LOGIN“Bersihkan badanmu dan pakai ini..”
Suara lembut itu terdengar di ruang tamu.
Ibu Seira muncul dari dalam kamar sambil membawa sepasang pakaian.
Kainnya sederhana, sedikit kusut, tapi masih bersih.
“Baju dan celana ini milik putraku — kakak Seira, dia sedang bekerja.” ucapnya dengan senyum hangat.
“Kau bisa pakai ini dulu sebelum makan. Pasti tidak nyaman duduk dengan tubuh basah seperti itu.”
Lucan memandangi pakaian itu lama, seolah benda itu begitu asing baginya.
Ia mengulurkan tangan, menerima pakaian itu perlahan.
Matanya sedikit menunduk.
“Terima kasih…” gumamnya pelan.
Wanita itu menunjuk ke sebuah ruangan di sisi rumah.
“Di sana. Kau bisa berganti di kamar mandi itu.”
Lucan menatap ruangan yang dimaksud.
Langkahnya pelan, kaku, seperti orang yang baru belajar berjalan di dunia yang berbeda.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia menatap sekeliling.
Ruangan itu kecil, tapi hangat.
Cahaya lampu di langit-langit memancar lembut, membuat kulitnya terlihat keemasan.
Lucan mendongak.
Matanya terpaku pada lampu yang menggantung.
“Cahaya ini… begitu terang,” bisiknya.
Tangannya perlahan terangkat, hampir menyentuh bola lampu itu.
“Tapi tidak seterang Lumeris…”
ZZZTTTTT!
Cahaya lampu tiba-tiba bergetar.
Sedikit percikan listrik muncul — halus, tapi cukup untuk membuat udara berdenyut sesaat.
Lucan menarik tangannya cepat.
“Tidak…” ia berbisik, menatap telapak tangannya.
Cahaya samar biru muncul di kulitnya, bergetar sebelum memudar lagi.
Ia menarik napas panjang.
“Mungkin… aku harus membiasakan diri dengan semua ini.”
Tatapannya menurun, suaranya pelan tapi getir.
“Setidaknya, sekarang tak ada lagi yang akan mengikatku… atau memaksaku memberi apa pun untuk Elyon.”
Air di kamar mandi mengalir.
Lucan mencelupkan tangannya, lalu perlahan membasuh tubuhnya.
Air itu terasa… berbeda.
Bukan air suci Lumeris, tapi tetap menenangkan.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang benar-benar alami — dingin, nyata, dan hidup.
Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan pakaian baru.
Kaos polos dan celana pendek yang sedikit longgar, tapi cukup nyaman.
Saat ia berjalan ke ruang makan, Seira yang sedang menata mangkuk spontan menoleh.
DEG!
Tatapannya membeku.
Lucan terlihat… berbeda.
Sederhana, tapi aura tenangnya anehnya justru semakin kuat.
Rambutnya yang masih agak basah memantulkan cahaya lampu, dan mata birunya berkilau halus, seperti menyimpan laut di dalamnya.
Seira menelan ludah pelan.
“Pria ini… sangat menarik…” pikirnya tanpa sadar.
Lucan menunduk canggung ketika duduk di hadapan mereka.
Meja kayu kecil itu dipenuhi hidangan sederhana — nasi putih, sup hangat, dan ikan goreng.
Aromanya menusuk hidungnya, membuat perutnya bergetar lagi tanpa kendali.
Ruang makan itu begitu sederhana. Tidak ada kursi yang melingkari meja. Mereka hanya duduk di lantai kayu.
“Makanlah,” ucap ibu Seira lembut sambil menuangkan nasi ke mangkuk Lucan.
Ia menyendokkan lauk, menatanya dengan sabar.
“Perutmu pasti kosong sejak tadi.”
Lucan hanya menatap sendok di tangannya.
Benda kecil itu terlihat aneh, tapi caranya memantulkan cahaya membuatnya seperti perhiasan.
Ia meniru gerakan sang ibu — perlahan menyendok, lalu mencicipinya.
Begitu suapan pertama menyentuh lidahnya, matanya membesar sedikit.
Hangat. Gurih.
Rasa yang tak pernah ada di dunia suci mana pun.
“Bagaimana rasanya?” tanya ibu Seira dengan senyum lembut.
Lucan mengangguk pelan.
“Hangat… seperti cahaya.”
Seira menatapnya aneh.
“Cahaya? Mana bisa makanan disamakan dengan cahaya.” ia berbisik lirih, tapi Lucan tidak menjawab.
Hening beberapa saat.
Lalu ibu Seira memecah keheningan dengan nada lembut.
“Namamu siapa, Nak? Dan… di mana rumahmu?”
Lucan terdiam.
Pertanyaan sederhana itu menggantung lama.
Ia menatap mangkuk di hadapannya, lalu mengangkat pandangan perlahan.
“Lucan,” ucapnya akhirnya.
“Namaku Lucan.”
Nada suaranya tenang, tapi entah kenapa, udara di sekitarnya tiba-tiba bergetar halus.
Lampu di atas meja berkedip satu kali, nyaris padam.
Ibu Seira dan Seira sama-sama menoleh ke atas.
“Eh? Kenapa lampunya…?” tanya Seira pelan.
Lucan menunduk cepat.
Tangannya mengepal di bawah meja, berusaha menekan denyut halus energi yang tiba-tiba muncul dari dadanya.
Cahaya biru itu berdenyut sekali — lalu padam lagi.
Ia tersenyum kecil, samar.
“Maaf… mungkin aku membawa sedikit… badai.”
Seira mengerutkan dahi, tidak mengerti.
“Badai? Kau ini berbicara dengan aneh.”
Lucan tidak menjawab.
Ia hanya menatap cahaya lampu di atas meja itu — cahaya manusia yang sederhana, rapuh… tapi hangat.
Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya, ia merasa ingin melindungi sesuatu yang kecil seperti itu.
Sementara itu, di dunia Lumeris, dunia yang penuh dengan cahaya. Di singgasana tinggi, Dea Lira, wanita agung berambut putih panjang, dengan mata biru muda bercahaya, berdiri seperti badai yang menunggu untuk meledak.
Rambut putihnya berkibar, matanya yang biasanya dingin kini berpendar liar. Di sekelilingnya, para pemuka Seraphine berkumpul, namun semua mundur memberi ruang — bahkan para penjaga tertinggi tahu bila murka Dea Lira bangkit, badai tak mudah dijinakkan.
Langit Lumeris tidak pernah gelap.
Di sana, jam tidak menguasai hari; cahaya selalu menggantung, lembut namun tak pernah padam. Pilar-pilar marmer memantulkan kilau abadi, dan angin selalu berbisik dalam nada yang sama — suci, tenang, tak berbelas kasih.
Namun malam itu, gemuruh lain memenuhi langit: amarah.
ZZT—ZZT—!
Sirkuit-sirkuit cahaya di kuil pusat berkedut tak karuan, menandai peringatan pertama. Lembaran-lembaran cahaya di udara bergetar seperti sarang lebah yang terganggu.
Elyon putra sulungnya menginjak batu marmer dengan telapak kakinya yang tegap. Wajahnya keras, suaranya memotong keheningan seperti pedang.
“Ibu!” suaranya memekik, namun tetap terkendali.
“Lucan—dia terjatuh ke bumi. Sigil—itu retak. Jika kita tak menemukannya—aku—aku akan mati!”
BOOM!
Sebuah loncatan energi memecah ruang tengah, gema dentangannya merambat hingga dinding cemerlang. Tubuh-tubuh di sekeliling merunduk
Dea Lira melangkah maju sekali, dua kali; setiap langkahnya menumbuhkan kilau di lantai kuil. Ia menatap Elyon dengan mata sejuk yang tiba-tiba membara.
“Kau…” katanya pelan, lalu suaranya seperti runtuhan jauh yang meledak menjadi badai.
“Kau benar—tanpa itu, kau sebagai pewarisku bisa pudar.”
“Kita harus menemukannya, lalu menyeretnya kembali ke Lumeris.” Ucapnya.
Elyon mengibas tangan, tidak sabar.
“Tapi, bumi itu luas. Terlalu luas. Bagaimana kita akan menemukan satu manusia di antara jutaan? Kita bukan pemburu biasa — kita butuh rencana. Kita butuh tanda, jejak… sigilnya!”
Sejenak, sunyi menekan. Para Seraphine saling berpandangan; ada ketakutan, ada rasa hormat. Lampu-lampu kecil di langit bergetar — seolah ikut memegang napas.
Dea Lira menutup mata sesaat, lalu membukanya penuh tekad. Cahaya perak memancar dari pandangannya seperti bayangan pisau.
“Jangan bicara seperti orang yang menyerah pada takdir,” ia mendesis.
“Meski Lucan berada di dunia manusia, tapi dia tetaplah Seraphine. Dia berbeda dengan manusia.”
ZZRRRRAAAT!
Rangkaian rune di dinding kuil menyala, mengirim gelombang ke seluruh penjuru langit. Peta-peta cahaya di altar besar berputar cepat—lokasi-lokasi yang selama ini tak pernah berubah kini menunjukkan anomali; jejak ethereal menuju dunia bawah.
Elyon menghela napas, lalu suaranya menjadi dingin seperti es.
“Baik ibu. Kami akan menjangkau bumi. Segera. Kirim pesan ke semua korps — penjaga, pelacak, unit pemburu. Jejak mana pun yang mendeteksi energi biru abnormal, tangkap dan laporkan. Semua kota pesisir dan area berpotensi harus dipindai. Kita akan menyisir hingga ke ujung dunia kalau perlu.”
Dea Lira mengangkat dagu, senyum tipis mengerikan terlukis di bibirnya.
“Katakan begitu pada mereka,” katanya.
Suaranya kini tak lebih dari bisik yang mengiris.
“Anak sialan itu akan kutemukan. Dan ketika kutemukan—”
Ia menutup matanya, menahan sesuatu yang hampir seperti doa, lalu membukanya lagi penuh kebencian.
“—aku akan mengikatnya kembali. Aku akan mematri sigil itu dengan seluruh kekuasaanku sampai tak ada lagi retak yang dapat dia sebut kebebasan. Aku akan mengikatnya sampai tangannya tak mampu mengetuk pintu kematian.”
Seira tampak semakin gugup. Gerakannya kikuk, langkahnya tanpa sadar mundur menjauh dari tubuh Lucan, seolah jarak adalah satu-satunya cara untuk menenangkan jantungnya yang belum juga mau berhenti berdebar.TING TONG!Bunyi bel rumah memecah suasana.Seira tersentak kecil. Dengan cepat ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, menarik napas dalam-dalam, lalu memaksakan senyum yang terasa kaku.“Ah, itu pasti Kak Leo sudah pulang,” katanya tergesa.“Biar aku yang membukanya.”Lucan hanya diam, menatap punggung Seira yang melangkah cepat menuju pintu. Ia tidak tahu apa yang membuat gadis itu tiba-tiba berubah canggung. Namun ia bisa merasakannya—sesuatu di udar
Jam di ponsel Seira menunjukkan pukul enam sore.Langit di atas kota perlahan berubah warna. Biru yang sejak siang mendominasi kini tergeser oleh jingga lembut, seolah matahari enggan pergi sepenuhnya. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu.“Seira, hati-hati di jalan!” seru Mia ketika Seira sudah berdiri di tepi trotoar.Mereka baru saja berpisah di depan kampus.“Hei, Seira,” lanjut Mia, membuka jendela mobilnya.“Kau benar-benar tidak mau kuantar pulang?”Untuk kesekian kalinya.Seira menoleh sambil tersenyum kecil. Tanpa menjawab, ia justru berlari menyeberang jalan, lalu melambaikan tangan tinggi-tinggi, member
“Ahhh… aku ini kenapa, sih?” gumam Seira kesal sambil berjalan cepat meninggalkan halaman rumah.“Tiap kali matanya menatapku, aku selalu terlihat bodoh.”Ia menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa panas yang masih tersisa di wajahnya.Tak lama kemudian, bus yang ditunggunya berhenti di tepi jalan. Dengan langkah tergesa, Seira naik dan duduk di bangku tengah. Bus kembali melaju, meninggalkan deretan rumah kontrakan di belakang.Seira menoleh ke jendela yang terbuka. Angin siang itu menerpa wajahnya, mengibarkan rambut panjangnya yang sudah dikuncir satu. Udara kota terasa lebih padat dibanding desa—ramai, bergerak, dan tak pernah benar-benar diam.Namun justru di situlah bayangan itu muncul.Lucan.Pagi tadi. Cara pria itu membuka jendela bus di sampingnya. Rambut pendeknya yang tertiup angin. Garis wajahnya yang terlalu sempurna untuk disebut biasa.Seira mengernyit, lalu cepat-cepat menggelengkan kepala.“Tidak. Jangan dipikirkan,” gumamnya, menoleh lurus ke depan.“Dia cuma
Bus melaju kencang membelah jalanan menuju Seoul. Getaran mesin dan dengung roda berpadu dengan suara angin yang menampar kaca jendela. Lucan duduk diam, punggungnya tegak, telapak tangannya saling bertaut di pangkuan. Ia mengatur napas—pelan, terukur—seperti manusia.Tenang. Jangan mencolok. Jangan berbeda.Ia tahu, selama berada di antara Seira dan Leo, ia aman. Untuk sementara. Dunia manusia menuntut hal-hal sederhana yang tak pernah ia butuhkan di Lumeris: tempat tinggal, makanan, pakaian, identitas. Ia akan mempelajarinya. Ia harus melakukannya.Seira yang duduk di sampingnya menoleh. Tatapannya berhenti di wajah Lucan yang memandang lurus ke depan.“Kau baik-baik saja?” tanyanya lagi, suaranya sedikit menurun, khawatir.Lucan mengangguk.“Ya. Aku baik baik saja.”Ia lalu menoleh dan membuka jendela bus lebih lebar. Angin menerobos masuk, mengibaskan rambut pendeknya. Udara kota yang asing mengisi paru-parunya—hangat, berdebu, dan terasa lebih hidup. Ia menutup mata sejenak, memb
Langit pagi itu cerah — terlalu cerah untuk sebuah hari yang akan mengubah segalanya.Udara lembap masih terasa dari sisa embun di dedaunan, sementara suara ayam dan sepeda motor warga desa bersahut-sahutan.“Sudah siap semua?” suara ibu Seira terdengar dari teras, menatap tiga sosok yang berdiri di depan rumah.Leo memanggul tas hitam besar, wajahnya datar seperti biasa.Seira mengenakan kemeja putih dan rok panjang, membawa tote bag berisi buku dan bekal.Sedangkan Lucan berdiri di antara mereka — masih memakai pakaian pinjaman Leo, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin.“Terima kasih atas sarapannya, Bibi,” ucap Lucan sopan.Ibu Seira tersenyum hangat, menepuk bahu pemuda itu. “Hati-hati di jalan, Nak.”Mereka pun melangkah. Jalan setapak dari tanah menuju halte kecil di pinggir desa tampak lengang. Di kejauhan, langit kota sudah terlihat — gedung-gedung menjulang samar, tertutup kabut pagi.Seira berjalan di depan, Leo di belakangnya, dan Lucan di tengah.Suasana awalnya ten
Angin malam di luar berhembus lembut, Elyon yang malam itu sudah memulai pencarian merasakan beratnya udara itu.Bau asin laut, lembab tanah, dan aroma kehidupan manusia bercampur menjadi sesuatu yang asing baginya. Kini tubuhnya telah kembali menggunakan tubuh Seraphine nya.Sudah semalam penuh sejak ia dan pasukan Seraphine-nya menembus batas langit dan turun ke dunia fana ini.Namun hingga kini, jejak Lucan belum juga mereka temukan.Cahaya Lumeris di tubuh mereka telah meredup — berganti menjadi bentuk manusia yang sepenuhnya tampak nyata di mata manusia lain.Tidak ada sayap. Tidak ada kilau di kulit.Namun di tengkuk mereka, tersisa satu tanda halus berbentuk sigil yang kadang memancarkan cahaya redup saat energi ilahi mereka terusik.Elyon berdiri di atas tebing yang menghadap laut.Ombak pecah di bawah kakinya, sementara beberapa Seraphine berdiri tak jauh di belakang, masing-masing menatap cakrawala dengan mata tajam.“Lucan turun di sekitar wilayah ini,” ucap salah satu Sera







