Share

RUMAH MIA

Author: KEZHIA ZHOU
last update Last Updated: 2026-01-15 17:27:00

Lucan tetap melangkah, membantu Leo merapikan ruang tamu yang porak-poranda. Ia mengangkat kursi yang bergeser, membalik meja kecil yang terjungkir, menggeser pecahan kaca ke sudut ruangan. Setiap gerakannya hati-hati, seolah ia sedang menebus sesuatu—bukan hanya kerusakan, tapi juga kepercayaan yang runtuh.

“Kapan kau akan pergi dari sini?”

Pertanyaan Leo meluncur datar, tanpa menoleh sedikit pun.

Tangan Lucan yang tengah menggenggam kaki kursi seketika berhenti. Ia mengangkat wajahnya perlaha
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   HANYA KAU YANG BISA

    “Seira… aku sangat mencintai Lucan.”DEG.Kalimat itu jatuh begitu saja—ringan, lembut, hampir seperti pengakuan polos. Namun bagi Seira, rasanya seperti sesuatu yang menghantam tepat di tengah dada.Untuk sepersekian detik, napasnya tercekat.Tapi ia tersenyum.Ia tidak ingin kebahagiaan sahabatnya ternodai oleh ekspresi yang salah.“Meskipun sekarang aku tahu dia bukan manusia biasa,” lanjut Mia pelan, menatap cokelat hangatnya sebelum kembali mengangkat wajah, “perasaanku padanya tetap sama.”Tatapannya berkilat tipis.Ia sedang menguji.Mengamati setiap perubahan sekecil apa pun di wajah Seira.Seira menegakkan punggungnya.“Ah… itu bagus, Mia,” jawabnya lembut. “Aku berharap kalian bisa hidup bahagia.”Kalimat itu terdengar tulus.Dan memang tulus.Karena di balik rasa sesak yang menekan dadanya, Seira tetap lebih memilih kebahagiaan Mia dibanding perasaannya sendiri.Ia menunduk, menyesap cokelat hangatnya. Rasa manisnya tak lagi terasa.Mia memperhatikannya tanpa rasa bersalah.

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   KONSEKUENSI

    “Udara hari ini rasanya lebih dingin dari biasanya.”Suara Mia terdengar ringan, hampir terdengar rapuh.Seira mengangguk cepat. Tanpa menoleh pada Lucan, ia sudah lebih dulu memegang pegangan kursi roda.“Biar aku.”Singkat. Tegas.Tangannya menggantikan tangan Lucan tanpa ragu. Bukan sekadar membantu—itu seperti penegasan jarak. Seira mendorong Mia masuk ke dalam kedai dengan hati-hati, tubuhnya sedikit membungkuk agar Mia tidak merasa terguncang.Lucan berdiri beberapa detik di luar.Dingin yang dimaksud Mia tidak seberapa dibanding hawa beku di dalam dadanya.Ia masuk menyusul.Mereka duduk seperti garis yang ditarik paksa: Lucan dan Seira berhadapan. Mia di tengah, menghadap jendela, seolah menjadi pembatas yang tak terlihat.Pelayan datang. Menu dibuka.“Aku yang biasa,” ucap Seira.Mia tersenyum.“Aku juga.”Mereka bahkan tak perlu berdiskusi. Kebiasaan yang sudah terlalu sering dilakukan bersama. Jauh sebelum Lucan menjadi bagian dari hidup mereka.Lucan hanya memesan kopi pan

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   SALAH PAHAM

    Pagi itu udara terasa lebih dingin dari biasanya. Entah karena angin, atau karena ketegangan yang tak terlihat di dalam mobil.“Bagaimana keadaanmu? Aku kira kau masih sakit.” ucap Mia, menoleh pelan kepada Lucan. Suaranya lembut, tapi matanya tajam—mengamati setiap reaksi kecil di wajah lelaki itu.Lucan hanya melirik sekilas sebelum kembali fokus pada setir. Rahangnya mengeras.“Aku sudah baik baik saja.” jawabnya singkat.Mia tersenyum tipis. Senyum yang bukan sekadar senyum—melainkan keputusan.“Kau tau? Aku sangat kecewa denganmu.”Lucan terdiam. Jari-jarinya mencengkeram setir lebih kuat.“Tidak pernah ada yang menolak ciumanku,” lanjut Mia, sengaja memperlambat ucapannya.“..selain kau. Semalam.”Sunyi.Lucan tidak menoleh. Tidak membalas. Ia tidak ingin memulai perdebatan pagi itu. Kepalanya masih dipenuhi bayangan wajah Seira semalam—mata yang menyala marah, bibir yang bergetar menahan emosi.“Seira..” gumamnya pelan, lebih seperti bisikan untuk dirinya sendiri.Mia menangkap

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   KESEMPATAN

    Lucan menuruni tangga menuju lantai satu dengan langkah berat. Ia duduk di sofa, bahunya merosot, kepala tertunduk. Untuk pertama kalinya sejak jatuh ke dunia manusia, dadanya terasa nyeri—bukan karena sigil, bukan karena luka fisik. Ini berbeda. Menyesakkan. Seolah ada tangan tak terlihat yang mencengkeram jantungnya perlahan.“Baiklah…” gumamnya lirih.“Terserah kau saja, Seira.”Kalimat itu jatuh tanpa perlawanan. Bukan pasrah—melainkan lelah.Lucan merebahkan tubuhnya di sofa. Lampu ruang tamu dibiarkan redup. Malam berjalan terus, menyeret waktu tanpa ampun. Ia tak tahu kapan Leo pulang. Tak tahu kapan matanya terpejam. Yang ia tahu hanya satu—rasa sakit ini tak punya penawar.**Di lantai atas rumah mewah, Mia berdiri kaku di hadapan Dea Lira. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. Emosi yang sejak tadi ia tekan kini tak lagi bisa disembunyikan.“Bu,” suaranya bergetar, bukan karena takut, melainkan amarah yang tertahan.“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau memanggil Lucan ‘pu

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   PENOLAKAN

    TING TONG!TING TONG!Tak ada jawaban.Rumah Seira tertutup rapat, sunyi seperti tak berpenghuni. Lampu teras belum menyala, halaman kecil itu tenggelam dalam gelap senja. Lucan berdiri lama di depan pintu, menunggu—lalu akhirnya menghela napas dan duduk di ujung anak tangga kecil di depan rumah itu.Leo? Entahlah. Tak ada tanda-tanda siapa pun berada di dalam.Pikirannya melayang jauh. Terlalu jauh.Tentang Seira. Tentang bahaya yang kini membayangi gadis itu.Nama Dea Lira dan Elyon berputar di kepalanya seperti bayangan gelap yang tak mau pergi. Keberadaan dirinya sudah diketahui. Tidak ada lagi tempat aman. Tidak ada lagi ruang untuk bersembunyi.“Kalau aku bersembunyi, lalu… bagaimana dengan Seira?” gumam Lucan pelan.Keningnya berkerut dalam. Dadanya terasa sesak. Bayangan Seira yang terikat, tubuhnya gemetar, matanya dipenuhi ketakutan—semua itu menekan dadanya seperti pisau.“Seira tidak boleh terluka,” katanya lirih, hampir seperti sumpah.“Aku tidak akan membiarkannya.”Ia m

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   RAHASIA

    Lucan masih duduk di ujung ranjang setelah kepergian Seira. Ruangan itu terasa terlalu sunyi. Terlalu kosong.Matanya menatap lantai, seakan berharap menemukan sisa-sisa kehadiran gadis itu di sana.Namun ada sesuatu yang aneh.Tubuhnya—yang tadi seperti remuk, lemah, nyaris tak bisa menopang dirinya sendiri—kini terasa… ringan.Lucan menggerakkan jemarinya perlahan. Menguji. Lalu kakinya. Ia berdiri.Telapak kakinya menapak lantai dengan tegap.Tidak ada rasa nyeri.Tidak ada denyut menyiksa dari sigil yang biasanya membakar tulangnya dari dalam.Hilang.Lenyap begitu saja. Seolah rasa sakit itu tak pernah ada.Lucan menatap kedua telapak tangannya, membaliknya perlahan, seakan mencari bekas luka yang tak terlihat.“Apa yang sebenarnya terjadi padaku…” gumamnya pelan.Keningnya berkerut. Ini bukan pertama kalinya.“Ini sudah kedua kalinya,” ucapnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.“Rasa sakit itu… tiba-tiba menghilang.”Ia terdiam lama. Otaknya bekerja keras, menyusun kepingan ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status