Share

PENCARIAN LUCAN

Author: KEZHIA ZHOU
last update publish date: 2025-11-14 18:33:04

Sekeliling mereka bergetar. Angin surgawi tersedot ke dalam pusaran kecil di lantai kuil. Para Seraphine yang mendengarkan merasakan hawa dingin menggeliat di tulang mereka — janji Dea Lira bukan sekadar ancaman, melainkan hukum.

Elyon melangkah mendekat, matanya menyala seperti logam yang dipanaskan. Ia menatap ke bawah, menatap pusaran cahaya yang menandakan tempat-transisi yang sempat terbuka dan menutup.

“Ibu, kau bilang kita akan menyisir sampai ke ujung bumi?” Elyon mengulang, suaranya kini mengeras. 

“Baik. Biarkan kami yang memulai. Kirim barisan pelacak ke laut, ke jalur udara, ke pasar-pasar manusia. Kumpulkan yang kuat; yang lemah jangan kusia-siakan. Kita butuh hasil cepat. Aku tak ingin menunggu sampai sigil itu benar-benar mati. Jika itu terjadi—”

Ia memukul meja altar dengan tenaga yang membuat kaca suci berdentang. 

CRACK! — retakan kecil memanjang.

“Kalau aku harus mengorbankan segalanya demi mempertahankan hidupku—aku tak akan ragu.”

Dea Lira tersenyum, nada suaranya dingin sampai menusuk.

“Lumeris adalah tatanan ku. Lucan akan mengerti konsekuensinya, Elyon. Lakukan segera. Seret adikmu untuk kembali ke tempat ini.”

Elyon menatap tajam, tidak mundur.

“Tentu bu. Ketika aku menemukannya, aku akan segera membawanya kembali. Karena tanpa energi adik ku, aku tidak akan bertahan lama.” Ucapnya.

“Aku perintahkan semua Seraphine untuk ikut mencari Lucan bersama putraku, Elyon..!”

ZZT—BOOM—ZZT!

Sinar-sinar amarah berpendar—pesawat cahaya, unit terbang Seraphine, mulai melesat dari pelabuhan-pelabuhan langit. Suara deru mereka bagai kecapi perang. Para komandan berlari, mengeluarkan perintah, menyusun peta geospasial etereal yang merosot ke batas realitas lain.

Dea Lira menunduk sejenak, lalu suaranya berubah menjadi murka yang pekat.

“Kalian semua dengarkan dengan jelas: aku ingin jejaknya. Aku ingin dia hidup, utuh, dan dalam keadaan terkekang ketika dibawa pulang.”

Ia menunjuk ke arah Elyon, tatapannya membakar.

“Kau akan memimpin pemburuan ini. Aku ingin hasil. Kita tidak akan kembali tanpa lelaki itu.”

Elyon mengangguk satu kali, tajam. Senyum dingin kembali mengembang di wajahnya.

“Setelah kutemukan, aku bersumpah—aku akan mengikatnya, dan tidak akan pernah kulepaskan.”

WHOOSH!

Gelombang pelepasan pasukan menghempas kuil, dan seruan komando berderet bagai petir. Cahaya-cahaya kecil yang dikirim ke dunia bawah seperti ribuan panah menyobek malam.

Di antara kerumunan, ada satu atau dua yang menoleh memandang ke arah singgasana. Mereka melihat bukan hanya kekuasaan, tetapi obsesi. Dea Lira adalah pencipta Lumeris—namun di balik itu, ada seorang ibu yang menolak melihat anaknya bebas; Elyon adalah pewaris yang menikmati nyala hidup yang dicuri darinya.

Di luar kuil, langit Lumeris kembali meredup sedikit — bukan padam, tapi ada celah biru yang menolak diobati. Di celah itu, sisa-sisa cahaya yang jatuh seperti meteoroid melayang, meninggalkan bekas di udara: jejak seorang yang jatuh.

**

Langit Lumeris bergemuruh.

Barisan Seraphine memenuhi udara, membentuk formasi raksasa di bawah bentangan cahaya abadi. Sayap-sayap perak mereka memantulkan semburat biru ke seisi langit — indah, tapi menakutkan. Dari kejauhan, mereka tampak seperti gugusan bintang yang hidup. 

WHUUMMM—!

Satu per satu, lingkaran sihir terbuka di langit, menjadi portal vertikal yang berputar cepat. Udara bergetar seperti kaca yang retak.

Di bawah cahaya itu, Elyon berdiri di atas menara keempat kuil suci. Jubah putihnya berkibar, mata keemasannya menatap bumi yang jauh di bawah sana.

“Persiapkan diri kalian. Dunia bawah tidak sama dengan Lumeris. Di sana, cahaya kita akan dipadamkan oleh udara, oleh debu, oleh dosa mereka.”

Suaranya dalam, menggema seperti lonceng perang.

Para Seraphine di bawah menunduk bersamaan, menyatukan tangan mereka di dada. Sayap-sayap mereka bergetar — bukan karena takut, tapi karena antusiasme berburu.

“Target kita hanya satu,” Elyon melanjutkan. 

“Lucan dari Cahaya. Pewaris Kedua. Pengkhianat Lumeris.”

BOOMMM!!!

Sinar cahaya biru menyambar dari langit, menyelimuti tubuh Elyon.

Sayapnya terbakar perlahan, bulu-bulu perak itu berubah menjadi debu bercahaya, dan tubuhnya mulai bertransformasi.

Satu demi satu, Seraphine mengikuti pemimpinnya.

Cahaya mereka memendek, kulit mereka berubah menjadi warna manusia, sayap mereka larut ke udara dalam semburan partikel.

Namun tidak semua lenyap — di tengkuk mereka, tepat di bawah garis rambut, masih tertinggal simbol suci Seraphine: tanda berbentuk sigil melingkar yang berdenyut lemah, seperti bara yang belum padam.

Itulah batas mereka.

Mereka tidak pernah bisa menjadi manusia sepenuhnya.

ZZRRRTT—!

Portal terbuka. Deru angin dari dua dunia saling bertabrakan. Suara petir ilahi mengguncang pilar langit, sebelum satu per satu tubuh mereka tersedot ke dalam cahaya, turun menuju dunia manusia.

**

Di waktu yang bersamaan, langit bumi beriak, awan bergulung aneh. Dari ketinggian, meteor-meteor biru melesat menembus atmosfer.

Namun bagi manusia di bumi, itu hanya keindahan — hujan bintang yang aneh di tengah musim panas.

Ketika cahaya itu memudar, jalanan kota diterpa angin dingin yang tiba-tiba.

Di antara gang, di tepi jalan, dan di bawah cahaya lampu neon, satu per satu Seraphine mulai muncul.

Langkah mereka tenang, mata mereka menelusuri setiap wajah manusia yang lewat.

Elyon berjalan paling depan, mengenakan pakaian hitam sederhana, wajahnya menyesuaikan rupa manusia muda.

Namun mata emasnya — meski kini tampak gelap — memantulkan kesombongan surgawi yang tak bisa disembunyikan.

“Kota ini… penuh dengan cahaya palsu,” gumam Elyon pelan, menatap lampu jalan yang berkedip.

Di belakangnya, beberapa Seraphine pelacak mulai menyebar.

Mereka berbaur di antara manusia, mencoba meniru cara berjalan, berbicara, bahkan tertawa — namun selalu ada sesuatu yang salah: terlalu tenang, terlalu sempurna.

Dan tanda di tengkuk mereka terus bersinar samar, hanya terlihat jika disentuh cahaya bulan.

Elyon berhenti di perempatan jalan, menatap orang-orang yang berlalu-lalang.

Mata-mata Seraphine di bawah komandonya menatap setiap wajah yang melintas — pria, wanita, anak kecil — semua diperiksa, semua diperhatikan.

“Tanda energinya lemah,” lapor salah satu pelacak. 

“Tapi ada jejak residu sihir biru di arah selatan. Mungkin—”

“Ke pantai?” potong Elyon cepat. 

“Tentu saja dia ke sana. Lucan selalu mencintai laut… bahkan ketika di Lumeris.”

Ia mendongak, menatap langit malam yang kini berawan.

Senyum dingin terlukis di bibirnya.

“Kau pikir bisa bersembunyi, adikku?”

“Aku akan menemukanku. Dan ketika aku melakukannya…” — suaranya turun menjadi bisikan tajam —

“...kau akan kembali menjadi bagian dari cahaya yang sama yang kau tolak.”

Sementara itu, di singgasana tinggi, Dea Lira duduk dengan diam mematikan.

Di hadapannya terbentang cermin langit, lempeng besar dari cahaya cair yang memantulkan dunia manusia.

Tangannya bergerak di atas permukaannya, dan setiap kali ia menyentuhnya, ribuan bayangan manusia muncul — berjalan, tertawa, hidup tanpa tahu bahwa mereka sedang diawasi oleh dewi dari dunia lain.

Matanya memicing.

“Begitu banyak… wajah fana,” gumamnya. 

“Begitu lemah, namun begitu bebas.”

Cahaya peraknya berdenyut dari irisnya, memperbesar pandangan pada satu area — tepi pantai di mana jejak Lucan terakhir muncul.

“Anakku…”

suara itu nyaris seperti doa.

“Bahkan jika kau bersembunyi di antara debu, aku akan menemukanku. Kau milik cahaya ini. Kau milikku.”

Ia berdiri, jubahnya mengembang.

WHUUMMM—!

Langit Lumeris kembali bergetar, menandakan kekuatan besar sedang terbangun.

“Carilah dia, Elyon,” bisiknya lirih namun tegas, mengirimkan pesan langsung menembus dimensi.

“Dan jangan kembali tanpa darahnya.” 

Pesan itu diterima oleh Elyon.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
own
ceritanya bagus banget
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   MABUK

    Lucan hendak berbalik, berniat mengejar Seira yang semakin menjauh dari pandangannya.Namun—“LUCAN!”Teriakan Mia menghentikan langkahnya.Lucan membeku di tempat.Tubuhnya yang sudah bergerak setengah langkah terpaksa berhenti. Dadanya kembali berdenyut tajam, seolah setiap gerakan kecil pun cukup untuk memicu rasa sakit yang masih bersarang di dalam tubuhnya.Ia menutup mata sesaat.Menahan.Lalu perlahan berbalik.Mia berjalan mendekat dengan langkah santai, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Wajahnya tenang, bahkan sedikit tersenyum.Ia meraih lengan Lucan dan menariknya hingga pria itu berbalik sepenuhnya menghadapnya.Lucan tidak menepis tangan itu.“Kau mau mengejarnya dan berkata padanya kalau kau sangat mencintainya, begitu, hm?”Nada suaranya ringan, tetapi jelas mengandung ejekan.Lucan diam sesaat.Tenaganya tidak sedang cukup untuk berdebat panjang.“Aku hanya ingin berbicara dengannya,” ucap Lucan pelan.Suaranya serak.Mia mendengus kecil.“Lupakan saja! Ingat, k

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   SEBENTAR SAJA

    Waktu berjalan sangat lambat. Setidaknya bagi Lucan.Pria itu masih berdiri di samping mobil Mia sejak pagi tadi. Tubuhnya tegap seperti biasa, bahunya lurus, wajahnya tetap tampan dan tenang. Siapa pun yang melihatnya mungkin hanya mengira ia sedang menunggu seseorang.Tidak ada yang tahu bahwa setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan baginya.Rasa sakit dari ritual semalam belum benar-benar hilang.Dadanya masih terasa seperti dibakar dari dalam. Sesekali Lucan mengernyit tipis. Hampir tidak terlihat, namun cukup untuk membuat napasnya sedikit tertahan. Tangannya sempat mencengkeram sisi mobil, menahan tubuhnya agar tidak goyah.Keringat dingin menetes di tengkuknya.Namun ia tetap berdiri.Tatapannya sesekali mengarah ke bangunan kampus.Seperti berharap seseorang akan keluar.Seira.Namun waktu terus berjalan. Pintu gedung itu tidak pernah mengeluarkan sosok yang ia tunggu.Di dalam kelas, Seira duduk diam memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan materi. Matanya menatap

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   RINDU

    “Aghh…”Lucan menggeliat pelan.Rasa sakit itu belum pergi.Ia membuka mata perlahan. Langit-langit kamar yang sama. Warna putih yang dingin. Aroma parfum Mia yang samar masih tertinggal di udara.Ia masih di apartemen itu.Dadanya telanjang. Kulitnya pucat. Garis otot di tubuhnya tetap tegas—bahkan dalam keadaan lemah, ia masih terlihat memikat. Namun di balik ketampanan itu, ada sesuatu yang retak.Tangannya mencengkeram sprei. Urat-urat di lengannya menegang saat ia memaksa diri bangkit.Dadanya berdenyut.Sigil itu tidak menyala lagi—tetapi rasa perihnya seperti masih terpatri di dalam daging.Lucan duduk perlahan. Kepalanya sedikit menunduk. Ia memejamkan mata sesaat, menahan gelombang pusing yang datang tiba-tiba.Napasnya belum stabil.Setiap tarikan terasa berat.Ia menurunkan kaki ke lantai marmer yang dingin. Sentuhan dingin itu membuatnya sedikit tersadar, meski keringat dingin masih menempel di pelipisnya.Tangannya meraba dinding, berpegangan saat melangkah keluar kamar.

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   FOTO VULGAR

    Tubuh Lucan terasa seperti sedang dilelehkan dari dalam. Sisa-sisa Ritual Cahaya garapan Dea Lira masih berkecamuk di dalam nadinya, mengirimkan gelombang rasa sakit yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Setiap inci kulitnya terasa panas membara, seolah-olah cahaya itu ingin merobek dagingnya untuk keluar."Lucan...!! Akulah penawarmu! Jangan pernah berharap Seira akan datang ke sini!" Mia berbisik tajam, napasnya yang memburu terasa kontras di kulit Lucan yang mulai demam."Hanya aku yang bisa memadamkan api ini. HANYA AKU, LUCAN!"Tanpa peringatan, Mia menyambar bibir Lucan untuk kesekian kalinya, melumatnya dengan rakus seolah ingin menyerap paksa sisa nyawa pria itu. Lucan mengerang tertahan; setiap sentuhan Mia justru memicu rasa perih yang luar biasa pada sarafnya yang sedang meradang."Mia... tolong... hen... tikan..." rintih Lucan parau.Kelopak matanya bergetar hebat, mencoba memfokuskan pandangan yang kabur menahan sakit.Mia menarik diri sejenak, namun bukan untuk memberi ru

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   KEGILAAN MIA

    “Bagaimana, Elyon?” suara Dea Lira menggema lembut namun berkuasa, memantul di dinding ruangan yang masih dipenuhi sisa cahaya ritual.Elyon tersenyum lebar. Napasnya stabil. Tubuhnya terasa penuh, kuat, seolah baru saja menyerap matahari ke dalam dadanya sendiri. Ia meraih kembali kemejanya dengan santai.“Selalu menarik, Ibu. Tubuhku selalu jauh lebih kuat dari sebelumnya.”Sementara itu—Lucan masih bersimpuh di lantai.Kedua lututnya menekan marmer dingin. Kedua tangannya gemetar, berusaha menopang tubuhnya sendiri. Napasnya tersengal, tidak beraturan.DUG. DUG. DUG.Langkah kaki Elyon mendekat.Seorang Seraphine maju dan menarik kedua lengan Lucan ke belakang dengan kasar.“Aghh—” erang Lucan tertahan.Sendi bahunya terasa seperti ditarik keluar dari tempatnya. Rasa sakit belum selesai dari ritual tadi—dan kini ditambah tekanan baru.Tubuhnya terasa hampa. Seperti sumur yang baru saja dikuras sampai dasar.Elyon berjongkok, menyamakan tinggi wajahnya dengan Lucan. Tangannya terang

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   PENGORBANAN PERTAMA

    Mia tersenyum memandang Lucan. Senyum yang tampak manis, namun di baliknya ada kepuasan yang perlahan mengembang. Tangannya terangkat, jari telunjuknya menyentuh pipi Lucan, menyusuri rahangnya, lalu berhenti di bibirnya. Gerakannya lambat. Seolah ia sedang mengukir sesuatu yang indah—atau menandai sesuatu yang sudah menjadi miliknya.“Aku benar-benar bahagia, Lucan,” bisiknya.“Aku suka kau berada di sini. Bersamaku.”Lucan tidak bergerak.Ia berdiri tegak, tetapi tubuhnya terasa kaku. Setiap sentuhan Mia bukanlah kelembutan baginya—melainkan pengingat bahwa ia berada di bawah kendali seseorang yang memegang kelemahannya.Dengan dorongan kecil di dada, Mia mendorongnya.Lucan terjatuh duduk di ujung ranjang. Refleks, kedua tangannya bertumpu ke belakang agar tubuhnya tidak sepenuhnya rebah. Posisi itu membuatnya tampak seperti seseorang yang dipaksa bertahan, bukan menikmati.Tatapan mereka bertemu.Mia membungkuk sedikit, menyamakan tinggi wajah mereka. Lalu perlahan, tanpa ragu, ia

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   PERASAAN ASING

    “Ahhh… aku ini kenapa, sih?” gumam Seira kesal sambil berjalan cepat meninggalkan halaman rumah.“Tiap kali matanya menatapku, aku selalu terlihat bodoh.”Ia menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa panas yang masih tersisa di wajahnya.Tak lama kemudian, bus yang ditunggunya berhenti di tepi

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   SEOUL

    Bus melaju kencang membelah jalanan menuju Seoul. Getaran mesin dan dengung roda berpadu dengan suara angin yang menampar kaca jendela. Lucan duduk diam, punggungnya tegak, telapak tangannya saling bertaut di pangkuan. Ia mengatur napas—pelan, terukur—seperti manusia.Tenang. Jangan mencolok. Janga

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   BERTEMU ELYON

    Langit pagi itu cerah — terlalu cerah untuk sebuah hari yang akan mengubah segalanya.Udara lembap masih terasa dari sisa embun di dedaunan, sementara suara ayam dan sepeda motor warga desa bersahut-sahutan.“Sudah siap semua?” suara ibu Seira terdengar dari teras, menatap tiga sosok yang berdiri d

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   PERGI MENJAUH

    Angin malam di luar berhembus lembut, Elyon yang malam itu sudah memulai pencarian merasakan beratnya udara itu.Bau asin laut, lembab tanah, dan aroma kehidupan manusia bercampur menjadi sesuatu yang asing baginya. Kini tubuhnya telah kembali menggunakan tubuh Seraphine nya.Sudah semalam penuh se

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status