Share

ASING

Author: KEZHIA ZHOU
last update publish date: 2025-11-14 18:20:20

Beberapa langkah kemudian, cahaya terang mulai tampak di kejauhan.

Lucan berjalan ke arah itu, menuruni jalur batu kecil yang berkelok, hingga suara ombak perlahan tergantikan oleh riuh yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Semakin dekat, semakin banyak warna dan bunyi yang saling bertabrakan.

Ia tiba di sebuah area penuh cahaya—kedai-kedai makan di tepi jalan.

Lampu neon berkedip, memantul di permukaan jalan yang lembap. Suara tawa, obrolan, denting piring, dan deru kendaraan bercampur tanpa aturan. Dunia ini hidup… begitu nyata dimata Lucan.

Lucan berhenti di pinggir jalan.

Matanya membesar—kagum, takut, dan bingung sekaligus.

Sebuah motor melintas cepat tepat di depannya.

BROOOOMMM!!!

Lucan mundur setengah langkah, refleks, jantungnya berdegup kencang. Matanya mengikuti roda yang berputar cepat, tubuh besi itu melesat tanpa sayap, tanpa cahaya.

“Benda apa itu…?” gumamnya pelan.

“Kenapa bisa bergerak tanpa sayap…?”

Belum sempat ia memahami, sebuah mobil melintas berikutnya. Hembusan angin menyibak rambutnya, membawa suara klakson dan tawa dari dalam kabin.

Lucan menoleh ke kiri, lalu ke kanan. Manusia bergerak dengan ritme yang tak pernah ia pahami—tergesa, bebas, dan seolah tak takut jatuh.

Lampu-lampu kota memantul di matanya. Cahaya buatan—kasar, berwarna-warni—namun entah kenapa terasa hangat. Tidak suci. Tidak abadi. Tapi nyata.

Beberapa orang mulai menatapnya.

Tatapan itu berbeda dari tatapan para Seraphine. Tidak penuh penilaian surgawi—melainkan penasaran, heran, bahkan kagum.

Bisik-bisik terdengar.

“Siapa itu…?”

“Aneh ya, pria setampan itu jalan tanpa alas kaki?”

“Lihat, lihat. Bahkan bajunya terlihat sobek di beberapa bagian.”

Lucan tidak mengerti kata-kata mereka, tapi ia mengerti tatapan asing itu.

Dadanya mengencang. Ia menunduk. Langkahnya menjadi gelisah, canggung—seolah keberadaannya sendiri adalah kesalahan.

Tiba tiba hidungnya mulai mencium bau yang asing.

Hangat. Menggoda. Menembus udara tanpa izin.

Aroma gurih, manis, asin—semuanya bercampur, menusuk hidungnya dengan cara yang aneh. Lucan berhenti, tanpa sadar menarik napas dalam-dalam.

“Baunya…”

“Enak sekali…” bisiknya.

Matanya terpejam sesaat.

Ada senyum kecil yang muncul begitu saja di sudut bibirnya—asing, polos.

Perasaan itu muncul lagi di dadanya. Bukan energi suci. Bukan rasa sakit. Bukan panggilan takdir.

Keinginan yang sederhana.

Lapar.

Lucan membuka mata. Pandangannya tertuju pada deretan kedai—panci besar mengepul, daging dipanggang, minyak mendesis. Perutnya kembali berbunyi pelan, kali ini lebih jelas.

Ia terdiam, lalu menelan ludah.

“Jadi… ini yang disebut hidup menjadi manusia?” gumamnya.

Di Lumeris, kebutuhan hanyalah keseimbangan cahaya. Tidak ada rasa lapar. Tidak ada keinginan kecil yang mengikat tubuh pada dunia.

Namun di sini—setiap aroma, setiap suara, setiap cahaya—menariknya untuk tetap berdiri.

Tetap bernapas.

Lucan melangkah maju satu langkah.

Dunia manusia tidak menyambutnya dengan keajaiban atau wahyu. Tidak ada takdir yang diumumkan. Tidak ada suara langit.

Hanya sebuah jalan ramai, lampu neon yang berkedip, dan rasa lapar yang semakin nyata.

Dan untuk pertama kalinya, Lucan menyadari—

Untuk bertahan di dunia ini, ia tidak bisa lagi hanya menjadi cahaya.

Ia harus belajar menjadi manusia. Sepenuhnya.

Lucan terus berjalan menyusuri jalanan kecil itu.

Kakinya telanjang, dingin aspal malam merambat pelan ke telapak kakinya. Ia tidak berusaha menghindar. Sensasi itu nyata—menyakitkan, tapi membuktikan bahwa ia masih hidup.

Lampu-lampu di sepanjang jalan menari di genangan air, memantulkan cahaya kuning yang bergetar lembut. Setiap pantulan seperti memanggilnya, menuntun langkahnya ke arah yang tak ia pahami.

Ia tak tahu ke mana harus pergi.

Maka ia hanya mengikuti cahaya, satu demi satu, seperti naluri yang tersisa dari kehidupannya sebelum jatuh.

Hingga langkahnya terhenti.

Di antara deretan rumah yang gelap dan tertutup rapat, satu rumah tampak berbeda. Terang. Hidup. Seolah menolak tenggelam dalam malam.

Dari balik jendela kaca, sinar hangat menembus keluar—bukan cahaya suci Lumeris yang murni dan agung, melainkan cahaya yang lembut. Cahaya yang tidak menuntut apa pun.

Cahaya yang… menenangkan.

Lucan berdiri terpaku.

Menatap rumah itu seperti anak kecil yang menemukan bintang pertamanya di langit gelap.

Pintu rumah itu sedikit terbuka.

Dari dalam terdengar suara perabot yang bergeser, tawa samar dari televisi, dan aroma yang lembut—aroma makanan manusia. Hangat. Mengisi. Mengundang.

Langkahnya maju satu kali.

Kemudian lagi.

Setiap langkah terasa ragu, seolah ia sedang melanggar batas yang tak terlihat. Tangannya perlahan terangkat, jemarinya gemetar saat hendak menyentuh gagang pintu itu.

Cahaya dari dalam memantul di matanya yang kebiruan, membuatnya tampak hampir bercahaya di tengah gelap.

Namun—

“Hei!! Siapa kau?!”

Suara tajam itu memecah malam.

Lucan menoleh cepat.

Seorang gadis berdiri tak jauh darinya. Rambut hitamnya bergelombang, jatuh hingga bahu, sedikit berantakan. Mata lebarnya berkilau di bawah lampu jalan, mencerminkan keterkejutan yang belum sempat disembunyikan.

Di tangannya ada tas belanja. Jari-jarinya mencengkeram erat, seakan bersiap melempar atau melarikan diri.

“Mau apa berdiri di depan rumahku?” serunya lagi, suaranya terdengar tegas—meski getar halus tetap lolos.

“Kau pencuri, ya?”

Lucan tidak menjawab.

Ia hanya menatap gadis itu.

Dalam. Terlalu dalam.

Seolah berusaha membaca sesuatu yang tak tertulis di wajahnya.

Tatapan mereka bertemu.

DEG!

Jantung Seira berdebar keras, tanpa alasan yang jelas.

Ada sesuatu yang salah.

Wajah pria itu terlalu tampan. Sangat tamoan. Meski ada beberapa kotoran yang menempel di wajahnya, namun pesonanya tidak redup sama sekali.

Seolah—bukan manusia.

Seira menatap Lucan dari atas hingga bawah.

Tubuhnya kotor, penuh pasir dan debu pantai, membuatnya tampak rapuh sekaligus misterius.

Lucan memalingkan pandangan, kembali menatap cahaya di balik pintu.

Matanya menyipit, seolah mencoba memahami kenapa cahaya itu terasa… begitu hidup.

Seira mendekat, menarik tangannya kasar.

“Hei, mau apa kau di sini?” ucapnya, sedikit gugup.

Sebelum Lucan sempat menjawab, pintu rumah itu terbuka lebar.

Seorang wanita paruh baya muncul — rambutnya sedikit memutih, senyum lembut di bibirnya.

“Seira, kenapa lama sekali di luar?” tanyanya dengan suara hangat.

Aroma masakan yang keluar dari rumah itu menyeruak, memenuhi udara.

Lucan menarik napas dalam-dalam.

Wajahnya berubah pelan — mata yang tadi kosong kini bergetar oleh sesuatu yang asing namun indah.

“Baunya…” 

“Baunya enak sekali…”

Lucan berbicara pelan, hampir seperti berbisik.

Wanita itu menatap Lucan dengan lembut.

Pandangan matanya turun — melihat tubuh Lucan dengan baju yang sobek, telapak kakinya yang kotor, dan wajahnya yang letih.

“Dia temanmu, Seira?” tanyanya.

Seira menggeleng cepat.

“Bukan, Bu. Aku baru saja—”

Wanita itu tidak menunggu penjelasan.

Ia melangkah mendekat, lalu menyentuh tangan Lucan.

Sentuhan itu lembut, hangat, manusiawi.

Lucan terdiam.

Hangat itu menjalar ke seluruh tubuhnya, lebih hangat dari cahaya Lumeris yang pernah ia rasakan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sentuhan itu tidak menyakitkan.

“Kau pasti belum makan, Nak,” ucap sang ibu lembut.

“Ayo masuk. Makan dulu, baru cerita.”

Lucan menunduk cepat, berusaha menyembunyikan ekspresi di wajahnya.

Ia ingin menolak… tapi tubuhnya lemah, dan hangat itu terasa terlalu menenangkan untuk dihindari.

Perlahan, ia mengikuti langkah sang ibu masuk ke dalam rumah.

Cahaya dari ruang makan menyelimuti wajahnya.

Ia menatap sekeliling dengan takjub — benda-benda sederhana, tapi begitu hidup.

Di belakang, Seira mendengus pelan.

“Bu… kenapa pria asing ini dibawa masuk?” gumamnya pelan.

Wanita itu hanya tersenyum. 

“Kasihan dia, mungkin saja dia belum makanan seharian.”

Lucan menatap punggung wanita itu lama, sebelum akhirnya memejamkan mata sejenak.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Lumeris… ia merasakan hangat yang tidak menyakitkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   MENAHAN DIRI

    “Kau pria brengsek! Tidak seharusnya aku bertemu denganmu… menyebalkan!”Suara Seira pecah di punggung Lucan.Tangannya yang lemas beberapa kali memukul bahu pria itu, meski tanpa tenaga. Kepalanya bersandar berat di punggung Lucan, napasnya berbau alkohol, suaranya bercampur tangis yang tertahan.Lucan tidak menjawab.Tidak membela diri.Tidak juga menenangkan.Ia hanya berjalan.Langkahnya tetap tegak, meski setiap pijakan terasa seperti menghantam tubuhnya sendiri. Dadanya berdenyut pelan—bukan lagi ledakan rasa sakit seperti sebelumnya, tapi sisa-sisa nyeri yang menetap, menusuk dari dalam.Kekuatan di dalam dirinya belum pulih.Masih ada.Namun melemah.Seperti cahaya yang mulai redup, nyaris padam.Sesekali Lucan mengernyit tanpa sadar. Napasnya tertahan sepersekian detik sebelum kembali normal. Keringat dingin masih membekas di pelipisnya, meski udara sore mulai dingin.Namun ia tetap berjalan.Menggendong Seira.“Kenapa… kenapa harus kau…” gumam Seira lirih di punggungnya.Sua

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   MABUK

    Lucan hendak berbalik, berniat mengejar Seira yang semakin menjauh dari pandangannya.Namun—“LUCAN!”Teriakan Mia menghentikan langkahnya.Lucan membeku di tempat.Tubuhnya yang sudah bergerak setengah langkah terpaksa berhenti. Dadanya kembali berdenyut tajam, seolah setiap gerakan kecil pun cukup untuk memicu rasa sakit yang masih bersarang di dalam tubuhnya.Ia menutup mata sesaat.Menahan.Lalu perlahan berbalik.Mia berjalan mendekat dengan langkah santai, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Wajahnya tenang, bahkan sedikit tersenyum.Ia meraih lengan Lucan dan menariknya hingga pria itu berbalik sepenuhnya menghadapnya.Lucan tidak menepis tangan itu.“Kau mau mengejarnya dan berkata padanya kalau kau sangat mencintainya, begitu, hm?”Nada suaranya ringan, tetapi jelas mengandung ejekan.Lucan diam sesaat.Tenaganya tidak sedang cukup untuk berdebat panjang.“Aku hanya ingin berbicara dengannya,” ucap Lucan pelan.Suaranya serak.Mia mendengus kecil.“Lupakan saja! Ingat, k

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   SEBENTAR SAJA

    Waktu berjalan sangat lambat. Setidaknya bagi Lucan.Pria itu masih berdiri di samping mobil Mia sejak pagi tadi. Tubuhnya tegap seperti biasa, bahunya lurus, wajahnya tetap tampan dan tenang. Siapa pun yang melihatnya mungkin hanya mengira ia sedang menunggu seseorang.Tidak ada yang tahu bahwa setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan baginya.Rasa sakit dari ritual semalam belum benar-benar hilang.Dadanya masih terasa seperti dibakar dari dalam. Sesekali Lucan mengernyit tipis. Hampir tidak terlihat, namun cukup untuk membuat napasnya sedikit tertahan. Tangannya sempat mencengkeram sisi mobil, menahan tubuhnya agar tidak goyah.Keringat dingin menetes di tengkuknya.Namun ia tetap berdiri.Tatapannya sesekali mengarah ke bangunan kampus.Seperti berharap seseorang akan keluar.Seira.Namun waktu terus berjalan. Pintu gedung itu tidak pernah mengeluarkan sosok yang ia tunggu.Di dalam kelas, Seira duduk diam memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan materi. Matanya menatap

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   RINDU

    “Aghh…”Lucan menggeliat pelan.Rasa sakit itu belum pergi.Ia membuka mata perlahan. Langit-langit kamar yang sama. Warna putih yang dingin. Aroma parfum Mia yang samar masih tertinggal di udara.Ia masih di apartemen itu.Dadanya telanjang. Kulitnya pucat. Garis otot di tubuhnya tetap tegas—bahkan dalam keadaan lemah, ia masih terlihat memikat. Namun di balik ketampanan itu, ada sesuatu yang retak.Tangannya mencengkeram sprei. Urat-urat di lengannya menegang saat ia memaksa diri bangkit.Dadanya berdenyut.Sigil itu tidak menyala lagi—tetapi rasa perihnya seperti masih terpatri di dalam daging.Lucan duduk perlahan. Kepalanya sedikit menunduk. Ia memejamkan mata sesaat, menahan gelombang pusing yang datang tiba-tiba.Napasnya belum stabil.Setiap tarikan terasa berat.Ia menurunkan kaki ke lantai marmer yang dingin. Sentuhan dingin itu membuatnya sedikit tersadar, meski keringat dingin masih menempel di pelipisnya.Tangannya meraba dinding, berpegangan saat melangkah keluar kamar.

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   FOTO VULGAR

    Tubuh Lucan terasa seperti sedang dilelehkan dari dalam. Sisa-sisa Ritual Cahaya garapan Dea Lira masih berkecamuk di dalam nadinya, mengirimkan gelombang rasa sakit yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Setiap inci kulitnya terasa panas membara, seolah-olah cahaya itu ingin merobek dagingnya untuk keluar."Lucan...!! Akulah penawarmu! Jangan pernah berharap Seira akan datang ke sini!" Mia berbisik tajam, napasnya yang memburu terasa kontras di kulit Lucan yang mulai demam."Hanya aku yang bisa memadamkan api ini. HANYA AKU, LUCAN!"Tanpa peringatan, Mia menyambar bibir Lucan untuk kesekian kalinya, melumatnya dengan rakus seolah ingin menyerap paksa sisa nyawa pria itu. Lucan mengerang tertahan; setiap sentuhan Mia justru memicu rasa perih yang luar biasa pada sarafnya yang sedang meradang."Mia... tolong... hen... tikan..." rintih Lucan parau.Kelopak matanya bergetar hebat, mencoba memfokuskan pandangan yang kabur menahan sakit.Mia menarik diri sejenak, namun bukan untuk memberi ru

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   KEGILAAN MIA

    “Bagaimana, Elyon?” suara Dea Lira menggema lembut namun berkuasa, memantul di dinding ruangan yang masih dipenuhi sisa cahaya ritual.Elyon tersenyum lebar. Napasnya stabil. Tubuhnya terasa penuh, kuat, seolah baru saja menyerap matahari ke dalam dadanya sendiri. Ia meraih kembali kemejanya dengan santai.“Selalu menarik, Ibu. Tubuhku selalu jauh lebih kuat dari sebelumnya.”Sementara itu—Lucan masih bersimpuh di lantai.Kedua lututnya menekan marmer dingin. Kedua tangannya gemetar, berusaha menopang tubuhnya sendiri. Napasnya tersengal, tidak beraturan.DUG. DUG. DUG.Langkah kaki Elyon mendekat.Seorang Seraphine maju dan menarik kedua lengan Lucan ke belakang dengan kasar.“Aghh—” erang Lucan tertahan.Sendi bahunya terasa seperti ditarik keluar dari tempatnya. Rasa sakit belum selesai dari ritual tadi—dan kini ditambah tekanan baru.Tubuhnya terasa hampa. Seperti sumur yang baru saja dikuras sampai dasar.Elyon berjongkok, menyamakan tinggi wajahnya dengan Lucan. Tangannya terang

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   PENOLAKAN

    TING TONG!TING TONG!Tak ada jawaban.Rumah Seira tertutup rapat, sunyi seperti tak berpenghuni. Lampu teras belum menyala, halaman kecil itu tenggelam dalam gelap senja. Lucan berdiri lama di depan pintu, menunggu—lalu akhirnya menghela napas dan duduk di ujung anak tangga kecil di depan rumah it

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   DISEKAP

    Lucan berdiri mematung di depan bangunan tinggi itu. Kampus tempat Seira belajar. Matanya menyapu deretan lantai, jendela-jendela kaca, dan pintu utama yang sejak tadi tak henti dilewati mahasiswa. Senyum tipis sempat terukir di wajahnya—senyum yang lahir dari kebiasaan menunggu satu orang yang sel

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   KESEMPATAN

    Lucan menuruni tangga menuju lantai satu dengan langkah berat. Ia duduk di sofa, bahunya merosot, kepala tertunduk. Untuk pertama kalinya sejak jatuh ke dunia manusia, dadanya terasa nyeri—bukan karena sigil, bukan karena luka fisik. Ini berbeda. Menyesakkan. Seolah ada tangan tak terlihat yang men

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   KEGILAAN MIA

    Mia merangkak naik, menindih tubuh Lucan dengan tekanan yang disengaja agar pria itu merasakan berat tubuhnya. Bibirnya menekan kasar, bukan sebuah ciuman lembut, melainkan sebuah klaim. Lidahnya memaksa masuk, menjelajahi rongga mulut Lucan dengan haus yang primitif.Lucan mengerang pelan, kepalan

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status