Share

REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI
REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI
Author: KEZHIA ZHOU

JATUHNYA SANG CAHAYA

Author: KEZHIA ZHOU
last update Last Updated: 2025-11-14 18:13:03

BOOMMM!

Cahaya biru menembus awan malam, jatuh seperti bintang yang terbakar.

Langit di atas laut seolah terbelah oleh kilatan menyilaukan, meninggalkan jejak panjang bercahaya yang memaksa siapa pun yang melihatnya terdiam. Beberapa nelayan di kejauhan menghentikan langkah, menunjuk ke arah langit dengan napas tercekat.

“Apa itu… meteor?”

“Tidak mungkin. Warnanya—”

Namun sebelum ada yang sempat menyimpulkan, cahaya itu telah menghantam bumi.

Dentumannya mengguncang garis pantai. Pasir terangkat, air laut muncrat tinggi ke udara.

BUGH!

Sebuah tubuh bercahaya jatuh menghantam tanah dengan keras—terpental, berguling beberapa kali, sebelum akhirnya terdiam di antara pasir basah dan buih ombak. Jejak cahaya tertinggal di belakangnya, berdenyut lemah… lalu perlahan padam.

Hujan asin air laut membasahi kulitnya. Aroma laut yang tajam menampar wajahnya tanpa ampun.

“Khh—! Uhuk!”

Ia terbatuk keras. Tubuhnya bergetar sejenak, seolah paru-parunya lupa bagaimana caranya bernapas. Rasa sakit menjalar dari dada hingga ke ujung jari—asing, menekan, dan terlalu nyata.

“Uhuk!”

Darah memercik dari bibirnya.

Bukan lagi bercahaya seperti dulu.

Melainkan merah.

Merah seperti manusia.

“A—apa ini…?” gumamnya tercekat.

Lucan terengah, lalu perlahan mengangkat tangannya. Jemarinya gemetar hebat. Di bawah kulitnya, urat-urat cahaya yang dulu mengalir seperti sungai energi kini memudar satu per satu, menghilang seakan tak pernah ada.

“Hah… hah…”

Dadanya terasa sesak. Nalurinya berteriak panik.

Sayapnya—

Lucan mencoba menggerakkan punggungnya.

Tidak ada apa-apa.

Tak ada denyut energi surgawi. Tak ada cahaya yang biasanya merespons setiap kehendaknya. Yang tersisa hanyalah kehampaan.

Kepalanya terangkat, menatap langit gelap yang asing.

“Ini… bukan Lumeris…”

Suaranya serak, nyaris tenggelam oleh debur ombak.

Ia memejamkan mata, dan untuk sesaat—ingatan itu menghantamnya.

Langit abadi yang tak pernah gelap. Pilar-pilar cahaya menjulang tanpa bayangan. Nyanyian para Seraphine yang bergaung tanpa suara. Singgasana agung yang tak pernah disentuh kegelapan.

Dunia Cahaya.

LUMERIS.

Tempat ia dilahirkan bukan sebagai manusia, melainkan sebagai Seraphine—penjaga keseimbangan yang tak mengenal kematian.

Sampai malam itu.

Sampai keputusan itu.

Lucan mengerang pelan. Rasa nyeri di dadanya kembali berdenyut. Ada sesuatu yang asing bersemayam di sana—detak… teratur… namun rapuh.

Jantung.

Ia membuka mata dengan susah payah. Langit malam terbentang kelam. Tak ada lapisan cahaya. Tak ada hukum surgawi yang membentang. Hanya awan hitam, bintang-bintang kecil, dan bulan yang pucat.

Dunia ini terasa sunyi.

Berat.

Dan lebih gelap.

Lucan mencoba bangkit. Telapak tangannya menekan pasir, namun tubuhnya justru ambruk kembali. Rasa sakit meledak di sekujur tubuhnya, memaksanya terengah.

Sejak kapan ia bisa merasa sakit seperti ini?

Di Lumeris, luka hanyalah distorsi cahaya. Rasa sakit hanyalah konsep.

Namun di sini—

“Uhuk…!”

Ia memuntahkan darah lagi. Tangannya refleks menekan dada, tepat di tempat cahaya biru pernah bersemayam. Kini hanya tersisa rasa perih dan denyut lemah.

“Ikatan… sigil itu…”

Kata-kata itu lolos begitu saja dari bibirnya.

Takdir yang dipaksakan padanya.

Nama yang diucapkan di hadapan putra penguasa cahaya.

Elyon.

Kakaknya.

Seraphine yang seharusnya jatuh… bukan dirinya. Setidaknya, itulah yang kini terus berputar di benaknya.

Lucan tertawa pelan—pahit, nyaris tidak percaya pada apa yang sedang terjadi.

“Jadi… sekarang aku akan tinggal di dunia manusia…” gumamnya.

Ombak menghantam kakinya, dingin dan nyata. Air laut meresap ke pakaiannya—bukan lagi jubah cahaya, melainkan kain hitam yang berat dan basah.

Ia menatap dirinya sendiri dengan mata kosong.

Tubuh itu—

Rapuh.

Lemah.

Khas manusia.

WIU-WIU-WIU

Di kejauhan, suara sirene samar terdengar. Cahaya lampu bergerak di sepanjang garis pantai. Dunia ini mungkin akan segera menyadari sesuatu telah jatuh… namun tidak siapa.

Lucan memejamkan mata, napasnya tersendat.

Ia telah menjatuhkan diri dari surga.

Dan di dunia manusia ini—

tak ada yang tahu siapa dirinya.

tak ada yang peduli dari mana ia berasal.

tak ada yang akan menyelamatkannya.

Cahaya terakhir di tubuhnya berdenyut lemah… lalu padam sepenuhnya.

Untuk pertama kalinya sejak ia tercipta—

Lucan merasakan sesuatu yang tak pernah ia kenal di Lumeris.

Takut.

Ia mengerutkan kening, lalu berdiri perlahan. Gerakannya refleks—naluriah—seperti yang selalu ia lakukan selama ratusan tahun sebagai Seraphine. Tanpa berpikir panjang, Lucan mencondongkan tubuh ke depan.

Ia melompat.

Dengan keyakinan bahwa cahaya akan menjawab panggilannya.

ZRAK!

Tidak ada sayap yang terbentang.

Tidak ada hembusan energi surgawi.

Yang ada hanyalah tubuhnya sendiri—berat, tak seimbang—lalu ia jatuh ke tanah.

BRUUKK!!

“Aghhh!”

Punggungnya menghantam pasir dengan keras. Napasnya terhempas keluar, paru-parunya terasa diremas. Lucan menggeliat, refleks memegangi punggungnya yang berdenyut nyeri.

Rasa sakit itu nyata.

Bukan luka ilahi yang menutup dalam sekejap mata, melainkan rasa nyeri manusia yang begitu terasa nyata.

Lucan menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan erangan.

“Tidak bisa terbang…” gumamnya gemetar.

“Tidak bisa menyembuhkan luka… bahkan napasku terasa berat.” Ucapnya.

Ia terduduk perlahan. Dadanya naik turun tak beraturan. Setiap tarikan napas terasa seperti beban, seolah udara di dunia ini terlalu padat bagi tubuhnya.

Pandangan Lucan jatuh ke genangan air di tepi pantai.

Ia menunduk.

Refleksi wajahnya terpantul samar. Wajah itu masih miliknya—garis rahang tegas, hidung mancung, rambut hitam yang kini terlihat acak. Namun matanya—

Lucan tertegun.

Mata yang dulu bercahaya biru kini berubah tak lagi ada cahaya.

Seperti manusia pada umumnya.

“Apakah aku…” suaranya nyaris tak terdengar.

Tangannya menyentuh pipinya—hangat. Turun ke dada.

 “Manusia…?” bisiknya.

“Benarkah?”

Duk. Duk. Duk.

Detakan jantungnya lemah namun teratur.

Perasaan asing menyelinap ke dadanya.

Namun di sela ketakutan itu, ada sesuatu yang lain.

Tidak ada lagi tekanan. Tidak ada lagi yang mengikatnya di altar suci lumeris.

Bebas.

Angin laut kembali berhembus lembut, menyentuh wajah dan rambutnya—tanpa makna ilahi, tanpa perintah surgawi.

Hanya angin.

“Lumeris…” gumamnya lirih.

Ia menelan ludah, lalu tersenyum tipis—senyum pahit yang nyaris tak terlihat.

“Sepertinya… aku benar-benar jatuh.”

Lucan merebahkan tubuhnya di atas pasir. Dingin butirannya menempel di kulit, namun ia tidak lagi peduli. Langit malam di atasnya dipenuhi bintang kecil—bukan cahaya Seraphine, melainkan titik-titik hidup yang berkelip jauh di sana.

“Aku benar-benar…” napasnya tersendat.

“…bukan di Lumeris lagi.”

Kelopak matanya terasa berat. Tubuhnya lelah—kelelahan yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Namun sebelum ia sempat terlelap—

KRRRUUUKKKK!

“Eh…?”

Lucan tersentak. Ia menunduk menatap perutnya sendiri, bingung.

“…Apa itu barusan?”

Rasa kosong itu semakin terasa. Ada perih aneh di lambungnya—bukan luka, bukan kehilangan energi cahaya.

Ini… sesuatu yang lain.

“Apa yang terjadi padaku sekarang…?”

Lucan memandang kesekeliling. Sepi. Sunyi.

Lucan bangkit perlahan dan melangkah menyusuri garis pantai. Pasir lembap menempel di telapak kakinya, meninggalkan jejak panjang di belakangnya.

Angin berhembus dingin. Mengacak rambut pendeknya.

“Uhuk…!”

Ia batuk kecil. Tak ada darah bercahaya. Tak ada nyeri menusuk.

Hanya udara malam yang dingin memenuhi paru-parunya.

Lucan berhenti, menatap laut gelap di hadapannya.

Dunia ini asing.

Namun entah kenapa… ia justru merasa hidup.

Dan tanpa ia sadari, untuk pertama kalinya sejak ia terlahir sebagai cahaya—

Lucan harus belajar bertahan.

Sebagai manusia.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   PAGI YANG TEGANG

    ZZZTTT…!!!Elyon tersentak bangun.Napasnya terputus sesaat, seolah udara di sekelilingnya mendadak menolak masuk ke paru-parunya. Matanya terbuka lebar—dan kilau itu kembali muncul. Silver kebiruan, dingin, tajam, bukan milik manusia.“Lucan…” gumamnya lirih.Denyut itu masih terasa. Halus, tapi nyata. Seperti benang cahaya yang ditarik paksa dari jarak jauh, bergetar tepat di pusat dadanya.“Kau mengaktifkan sigil seraphine mu…” ucap Elyon pelan, senyumnya perlahan terbentuk.Ia kini sepenuhnya berada dalam tubuh manusia—kulit fana, napas fana, denyut jantung yang seharusnya rapuh. Namun kesadarannya tetap sama. Seraphine yang kehilangan separuh hidupnya.Ketika Lucan mengaktifkan lambang di tengkuknya—meski hanya sesaat—resonansi itu menyebar. Tidak h

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   RAMYEON

    Seira menuangkan mi ke dalam panci berisi air yang sudah mendidih. Uap panas langsung mengepul, mengembun di udara dapur yang sempit.DUG. DUG. DUG.Langkah kaki terdengar dari arah tangga.“Kau sedang membuat apa?” suara Leo muncul bersamaan dengan sosoknya yang terlihat dari balik anak tangga.Posturnya tidak setinggi Lucan.“Ramyeon, Kak,” jawab Seira tanpa menoleh.“Aku buatkan satu untukmu juga.”Leo mengangguk singkat, lalu berjalan ke kursi dekat dapur dan duduk dengan malas. Tak lama, Lucan ikut duduk di seberangnya. Tubuh tinggi itu tampak sedikit kaku, seperti seseorang yang masih belum sepenuhnya terbiasa berada di ruang kecil bersama orang lain.Seira sesekali menoleh, matanya tanpa sadar memandangi punggung lebar Lucan. Cara ia duduk, cara bahunya bergerak pelan saat bernapas—semuanya terasa asing tapi entah kenapa menarik.Leo menangkap tatapan itu.Sorot matanya berpindah dari adiknya ke Lucan. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya—bukan lagi rasa tidak suka yang tajam,

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   APAKAH BEKERJA ITU MELELAHKAN?

    Seira tampak semakin gugup. Gerakannya kikuk, langkahnya tanpa sadar mundur menjauh dari tubuh Lucan, seolah jarak adalah satu-satunya cara untuk menenangkan jantungnya yang belum juga mau berhenti berdebar.TING TONG!Bunyi bel rumah memecah suasana.Seira tersentak kecil. Dengan cepat ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, menarik napas dalam-dalam, lalu memaksakan senyum yang terasa kaku.“Ah, itu pasti Kak Leo sudah pulang,” katanya tergesa.“Biar aku yang membukanya.”Lucan hanya diam, menatap punggung Seira yang melangkah cepat menuju pintu. Ia tidak tahu apa yang membuat gadis itu tiba-tiba berubah canggung. Namun ia bisa merasakannya—sesuatu di udar

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   CANGGUNG

    Jam di ponsel Seira menunjukkan pukul enam sore.Langit di atas kota perlahan berubah warna. Biru yang sejak siang mendominasi kini tergeser oleh jingga lembut, seolah matahari enggan pergi sepenuhnya. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu.“Seira, hati-hati di jalan!” seru Mia ketika Seira sudah berdiri di tepi trotoar.Mereka baru saja berpisah di depan kampus.“Hei, Seira,” lanjut Mia, membuka jendela mobilnya.“Kau benar-benar tidak mau kuantar pulang?”Untuk kesekian kalinya.Seira menoleh sambil tersenyum kecil. Tanpa menjawab, ia justru berlari menyeberang jalan, lalu melambaikan tangan tinggi-tinggi, member

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   PERASAAN ASING

    “Ahhh… aku ini kenapa, sih?” gumam Seira kesal sambil berjalan cepat meninggalkan halaman rumah.“Tiap kali matanya menatapku, aku selalu terlihat bodoh.”Ia menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa panas yang masih tersisa di wajahnya.Tak lama kemudian, bus yang ditunggunya berhenti di tepi jalan. Dengan langkah tergesa, Seira naik dan duduk di bangku tengah. Bus kembali melaju, meninggalkan deretan rumah kontrakan di belakang.Seira menoleh ke jendela yang terbuka. Angin siang itu menerpa wajahnya, mengibarkan rambut panjangnya yang sudah dikuncir satu. Udara kota terasa lebih padat dibanding desa—ramai, bergerak, dan tak pernah benar-benar diam.Namun justru di situlah bayangan itu muncul.Lucan.Pagi tadi. Cara pria itu membuka jendela bus di sampingnya. Rambut pendeknya yang tertiup angin. Garis wajahnya yang terlalu sempurna untuk disebut biasa.Seira mengernyit, lalu cepat-cepat menggelengkan kepala.“Tidak. Jangan dipikirkan,” gumamnya, menoleh lurus ke depan.“Dia cuma

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   SEOUL

    Bus melaju kencang membelah jalanan menuju Seoul. Getaran mesin dan dengung roda berpadu dengan suara angin yang menampar kaca jendela. Lucan duduk diam, punggungnya tegak, telapak tangannya saling bertaut di pangkuan. Ia mengatur napas—pelan, terukur—seperti manusia.Tenang. Jangan mencolok. Jangan berbeda.Ia tahu, selama berada di antara Seira dan Leo, ia aman. Untuk sementara. Dunia manusia menuntut hal-hal sederhana yang tak pernah ia butuhkan di Lumeris: tempat tinggal, makanan, pakaian, identitas. Ia akan mempelajarinya. Ia harus melakukannya.Seira yang duduk di sampingnya menoleh. Tatapannya berhenti di wajah Lucan yang memandang lurus ke depan.“Kau baik-baik saja?” tanyanya lagi, suaranya sedikit menurun, khawatir.Lucan mengangguk.“Ya. Aku baik baik saja.”Ia lalu menoleh dan membuka jendela bus lebih lebar. Angin menerobos masuk, mengibaskan rambut pendeknya. Udara kota yang asing mengisi paru-parunya—hangat, berdebu, dan terasa lebih hidup. Ia menutup mata sejenak, memb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status