pemuda itu menelan ludah.

"Wajah Arjon sudah mulai disebarkan."

Jantungku berdetak pelan.

"Apa maksudmu?"

Pemuda itu mengeluarkan selembar kertas lusuh.

Di sana terdapat gambar kasar wajahku.

Dan di bawahnya tertulis sebuah kalimat.

BURONAN PRIORITAS PARA PEMBURU WAKTU.

Aku menatap tulisan itu cukup lama.

Lalu tersenyum tipis.

Sepertinya...

Namaku benar-benar mulai terdengar di Bonua Toru.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 24

    # Nama yang DilupakanSuara Naga Api masih bergema di seluruh penjuru gua ketika keheningan perlahan mengambil alih suasana. Tidak ada seorang pun yang berani bergerak ataupun mengucapkan sepatah kata setelah makhluk raksasa itu menyebut namaku dengan begitu jelas, seolah kami memang pernah saling mengenal sebelumnya.Aku berdiri terpaku di tempat sambil menatap sepasang mata emas yang menyala dari balik kegelapan. Cahaya merah yang berasal dari aliran magma di dasar gua memantulkan kilau pada sisik-sisik raksasa yang menutupi tubuhnya, membuat sosok itu terlihat seperti gunung hidup yang sedang beristirahat. Namun yang membuatku sulit mengalihkan pandangan bukanlah ukuran tubuhnya ataupun tekanan mengerikan yang terpancar dari keberadaannya, melainkan kenyataan bahwa ia mengetahui siapa diriku.Setelah berhasil mengendalikan keterkejutanku, aku akhirnya membuka suara."Apa kau baru saja menyebut namaku?"Naga Api tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapku cukup lama, seolah sedang

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 23

    #Penjaga NagaSetelah menemukan peta menuju Kawah Merah, kami tidak membuang waktu terlalu lama di reruntuhan Kota Langit. Jalur kuno yang tergambar di dalam gulungan peninggalan Ras Langit langsung menjadi tujuan berikutnya karena itulah satu-satunya petunjuk yang kami miliki untuk menemukan Naga Api.Perjalanan menuju lokasi tersebut memakan waktu hampir dua hari penuh. Semakin jauh kami meninggalkan Gurun Abu, semakin jelas perubahan yang terjadi pada lingkungan di sekitar. Hamparan pasir kelabu perlahan menghilang, digantikan oleh tanah merah gelap yang dipenuhi retakan panjang seperti bekas aliran lava purba. Udara terasa semakin panas dari waktu ke waktu, sementara energi api yang samar mulai memenuhi atmosfer hingga bahkan aku yang tidak memiliki Batu Api pun bisa merasakannya.Damar menjadi orang pertama yang menyadari perubahan itu.Sejak pagi, ia beberapa kali menempelkan tangan ke dadanya sambil mengernyit seolah sedang merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan."Batu Api

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 22

    #Kota yang Jatuh dari LangitNama Jacob masih terus terngiang di kepalaku bahkan setelah Ras Langit menghilang dari langit Gurun Abu.Ini bukan pertama kalinya aku mendengar nama itu. Sejak mendapatkan Batu Waktu, sosok misterius tersebut terus muncul dalam berbagai petunjuk yang kutemukan. Mulai dari penglihatan aneh yang muncul saat menggunakan kekuatan waktu, peringatan yang tersimpan dalam ingatan Batu Waktu, hingga pengakuan Lira yang mengaku pernah bertemu langsung dengannya.Dan sekarang Ras Langit juga mengenalnya.Namun perjalanan kembali berlanjut setelah Ras Langit menghilang dari langit Gurun Abu. Meski ancaman untuk sementara menjauh, pikiranku justru semakin dipenuhi pertanyaan yang belum terjawab. Nama Jacob kembali muncul dari mulut orang asing yang seharusnya tidak mengenalku, menambah daftar panjang misteri yang sejak awal mengelilingi Batu Waktu.Semakin banyak petunjuk yang kutemukan, semakin sulit menganggap semua ini sebagai kebetulan. Jacob seolah meninggalkan

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 21

    #Sayap di Atas GurunNama itu terdengar asing, tetapi cara Lira mengucapkannya membuat suasana di sekitar kami berubah seketika. Tidak ada penjelasan tambahan maupun peringatan panjang, namun aku langsung memahami bahwa makhluk-makhluk tersebut bukanlah monster biasa yang bisa ditemukan di wilayah lain Bonua Toru.Ketika kawanan bersayap itu mulai membentuk lingkaran di atas kerangka naga raksasa yang terkubur di tengah Gurun Abu, firasat buruk yang sejak tadi menggangguku perlahan berubah menjadi keyakinan. Mereka datang ke tempat ini dengan tujuan tertentu, dan semakin lama aku memperhatikan pergerakan mereka, semakin sulit menganggap kemunculan itu sebagai kebetulan. Jumlah mereka terlalu banyak, sementara pola terbang mereka menunjukkan bahwa mereka sudah mengetahui lokasi ini jauh sebelum kami tiba.Entah apa yang mereka cari di tengah gurun tandus tersebut, tetapi ada sesuatu yang membuatku yakin bahwa tujuan mereka berkaitan dengan naga yang sedang kami buru. Jika dugaan itu be

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 20

    #Jejak NagaMeninggalkan Kota Mati ternyata tidak membuat perjalanan kami menjadi lebih mudah. Justru sebaliknya, semakin jauh kami memasuki wilayah Gurun Abu, semakin aneh keadaan di sekitar kami. Hamparan pasir kelabu yang sebelumnya hanya terlihat tandus kini terasa seperti dunia yang benar-benar telah ditinggalkan kehidupan.Tidak ada lagi kawanan monster kecil yang biasanya berkeliaran mencari mangsa. Tidak ada serangga gurun. Tidak ada suara hewan. Bahkan angin yang bertiup pun terasa enggan melewati wilayah itu, menyisakan keheningan panjang yang membuat setiap langkah kaki terdengar lebih jelas daripada seharusnya.Di kejauhan, tulang naga raksasa yang kami lihat sehari sebelumnya semakin terlihat jelas. Semakin dekat kami mendekatinya, semakin sulit mempercayai bahwa makhluk sebesar itu pernah hidup. Tulang rusuknya menjulang seperti menara batu yang tumbuh dari dalam gurun, sementara sebagian besar rangkanya masih terkubur oleh pasir yang telah menelannya selama entah berapa

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 19

    #Gadis yang Mengenal JacobAku tidak langsung memotong penjelasan Lira. Ada sesuatu dalam cara gadis itu berbicara yang membuatku merasa bahwa kenangan ini sudah terlalu lama ia simpan sendirian. Nyala api unggun memantulkan cahaya kemerahan ke dinding bangunan tua yang kami tempati, sementara angin malam sesekali menyusup melalui celah-celah batu dan membawa hawa dingin khas Gurun Abu."Aku tidak tahu siapa dia saat itu," lanjut Lira sambil memandangi nyala api yang menari pelan di hadapannya. "Yang kulihat hanyalah seorang pria yang hampir mati."Tidak ada yang menyela. Bahkan Damar yang biasanya selalu punya komentar untuk setiap pembicaraan memilih diam dan mendengarkan.Lira melanjutkan bahwa ia menemukan pria itu di dekat sebuah retakan langit, sebuah istilah yang langsung membuat pikiranku kembali waspada. Sejak tiba di Bonua Toru, terlalu banyak kejadian aneh yang tampaknya berhubungan dengan retakan tersebut, seolah semua jalan pada akhirnya akan kembali menuju tempat yang sa

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status