Share

DUNIA LUMERIS

Author: KEZHIA ZHOU
last update publish date: 2025-11-14 18:27:53

“Bersihkan badanmu dan pakai ini..”

Suara lembut itu terdengar di ruang tamu.

Ibu Seira muncul dari dalam kamar sambil membawa sepasang pakaian.

Kainnya sederhana, sedikit kusut, tapi masih bersih.

“Baju dan celana ini milik putraku — kakak Seira, dia sedang bekerja.” ucapnya dengan senyum hangat. 

“Kau bisa pakai ini dulu sebelum makan. Pasti tidak nyaman duduk dengan tubuh basah seperti itu.”

Lucan memandangi pakaian itu lama, seolah benda itu begitu asing baginya.

Ia mengulurkan tangan, menerima pakaian itu perlahan.

Matanya sedikit menunduk.

“Terima kasih…” gumamnya pelan.

Wanita itu menunjuk ke sebuah ruangan di sisi rumah.

“Di sana. Kau bisa berganti di kamar mandi itu.”

Lucan menatap ruangan yang dimaksud.

Langkahnya pelan, kaku, seperti orang yang baru belajar berjalan di dunia yang berbeda.

Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia menatap sekeliling.

Ruangan itu kecil, tapi hangat.

Cahaya lampu di langit-langit memancar lembut, membuat kulitnya terlihat keemasan.

Lucan mendongak.

Matanya terpaku pada lampu yang menggantung.

“Cahaya ini… begitu terang,” bisiknya.

Tangannya perlahan terangkat, hampir menyentuh bola lampu itu.

“Tapi tidak seterang Lumeris…”

ZZZTTTTT!

Cahaya lampu tiba-tiba bergetar.

Sedikit percikan listrik muncul — halus, tapi cukup untuk membuat udara berdenyut sesaat.

Lucan menarik tangannya cepat.

“Tidak…” ia berbisik, menatap telapak tangannya.

Cahaya samar biru muncul di kulitnya, bergetar sebelum memudar lagi.

Ia menarik napas panjang.

“Mungkin… aku harus membiasakan diri dengan semua ini.”

Tatapannya menurun, suaranya pelan tapi getir.

“Setidaknya, sekarang tak ada lagi yang akan mengikatku… atau memaksaku memberi apa pun untuk Elyon.”

Air di kamar mandi mengalir.

Lucan mencelupkan tangannya, lalu perlahan membasuh tubuhnya.

Air itu terasa… berbeda.

Bukan air suci Lumeris, tapi tetap menenangkan.

Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang benar-benar alami — dingin, nyata, dan hidup.

Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan pakaian baru.

Kaos polos dan celana pendek yang sedikit longgar, tapi cukup nyaman.

Saat ia berjalan ke ruang makan, Seira yang sedang menata mangkuk spontan menoleh.

DEG!

Tatapannya membeku.

Lucan terlihat… berbeda.

Sederhana, tapi aura tenangnya anehnya justru semakin kuat.

Rambutnya yang masih agak basah memantulkan cahaya lampu, dan mata birunya berkilau halus, seperti menyimpan laut di dalamnya.

Seira menelan ludah pelan.

“Pria ini… sangat menarik…” pikirnya tanpa sadar.

Lucan menunduk canggung ketika duduk di hadapan mereka.

Meja kayu kecil itu dipenuhi hidangan sederhana — nasi putih, sup hangat, dan ikan goreng.

Aromanya menusuk hidungnya, membuat perutnya bergetar lagi tanpa kendali.

Ruang makan itu begitu sederhana. Tidak ada kursi yang melingkari meja. Mereka hanya duduk di lantai kayu.

“Makanlah,” ucap ibu Seira lembut sambil menuangkan nasi ke mangkuk Lucan.

Ia menyendokkan lauk, menatanya dengan sabar.

“Perutmu pasti kosong sejak tadi.”

Lucan hanya menatap sendok di tangannya.

Benda kecil itu terlihat aneh, tapi caranya memantulkan cahaya membuatnya seperti perhiasan.

Ia meniru gerakan sang ibu — perlahan menyendok, lalu mencicipinya.

Begitu suapan pertama menyentuh lidahnya, matanya membesar sedikit.

Hangat. Gurih.

Rasa yang tak pernah ada di dunia suci mana pun.

“Bagaimana rasanya?” tanya ibu Seira dengan senyum lembut.

Lucan mengangguk pelan.

“Hangat… seperti cahaya.”

Seira menatapnya aneh.

“Cahaya? Mana bisa makanan disamakan dengan cahaya.” ia berbisik lirih, tapi Lucan tidak menjawab.

Hening beberapa saat.

Lalu ibu Seira memecah keheningan dengan nada lembut.

“Namamu siapa, Nak? Dan… di mana rumahmu?”

Lucan terdiam.

Pertanyaan sederhana itu menggantung lama.

Ia menatap mangkuk di hadapannya, lalu mengangkat pandangan perlahan.

“Lucan,” ucapnya akhirnya.

“Namaku Lucan.”

Nada suaranya tenang, tapi entah kenapa, udara di sekitarnya tiba-tiba bergetar halus.

Lampu di atas meja berkedip satu kali, nyaris padam.

Ibu Seira dan Seira sama-sama menoleh ke atas.

“Eh? Kenapa lampunya…?” tanya Seira pelan.

Lucan menunduk cepat.

Tangannya mengepal di bawah meja, berusaha menekan denyut halus energi yang tiba-tiba muncul dari dadanya.

Cahaya biru itu berdenyut sekali — lalu padam lagi.

Ia tersenyum kecil, samar.

“Maaf… mungkin aku membawa sedikit… badai.”

Seira mengerutkan dahi, tidak mengerti.

“Badai? Kau ini berbicara dengan aneh.”

Lucan tidak menjawab.

Ia hanya menatap cahaya lampu di atas meja itu — cahaya manusia yang sederhana, rapuh… tapi hangat.

Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya, ia merasa ingin melindungi sesuatu yang kecil seperti itu.

Sementara itu, di dunia Lumeris, dunia yang penuh dengan cahaya. Di singgasana tinggi, Dea Lira, wanita agung berambut putih panjang, dengan mata biru muda bercahaya, berdiri seperti badai yang menunggu untuk meledak.

Rambut putihnya berkibar, matanya yang biasanya dingin kini berpendar liar. Di sekelilingnya, para pemuka Seraphine berkumpul, namun semua mundur memberi ruang — bahkan para penjaga tertinggi tahu bila murka Dea Lira bangkit, badai tak mudah dijinakkan.

Langit Lumeris tidak pernah gelap.

 Di sana, jam tidak menguasai hari; cahaya selalu menggantung, lembut namun tak pernah padam. Pilar-pilar marmer memantulkan kilau abadi, dan angin selalu berbisik dalam nada yang sama — suci, tenang, tak berbelas kasih.

 Namun malam itu, gemuruh lain memenuhi langit: amarah.

 ZZT—ZZT—!

Sirkuit-sirkuit cahaya di kuil pusat berkedut tak karuan, menandai peringatan pertama. Lembaran-lembaran cahaya di udara bergetar seperti sarang lebah yang terganggu.

Elyon putra sulungnya menginjak batu marmer dengan telapak kakinya yang tegap. Wajahnya keras, suaranya memotong keheningan seperti pedang. 

“Ibu!” suaranya memekik, namun tetap terkendali. 

“Lucan—dia terjatuh ke bumi. Sigil—itu retak. Jika kita tak menemukannya—aku—aku akan mati!”

BOOM!

Sebuah loncatan energi memecah ruang tengah, gema dentangannya merambat hingga dinding cemerlang. Tubuh-tubuh di sekeliling merunduk 

Dea Lira melangkah maju sekali, dua kali; setiap langkahnya menumbuhkan kilau di lantai kuil. Ia menatap Elyon dengan mata sejuk yang tiba-tiba membara.

“Kau…” katanya pelan, lalu suaranya seperti runtuhan jauh yang meledak menjadi badai. 

“Kau benar—tanpa itu, kau sebagai pewarisku bisa pudar.”

 “Kita harus menemukannya, lalu menyeretnya kembali ke Lumeris.” Ucapnya.

Elyon mengibas tangan, tidak sabar. 

“Tapi, bumi itu luas. Terlalu luas. Bagaimana kita akan menemukan satu manusia di antara jutaan? Kita bukan pemburu biasa — kita butuh rencana. Kita butuh tanda, jejak… sigilnya!”

Sejenak, sunyi menekan. Para Seraphine saling berpandangan; ada ketakutan, ada rasa hormat. Lampu-lampu kecil di langit bergetar — seolah ikut memegang napas.

Dea Lira menutup mata sesaat, lalu membukanya penuh tekad. Cahaya perak memancar dari pandangannya seperti bayangan pisau.

“Jangan bicara seperti orang yang menyerah pada takdir,” ia mendesis. 

“Meski Lucan berada di dunia manusia, tapi dia tetaplah Seraphine. Dia berbeda dengan manusia.”

ZZRRRRAAAT!

Rangkaian rune di dinding kuil menyala, mengirim gelombang ke seluruh penjuru langit. Peta-peta cahaya di altar besar berputar cepat—lokasi-lokasi yang selama ini tak pernah berubah kini menunjukkan anomali; jejak ethereal menuju dunia bawah.

Elyon menghela napas, lalu suaranya menjadi dingin seperti es.

“Baik ibu. Kami akan menjangkau bumi. Segera. Kirim pesan ke semua korps — penjaga, pelacak, unit pemburu. Jejak mana pun yang mendeteksi energi biru abnormal, tangkap dan laporkan. Semua kota pesisir dan area berpotensi harus dipindai. Kita akan menyisir hingga ke ujung dunia kalau perlu.”

Dea Lira mengangkat dagu, senyum tipis mengerikan terlukis di bibirnya.

“Katakan begitu pada mereka,” katanya.

Suaranya kini tak lebih dari bisik yang mengiris.

“Anak sialan itu akan kutemukan. Dan ketika kutemukan—”

Ia menutup matanya, menahan sesuatu yang hampir seperti doa, lalu membukanya lagi penuh kebencian.

“—aku akan mengikatnya kembali. Aku akan mematri sigil itu dengan seluruh kekuasaanku sampai tak ada lagi retak yang dapat dia sebut kebebasan. Aku akan mengikatnya sampai tangannya tak mampu mengetuk pintu kematian.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   SEIRA..

    DUK! DUK! DUK!Suara langkah kaki Seira terdengar cepat menuruni tangga. Ia masuk ke dapur tanpa benar-benar sadar apa yang sedang ia lakukan. Tangannya membuka lemari es, mengambil air dingin, lalu menuangkannya ke dalam gelas.Ia meneguknya perlahan.Namun pikirannya tidak di sana.Bayangan Lucan—wajah pucatnya, keringat dingin di pelipisnya, cara dia berjalan tergesa masuk ke kamar Leo—terus berputar di kepalanya.Seira menatap kosong ke depan.“Apa dia… sedang mencoba mengambil simpatiku?” gumamnya lirih.Namun kalimat itu bahkan terdengar tidak meyakinkan bagi dirinya sendiri.Tubuhnya bersandar pada meja dapur.Gelas di tangannya masih setengah penuh.Matanya—tanpa sadar—berulang kali melirik ke arah tangga.Ke arah kamar Leo di lantai atas.Pintu itu…sedikit terbuka.**Di dalam kamar—Lucan terduduk di lantai.Punggungnya bersandar lemah pada sisi ranjang. Kepalanya sesekali terangkat, namun kembali jatuh. Matanya terpejam, rahangnya mengeras.“Agghh… hah… hah…”Napasnya tida

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   MENAHAN DIRI

    “Kau pria brengsek! Tidak seharusnya aku bertemu denganmu… menyebalkan!”Suara Seira pecah di punggung Lucan.Tangannya yang lemas beberapa kali memukul bahu pria itu, meski tanpa tenaga. Kepalanya bersandar berat di punggung Lucan, napasnya berbau alkohol, suaranya bercampur tangis yang tertahan.Lucan tidak menjawab.Tidak membela diri.Tidak juga menenangkan.Ia hanya berjalan.Langkahnya tetap tegak, meski setiap pijakan terasa seperti menghantam tubuhnya sendiri. Dadanya berdenyut pelan—bukan lagi ledakan rasa sakit seperti sebelumnya, tapi sisa-sisa nyeri yang menetap, menusuk dari dalam.Kekuatan di dalam dirinya belum pulih.Masih ada.Namun melemah.Seperti cahaya yang mulai redup, nyaris padam.Sesekali Lucan mengernyit tanpa sadar. Napasnya tertahan sepersekian detik sebelum kembali normal. Keringat dingin masih membekas di pelipisnya, meski udara sore mulai dingin.Namun ia tetap berjalan.Menggendong Seira.“Kenapa… kenapa harus kau…” gumam Seira lirih di punggungnya.Sua

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   MABUK

    Lucan hendak berbalik, berniat mengejar Seira yang semakin menjauh dari pandangannya.Namun—“LUCAN!”Teriakan Mia menghentikan langkahnya.Lucan membeku di tempat.Tubuhnya yang sudah bergerak setengah langkah terpaksa berhenti. Dadanya kembali berdenyut tajam, seolah setiap gerakan kecil pun cukup untuk memicu rasa sakit yang masih bersarang di dalam tubuhnya.Ia menutup mata sesaat.Menahan.Lalu perlahan berbalik.Mia berjalan mendekat dengan langkah santai, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Wajahnya tenang, bahkan sedikit tersenyum.Ia meraih lengan Lucan dan menariknya hingga pria itu berbalik sepenuhnya menghadapnya.Lucan tidak menepis tangan itu.“Kau mau mengejarnya dan berkata padanya kalau kau sangat mencintainya, begitu, hm?”Nada suaranya ringan, tetapi jelas mengandung ejekan.Lucan diam sesaat.Tenaganya tidak sedang cukup untuk berdebat panjang.“Aku hanya ingin berbicara dengannya,” ucap Lucan pelan.Suaranya serak.Mia mendengus kecil.“Lupakan saja! Ingat, k

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   SEBENTAR SAJA

    Waktu berjalan sangat lambat. Setidaknya bagi Lucan.Pria itu masih berdiri di samping mobil Mia sejak pagi tadi. Tubuhnya tegap seperti biasa, bahunya lurus, wajahnya tetap tampan dan tenang. Siapa pun yang melihatnya mungkin hanya mengira ia sedang menunggu seseorang.Tidak ada yang tahu bahwa setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan baginya.Rasa sakit dari ritual semalam belum benar-benar hilang.Dadanya masih terasa seperti dibakar dari dalam. Sesekali Lucan mengernyit tipis. Hampir tidak terlihat, namun cukup untuk membuat napasnya sedikit tertahan. Tangannya sempat mencengkeram sisi mobil, menahan tubuhnya agar tidak goyah.Keringat dingin menetes di tengkuknya.Namun ia tetap berdiri.Tatapannya sesekali mengarah ke bangunan kampus.Seperti berharap seseorang akan keluar.Seira.Namun waktu terus berjalan. Pintu gedung itu tidak pernah mengeluarkan sosok yang ia tunggu.Di dalam kelas, Seira duduk diam memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan materi. Matanya menatap

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   RINDU

    “Aghh…”Lucan menggeliat pelan.Rasa sakit itu belum pergi.Ia membuka mata perlahan. Langit-langit kamar yang sama. Warna putih yang dingin. Aroma parfum Mia yang samar masih tertinggal di udara.Ia masih di apartemen itu.Dadanya telanjang. Kulitnya pucat. Garis otot di tubuhnya tetap tegas—bahkan dalam keadaan lemah, ia masih terlihat memikat. Namun di balik ketampanan itu, ada sesuatu yang retak.Tangannya mencengkeram sprei. Urat-urat di lengannya menegang saat ia memaksa diri bangkit.Dadanya berdenyut.Sigil itu tidak menyala lagi—tetapi rasa perihnya seperti masih terpatri di dalam daging.Lucan duduk perlahan. Kepalanya sedikit menunduk. Ia memejamkan mata sesaat, menahan gelombang pusing yang datang tiba-tiba.Napasnya belum stabil.Setiap tarikan terasa berat.Ia menurunkan kaki ke lantai marmer yang dingin. Sentuhan dingin itu membuatnya sedikit tersadar, meski keringat dingin masih menempel di pelipisnya.Tangannya meraba dinding, berpegangan saat melangkah keluar kamar.

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   FOTO VULGAR

    Tubuh Lucan terasa seperti sedang dilelehkan dari dalam. Sisa-sisa Ritual Cahaya garapan Dea Lira masih berkecamuk di dalam nadinya, mengirimkan gelombang rasa sakit yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Setiap inci kulitnya terasa panas membara, seolah-olah cahaya itu ingin merobek dagingnya untuk keluar."Lucan...!! Akulah penawarmu! Jangan pernah berharap Seira akan datang ke sini!" Mia berbisik tajam, napasnya yang memburu terasa kontras di kulit Lucan yang mulai demam."Hanya aku yang bisa memadamkan api ini. HANYA AKU, LUCAN!"Tanpa peringatan, Mia menyambar bibir Lucan untuk kesekian kalinya, melumatnya dengan rakus seolah ingin menyerap paksa sisa nyawa pria itu. Lucan mengerang tertahan; setiap sentuhan Mia justru memicu rasa perih yang luar biasa pada sarafnya yang sedang meradang."Mia... tolong... hen... tikan..." rintih Lucan parau.Kelopak matanya bergetar hebat, mencoba memfokuskan pandangan yang kabur menahan sakit.Mia menarik diri sejenak, namun bukan untuk memberi ru

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   PENGORBANAN PERTAMA

    Mia tersenyum memandang Lucan. Senyum yang tampak manis, namun di baliknya ada kepuasan yang perlahan mengembang. Tangannya terangkat, jari telunjuknya menyentuh pipi Lucan, menyusuri rahangnya, lalu berhenti di bibirnya. Gerakannya lambat. Seolah ia sedang mengukir sesuatu yang indah—atau menandai

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   KEGILAAN MIA

    “Bagaimana, Elyon?” suara Dea Lira menggema lembut namun berkuasa, memantul di dinding ruangan yang masih dipenuhi sisa cahaya ritual.Elyon tersenyum lebar. Napasnya stabil. Tubuhnya terasa penuh, kuat, seolah baru saja menyerap matahari ke dalam dadanya sendiri. Ia meraih kembali kemejanya dengan

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   TUBUHMU UNTUK MIA

    Waktu terus berlalu. Jam sduah menunjukkan pukul lima sore lebih.Di waktu yang sama—Di lantai dua rumah besar itu, Dea Lira membuka matanya.Perlahan.Seolah ia baru saja terbangun dari tidur yang sangat nyenyak. Padahal tidak.Ia hanya sedang menunggu.Sudut bibirnya terangkat.“Lucan…” gumamnya

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   KEGILAAN MIA

    Mia merangkak naik, menindih tubuh Lucan dengan tekanan yang disengaja agar pria itu merasakan berat tubuhnya. Bibirnya menekan kasar, bukan sebuah ciuman lembut, melainkan sebuah klaim. Lidahnya memaksa masuk, menjelajahi rongga mulut Lucan dengan haus yang primitif.Lucan mengerang pelan, kepalan

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status